
Alfhonso buru-buru mengalihkan pandangannya dan menunduk.
"Baiklah, selamat malam Jasmine"
Dengan buru-buru Alfhonso berlalu keluar kamar dan menutup pintunya.
Pria itu kembali ke kamar tamu dan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata menatap ke langit-langit kamar.
Kedua tangannya ia lipat dan diletakkan di bawah kepalanya.
Entah perasaan apa yang tengah berkecambuk di pikiran dan di batinnya.
'Jasmine..gadis itu..' gumam batinnya.
Alfhonso sangat berhasrat pada Jasmine, dan ia bisa saja melakukan apapun yang diinginkannya pada gadis di kamarnya saat itu juga, tetapi entah kenapa ia seolah belum ingin merenggut kesucian Jasmine dan masih ingin menjaganya.
'Aku akan mendapatkannya suatu hari, tidak akan kubiarkan siapapun meraihnya..' janji Alfhonso pada batinnya.
Di kamarnya pria itu meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Lyra, bisakah kau temani aku malam ini, aku tunggu di hotel biasa" kalimat singkat dari pesan suara Alfhonso ketika telpon Lyra sedang sibuk.
Alfhonso bergegas pergi dan melajukan sedan hitamnya keluar tengah malam seperti itu.
Jasmine yang samar-samar mendengar deru mobil keluar dari garasi mansion, terbangun dan melangkah kearah jendela besar kemudian mengintip dari balik gorden jendela.
'Apakah itu tuan Alfhonso?' tanyanya dalam hati.
[ Di kamar sebuah Hotel ]
"Alf, ada apa denganmu?, kau seolah memiliki masalah? ayolah ceritakanlah padaku, barangkali aku bisa membantumu?" tanya Lyra yang hanya terbalut selimut.
Alfhonso yang bertelanjang dada duduk di pinggir ranjang menyalakan sebatang rokoknya.
Lengannya bertumpu pada lututnya.
"Entahlah,..sepertinya aku sedang jatuh cinta pada seseorang.." ucap pria itu di sela-sela asap rokoknya.
Lyra spontan tertawa dan memukul punggung pria itu.
"Hahaha..ternyata seorang Alfhonso bisa juga jatuh cinta...Hmm, kalau tebakanku tidak meleset, dia adalah Jasmine bukan?" ucap Lyra.
"Ya kau benar, gadis itu telah membuatku jatuh cinta" ucap Alfhonso jujur.
"Lalu, apa kau ingin menikahinya?" tanya Lyra.
"Entahlah, aku belum terfikir kearah sana"
"Alf, aku rasa kau sudah cukup lelah dengan kehidupan dunia hitam ini, mungkin memang sudah saatnya kau menemukan seorang wanita untuk dijadikan istri, dan sudah saatnya kau berkeluarga..."
Kata-kata Lyra membuat Alfhonso menoleh kearah wanita di belakangnya itu.
"Begitukah?" tanya Alfhonso.
"Yah, hatimu yang merasakannya Alf. Jika kau terus berfikir kau tidak bisa memiliki seorang kekasih atau istri karena pekerjaanmu yang berbahaya, tapi bukankah kemarin gadis itu juga sudah mengalami banyak hal berbahaya ketika bersamamu?, tanpa sadar kau memang telah menempatkan dirinya pada bahaya, dia sudah tercebur dalam duniamu, dan dia sudah mengalami hal berat bukan?"
Alfhonso menunduk dan menghisap lagi rokoknya.
"Ya, kau benar Lyra..." ujar pria itu.
"Milikilah gadis itu sebelum kau menyesal, nikahilah dia sebelum dia menikah dengan orang lain, apa kau akan tahu kejadian di depan sana?.."
"Jadi...,aku harus menikahinya?" tanya Alfhonso.
"Itu terserah padamu, tetapi aku harap kau tidak menyesal jika sesuatu yang sudah kau genggam tapi tidak kau simpan, kemudian ketika ada guncangan sedikit maka dia harus hilang"
Alfhonso terus berfikir dengan kata-kata Lyra yang memang ada benarnya.
"Terimakasih Lyra, kau memang penasehat terbaikku" ucap Alfhonso.
Lyra tersenyum seraya mengelus punggung pria di depannya.
Pagi menjelang subuh, ketika langit masih gelap dan warna ungu di awan telah samar melebar, Alfhonso kembali ke mansionnya.
Alfhonso kembali ke kamar tamu, dan merebahkan dirinya di ranjang.
__ADS_1
Tetapi ia kembali bangkit dari rebahannya, kemudian ia berlalu keluar kamar tamu dan menuju kamarnya, ia hanya ingin melihat keadaan Jasmine.
