
“Alfhonso!, ternyata kau hadir juga disini!” sapaan seorang pria paruh baya membuat Alfhonso dan Jasmine menoleh.
“Albert!, bagaimana kabarmu?” kedua pria itu langsung merangkul satu sama lain dan mereka berbincang seru, sehingga Jasmine seolah dilupakan.
Jasmine yang kini sendirian, kemudian melihat-lihat patung yang terukir indah di atas meja (booth) pameran.
Jasmine tertarik dengan satu patung wanita setengah badan yang berwarna putih polos.
Ia terus memperhatikan ukiran di patung tersebut.
Gadis itu menyentuh perlahan lekuk wajah di patung tersebut.
Tetapi telapak tangannya tak sengaja menepis telinga patung tersebut, sampai akhirnya….
PRAK!...
Bagian telinga patung tersebut patah dan terjatuh.
“Hah?!” pekik Jasmine melihat potongan berwarna putih yang terjatuh itu dan pecah di lantai.
Jasmine menoleh ke kanan dan kiri, di lorong itu hanya ada Alfhonso dan temannya yang menghadap belakang, membelakangi Jasmine.
Alfhonso mengakhiri perbincangannya dengan temannya, dan ia melangkah menghampiri Jasmine yang tengah sendirian di depan patung wanita berwarna putih.
Jasmine panik bukan main, ia melihat Alfhonso yang mendekatinya dan dengan cepat menarik tangan pria itu dengan buru-buru.
“Hey!, ada apa in-..” Alfhonso yang sedikit berlari karena tarikan tangan Jasmine masih menyiratkan kebingungan di wajahnya.
Di kejauhan seorang sipir penjaga pameran berjalan kearah patung tersebut, tetapi beruntung Jasmine dan Alfhonso berhasil lari sebelum penjaga memergoki serpihan yang jatuh tadi akibat perbuatan Jasmine.
Mereka bersembunyi di balik sudut lorong ruang pameran patung.
“Hah?!, apa yang sudah kau lakukan!?” tanya Alfhonso ketika Jasmine menjelaskan yang sebenaranya terjadi.
“Aku tidak sengaja tuan!, bagaimana ini,..aku sangat takut” wajah panik Jasmine justru membuat Alfhonso tertawa kecil.
“Yasudah, kalau begitu kita lari saja” ujar Alfhonso yang membuat mata Jasmine membulat.
Dengan nafas yang belum beraturan Jasmine dibuat kembali tersengal dengan ajakan Alfhonso untuk melarikan diri dari gedung tersebut.
Tiba-tiba alarm gedung berbunyi, para penjaga terlihat berlarian kearah ruang pameran patung dan lukisan.
Orang-orang yang berada disana terlihat panik tanpa mengetahui apa yang terjadi.
Alfhonso menarik tangan Jasmine dengan langkah cepat, melewati para peserta pameran dan mereka berpura-pura tenang ketika didepan ada lagi penjaga yang melihat kearah mereka, kemudian berlalu kearah ruang patung.
Akhirnya mereka berhasil melewati beberapa penjaga, kemudian keduanya keluar gedung tersebut.
Diparkiran nafas mereka tersengal, namun kemudian mereka tertawa dengan kelakuan Jasmine.
__ADS_1
Akhirnya mereka berhasil keluar dari area gedung pameran.
“Aku tak menyangka tanganmu cukup jahil” Alfhonso yang menyetir tidak hentinya menertawakan kelakuan Jasmine.
“Aku tidak sengaja tuan, mungkin memang patung itu tidak cukup kuat, aku hanya menyenggolnya sedikit dan dia langsung patah” ucap Jasmine.
“Hey, gadis jahil, Apa kau tahu harga patung itu?” tanya Alfhonso yang masih menyibakkan senyuman lebar.
“Tidak tuan, tapi yang Jelas, harganya pasti lebih besar dari gajiku selama dua bulan” ucap Jasmine yang lagi-lagi membuat Alfhonso tertawa.
Setelah perjalanan beberapa saat, Alfhonso melajukan mobilnya ketempat yang agak sepi dan menanjak.
“Tuan, akan kemana kita?” tanya Jasmine.
“Ke pinggir kota” jawab pria itu santai.
Alfhonso memarkirkan mobilnya di sebuah tempat tepi kota, di tempat yang agak tinggi, dan dari sana mereka dapat melihat luasnya kota di saat malam hari dengan kerlap kerlip lampu yang berkilauan.
“Waaw, ini sangat indah tuan…semua dapat terlihat dari sini”
Jasmine melihat betapa indahnya pemandangan dari atas sana dengan wajah berbeda dengan ketika berada di gedung pameran tadi.
Alfhonso yang memandang wajah ceria Jasmine tersenyum dengan sesuatu di pikirannya.
Ia merasakan sesuatu yang damai ketika melihat wajah polos cantik gadis di sampingnya.
