
Sesampainya di markas BLOOD,
DI Loby bawah gedung Alfhonso menerima telpon dari ayahnya.
“Kau sudah sampai?, tunggu aku sebentar, kita akan masuk ruangan bersama” ucap Leopard tanpa menunggu jawaban dari Alfhonso.
Tak berselang lama, Leopard diiringi beberapa anak buahnya menemui Alfhonso.
Akhirnya Leopard, Alfhonso, Raizon dan beberapa anak buah mereka menuju ke aula ruang pertemuan atau ruang rapat yang sangat tertutup.
Salah satu anak buah Leopard membuka pintu besar ruang pertemuan, dan akhirnya mereka melangkah memasukinya.
Seluruh anggota BLOOD telah hadir disana termasuk Ramonev yang kini hanya menjadi anggota dewan elit.
Seluruh anggota berdiri tanpa kecuali, sebagiannya terlihat tercengang dan menyiratkan wajah terkagum dengan kehadiran Leopard sang legenda mafia, sebagian lagi yang sudah mengetahui tentang kabar hadirnya Leopard tetap memberikan hormat.
Mereka semua anggota BLOOD sedikit menundukkan kepala mereka, tanda penghormatan kepada Leopard sebagai mafia besar yang paling dihormati dan Alfhonso sebagai ketua.
Leopard melangkah menuju kursi paling ujung dengan senderan paling tinggi. Sebuah meja oval besar berada di tengah ruangan, di sisi kiri dan kanannya berdiri para petinggi BLOOD, sedangkang Alfhonso mengambil posisi di barisan kursi sebelah kiri, berdekatan dengan Leopard, karena kursi yang biasa ia duduki kini di duduki ayahnya.
“Baiklah, duduk!” perintah Leopard kepada seluruh peserta yang hadir diruangan itu, kemudian pria itu duduk mendahului semuanya.
“Aku mengucapkan salam dan terimakasih untuk semua yang hadir di sini. Mungkin dari kalian sudah ada yang mengetahui kabar tentang kedatanganku di negara ini, dan kabar tentang pria di sampingku ini, ya Alfhonso adalah putraku”
Kemudian Leopard menjelaskan kepada seluruh anggota bahwa ia menginginkan Alfhonso menduduki posisi yang lebih tinggi dengan bergabung bersama EMO menjadi ketua, dan jabatan ketua di BLOOD akan diserahkan kepada anggota yang lain.
Sebagian anggota ada yang seolah tidak setuju dengan keputusan tersebut, tetapi sebagian lagi ada yang tidak mampu menentang keputusan sang Leopard, mafia besar yang sangat di segani.
__ADS_1
Akhirnya setelah beberapa jam berlalu, telah dirumuskan sementara bahwa Alfhonso akan mundur dari jabatan ketua BLOOD dan akan menjadi ketua EMO yang berada di luar negeri.
DI sela waktu istirahat, Alfhonso sempat berbincang dengan Ramonev.
“Ini bukan keputusan dari hatiku tuan, tetapi aku juga tidak bisa menentang ayahku, karena apa yang dijelaskannya memang masuk akal buatku” ucap Alfhonso di hadapan Ramonev.
“Ambillah yang terbaik untukmu Alfhonso, tetapi kalau aku boleh menyarankan sebaiknya kau mengikuti kata hatimu, karena yang akan menjalankan keputusan itu adalah dirimu sendiri dan bukan ayahmu. Pikirkanlah matang-matang keputusan ini. Ayahmu memang seorang mafia hebat Alfhonso, tetapi dia tidak bisa memaksakan putranya untuk menjadi dirinya, karena kau memiliki jalan yang berbeda” ucap Ramonev bijak.
Alfhonso terdiam dan sedikit menunduk. Karena sebenarnya ia juga setuju dengan pendapat Ramonev, ia tidak bisa memungkiri bahwa beban yang akan di pegangnya pasti sangatlah berat untuk posisi ketua EMO, juga ia tidak ingin menjauh dari semua yang telah di capainya di tempat itu, juga satu hal lagi, yaitu tentang Jasmine, ia akan benar-benar kehilangan satu wanita yang bisa membuka hatinya untuk mencintai, jika dirinya mengikuti kemauan ayahnya.
Pria itu tidak bisa menipu dirinya untuk pura-pura tidak perduli dengan hilangnya Jasmine, dan ia juga tidak bisa memungkiri bahwa pikirannya saat ini sangat kacau dan sangat kehilangan, ia tidak dapat fokus dengan masalah yang sekarang tengah di hadapinya, karena separuh pikirannya ada di gadis itu.