Handle pintu kamarnya dibuka perlahan, tetapi pintu itu terkunci.
Alfhonso menghela nafas pendek dan membalik badannya akan berlalu dari sana.
"Tuan?, ada apa?" tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Jasmine tengah berada di bibir pintu.
"Ah, kau sudah bangun?" tanya Alfhonso yang spontan membalik badannya kearah Jasmine.
"Iya sudah tuan, aku bahkan sudah mandi air hangat" ucapnya.
Alfhonso melihat Jasmine dari atas sampai kebawah.
"Ada apa tuan?, apa ada yang salah?" Jasmine juga mengikuti melihat tubuhnya sendiri.
"Ah, tidak..aku hanya heran, semakin hari kau semakin membuatku tergoda.." senyuman jahil Alfhonso membuat Jasmine tersipu sekaligus sedikit ngeri.
"Tuan seriuslah sedikit.." ucap Jasmine menghela nafas pendek.
"Ya, ya..baiklah..apa kau mau sarapan?" tanya Alfhonso.
"Ya, boleh.."
Mereka menuju ke halaman mansion. Alfhonso menyuruh supir untuk bersiap, mereka akan ke luar untuk mencari sarapan.
"Mau sarapan dimana?" tanya Alfhonso.
"Aku mengikutimu saja tuan, terserah padamu" ucap Jasmine.
"Baiklah, kita makan pizza di alun-alun kota saja bagaimana?"
"Hah?!. A...tuan, sebaiknya kita cari tempat lain saja bagaimana?" Jasmine terlihat sedikit khawatir.
"Tadi kau katakan terserah padaku, tetapi sekarang kau menolak ketika aku pilihkan tempat" Alfhonso melihat pada wajah Jasmine yang terlihat tidak nyaman.
"Ada apa Jasmine?, ada apa dengan tempat itu?, semakin kau melarangku, aku semakin ingin kesana" ucap Alfhonso.
"Tuan, itu adalah tempat kerjaku yang dulu...disana banyak teman-temanku" Jasmine sedikit menunduk.
"Lalu apa salahnya jika kau bertemu teman temanmu?, bukankah justru kau bisa berjumpa lagi dan menyapa mereka?" ucap Alfhonso.
"Baiklah, Boren!!, pakai limousine!, ayo kita ke tempat pizza di alun-alun kota!. ANAK-ANAK!!, Ikut aku!!, Kita berangkat!" Alfhonso berteriak pada bawahannya.
Jasmine membelalakan matanya. alisnya terangkat keheranan.
"Tuan?!. kenapa harus membawa anak buah anda?" tanya gadis itu.
"Apa salahnya membawa anak buahku" jawab Alfhonso santai, kemudian menaiki limousine hitam miliknya.
"Ayo masuk!" perintah Alfhonso.
Jasmine terpaksa menuruti kelakuan pria mafia itu.
Iring-iringan beberapa mobil sedan mengikuti limousine milik Alfhonso di jalan.
Akhirnya mereka sampai di toko pizza tempat Jasmine bekerja dulu.
Beberapa orang melihat kearah mereka.
Alfhonso dan Jasmine turun dari limousinenya, kemudian memasuki toko.
Anak buah Alfhonso lebih dulu membukakan pintu untuk tuannya.
Seluruh yang ada di dalam toko menoleh kearah mereka. Jasmine hanya tertunduk.
Alfhonso dan Jasmine duduk di sebuah kursi dekat jendela.
Para anak buah Alfhonso sebagian berjaga di depan pintu, sebagian lagi duduk di kursi sebelah kiri dan kanan tuannya.
Tak lama berselang, seorang pelayan wanita menghampiri mereka dengan sedikit ketakutan.
Tetapi mata pelayan itu membulat ketika melihat Jasmine yang tengah duduk disana.
"J-Jasmine?" ucap si pelayan wanita itu pelan setengah penasaran.
__ADS_1
"Hai..Laura.." sapa Jasmine sedikit ragu dan agak menunduk.
"Hey!, lama tak bertemu..kemana saja kau?" seolah rindu akan pertemuan lama, pelayan itu tak menghiraukan Alfhonso.
"Ehm!" deheman Alfhonso membuat pelayan itu menoleh kearah pria bertampang dingin itu.
"Ah, maaf..mau pesan apa tuan?" dengan sedikit menunduk pelayan itu menyodorkan lembaran menu.
"Kau mengenalnya?" tanya Alfhonso berpura-pura pada Jasmine.
"Dia adalah temanku.." ucap Jasmine menunjuk pada pelayan wanita itu.
