
Di kursi teras, Andrew sepertinya bersemangat untuk berdekatan dengan Jasmine.
Tetapi lain halnya dengan gadis itu yang tidak nyaman dengan kondisi itu. Ia justru ingin menghindari Andrew.
“Jasmine, duduklah mendekat padaku, kenapa kau jauh-jauh seperti itu?” tanya Andrew yang melihat posisi duduk Jasmine yang agak menjauh dari Andrew.
“Ah, aku…,bukankah kita hanya akan berbincang? Aku rasa disini sudah cukup” jawab Jasmine.
Akhirnya pertemuan mereka malam itu berakhir. Andrew pamit pulang, sedangkan Alfhonso masih di ruang tengah sendirian dengan handphone yang di tatapnya.
Ketika Jasmine memasuki ruang tengah, gadis itu sedikit canggung untuk menatap wajah Alfhonso yang sedikit garang.
“T-tuan belum tidur?” tanya Jasmine sedikit takut.
“Belum nona Jasmine. Bagaimana perkenalannya?, apakah menyenangkan?, apa kau mendapat kecupan selamat tidur?” tanya Alfhonso tanpa menatap gadis itu.
Jasmine yang sedikit kesal dengan tanggapan Alfhonso langsung berlalu ke kamar bibi Jade. Ia tahu betul kalau Alfhonso sangat cemburu.
Beberapa hari berlalu….
Malam ketiga Andrew yang kerap mendatangi rumah bibi Jade untuk pendekatan kepada Jasmine, kali itu terlihat lebih gagah dengan seragam kepala sheriff lengkap dengan sabuk dan pistol yang berada di pinggangnya.
“Aku pulang bertugas dan langsung kesini” ujarnya ketika Jasmie membukakan pintu untuk Andrew.
Kemudian mereka mengobrol bersama bibi Jade.
Tak lama berselang, terdengar deruan beberapa mobil sport berhenti di halaman rumah bibi Jade. Mereka yang berada di dalam rumah terkejut dan melihat dari balik gorden jendela.
“Itu mereka!!” ujar bibi Jade panik.
“Tenang nyonya Jade, biar aku yang keluar” ucap Andrew sambil mengontak teman-temannya untuk segera datang kesana.
Bibi jade, Arthur ,Guldy dan Jasmine menunggu di dalam. Jasmine mencari keberaaan Alfhonso.
Jasmine kekamar Arthur dan keruangan lain, tapi ia tak juga menemukan Alfhonso.
“Arthur, dimana Alf?” tanya Jasmine pada Arthur yang masih mengintip di jendela.
“Entahlah, tadi dia menelfon seseorang dan aku tak melihatnya lagi” ujar Arthur.
‘Tuan, dimana kau…’ batin Jasmine cemas.
Tak lama berselang para sherif lain berdatangan hingga tiga mobil.
__ADS_1
Baru juga sampai halaman rumah, para bandit menembaki mobil dengan membabi buta.
Dan para anggota sherif yang berlindung di dalam mobil tidak sempat bergerak.
Andrew mengambil pistol dari sabuk di pinggangnya, dan perlahan melangkah keluar pintu.
Anggota sherif yang lain yang sempat keluar dari mobil membalas tembakan kearah para bandit.
Terjadilah baku tembak antara sherif dan para bandit yang telah menyebar.
Walaupun anggota sherif yang dikerahkan cukup banyak, tetapi mereka kualahan menghadapi bandit yang memiliki persenjataan yang lebih hebat dari para sherif.
Akhirnya beberapa sherif terkena tembakan, dan sisanya telah kehabisan peluru.
Andrew mencoba mengontak kantor pusat dan meminta tambahan bantuan, tetapi seorang bandit berhasil menembak pundak Andrew hingga handphone yang di pegang Andrew terjatuh.
Dengan seketika Zebro kepala bandit telah berada di depan Andrew dan menodongkan pistolnya kearah Andrew yang tengah terluka.
Zebro menahan Andrew dengan menahan tubuh Andrew di bawah, dan melipat tangannya ke belakang. Tangan Andrew yang sebelahnya tidak dapat di gerakan akibat tembakan tadi.
Yang berada di dalam rumah sangat ketakuan karena yang mereka harapkan bisa membasmi para bandit ternyata bisa dilumpuhkan dan tidak berkutik.
Beberapa saat kemudian, Alfhonso dari arah dapur melangkah santai ke pintu.
“Tuan?, dari mana saja anda?” bisik Jasmine yang sangat terlihat panik.
Pria itu sempat menyalakan rokoknya dan dengan mata yang memincing ia menjepit rokoknya di bibir, kemudian pria itu mengeluarkan senapan M249 yang entah darimana datangnya senapan berat itu.
