
“Maaf, aku sudah lebih dulu memesan meja ini, anda bisa mencari meja lain” ucap Alfhonso kepada pria berpakaian jas hitam dan terlihat necis tersebut, yang berdiri disamping meja.
“Tapi istriku menginginkan meja ini” ucap pria necis tersebut.
“Tapi aku sudah memesannya lebih dulu!” Alfhonso tak mau kalah.
“Hey, apa kau tahu siapa aku?” tanya pria itu kepada Alfhonso.
“Kalaupun aku tahu siapa kau, apa perduliku, yang jelas meja ini sudah kupesan dan kami mau duduk sekarang!” tegas Alfhonso terdengar sedikit geram.
Alfhonso menuntun Jasmine untuk duduk di kursi tanpa memperdulikan pria dan wanita yang berdiri tadi.
Jasmine duduk dengan ragu-ragu, dan memandang pria dan wanita yang berdiri di samping meja.
“Hey!, apa-apaan kau!, kenapa kau malah duduk disini!, aku adalah anak pemilik restauran ini!, aku berhak duduk dimanapun yang aku inginkan!”
Pria ber-jas itu memegang lengan atas Alfhonso dan mencegahnya untuk duduk, alhasil Alfhonso tidak jadi duduk, dan Alfhonso langsung memandang wajah pria itu dengan tatapan tajam.
Alfhonso dengan sikapnya yang seperti biasanya, dengan kekesalan yang sudah tak bisa dibendung lagi, ia mengeluarkan pistol revolvernya dari dalam saku, dan hendak akan menodongkannya ke pria yang memegang lengannya.
Tetapi dengan sangat sigap, Jasmine bangkit dari duduknya dan memegang tangan Alfhonso yang sedang memegang pistol.
“Hey!, apa kau mau menembakku?” pria itu setengah kaget dan mundur agak menjauh dari Alfhonso.
Si wanita berlindung di belakang pria tadi sambil menatap Alfhonso ketakutan.
“Tuan, sebaiknya kita cari meja lain saja..” ucap Jasmine menurunkan pistol di genggaman Alfhonso.
“Kenapa kita yang mengalah?!, aku yang lebih dulu memesan meja ini untukmu!, aku tak perduli siapa dia!” ujar Alfhonso geram.
“Apa salahnya mengalah tuan, itu tidak akan menurunkan martabatmu sama sekali, biarlah mereka disini, kita cari tempat lain saja…” ucap Jasmine menenangkan Alfhonso.
Alfhonso diam sejenak dan melihat kearah Jasmine..
“Tuan, bagaimana kalau kita makan diluar, di pinggir pantai saja, sepertinya lebih menyenangkan…” ucap Jasmine sambil menggandeng Alfhonso, menghindari sesuatu yang buruk yang bisa saja terjadi.
“Diluar?” alis Alfhonso bertaut.
“Ya tuan, di dekat pantai, sepertinya lebih seru..” ucap Jasmine semangat.
Melihat Jasmine yang bersemangat, nafsu membunuhnya semakin sirna, dan ia mulai terlihat tenang.
“Baiklah!. Hey!, duduklah sana! Tapi kau harus tahu!, Aku tidak akan mendatangi tempat ini lagi!, dan bilang pada ayahmu Saron,…aku..,Alfhonso Garzello akan menghentikan kerjasama dan investasi menanam modal ditempat ini!” ancam Alfhonso.
“Hah?, kau tahu nama ayahku?, sebenarnya siapa anda tuan?” tanya pria itu terlihat ketakutan.
__ADS_1
“Aku adalah pemilik puluhan perusahaan Garzello, ayahmu adalah salah satu orang yang pernah memintaku menanam saham di restauran ini, dan aku akan menghentikannya setelah ini” ucap Alfhonso.
Pria tadi terkejut bukan main…
“T-tuan, kumohon jangan lakukan itu, tolong maafkan aku…silahkan duduklah disini” ujar pria tadi terlihat berubah sikap pada Alfhonso.
“Nona, duduklah..biar kami cari meja lain” ucap pria itu sambil akan memegang lengan Jasmine untuk duduk dikursi.
“Hey!, jangan sentuh dia!, dasar brengsek!!” Alfhonso terlihat geram kembali sambil menepis tangan pria tadi.
“Kami akan makan diluar saja tuan” ujar Jasmine sambil menggenggam lengan Alfhonso dan sedikit menariknya.
“Tapi tuan Garzello…” pria itu mulai panik.
Jasmine dan Alfhonso berlalu pergi dari hadapan mereka, dan menuju ke bawah keluar pintu restauran.
