
Beberapa hari kemudian,
Masih di toko roti milik Jasmine. Suasananya sepi karena pelanggan yang datang kerap takut dengan pelayanan yang di berikan para anak buah Alfhonso.
Suatu sore, dua orang yang berpakaian preman memasuki toko roti Jasmine.
Mereka berdua memesan roti pada anak buah Alfhonso.
“Hey, lihat mereka…berpakaian seperti mafia saja. Hey! Apa hari ini ada perayaan atau apa?, mengapa pakaian kalian seperti para mafia?!, hahaaa..” ucap salah satu pelanggan berpakaian preman dengan gaya yang terlihat santai.
Anak buah Alfhonso hanya diam dengan wajah dingin.
“Pesan apa?!” tanya salah satu anak buah Alfhonso dengan ketus.
“Hmm, pelayanan mereka buruk..” ucap si preman kepada temannya.
“Aku mau roti saus coklat…”
Anak buah Alfhonso dengan tetap diam dan wajah datar mengambilkan sebuah roti berlumur saus coklat ke atas nampan.
“Um, tunggu sebentar, sepertinya yang keju itu saja…tidak jadi yang coklat” ucap pelanggan preman tadi.
Dengan wajah yang sedikit kesal anak buah Alfhonso menaruh kembali roti saus coklat tadi dan menggantinya dengan roti bertabur keju parut.
“Tapi aku rasa lebih enak yang isi daging, hey, menurutmu bagaimana?” tanya pelanggan itu kepada temannya.
“Ya aku juga juga yang isi daging..” jawab temannya yang juga berpakaian preman.
“Hey pelayan!, taruh kembali yang keju, aku pilih yang isi daging saja..” ucap pelanggan itu kembali.
Anak buah Alfhonso tidak meletakkan roti kejunya, tetapi ia keluar dari pintu pembatas, melangkah dengan bengis dan menghampiri si preman tadi.
Pria berjas hitam itu mengeluarkan pistolnya dan menempelkan ujung larasnya di kepala pelanggan preman tadi.
“Kau pilih cepat! Atau kuledakkan kepalamu!!” ucapnya dengan kepala agak dimiringkan sambil menodongkan pistol.
“H-hey…iya..iya, aku pilih..aku pilih yang coklat saja..” ucap preman itu ketakutan sambil mengangkat kedua tangannya.
“Dasar bajingan kecil! Memilih roti saja terlalu lama!” dengan agak kasar anak buah Alfhonso memberi bungkusan yang berisi roti saus coklat kepada pelanggan preman tadi.
__ADS_1
Setelah membayar dengan terburu-buru mereka keluar dari toko roti sambil menahan takut.
Jasmine yang ternyata dari celah pintu melihatnya dari awal hingga akhir hanya bisa menggeleng dan menunduk tak tahu lagi harus berbuat apa.
Akhirnya Jasmine menelpon Alfhonso, tetapi sepertinya Alfhonso sedang sibuk dan telponnya tidak mendapat jawaban.
Di tempat yang berbeda, [ Di sebuah tempat rahasia, organisasi BLOOD ],
Seluruh para ketua mafia di kota itu berkumpul dan satu-persatu memberikan selamat atas dilantiknya ketua baru mereka, yaitu Alfhonso.
Ramonev juga tak ketinggalan memberi pujian dan selamat atas prestasi Alfhonso selama ini.
Di pertemuan tersebut, hanya Carlos yang tidak terlihat, karena ia telah di keluarkan dari BLOOD, entah apa sebabnya, yang jelas Carlos juga sudah tidak ingin berada di BLOOD.
Mereka para ketua mafia saling bersulang mengawali kepemimpinan Alfhonso sebagai ketua mereka yang baru.
Alfhonso dengan beban yang semakin berat tersenyum dengan keterpaksaan menerima tugas tersebut karena Ramonev telah banyak membantunya, tetapi dalam hati kecilnya Alfhonso tidak ingin bergelut lebih lama di dalam dunia hitam tersebut.
Justru sebenarnya ia ingin hidup damai dan terbebas dari dunia mafia, terlebih ketika ia bertemu dengan Jasmine yang sedikit banyak merubah pola pikirnya.
Ketika waktu rehat tiba, Alfhonso keluar ruangan, ia menuju ke atas atap gedung dan bersantai di luar sambil menikmati kepulan asap rokoknya.
Biasanya atap gedung tersebut memang kerap digunakan mereka untuk bersantai dan melepas penat.
Pria itu melihat panggilan di handphonenya, Jasmine beberapa kali memanggilnya, dengan segera ia menelpon Jasmine.