"Ya tuan, Jasmine dulu bekerja disini..kami adalah temannya.." ucap Laura semangat dengan wajah sumringah.
"Hmm, begitu...sekarang boleh aku pilih menu ini?" tanya Alfhonso pada pelayan.
"Ah, ya silahkan tuan...ah maaf.." Laura tak henti-hentinya tersenyum lebar melihat Jasmine.
"Aku pilih pizza mozarella dengan daging panggang, dan colla dingin. Kau pesan apa sayang?" ucap Alfhonso pada Jasmine agak kancang, membuat gadis itu membulatkan matanya.
'Apa-apaan tuan Alfhonso, sengaja memanggilku sayang di depan temanku' gumam Jasmine.
"Aku pizza jamur saja.." ucap Jasmine pelan pada Laura
"Uuu, kau hebat Jasmine, memiliki kekasih kelas atas seperti dia, dia juga tampan.." Laura sedikit bebisik pada Jasmine sambil mengambil menu di tangannya, dan tangan sebelahnya mengepal di dadanya tanda gemas.
Jasmine hanya tersenyum terpaksa karena suasana yang tidak nyaman tersebut.
Kemudian mereka menikmati pizza di tempat itu. Mereka menjadi pusat perhatian para pelanngan disana, juga pusat perhatian teman-teman Jasmine yang masih menjadi pegawai di toko itu.
Teman-teman Jasmine seperti ingin menyapa Jasmine, tetapi takut dengan situasi seperti itu, dengan Alfhonso disampingnya yang bertampang dingin, memakai pakaian ala mafia dan anak buah di belakangnya.
Akhirnya mereka kembali ke mobil. Alfhonso melihat wajah Jasmine yang cemberut dan tidak banyak bicara.
"Kau marah padaku?" tanya Alfhonso.
Jasmine hanya menggeleng sambil menunduk.
"Lalu kenapa wajahmu begitu?"
"Aku hanya ingin menyapa teman-temanku, tetapi sepertinya sulit sekali.."
"Bukankah kau sekarang sudah memiliki kehidupan baru Jasmine?, aku ingin kau melupakan yang sudah di belakangmu.." ucap Alfhonso.
Jasmine diam dan hanya menatap mata pekat tajam pria di sampingnya.
"Apa kau bersedia bersamaku terus Jasmine?" tanya Alfhonso yang tiba-tiba menggenggam jemari gadis itu.
"A, ya..maksudku...hmm,...iya tuan aku bersedia" akhirnya gadis itu tersenyum sambil menoleh kearah wajah Alfhonso.
Sepekan berlalu,
Alfhonso mengajak Jasmine ke sebuah restauran bintang lima yang mewah di pinggir pesisir pantai.
Dengan pakaian yang rapih, bermantel hitam dan dengan topi fedora hitam yang melekat di kepalanya, Alfhonso terlihat gagah dan sangat terlihat sisi seorang mafianya.
Alfhonso menggandeng Jasmine yang juga terlihat anggun elegant dengan gaun putih gading yang berkilau.
“Hey, kau adalah wanita tercantik yang pernah kubawa kesini Jasmine..” ucap Alfhonso melihat penampilan Jasmine yang sangat cantik dan menawan.
“Sudahlah tuan, dari apartemen kau sudah berulangkali mengatakan hal seperti itu..” ucap Jasmine.
“Benarkah?, aku lupa..” ujar Alfhonso sambil tersenyum.
Di dalam restauran, ketika Alfhonso dan Jasmine telah melewati pintu masuk, beberapa pria bertuxido menyambut mereka dan mempersilahkan masuk.
“Apa mejaku sudah siap?” tanya Alfhonso pada seorang pria bertuxido.
“Oh, ya sudah tuan, meja anda di sebelah sana, meja VVIP dengan pemandangan laut dari jendela utama tuan..mari tuan, nyonya…” pelayan tersebut memandu Alfhonso dan Jasmine ke meja pesanan mereka.
Ketika pelayan bertuxido mengantarnya ke meja yang telah dipesan, mereka spontan terdiam melihat dua pasangan yang juga memakai setelan mewah dan bergaya kelas atas, yang berdiri di samping meja yang di pesan Alfhonso dan seorang kepala pelayan tengah berdebat dengan mereka.
“Ada apa ini?” tanya Alfhonso kepada mereka ketika ia mendekati mejanya.
“Maaf tuan, tuan ini menginginkan meja anda, tapi aku sudah bilang kalau meja ini sudah di pesan…” jelas kepala pelayan kepada Alfhonso.
__ADS_1
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......