Akhirnya Alfhonso dan Jasmine makan di luar, di pinggiran pantai. Disana bukanlah tempat semewah di dalam restauran, tetapi justru pemandangan dan suasananya lebih indah.
Mereka duduk di dekat kedai hamburger di pinggir pantai. Mereka menikmati hamburger sambil melihat pemandangan laut.
Tiba-tiba, dari kejauhan beberapa orang pria membawakan dua kursi dan satu meja dari dalam restauran.
Pria yang lain bertuxido dan memakai sarung tangan putih membawakan buku menu di tangannya dengan kain putih melipat di lengannya.
Alfhonso dan Jasmine saling memandang.
“Saron sepertinya takut kehilangan investornya…” ucap Alfhonso sambil berdiri dan mencari tempat yang cocok.
Akhirnya mereka memilih tempat yang agak sepi untuk makan berdua di pinggir pantai.
Menu makanan yang mereka pilih, semua diantar dari restauran ke tempat itu. Mereka dilayani layaknya pelanggan istimewa, hanya saja tempatnya di pinggir pantai.
“Bukankah disini lebih menyenangkan tuan..” ucap Jasmine yang telah duduk dikursi berhadapan dengan Alfhonso.
“Ya, tapi aku bisa sakit besok terkena angin pantai..” ujar Alfhonso.
“Hahaa, kenapa kau seperti anak kecil saja tuan. Oya tuan, apa kau serius ingin memutuskan investasi ke restauran ini?” tanya Jasmine.
“Hah, aku hanya menggertak orang sombong itu…pasti ayahnya menelfonku nanti dan meminta maaf..”
“Tuan, tolong jangan terlalu terburu-buru dalam bertindak, tidak semua harus diselesaikan dengan senjata…apa anda membayangkan yang terjadi jika tadi tuan benar-benar membunuh orang itu?” ucap Jasmnie.
“Ya, aku sudah membayangkannya. Orang brengsek itu akan mati di depanku” dengan santainya Alfhonso menyuap makanan ke mulutnya.
Jasmine hanya menghela nafas.
__ADS_1
“Tuan,…cobalah belajar untuk mengalah sedikit. Tidak semua keinginan kita harus dipaksakan untuk didapatkan, dan tidak semua hal bisa di selesaikan dengan kekerasan..” nasehat Jasmine kembali.
“Itu mungkin prinsipmu, tapi prinsipku, semua keinginanku memang harus kudapatkan” tukas Alfhonso.
“Benarkah?, apa tuan pernah punya keinginan yang belum tuan dapatkan hingga hari ini?” tanya Jasmine.
“Hmm, kalau aku menginginkannya, pasti sudah kulakukan” jawab Alfhonso.
“Apa tuan tidak menginginkan memiliki keluarga atau keturunan?”
“Hmm, kalau aku mau aku bisa..”
“Kenapa tidak tuan lakukan?”
“Aku belum mau..”jawab Alfhonso singkat.
Jasmine lagi-lagi menghela nafas dan terdiam, memang sulit berbicara pada pria macam Alfhonso yang sedikit keras kepala.
“Bagaimana denganmu?, apa kau punya keinginan yang belum kau penuhi?” kini Alfhonso balik bertanya.
“Aku?, keinginanku banyak yang belum ku dapatkan, tetapi aku tidak pernah memaksakan untuk harus mendapatkannya…”
“Seperti apa keinginan yang belum kau dapatkan?” tanya Alfhonso lagi semakin pensaran.
“Yaah, seperti aku menginginkan memiliki toko roti sendiri, tapi anda tidak mengizinkannya, apa aku harus memaksakan untuk mendapatkannya?, tidak…, itu hanya kusimpan untuk impianku saja, lalu sisanya kujalani apa yang bisa kudapatkan” jelas Jasmine.
Mendengar hal itu Alfhonso terdiam sambil mengaduk-aduk makanannya.
“Apa kau masih memiliki keinginan membuka toko roti?” tanya Alfhonso kembali.
“Yah, tidak apa tuan, itu hanya impianku..lupakan saja”
“Sudahlah tuan, sebaiknya kita makan dan tidak banyak bicara saat makan..” ucap Jasmine.
Alfhonso memencet hidung Jasmine dengan gemas.
“Aww!!” pekik Jasmine.
“Kau seperti nenekku!” ujar Alfhonso.
Setelah makan, mereka melihat pemandangan laut dari pinggir pantai, sepoi dingin angin pantai membuat mereka merasa damai dan larut dalam indahnya malam.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......
__ADS_1