“Tuan?, apa anda tidak masalah duduk di tanah seperti ini?, mantelmu bisa kotor tuan?” ucap Jasmine memandang Alfhonso yang tengah duduk dan mengambil rokoknya dari dalam saku.
“Apa masalahnya duduk di tanah, aku bahkan pernah tidur di lumpur” ujar pria yang mulai menyalakan rokoknya sambil memincingkan sedikit matanya.
Asap tipis rokok pria itu mulai melebar di sekitar mereka.
Tetapi dengan tiba-tiba Jasmine meraih rokok yang terselip di bibir pria itu dan mematikannya ke tanah.
“Tuan, sebaiknya anda mengurangi rokok, tidak baik untuk kesehatan anda” ucap gadis itu membuat Alfhonso bengong melihat wajah Jasmine.
“Aku masih ada satu bungkus” pria itu mulai mengambil lagi sebatang rokok untuk dihisap.
“Tuan!, kalau kau merokok lagi disini aku akan pergi dan berjalan kaki!” pekik Jasmine kesal.
“Ya, ya baiklah..kali ini kau menang” ucap pria itu.
Keduanya terdiam sejenak di suasana hening yang redup itu.
“Tuan…, boleh kutanya sesuatu?"
Alfhonso mengangguk mengiyakan pertanyaan Jasmine.
"kenapa anda tidak ingin menikah dan berkeluarga?” ucap gadis itu.
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak ingin memiliki seseorang yang kusayangi, kemudian mereka direnggut dariku oleh musuh-musuhku, seperti yang sering terjadi pada teman-temanku” ucap pria itu yang menopang kedua lengannya di atas lututnya.
"Dan asal kau tahu, aku adalah orang jahat, apa pantas aku menikah?" ucapan Alfhonso membuat Jasmine mengerutkan keningnya.
"Anda pantas untuk dicintai tuan..sekalipun anda pernah berbuat kejahatan"
"Bukan pernah Jasmine, tapi selama hidupku aku berbuat kejahatan, dan akulah kejahatan itu sendiri"
Jasmine terdiam sejenak.
“Apa orang tuamu masih ada tuan?” tanya Jasmine.
“Entahlah, ayahku mungkin masih ada. Aku tak pernah bertemu dengannya sejak umurku tujuh tahun, yang kutahu dari kakekku, dia menikah lagi dan setelah setahun pernikahannya istrinya ditembak musuh ayahku. Dan ibuku…dia adalah wanita yang sering berganti pasangan, hingga meninggalkanku demi pria yang telah merusak keluarganya. Yah, keluargaku memang bukan keluarga harmonis” jelas pria itu sambil memandang lurus ke pemandangan di depannya.
“Maaf atas pertanyaanku tuan” ujar gadis yang kemudian menunduk di samping Alfhonso.
“Tidak apa, aku tidak pernah bersedih mengingat keluargaku” ucap pria itu yang kemudian menatap gadis di sebelahnya.
“Jasmine…apa kau pernah memiliki kekasih?” tanya Alfhonso yang membuat Jasmine menoleh kearah pria itu.
“Belum tuan, aku tidak pernah berdekatan dengan pria sebelumnya” jawab Jasmine.
“Apa itu berarti aku yang pertama berdekatan denganmu?” Alfhonso tersenyum kecil.
“um,..ya bisa dibilang begitu..” ucap gadis itu sedikit malu-malu.
"Kau cantik, apa tidak ada pria yang berusaha mendekatimu dan menjadi kekasihmu?"
"Ada beberapa yang mendekatiku, tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman"
"Hah, kau pasti banyak mengecewakan para pria dan membuat mereka patah hati.." Alfhonso sedikit tersenyum renyah.
"Ah, tidak juga tuan...anda terlalu berlebihan" Jasmine juga tersenyum.
“Jasmine…” Alfhonso memandang wajah Jasmine yang menunduk.
“Ya tua-..” tiba-tiba wajah Alfhonso sudah berada di depan wajah gadis itu, yang kini tidak bisa berbicara karena bibirnya disumbat oleh bibir pria itu.
Mereka menikmati malam indah itu dengan sekedar bercerita dan sedikit ciuman manis.
Ketika malam telah meninggi, mereka beranjak untuk pulang. Mereka menyusuri jalan kota yang sudah agak sepi karena jam sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh malam.
“Apa kau haus?" tanya Alfhonso yang melihat Jasmine mecari sesuatu di pinggir pintu mobil dan di dasbord samping.
“Sebenarnya iya tuan, tapi biarlah aku minum di apartemen saja"
“Kita mampir di minimarket, di dekat alun-alun ada yang masih buka, aku juga ingin membeli soda dan makanan" ucap Alfhonso sambil mengemudikan setir mobilnya.
Mobil Volvo hitam milik Alfhonso melaju perlahan di depan minimarket yang masih buka, dan sangat sepi.
__ADS_1