“Jasmine, ada apa?, maaf tadi sengaja aku silent karena aku ada di rapat” ujar Alfhonso.
“Ah ya, maaf mengganggu tuan..” ucap Jasmine dari sebrang telpon.
Seperti di guyur air embun yang sejuk, perasaan Alfhonso seolah damai dan ada kerinduan yang bergumul mendengar suara Jasmine. Entah kenapa semakin lama perasaan rindu itu semakin besar kepada gadis itu.
“Tidak apa Jasmine, ada apa?” ucap Alhfonso seolah menahan perasaan rindunya pada gadis di sebrang telpon tersebut.
“Tuan, beberapa pelangganku takut dengan penampilan anak buah anda, sepertinya mereka tidak tepat untuk di tempatkan di posisi penjaga toko, mereka bahkan melayani dengan sedikit intimidasi kepada pelanggan” jelas Jasmine.
“Intimidasi bagaimana?” tanya Alfhonso.
“Jika ada pelanggan yang agak cerewet atau lama dalam memilih menu roti, maka anak buah anda mendesak para pembeli untuk cepat dan menyelesaikan pilihan mereka dengan wajah yang menyeramkan”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Jasmine justru Alfhonso tertawa di sebrang telpon.
“Hahaa, yah..ya..nanti akan kutegur anak buahku yang bodoh-bodoh itu” ucap Alfhonso.
“Anak buah anda tidak bodoh tuan, mereka sangat baik dan sangat membantuku, hanya saja penampilan mereka yang sedikit menyeramkan”
Alfhonso tersenyum sendiri di pinggiran tembok, sambil membayangkan Jasmine, ketika pria itu bersamanya dan ketika ia bercumbu dengan gadis cantik itu.
“Tuan?..tuan..apa anda masih disitu?” suara Jasmine membuyarkan lamunan Alfhonso.
“Ah,..yah..aku masih disini” ucap Alfhonso sambil menghisap lagi rokok di sebelah tangannya.
“Um, Jasmine, apa kau ada waktu malam ini?,..aku rindu padamu, bagaimana kalau kita…”
“Yo!, Alfhonso!…ketua baru kita…, hey mari kita rayakan prestasimu malam ini, ayo kita ke Bar, aku yang akan traktir..bagaimana?” beberapa teman Alfhonso mendatangi pria itu dan salah satunya langsung merangkul Alfhonso.
Alfhonso yang sedikit kaget langsung memutus telponnya dengan Jasmine.
“Ah, aku rasa malam ini-…” Alfhonso belum melanjutkan kalimatnya.
“Hey, kita ajak tuan Ramonev juga bagaimana?” salah satu dari mereka menimpali.
“Tidak, jangan, itu tidak akan menyenangkan..kita-kita saja, bagaimana Alfhonso?, kami akan menunggumu di Bar biasa..”
Belum lagi Alfhonso menjawab, seorang lagi datang dari pintu kearah mereka.
“Alfhonso!, tuan Ramonev dan para elit BLOOD telah menyiapkan fasilitas liburan untukmu selama tiga hari, kau tinggal menikmati liburanmu di bungalau dekat pesisir pantai, yang mereka sediakan, dan mereka juga menyediakan wanita untuk menemanimu disana…hahaha..kau benar-benar berada diatas angin kawan..” ujar pria bermantel panjang yang memegang cerutu.
“Sepertinya itu terlalu berlebihan, tapi aku tak menginginkan itu…” ucap Alfhonso.
“Sudahlah, kau tinggal menikmati saja kesenangan itu…itu adalah hadiah dari dewan elit untukmu, kami mendukungmu..” mereka semua mendorong Alfhonso untuk pergi berlibur tiga hari di sebuah bungalau.
Dengan berat hati Alfhonso menyetujui ‘hadiah’ kesenangan dari BLOOD untuknya, walaupun justru ia tidak menginginkannya, karena Ramonev dan dewan elit mendesaknya dan bisa tersinggung jika Alfhonso menolaknya.
Dari hari itu, hingga hari keberangkatan Alfhonso ke bungalau, pria itu belum sempat menemui Jasmine.
Beberapa hari berikutnya, [ di bungalau ]
Setelah di antar oleh para pegawai bungalau, Alfhonso menempati sebuah ruangan yang mewah, dengan semua fasilitas yang disediakan. Pria itu memasuki ruangan yang agak luas, kemudian ia melihat-lihat ruangan lain.
__ADS_1
Di belakang ruangan tengah ada sebuah taman kecil, dan disana terdapat kursi rotan gantung besar untuk bersantai.
Alfhonso merebahkan tubuhnya di kursi gantung tersebut. Tetapi tak berselang lama, seseorang mengetuk pintu dari arah depan.