MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 46 - Dia masih hidup


__ADS_3

Alfhonso sempat menoleh kearah asal suara tembakan, dari kejauhan seorang dengan pakaian hitam berlari dengan kencang dan menghilang.


Alfhonso sempat bingung antara ingin mengejar pria yang berlari tadi atau melihat kondisi Jasmine.


Kepanikan mulai muncul di benak pria itu. Matanya membelalak ketika ia melihat tangannya yang menyentuh tubuh Jasmine berlumuran darah.


“Jasmine!! tidak!, jangan!..JASMINE!!” pria itu dengan cepat bangkit dan membalik tubuh Jasmine.


Ternyata tembakan tadi mengenai dada wanita yang dicintai Alfhonso. Darah mengalir dari pakaian Jasmine, dan wanita itu tak sadarkan diri.


Mulut Alfhonso menganga seolah tak percaya, jantungnya seakan di remukkan, dadanya begitu sesak melihat tubuh tak berdaya di pangkuannya yang bersimba darah.


Chiko dengan cepat berlari kearah kakaknya yang berada di pangkuan Alfhonso. Anak kecil itu menangis sejadi-jadinya, memanggil-manggil kakaknya.


Alfhonso yang seolah seluruh kepanikan, kecemasan dan rasa marah yang berkecambuk dalam dirinya, membuat ia terdiam sejenak sambil mengusap pipi lembut Jasmine sampai ke bibirnya dengan telapak tangannya yang berlumuran darah, sehingga sebagian wajah Jasmine juga terkena noda darah.


“Jasmine…tidak…” ucapnya perlahan menahan perih yanag tengah dirasanya.


Kemudian ia tersadar dan berteriak memaki semua orang yang ada disana supaya cepat mamanggil ambulan.


Pria itu menelpon Raizon dan dengan berteriak meminta anak buahnya cepat datang ke lokasi itu.


Di pangkuan Alfhonso, tubuh Jasmine yang lemah tak bergerak terus diguncang oleh pria itu sambil matanya menahan kemarahan sekaligus ketakutan yang seolah memohon agar wanita itu bangun dari diamnya.


“Jasmine..kumohon, bangunlah…JASMINE!!” teriakkan Alfhonso di kalimat terakhir di dengar oleh para anak buahnya yang berdatangan kearahnya.


Akhirnya ambulan dan para polisi mulai berdatangan ke alun-alun kota, tetapi polisi belum sampai ke tempat kejadian Jasmine tertembak.


Raizon yang sudah sampai di lokasi cepat-cepat membawa Alfhonso meninggalkan tubuh Jasmine sebelum polisi mendatangi tempat itu.


“Tuan, sebaiknya anda pergi sebelum polisi bertemu anda. Biar aku yang menemani nona Jasmine di ambulan dan membawanya ke Rumah Sakit” ucap Raizon sedikit terburu-buru.


“Tapi Rai, Jasmine…” Alfhonso seolah tidak ingin meninggalkan Jasmine yang tengah terkulai.

__ADS_1


“Tuan!, tenanglah, dia masih hidup!, aku akan menanganinya. Anda sekarang adalah ketua AB, sangat berbahaya jika polisi menemukan anda disini, cepatlah pergi tuan!. Hey!! bawa tuan Alfhonso ke mobil..CEPAT!!” perintah Raizon pada anak buahnya.


“Dia masih hidup Rai?, apa benar?!” tanya Alfhonso dengan mata membulat melihat kearah Jasmine, tatapan matanya berbinar dan penuh harap, ia ingin mendekati lagi tubuh Jasmine tetapi Raizon dengan cepat mencegahnya.


“Akh!, Sial!!” Alfhonso terlihat geram karena tidak dapat menemani Jasmine dan harus pergi untuk menghindari polisi yang sebentar lagi akan ke tempat itu.


Dengan kemarahan dan perasaan yang bercampur pria itu segera bergegas menuju mobilnya dengan langkah terburu-buru.


Chiko di bawa supir kembali ke asrama. Anak kecil itu terus menangis tak hentinya.


Di dalam mobil Alfhonso memejamkan matanya tidak kuat menahan perih yang sedang di telannya. Ia harus meninggalkan Jasmine yang justru sangat perlu ia lihat kondisinya.


Di perjalanan Alfhonso terus mengontak Raizon menanyakan kondisi Jasmine. Jasmine buru-buru di bawa ke Rumah Sakit di pusat kota.


Di Rumah Sakit, Jasmine cepat-cepat ditangani oleh dokter ahli. Semua alat-alat di pasang ditubuh Jasmine sebelum di mulai operasi pengangkatan peluru yang masih bersarang di dadanya.


Akhirnya operasipun berjalan. Raizon dan Bony serta dua anak buah Alfhonso menunggu di ruang tunggu.