Kemana gadis itu pergi, dimana ia sekarang, sedang apa dia, dan bersama siapa ia…semua itu seolah menggelayut tidak bisa hilang dari benak Alfhonso.
“Aku sudah putuskan tuan Ramonev!, aku akan tetap disini dan menjadi ketua BLOOD, aku akan menolak tawaran ayahku, aku akan bicara padanya” ujar Alfhonso mantap.
“Kau adalah pria yang tak kalah hebat dengan ayahmu Alfhonso” ucap Ramonev menyemangati.
Di sebuah ruangan terpisah,
Setelah menjelaskan semua pada Leopard, Alfhonso mengambil keputusannya dengan mantab bahwa ia akan tetap di sana dan menjadi ketua BLOOD dan menolak untuk pergi ke luar negeri dan bergabung dengan EMO.
“Apa ini semua ada hubungannya dengan gadis itu?!, apa karena dia kau menjadi lemah pendirian seperti ini Alfhonso!” Leopard seolah geram dengan keputusan putranya.
“Kalau iya kenapa!, dia hanya salah satu alasanku, banyak lagi alasanku kenapa aku ingin tetap berada disini. Mungkin aku akan mewujudkan keinginanmu ketika usiaku sudah sangat matang, dan aku sudah siap dengan semua konsekwensinya, tetapi untuk saat ini, aku ingin melanjutkan perjalananku disini, tolong mengertilah…ayah..”
Leopard spontan menoleh ke wajah Alfhonso ketika putranya memanggilnya ayah, mata pekatnya berbinar seolah ia merasakan sebuah gumpalan perasaan yang tadi kaku seolah melebur.
__ADS_1
Leopard menghela nafas panjang, kemudian pria itu tersenyum. Ia merangkul pundak Alfhonso dan mengguncangnya.
“Baiklah, aku tidak bisa lagi memaksa seorang anak yang sedang jatuh cinta dan seorang pria yang sudah memiliki prinsip untuk kehidupannya”
Alfhonso tidak menyangka ayahnya akan semudah itu menerima keputusannya, ia juga tersenyum menatap wajah ayahnya.
“Leo, apa kau pernah benar-benar mencintai seorang wanita?” tanya Alfhonso.
“Apa kau tak bisa tetap memanggilku ayah?!. Terserah padamu lah. Yah..aku pernah mencintai seorang wanita, dia ibumu, dia adalah cinta sejatiku, walaupun dia bukan yang pertama untukku, karena sebelumnya aku pernah memiliki wanita dan darinya lahir Reondess kakakmu, kemudian aku menikah lagi dengan Lily yang kemudian ia tertembak oleh musuhku, aku sedikit trauma dengan wanita…tetapi ibumu sangat baik dan mencoba membuatku merasa nyaman, hanya saja aku yang tidak pernah menyadari jika aku memiliki sebuah mutiara” Leopard melepaskan rangkulannya dan wajahnya sedikit menengadah seolah mengingat sesuatu.
“Lalu kenapa kau meninggalkan ibu?” tanya Alfhonso memandang serius wajah ayahnya.
“Dia yang meninggalkanku. Memang semua salahku, karena aku terlambat memberikan kasih sayang padanya. Sejak menikahinya aku tidak pernah memperlakukan ibumu dengan baik, walaupun sebenarnya aku mencintainya, tetapi karena aku terpengaruh dengan minuman dan juga kondisiku yang sangat kacau, maka aku tidak bisa mengontrol diriku. Pernah beberapa kali aku membawa wanita kerumah dan berhubungan dengan wanita lain itu di depan ibumu, ketika itu ibumu sedang hamil, yah ibumu sedang mengandung kau Alfhonso, dan aku menyakitinya beberpa kali…” Leopard menunduk, seolah kharisma dan wibawanya yang tinggi tenggelam dan tersembunyi saat itu juga.
Alfhonso terdiam dengan mata yang serius memandang ayahnya.
“Ternyata di balik kebesaranmu, kau memang seorang bajingan” ujar Alfhonso.
“Yah, aku memang bajingan…bahkan ketika ibumu melahirkanmu, aku sedang berada di bar minum-minum bersama teman-temanku, dan ketika aku pulang aku tidak mendapati istriku, aku sempat marah dan menghancurkan barang-barang, ternyata ayahku, kakekmu memberitahuku bahwa ibumu tengah melahirkanmu di rumah sakit”
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......
...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader....
...Terimakasih....
__ADS_1