MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 57 - Dipertahankan atau dilupakan


__ADS_3

Bola mata pekat Alfhonso melebar, jantungnya seolah di remukan, dadanya seketika itu menjadi sesak.


“ARRGGH!”


Dengan spontan Alfhonso memukul keras wajah Marino. Marino jatuh tersungkur ke lantai. Pria berambut agak panjang itu tak melawan, entah sengaja atau memang tidak ingin berkelahi.


Marino berusaha berdiri dari posisinya di lantai, ia mengusap darah yang keluar dari bibirnya yang pecah dengan sudut tengah telunjuknya.


“Bajingan!!” pekik Alfhonso dengan sorot mata yang marah.


Ketika Alfhonso hendak menodongkan lagi pistolnya, dengan sigap Marino menangkap lengan Alfhonso dan entah bagaimana caranya dengan kelihaian dan kecepatan tangan Marino, dengan sekejap mata pistol Alfhonso kini telah berada di tangan Marino.


Keadaan berbalik, kini Marino yang menodongkan pistol kearah Alfhonso.


“Sebaiknya kau keluar sekarang, atau kau akan mati dengan pistolmu sendiri, KELUAR!” pekik Marino.


Alfhonso dengan segala kekecewaan beberapa saat menatap tajam wajah Marino.


“Kau akan sangat menyesalinya!” Alfhonso dengan kemarahannya memilih mengalah untuk sementara dan pergi dari tempat itu.


Kemudian Alfhonso berbalik badan dan keluar menuju pintu dengan langkah gusar.


Di mansion,


Alfhonso tidak berbicara sedikitpun dengan siapapun juga. Ia mengurung diri di kamarnya.


Leopard yang khawatir dengan keadaan putranya memberanikan diri lagi masuk ke kamar Alfhonso setelah sebelumnya ia tak mendapatkan satu katapun dari Alfhonso.


“Hey!, sikap seperti ini adalah sikap anak kecil atau sikap seorang gadis. Sampai kapan kau akan seperti ini?!” pekik Leopard yang berdiri di depan ranjang Alfhonso.


Alfhonso terbaring dengan dada telanjang dan memakai celana panjang tengkurap dengan bantal menutupi kepalanya.


Leopard menarik bantal yang menutupi kepala Alfhonso.


“Hey!, bangunlah! Kau belum menceritakan apa yang terjadi dengan gadismu!” Leopard menaikan kakinya ke ranjang dan mendorong tubuh Alfhonso dengan kakinya.


Karena tak kunjung bangun dan kesabaran Leopard sudah mulai menipis, Leopard menembak dinding kamar Alfhonso.


Hingga suaranya menggelegar, dan merusak dinding kamar Alfhonso.


Dengan terkejut Alhfonso mengangkat kepalanya.


“Bodoh! Apa yang kau lakukan?!, dindingku rusak, Dasar brengsek!”


“Kau yang bodoh!, tidak dapat menyelesaikan masalah!” Leopard duduk di sisi ranjang di samping putranya.

__ADS_1


“Aku akan kembali ke tempatku lusa nanti, jika kau ingin meminta bantuanku maka sekaranglah saatnya, karena aku tidak bisa meninggalkan EMO terlalu lama. Sekarang certitakan padaku apa yang terjadi” ucap sang ayah sambil melipat kedua lengannya di dada.


“Dia sudah ‘melakukannya’ dengan bajingan itu, apa yang bisa kuharapkan lagi!” Alfhonso membalik badannya dan tetap terbaring dengan kedua tangannya dilipat dan diletakkan dibelakang kepalanya.


“Apa kau yakin dia sudah berhubungan dengan Marino itu?” tanya Leopard.


“Entahlah”


“Dasar bodoh!, bagaimana kau bisa simpulkan kalau gadismu sudah melakukannya?!”


“Si Marino brengsek itu yang bilang”


“Lalu, kau percaya begitu saja?” ucap Leopard.


“Aku tidak ingin Jasmine di sentuh oleh siapapun, tetapi sepertinya si Marino itu sudah berbuat sesuatu pada Jasmine”


“Kenapa tidak kau datangi lagi si brengsek itu, kemudian kau pastikan kebenarannya”


“Tidak perlu”


Leopard spontan memukul keras kepala Alfhonso dengan bantal.


“Kecil sekali nyalimu ketua BLOOD” ucap Leopard.