Ketika dokter ahli bedah keluar ruang operasi, Raizon langsung bangkit dari duduknya, dan menanyakan kondisi Jasmine.


“Dia masih belum sadar, tapi dia akan baik-baik saja, pelurunya sudah diambil. Anda tenang saja, kekasih anda akan pulih dalam beberapa pekan” ucap dokter bedah.


‘Kekasih?’ gumam Raizon di batinnya.


“Ah, baik dokter, terimakasih” ucap Raizon.


Esok paginya, Jasmine telah dipindahkan ke ruang rawat VIP, namun ia belum sadar dari pingsannya karenanya tetap terpasang beberapa alat di tubuhnya, seperti monitor alat perekam denyut jantung, infus dan oksigen yang masih terpasang di sekitaran tubuh Jasmine.


Raizon menunggu disana bergantian dengan Bony dan Meggy. Alfhonso belum diizinkan Raizon untuk ke Rumah Sakit karena polisi masih kerap mengunjungi Rumah Sakit untuk meminta keterangan.


Alfhonso hanya bisa menelpon Raizon dan menyalakan Vidio Call untuk melihat wajah Jasmine dengan mata yang masih terpejam.


“Yah, cukup..aku sudah melihatnya Rai…” ucap Alfhonso di balik telponnya ketika Raizon menghadapkan handphone miliknya kearah Jasmine.

__ADS_1


Alfhonso yang lemas di meja kerjanya, terus memikirkan keadaan Jasmine. Ia tidak bisa fokus bekerja.


Ketika ia mengunjungi apartemen, ia justru lebih terpukul lagi dengan aroma Jasmine yang masih berada di ruangan itu, dan bayangan wanita itu yang seolah-olah masih berada di ruangan tersebut.


Alfhonso duduk di sofa, dan mulai menyalakan rokoknya, mengepulkan asapnya dengan ditemani sebotol minuman beralkohol.


‘Jasmine…sudah dua kali dia mencoba menyelamatkanku. Kenapa aku terlalu khawatir dengan gadis itu, kenapa aku terlalu perduli dengannya, kenapa aku tak ingin kehilangannya..dan kenapa aku terlalu sayang dengannya…akh! Ini semua terasa aneh buatku..’ batin Alfhonso terus saja bergelut dengan perasaannya saat itu.


Alfhonso bermalam di apartemennya. Tetapi ia tak dapat memejamkan matanya. Entah apakah ini yang di namakan cinta, ia tak bisa berhenti mengkhawatirkan satu wanita itu yang seolah ada rasa mendalam telah masuk dalam relung-relung batinnya.


Setelah lima hari berlalu,


Barulah Alfonso bisa datang menemui Jasmine. Alfhonso membawa sebuah buket bunga cantik. Alfhonso sangat tidak sabar menemui gadis yang kini sangat di sayanginya.


Pintu kamar VIP di buka perlahan oleh anak buah Alfhonso. Pria itu masuk perlahan dan mendekati ranjang rawat tempat Jasmine terkulai dengan selimut di sebagian tubuhnya.


“Hey, bagaimana kondisimu?” tanya Alfhonso lembut yang kini sudah berada di sisi gadis itu.


Pria itu menatap wajah Jasmine dengan kerinduan yang terbendung. Ia melihat balutan perban yang masih melingkar di bagian pundak gadis itu.


“Ah tuan,..anda datang..aku sudah lumayan membaik tuan..” senyuman gadis itu melelehkan batin Alfhonso.


Jasmine berusaha bangkit dari berbaringnya, dan bersender lebih tinggi pada bantal.


“Jangan banyak bergerak dulu..” ucap Alfhonso mencoba menghentikan gerakan Jasmine.


“Hey, kau membuatku khawatir kemarin…” ujar Alfhonso yang kini duduk di kursi di hadapan Jasmine.


Jasmine hanya tersenyum mendengar kalimat Alfhonso.


“Kau tahu Jasmine, kenapa aku tidak ingin memiliki kekasih..karena seperti inilah yang ku takutkan. Ketika seseorang yang kusayangi terlibat dalam kondisi seperti ini. Aku tidak ingin melibatkan orang yang kusayangi dalam dunia hitamku, terjembab masuk kedalam lubang yang berbahaya”


“Tuan, bukankah kondisiku tidak ada kaitannya dengan dunia hitammu?, ini adalah kecelakaan. Lagipula, bukankah semua pekerjaan memang beresiko memiliki bahaya?, contohnya seperti pekerjaan menjadi kurir pizza yang terlihat aman, tapi ternyata bisa juga mengalami bahaya…”

__ADS_1


Spontan Alfhonso menatap wajah Jasmine dan tersenyum.


__ADS_2