MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 52 - Tawaran yang lebih tinggi


__ADS_3

Alfhonso terus melangkah menuju ruang tengah, dan langkahnya terhenti seketika, matanya memandang sesosok pria berbadan agak tinggi besar dengan mantel hitam yang menjuntai panjang setengah betis, berambut klimis, juga tongkat yang di himpit di antara sela lengan dan samping ketiaknya.


Pria itu sedang menghadap kearah lukisan besar di dinding yang terpampang sebuah foto klasik tergambar seorang pria tua bertopi fedora dengan wajah berwibawa tengah memangku seorang anak kecil berwajah polos di depannya yang memakai pakaian hitam putih.


Pria yang berdiri disana membelakangi Alfhonso sambil masih menatap lukisan besar di depannya.


“Kau sangat mirip dengan kakekmu Alf…, dia memang penyayang…” kemudian pria itu berbalik badan dan menghadap Alfhonso yang masih berdiri terpaku di tempatnya tanpa mengucapkan satu patah katapun.


“Kau sudah kembali…atau aku yang sudah kembali?..” ucap pria berwibawa penuh kharisma itu dan sedikit menyimpan tekanan.


“Apa kau adalah sebuah legenda? Leo si iblis bertongkat…” akhirnya sebuah kalimat terucap dari mulut Alfhonso.


“Hey, apa kau tidak ingin memanggilku ayah?” pria itu perlahan melangkah mendekati Alfhonso.


“Ah, selama ini yang kukira mafia legendaris dan sangat di kagumi banyak orang, ternyata adalah orang yang telah meninggalkanku selama bertahun-tahun..”


“Aku tidak meninggalkanmu Alfhonso, aku masih terus mengawasimu selama bertahun-tahun…hanya saja kau yang tidak pernah sadar…Kemarilah..” ucap Leopard kepada putranya.


Akhirnya keduanya berpelukan dengan entah kerinduan atau hanya seremonial pertemuan antara ayah dan anak. Tetapi pelukan mereka cukup erat dan cukup mengisyaratkan rasa yang mendalam, rasa rindu karena kehilangan.


Leopard menepuk agak keras punggung putranya sambil masih memeluknya.


“Apa kau tidak mempersilahkan ayahmu untuk duduk?” ucap Leopard setelah melepas pelukannya.


“Ya,..duduklah..” Alfhonso yang agak canggung mempersilahkan ayahnya untuk duduk di sofa.


“Kau pasti sudah tau dengan maksud kedatanganku ke negara ini,…” ucap Leopard yang sudah duduk dan masih memegang tongkatnya.


“Ya, kurang lebihnya aku sudah tau..”


“Jika kau menganggapnya aku hanya datang untuk membantu para mafia di sini maka perkiraanmu kurang tepat, karena aku juga ingin mencetak seseorang untuk menjadi Lord of Mafia, dan menduduki kursi pertama dalam deretan daftar nama mafia teratas”

__ADS_1


“Maksudmu?” tanya Alfhonso.


“Jadilah mafia paling ditakuti dengan posisimu di tingkatan tertinggi Alfhonso”


“Aku sudah menjadi ketua BLOOD, aku rasa itu sudah cukup, untuk apa lagi aku meraih tingkatan tertinggi?”


“Haah, kau masih harus banyak belajar..anak bodoh!, dengan posisimu berada paling atas, semua wilayah bisa dengan mudah kau kuasai. Wilayah manapun yang kau mau, kau bisa memilikinya tanpa harus berperang, dengan menguasai wilayah, berarti kau juga akan memiliki lebih banyak bawahan dan kaki tangan yang luas…” ujar Leopard menjelaskan.


“Tapi aku tak menginginkan wilayah…”


“Dasar bodoh!…si Kazito dan sekutunya sebentar lagi akan menyerang ke wilayahmu, apa kau yakin dengan posisimu yang sekarang kau bisa melawannya?, sedangkan seluruh wilayah yang telah dia kuasai akan bergabung dengannya dan akan ikut menyerang”


“Bukankah kau ada disini untuk membantu mangatasi Kazito?” tanya Alfhonso.


“Ya, aku bisa dengan mudah melawannya, tapi aku ingin kau yang melawannya kali ini, dan aku berikan kau jalan termudah untuk menghadapinya”


“Kenapa seolah kau menyerahkan sebuah beban kepadaku?” ucap Alfhonso.


“Apa kau menganggapnya sebuah beban?, itu adalah sebuah peningkatan Alfhonso”


“Jadi, apa kau mau bergabung denganku?…naiklah ke tangga yang lebih tinggi Alfhonso, jadilah ketua EMO (Elite Mafia Organization), itu akan memperluas kiprahmu, dan dengan begitu kita akan lebih mudah untuk melawan musuh-musuh kita”


“EMO?, organisasi bawah tanah paling berbahaya...”