“Baiklah kalau begitu kita lupakan tentang gadis ini, masalah selesai. Oke besok aku akan mengurus perjalanan pulangku, pesawat pribadiku landing terlalu lama, aku akan tanya pilotku dulu” Leopard akan beranjak dari kasur, tetapi tangan Alfhonso cepat menggenggam lengan ayahnya.


“Tunggu!” ucap Alfhonso seolah ingin mengatakan sesuatu lagi.


“Apa lagi?” tanya Leopard.


“Menurutmu apakah aku harus mempertahankan dia atau ku lupakan saja?” tanya Alfhonso.


“Lupakan saja” jawab Leopard singkat.


“Ha?, tapi aku ma- ... ”


“Itu jawaban dari pertanyaanmu yang sebenarnya, kau tidak ingin melupakannya bukan?, kenapa kau harus tanyakan itu!” ucap Leopard menjebak.


Alfhonso menautkan kedua alisnya.


Malam berikutnya,


Dini hari pukul 02:35


Alfhonso memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi kembali rumah Marino, tetapi kali ini mereka datang secara sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Alfhonso menyuruh Raizon untuk memimpin penyusupan ini, sedangkan Alfhonso masih berada di mansionnya menunggu.


Salah satu anak buah Alfhonso dengan perlahan melempar gas beracun ke pos penjaga di gerbang pagar rumah Marino.


Dua orang penjaga yang tengah berbincang dengan perlahan pinsan di tempat menghirup gas beracun tersebut.


Setelah sistem keamanan di rumah Marino di matikan oleh Bony, mereka mulai mengendap-endap menyusup kedalam rumah.


Di depan pintu masuk, sebagian anak buah Alfhonso melangkah perlahan dari sisi samping. Mereka menggesek sesuatu agak menimbulkan bunyi, ketika penjaga di depan pintu mendengar suara aneh tersebut, salah satu dari mereka menghampiri arah suara, dan dengan sekejap penjaga itu di tarik kearah yang gelap dan seketika itu juga ia tumbang tergeletak di lantai.


Ketika penjaga yang satu merasa ada yang aneh dengan temannya dan berusaha berlari kecil kearah temannya tadi pergi, dari belakang Raizon mengikutinya kemudian membekapnya dan melumpuhkannya hingga pria tadi juga terkulai jatuh ke lantai.


Akhirnya setelah membereskan para penjaga, mereka sampai kedalam ruang tengah, dan mereka terus mencari keberadaan Jasmine untuk di ambil paksa dan di bawa kembali kepada Alfhonso.


Mereka menemukan sebuah pintu kamar. Raizon membuka handle pintu dengan perlahan, ketika mereka memasuki kamar yang besar tersebut, mereka tidak menemukan siapapun disana.


Di ranjang besar yang dikatakan Alfhonso kepada anak buahnya terdapat wanita tua yang terbaring, ternyata tidak ada siapapun disana.


Akhirnya mereka mencari kamar selanjutnya. Mereka menuju ke lantai atas, dengan tangga yang besar dan melingkar, mereka melangkah dengan sangat hati-hati.


Dengan pistol dan senjata lain yang berada di tubuh mereka, mereka telah siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


Di lantai atas, keadaan juga sepi. Di sana terdapat dua buah pintu. Raizon memerintahkan dengan kode agar anak buahnya memasuki pintu yang sebelah kiri terlebih dahulu.


Kemudian dengan membuka paksa, mereka berhasil membuka pintu kamar tersebut.


Alangkah terkejutnya mereka ketika disana mereka menemukan Jasmine yang tengah terikat tali tangan dan kakinya, gadis itu terbaring tertidur di atas ranjang dengan rambut yang acak-acakan.


Raizon langsung menghampirinya dan memanggil namanya sambil sesekali mengguncang pundaknya.


“Nona, nona Jasmine” panggil Raizon pelan.


Jasmine membuka matanya terperanjat kaget, kemudian memandang Raizon.


“Hah? Tuan Raizon, tolong aku!” pekiknya menatap Raizon dengan mata berbinar sambil cepat-cepat bangkit dan berharap ia di bawa oleh mereka.


“Ya nona, kami akan menolongmu, ayo!” ucap Raizon segera.


Ikatan tali pengikat kaki dan tangan Jasmine di buka oleh mereka, kemudian mereka keluar dari sana dengan hati-hati.


“Dimana Marino?” tanya Raizon pada Jasmine.


“Entahlah, dia keluar semenjak tadi pukul sepuluh malam” ucap Jasmine.


Akhirnya mereka berhasil keluar dari rumah itu dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2