MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 43 - Di Bungalau


__ADS_3

Alfhonso menghampiri pintu dan membukanya, ternyata seorang wanita cantik yang tengah berada di depannya dengan pakaian yang menggoda.


“Selamat pagi tuan Alfhonso, aku Meggy, aku diminta tuan Ramonev untuk melayani anda selama di sini” ucap wanita itu.


“Hmm, ya baiklah, masuklah” ucap Alfhonso mempersilahkannya masuk.


Tetapi sikap Alfhonso seolah dingin terhadap wanita itu, ia justru langsung ke dapur dan mencari apa yang bisa di gunakan untuk memasak.


“Apa anda ingin memasak sesuatu tuan? Biar aku buatkan masakan untukmu” ucap wanita itu yang juga langsung menuju dapur.


“Apa kau juga bisa memasak?” tanya Alfhonso.


“Tentu saja aku bisa”


Setelah beberapa saat, wanita itu menyediakan masakannya ke hadapan Alfhonso. Kemudian pria itu memakan makananya.


“Bagaimana tuan?, apa enak masakanku?” tanyanya.


“Yah, lumayan” jawab Alfhonso seadanya.


“Kau berasal dari kota mana?” tanya Alfhonso.


“Aku dari kota Beruin tuan” jawab wanita itu yang duduk di sofa di hadapan Alfhonso.


Setelah selesai makan, Alfhonso menyerahkan piringnya pada Meggy, kemudian pria itu membuka bajunya, bertelanjang dada dan merebahkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan diangkat dan disatukan di belakang kepalanya, kemudian ia memejamkan matanya.


Meggy melirik kearah pria itu. Seolah tubuh altletis Alfhonso menggodanya.


Wanita itu mulai mendekati Alfhonso.


“Tuan, apa anda perlu pijatan?, aku juga bisa memijat jika anda lelah” ucap wanita itu sedikit bersuara manja.


“Ah, tidak..tidak perlu, aku hanya ingin istirahat, kau juga boleh beristirahat” ujar Alfhonso.


Akhirnya malam membentang. Alfhonso masih saja bersikap dingin pada Meggy. Tidak ada tanda-tanda Alfhonso menginginkan tubuh wanita itu.


Malam kedua di bungalau, Meggy yang sedikit agak kesal dengan sikap Alfhonso. Akhirnya dengan memberanikan diri, wanita itu mendekati Alfhonso yang tengah duduk di sofa, kemudian menuangkan segelas minuman beralkohol di hadapan Alfhonso.


“Tuan Alfhonso, mari kita minum…” wanita itu kemudian mendekati Alfhonso dan menyodorkan minuman kedepan pria itu.


“Hey, tunggu dulu..” Alfhonso seolah ingin menolaknya, tetapi Meggy langsung menaruh bibir gelas ke mulut Alfhonso.


“Minumlah tuan, bukankah disini anda akan bersenang-senang, kenapa sikap anda kaku seperti ini..” ucap Meggy yang sudah meneguk beberapa gelas minuman tersebut.

__ADS_1


“Hey, yang ini agak keras, kau bisa memilih botol yang lain..” ucap Alfhonso melihat botol yang di genggam Meggy.


“Biarlah tuan..ayo kita nikmati minuman ini..” suara Meggy sudah sedikit mengacau dan bau alkohol tersembul dari mulut wanita itu.


Kaki Meggy yang putih mulus di angkat dan di letakkan di paha Alfhonso. Kini tangan wanita itu merayap di antara paha pria tampan di depannya.


Alfhonso tersentak kaget dan ia berusaha bangkit dari duduknya.


“Hey, tungg-..” Alfhonso tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena Meggy dengan tiba-tiba meletakkan bibir gelas kembali di mulut Alfhonso dan pria itu terpaksa meminum minuman tersebut.


“Apa kau takut dengan minuman ini tuan?, apa ketua BLOOD sepengecut ini?, takut dengan wanita dan takut minuman yang agak keras?” bisikan suara Meggy tepat di telinga Alfhonso.


Beberapa gelas minuman telah masuk ke tenggorokan Alfhonso, hingga pria itu juga mulai sedkit mabuk.


“Apa yang kau katakan?, aku adalah pria pemberani..” Alfhonso dengan cepat meraih botol yang ada di meja dan langsung meminumnya.


Kini pria itu benar-benar mabuk, hingga ia hampir tak sadar dengan apa yang terjadi.


