
“Hey, sekarang apa kau mau menuruti perintahku?” ucap Alfhonso kembali.
“Perintah apa?” tanya Jasmine.
“Kau harus bermalam di kamarku malam ini!”
“Kenapa tuan?, aku ingin ke apartemen sa-”
“Turuti perintahku!” Alfhonso menatap tajam mata gadis itu.
“Um, ya, baiklah.” ucap Jasmine kalah.
“Tuan, kumohon jangan tinggalkan aku, aku ingin bersamamu, walaupun kehidupanmu penuh bahaya…aku tidak ingin sendirian diluar sana… ”
Jasmine dengan wajah sedikit tertunduk, menarik lengan atas baju Alfhonso.
Alfhonso mengelus kasar kepala Jasmine, seolah menyembunyikan hasratnya dan berpura-pura dingin.
“Ya..ya, jika didekatku kau manja seperti ini, tapi kalau jauh, kau sudah seperti wanita super hah?” sindir pria itu.
“Sudah sana, mandilah dulu. Malam ini tidurlah di kamarku, aku akan tidur di kamar tamu, akh! Sial..” pekik Alfhonso.
“Kenapa tuan?”
“Aku akan tidur bersama ayahku, itu hal yang sangat menyebalkan”
Alfhonso bangkit dari sofanya, kemudian beranjak keluar.
“Aku akan mengurus yang lain dulu, kau boleh beristirahat di atas” ujar Alfhonso sambil mengisyaratkan jemarinya agar Jasmine ke lantai atas.
Dua hari berlalu, Jasmine tidak diperbolehkan keluar dari mansion Alfhonso.
Leopard hari itu kembali ke luar negeri untuk mengurus EMO, setelah sebelumnya membantu Alfhonso melakukan sesuatu.
Malam pukul 11:15, di mansion Alfhonso.
Alfhonso melangkah ke kamarnya, di bibir pintu ia berdiri dan mendapati Jasmine tengah tertidur dengan pakaian dress agak tipis.
Pria itu sempat tertegun dan terdiam melihat keindahan tubuh Jasmine di balutan dress berwarna putih di ranjang miliknya.
Alfhonso kemudian tertunduk dan perlahan akan keluar dari kamar lalu hendak menutup pintu.
“Tuan, kau sudah pulang?” Jasmine tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan kini posisinya duduk dengan tangan kebelakang.
“Ah ya, aku baru saja sampai, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan, tetapi kau sedang beristirahat, jadi besok saja kuberitahu” ucap Alfhonso di bibir pintu yang sudah akan keluar dari kamarnya.
“Tidak apa tuan, aku sudah cukup lama tertidur, katakanlah ada apa?” Jasmine kini duduk dengan kaki melipat kebelakang di atas ranjang.
Alfhonso melangkah lagi masuk ke dalam kamarnya dan mendekati gadis itu.
“Aku ingin kau melihat sesuatu, sebentar”
__ADS_1
Alfhonso yang sedari tadi sudah menyiapkan tripod panjang, kemudian mengeluarkan handphonenya dan memasang handphonenya di tripod tersebut.
Lalu Alfhosno menelpon seseorang.
“Rai, Perlihatkan kamera ke si brengsek itu!” perintah Alfhonso pada anak buahnya di sebrang telpon.
“Baik tuan” ucap pria di telpon yang ternyata adalah Raizon.
Beberapa saat kemudian, kamera di handphone Alfhonso memperlihatkan seorang pria yang bertelanjang dada dengan celana panjang hitamnya yang terdapat beberapa bercak darah, ia tengah duduk dengan tangan terikat ke belakang.
Kondisinya sangat kacau, dengan darah di sekitar wajahnya dan lebam di beberapa bagian mata dan pipinya.
Pria itu terlihat sangat lemah dan tertunduk, ia duduk di sebuah ruangan yang sedikit gelap. Beberapa pria di sampingnya memegang sesuatu semacam mesin listrik atau setrum dengan kabel panjang.
Jasmine yang melihat kondisi pria itu membelalakan matanya, mulutnya ia tutup dengan tangannya. Jasmine terlihat sangat terkejut.
“T-tuan Marino. Tuan Alfhonso apa yang kau lakukan padanya?” ucap Jasmine dengan wajah yang menyiratkan kengerian menatap wajah tenang Alfhonso kemudian kembali melihat ke layar handphone.
“Aku hanya menyiksanya sedikit. Pasangkan alat listriknya!” perintah Alfhonso pada Raizon dan anak buahnya di sebrang kamera handphone.
“Baik tuan” Raizon memasang sebuah alat di kepala Marino yang terhubung dengan panel listrik.