“Kenapa aku harus masuk dan menjadi ketua EMO?, aku sudah cukup di BLOOD, lagipula apakah kau adalah ketua EMO?, kenapa tidak kau saja yang memimpin..” ujar Alfhonso.


“Aku adalah otak EMO, bukan cuma ketua. Tetapi aku sudah cukup lelah dengan kiprahku, aku ingin seseorang menggantikanku, dan aku rasa, kau lumayan cocok untuk posisiku. Saat ini aku ingin berada di belakang layar saja, karena musuh-musuh kita hanya tau yang ada di dalam organisasi, sedangkan yang dibelakangnya mereka tidak menyadari, aku akan tetap mengawasimu dari belakang…”


“Lalu, kenapa kau memasukanku untuk menjadi ketua?, apa aku akan dijadikan tameng untuk menghadapi musuh, sementara kau berada di belakang layar?” Alfhonso mulai agak panas.


“Tenang dulu..,kita baru saja bertemu, apa kau lupa cara menghormati seorang ayah?” ucap Leopard.

__ADS_1


“Ya, mungkin aku lupa…apa kau juga ingat pernah memiliki anak?” balas Alfhonso sambil melengos tidak menatap Leopard dan mengambil rokok dari sakunya.


“Dengan kau menjadi ketua EMO, maka seluruh organisasi di bawahmu akan otomatis mengikutimu” ucap Leopard.


“Kenapa tidak kau suruh saja Reondess yang menjadi ketua EMO?, kenapa harus aku?”


“Dia berbeda denganmu Alfhonso, pria itu tidak bisa di andalakan, dia hanya pembuat masalah..karenanya aku mengharapkanmu untuk menggantikan posisiku..” ujar pria paruh baya berambut klimis itu.


“Tapi yang aku dengar EMO membawahi organisasi bawah tanah yang berbahaya dan kotor, ternyata kau adalah otak di organisasi ini..”


“Ya, maka kau akan mudah menaklukan siapapun musuhmu, temasuk Kazito”


“Leopard, apa kau tahu kenapa BLOOD tidak masuk kedalam EMO?, karena tujuan mereka berbeda, walau tampilan mereka sama, BLOOD masih lebih bersih daripada EMO..” ucap Alfhonso.


“Hey, panggil aku ayah!, dasar anak kurang ajar!. Mana ada dari kita yang bersih Alfhosno…Tujuan BLOOD terlalu lembek, maka sampai kapanpun dia akan berada di bawah kaki para pembesar Mafia di belahan negara lain, tetapi EMO jauh berada diatasnya, karena EMO adalah organisasi terbesar gabungan para mafia di seluruh dunia, apa kau tidak tertarik untuk ikut didalamnya, dan terlebih menjadi ketua?”


Alfhonso terdiam beberapa saat.


“Pikirkanlah tawaranku Alfhonso…”


“Oya, apa yang kau bicarakan dengan Jasmine di toko roti?” tanya Alfhonso dengan tatapan tidak suka pada ayahnya.


“Ah..itu, aku hanya memperingatkan, agak dia tidak menjadi beban untukmu, karena posisimu memang tidak cocok untuk memiliki seorang kekasih…” ucap Leopard.


“Apa-apaan kau!, kenapa kau libatkan dia, dia tidak ada urusannya denganmu dan dengan posisiku!…” Alfhonso mulai geram.


“Apa kau tidak bisa menghormati ayahmu!, apa ini didikan kakekmu!” ucap Leopard dengan suaranya yang berat.


“Jangan bawa-bawa kakek!, dari segi manapun, kau yang salah”


“Sudahlah aku tidak ingin berdebat hari ini..”

__ADS_1


Alfhonso menghempaskan asap rokoknya.


“Kau pasti tau apa yang terjadi dengan istriku Lily, setelah perceraianku dengan ibunya Reondess?, dia menjadi korban penembakan karena perselisihanku dengan musuhku, dan memang seperti itu ketika seorang seperti kita memiliki keluarga atau orang yang kita cintai, maka merekalah yang pertama di jadikan sasaran agar kemarahan kita memuncak, dan ketika kemarahan menguasai kita, maka akal sehat kita terhalangi, dengan begitu musuh lebih mudah melihat gerakan kita yang tak terarah. Karenanya jangan terlalu mencintai wanita Alfhonso, mereka hanya halangan untuk kita..” ucap Leopard yang membuat mata Alfhonso memancarkan ketidaksetujuan.


__ADS_2