Pagi hari, pukul 5:15, Alfhonso terbangun dari tidurnya di sofa. Pria itu memijit kedua matanya kemudian memegang kepalanya yang berat akibat mabuk. Ia beranjak duduk dan melihat sekelilingnya.


Alfhonso mencari keberadaan Meggy, tetapi wanita itu tidak ada disana. Ia melihat tubuhnya yang bertelanjang dada.


‘Sial, aku mabuk semalam, akh! Apa yang telah kulakukan dengan wanita itu’ gumamnya.


Tak berselang lama, Meggy dengan rambut basah dan handuk yang melilit tubuhnya melihat Alfhonso yang masih duduk di sofa.


Alfhonso malah bersandar pada sandaran sofa, kepalanya menengadah keatas dan tangannya diangkat meraup rambutnya sampai kebelakang.


“Apa kepalamu masih berat tuan?” tanya Megy sambil menggibas rambutnya yang basah.


“Apa kau sengaja membuatku mabuk semalam?” tanya Alfhonso yang masih bersandar pada sofa.


"Bukahkah kita mabuk bersama tuan?" jawab Meggy.


"Apa kita?,..maksudku..melakukan..." Alfhonso bingung untuk mengutarakan pertanyaannya.


"Hmm, tidak!, kita tidak melakukan apa-apa semalam. Kau malah tidur di sofa dengan terkurap, tidurmu sudah seperti bayi, beberapa kali aku membangunkanmu, tapi kau sangat pulas, jadi aku tidur di kamar" jawab Meggy dengan bibir menyiratkan kekesalan.


"Hah..sukurlah.." Alfhonso langsung bersender lagi ke sandaran sofa seolah lega.


"Baiklah, aku mau mandi dulu" ucap pria itu sambil beranjak dari sofa.


DI bathtub, Alfhonso lagi-lagi mengingat Jasmine. Pria itu mengingat kebersamaannya bersama Jasmine, ia juga menghayalkan kehangatan ketika bersama Jasmine.

__ADS_1


Beberapa kali Afhonso mencoba meghubungi Jasmine, tetapi ketika Jasmine mengangkat telponnya, pria itu menutupnya kembali, ia seolah bingung dengan kalimat yang akan diutarakanya.


Akhirnya Alfhonso hanya menuliskan pesan singkat ‘ Aku rindu padamu’.


Akhirnya setelah selesai berpakaian dan sarapan pagi. Alfhonso dan Meggy berbincang di teras taman depan bungalau.


“Tuan, bawalah aku bersamamu…aku tidak ingin kembali ke tempatku. Biarkan aku bekerja untukmu tuan” ucap Meggy di sela-sela bincangnya dengan Alfhonso.


“Hmm, kenapa kau tidak ingin kembali ke tempatmu?” tanya Alfhonso sedikit mengerutkan alisnya.


“Aku hanya tidak ingin. Aku ingin bersamamu, tuan Alfhonso”


“Baik, kau tinggalkan saja nomer telponmu, nanti akan kuhubungi jika aku memerlukan karyawan” Alfhonso mulai menyalakan rokoknya.


“Tuan Alfhonso, bawalah aku bersamamu…” pinta Meggy kembali.


“Meggy, aku tak bisa membawa sembarang orang untuk tinggal ditempatku” jelas Alfhonso.


“Tapi jika aku berkunjung ketempatmu, boleh kan?” ujar Meggy.


“Ya, silahkan jika kau hanya ingin mampir”.


Tiba-tiba handphone Alfhonso berdering, pria itu mengangkatnya dan ternyata itu adalah Bony.


Setelah selesai berbincang di telpon degan Bony, Meggy bertanya pada pria di depanya.


“Maaf tuan Alfhonso, aku medengar tadi kau berbicara dengan seseorang yang bernama Bony?, apa benar?” tanya Meggy.


“Ya benar, memang kenapa?” tanya Alfhonso.


“Ah tidak..aku hanya jadi megingat seseorang” ucap Meggy sambil sedikit menunduk.


“Dia adalah anak angkatku, dia anak yang jenius..”


“Anak agkat?” ulang Meggy.


“Ya, dia berasal dari panti asuhan”


...*****...


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya......


...Dukungan kalian ...

__ADS_1


...sangat berarti buat Author...


...Terimakasih......


__ADS_2