“Permisi,..aku mau lewat..” ujarnya dengan rokok masih terselip di bibirnya.
Kelakuannya membuat semua yang melihatnya ternganga tak percaya. Termasuk Jasmine yang tercengang melihat tuannya memegang senjata seperti itu.
Alfhonso membuka pintu dengan perlahan,
“Tuan-tuan, apa pestanya masih berlangsung?!”
Suara Alfhonso membuat semua yang ada di luar menoleh kearahnya, termasuk Andrew dan Zebro yang berada tak jauh dari pintu.
Ketika Zebro mengalihkan senjatanya kearah Alfhonso, Alfhonso lebih dulu menembaknya di dada dan tangannya, sehingga senapan yang di pegang Zebro terlepas.
Jerit kesakitan Zebro membuat anak buahnya panik dan siap menembaki Alfhonso.
Tetapi dari belakang mereka sebuah mobil hitam anti peluru dengan cepat berada di tengah-tengah mereka dan mobil hitam tersebut membuka kap atasnya…
__ADS_1
Sebuah senjata berat Machine Gun, dengan lubang peluru yang besar dan tampilan yang menyeramkan timbul di atas mobil, dan siap menembakan peluru baja yang dapat menghancurkan sebuah mobil.
Tembakan yang tadi akan diarahkan ke Alfhonso kini diarahkan ke mobil tersebut.
Tetapi belum sempat para anak buah Zebro menembaki mobil hitam tersebut, hantaman rentetan peluru dahsyat menghujani beberapa mobil milik bandit-bandit tersebut hingga hancur lebur.
Para bandit berusaha berlindung bahkan ada yang akan melarikan diri, tetapi beberapa pria berpakaian serba hitam dan penutup kepala hitam keluar dari mobil dan menembaki kaki seluruh anggota Zebro, hingga semua terkapar meringis kesakitan.
Ada beberapa anggota Zebro yang menembaki pria berpakaian hitam tersebut, tetapi tubuh mereka dilengkapi dengan pakaian anti peluru.
Alfhonso juga ikut menembaki kaki beberapa anggota Zebro termasuk Zebro si pemimpin.
Alfhonso berdiri di depan Zebro dan menodongkan senapannya ke kepala pria yang tengah terkulai di tanah dengan kaki dan lengan yang berdarah, kemudian dengan lantang berkata…
“Ingat para tikus-tikus brengsek!, kalau saja para sherif tidak ada disini, maka yang kami tembak bukan kaki kalian, tapi kepala-kepala bodoh kalian!, tetapi kalau sekali lagi kami lihat kalian masih saja seperti ini, kami tidak perduli apapun, kepala kalian jaminannya!!”
Para bandit tidak dapat lagi berkutik, semua menyerah dengan kekuatan personil anak buah Alfhonso, kekuatan senjata, juga peralatan milik Alfhonso beserta anak buahnya yang lebih mengerikan dibanding milik mereka.
Akhirnya para sherif membawa seluruh anggota Zebro ke markas mereka.
“Hey!, anak-anak kerja bagus!, besok kalian akan berlibur dan mendapat bonus!!” teriak Alfhonso disertai lambaian tangan yang masih memegang senapan, tanpa memandang ke anak buahnya, dan sorak sorai terdengar dari belakang Alfhonso.
Para anak buah Alfhonso dengan cepat menghilang sebelum pekarangan rumah itu ramai.
Benar saja, para Polisi dan ambulan berdatangan. Halaman rumah bibi Jade menjadi ramai, bekas mobil terbakar dan hancur menjadi saksi betapa hebat senjata penghancur itu.
Andrew yang akan mendapat perawatan, sempat berterimakasih pada Alfhonso.
“Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, tetapi terlepas dari itu, terimakasih telah menyelamatkan kami dan mengusir Zebro dan anak buahnya” Andrew menepuk bahu Alfhonso kemudian ia dibawa oleh ambulan.
Raizon mendekati Alfhonso, dan melihat kearah Andrew.
“Siapa dia tuan?” tanya Raizon.
“Calon suami Jasmine” Alfhonso langsung melangkah meninggalkan Raizon.
Raizon membulatkan mata sambil menganga..
“Hah?, kau serius tuan?!”…gumam Raizon sambil melihat Andrew dari kejauhan.
Alfhonso memasuki rumah kembali, dan ia menemui Jasmine. Karena semua yang berada di dalam rumah telah keluar, sehingga Jasmine dan Alfhonso berdua di dalam ruangan tersebut.
Jasmine dengan spontan memeluk Alfhonso, dan pipinya menempel erat di dada pria gagah itu.
__ADS_1
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......