“Apa yang akan kau lakukan tuan?” Jasmine membayangkan sesuatu yang sangat menyakitkan akan terjadi pada pria di kursi sana.
“Hey, brengsek! Liat aku!!” perintah Alfhonso pada Marino sambil menatap layar handphonenya.
Karena kepala Marino tertunduk, maka Raizon mengangkat paksa kepala Marino agar menghadap ke kamera di hadapannya.
Jasmine menatap wajah Alfhonso dengan penuh kengerian.
“Tuan?… “
“Hey!! Marino!, cepat katakan! Minta maaf padanya sekarang juga!” bentak Alfhonso.
Marino diam tak berucap, tetapi sesuatu yang mengerikan terjadi disana setelah Alfhonso memberi kode pada anak buahnya.
“Nyalakan!” perintah Alfhonso.
“AAARGH!!!”
Teriakan Marino yang sangat kuat membuat Jasmine terperanjat. Sebuah panel listrik dinyalakan dan tersambung ke tubuh Marino.
Pria itu terguncang karena sengatan listrik, kemudian kembali tertunduk lemas setelah panel listrik dimatikan.
“Apa kau ingin mati hanya karena tidak mau meminta maaf?!, baiklah …” ucap Alfhonso.
“Nyala-”
“Aku minta maaf nona!!, aku minta maaf!” akhirnya keluar kata-kata dari mulut Marino.
“Hmm, bagus. Nona Jasmine apa kau memafkan bajingan ini, atau kau ingin dia mati saja? Semua terserah padamu, keputusannya ada ditanganmu nona” Alfhonso menoleh kearah Jasmine yang sudah sangat ketakutan.
__ADS_1
“T-tuan, ya aku memafkannya …, aku memaafkannya, lepaskanlah dia tuan” Jasmine dengan mata membulat dan penuh ketakutan seolah tidak ingin melihat Marino di siksa lagi”
“Hey! Kau beruntung Marino. Kalau saja dia meminta untuk membunuhmu, maka kau mati saat ini juga” ujar Alfhonso.
“Lepaskan dia Rai, buang ketempat yang jauh!” perintah Alfhonso pada Raizon.
Kemudian sebuah kain hitam diletakkan di kepala Marino, kemudian pria itu di paksa berdiri dengan penutup kepala, dan …. kamera mati.
“Tuan apa kau tetap akan membunuhnya?” tanya Jasmine serius melihat wajah Alfhonso.
“Tidak, aku hanya menyuruh anak buahku membuangnya di tempat yang jauh”
“Bukankah itu berlebihan tuan? Kenapa dia harus disiksa seperti itu?” protes Jasmine.
“Karena dia telah menyentuhmu, terlebih dia menggoresmu dengan pisau hingga kau terluka, dan yang paling kubenci, dia telah membohongiku dengan mengatakan kau telah sukarela melakukan hubungan denganya, maka dia harus menanggung akibatnya”
“Tapi tidak harus seperti itu kan?” mata indah Jasmine masih membulat.
“Aku sudah belajar darimu untuk tidak mudah membunuh orang, jadi dia hanya kusiksa, jika aku adalah Alfhonso yang dulu maka dia sudah kubunuh dari kemarin, dan jika aku jadi kau, aku akan lebih memilih membuatnya mati daripada memaafkannya”
Jasmine menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rambutnya yang lurus tergerai menutupi wajahnya.
Alfhonso kemudian duduk di samping Jasmine dan menyibak rambut gadis itu dengan jemarinya.
“Kenapa?” tanya Alfhonso lembut.
“Terimakasih tuan, anda sangat perhatian padaku, tetapi terkadang aku masih takut dengan sikapmu” ucap Jasmine yang kini menatap wajah tenang Alfhonso.
“Apa kau takut aku juga akan berlaku kasar padamu?” tanya Alfhonso.
Jasmine hanya mengangguk.
“Aku tidak akan menyakiti orang yang kusayangi” suara Alfhonso terdengar menenangkan.
Pria itu memegang lembut pipi Jasmine dan menatap dalam mata indahnya.
“Hey, apa kau benar masih orisinil?” tanya Alfhonso seolah meledek.
Jasmine dengan alis mengerut memukul-mukul dada pria didepannya.
“Tuan tanyakan itu lagi! Aku benci kau tanyakan itu lagi!” geram Jasmine.
Alfhonso membiarkan Jasmine memukulnya, pria itu hanya melindungi wajahnya yang juga terkena pukulan Jasmine.
...****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......
...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader....
...Terimakasih....
__ADS_1