MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 9 - Kepura-puraan


__ADS_3

Jasmine melangkah mendekat kearah pria bernama Roger, penampilannya glamor dan badannya agak besar dan sedikit gemuk.


Pria itu menoleh kearah Jasmine, dan ia sedikit terkejut melihat Jasmine.


“Hey, kau masih muda rupanya…duduklah" Roger yang terlihat semangat ketika melihat Jasmine, menepuk sofa, mengisyaratkan agar Jasmine duduk di sampingnya.


Jasmine melangkah perlahan mendekati sofa dan duduk dengan agak ragu.


“Siapa namamu? Apa kau orang baru ?" tanya Roger.


“Aku Cherry tuan, ya tuan aku baru dan di minta nyonya Maryon untuk menemani anda" ucap Jasmine agak gugup, jantungnya tak beraturan, ia sangat ketakutan.


“Hahaha,…Maryon memang pintar memilih gadis muda untukku, sebentar aku telpon"


Pria itu menempelkan handphone di telinganya.


“Nyonya Maryon, apa kau kirim barang baru untukku?, dia muda dan segar,..hahaha..aku suka" ucap pria setengah baya itu.


“Ya tuan, aku ingin memberi kejutan untukmu sekali-kali. Oya tuan, dia masih orisinil, sebaiknya ajaklah dulu dia jalan-jalan, karena ini pertama kalinya untuknya, jadi mungkin agak canggung" ujar nyonya Maryon di telpon.


“Oke, baiklah..akan kubayar lebih untuk kali ini" pria itu menutup telponnya.


Pria berbadan besar dan agak gempal itu mendekati Jasmine dan ingin menyentuhnya tetapi gadis itu dengan cepat menghindar.


“Ah, tuan..sebaiknya tidak perlu terburu-buru, bagaimana jika kita melakukannya malam hari, itu akan lebih mengasyikan bukan?” ucap Jasmine penuh kepura-puraan.


Pria itu hanya tersenyum seolah mengiyakan.


“Oya tuan apa kau tahu hotel Weafel yang dekat dengan pantai di arah selatan pinggir kota?" tanya Jasmin berpura-pura santai, padahal jantungnya berdegup kencang, seolah ia ingin lari dari situasi itu.


“Ya aku tahu, aku sering kesana, kenapa? Kau ingin kesana?" tanya pria itu.


“Apa boleh tuan?, kata teman-temanku di sana sangat indah ketika malam hari, apalagi jika dilihat dari atas, kita bisa melihat pemandangan laut saat malam hari yang indah..aahh, aku ingin sekali kesana tuan..” ujar Jasmine sedikit manja.


“Hahaha, kau seperti anak kecil, baiklah kita akan bersenang-senang di sana..” ujar pria itu sambil menyentuh ujung hidung Jasmine.


Kemudian pria itu lagi-lagi ingin menyentuh Jasmine, ia membelai rambut Jasmine dan hendak menyiumnya, tetapi lagi-lagi Jasmine berkilah.


“Emm, tuan, apa boleh aku meminta minuman?, sepertinya aku haus sekali" ucap Jasmine, membuat pria itu mengurungkan lagi niatnya.

__ADS_1


“Yah, baiklah..sepertinya kau memang belum pernah melakukan sesuatu pada pria, kau sangat canggung Cherry" ucap pria itu sambil mengambil sebotol minuman dari rak yang ada di sana.


“Tuan, maaf aku tak terbiasa minuman beralkohol, aku hanya ingin air putih saja..” Jasmine buru-buru menolak ketika pria tadi hendak menuangkan whisky ke gelas Kristal.


“Hmm, baiklah..” pria itu menelpon seorang pelayan untuk membawakan segelas minuman.


“Apa kau ingin makan?, aku akan mengajakmu ke restauran langgananku..” ujar pria itu.


“ Baiklah tuan, kebetulan aku sedikit lapar” ucap Jasmine yang sedang mengulur waktu.


Akhirnya mereka menghabiskan sore hari di restauran dan berbelanja, dengan pengawalan yang sangat ketat.


Dan akhirnya malam membentang, Jantung Jasmine terus berdegup tak beraturan, hal yang sangat ia takutkan sebentar lagi akan dihadapinya, ke kamar sebuah hotel…


Mereka sampai di pesisir pantai, sebuah hotel mewah bintang lima membentang.


Papan nama hotel Weafel yang gemerlap membuat Jasmine semakin takut.


Gadis itu menghembuskan nafas panjang ketika ia dan pria bernama Roger berjalan di koridor menuju sebuah kamar hotel paling mewah, dan mereka tepat di depan pintunya.


Setelah pintu kamar di tutup, pria berbadan besar tegap itu tersenyum pada Jasmine dan hendak memeluknya, seolah ia sudah tidak sabar dengan tubuh sintal milik Jasmine.


“Waw, sangat indah..” ujarnya, padahal ia tak terlalu perduli dengan keindahan pemandangan itu, justru saat itu ia hanya memikirkan bagaimana caranya menghindar lagi dari pria yang sepertinya telah menggebu ingin menyentuhnya.


“Hey, Cherry…ayolah kesini, aku sudah tak sabar ingin merasakan keorisinilanmu..” ucap pria yang sudah berada di atas ranjang dengan piyama.


‘Sejak kapan dia berganti piyama' ujar batin Jasmine yang semakin takut.


“Ah, ya tuan,…aku sedang menikmati pemandangan ini" ucap Jasmine mengulur waktu.


Diam-diam gadis itu mulai menekan tombol hijau yang ada di cincinnya.


‘Ayolah tuan Alfhonso, cepatlah datang!..’ gumam Jasmine di batinnya penuh harap.


“Kau bisa melihatnya nanti, ayolah cepat kesini" ujar pria itu.


Jasmine melangkah agak ragu meninggalkan balkon, ia menutup pintu kaca dengan agak lamban, dan perlahan mulai melangkah mendekati ranjang super besar, ia masih berdiri di tepi ranjang, seolah enggan berdekatan dengan pria itu.


“Hey, mendekatlah..ayo buka pakaianmu..” ujar Roger sudah tidak sabar.

__ADS_1


Jasmine mulai membuka pakaiannya dengan pelan dan lambat, dengan hati-hati ia menekan lagi tombol hijau di cincinnya.


‘Kenapa tuan Alfhonso lama sekali, ah tidak…apa yang harus ku lakukan, aku tidak ingin pria ini menyentuhku..’ batin Jasmine galau.


“Cherry!, lama sekali kau membuka pakaianmu!" nada suara Roger mulai agak meninggi menahan hasratnya.


“I-iya tuan,..maaf, ini yang pertama untukku jadi aku agak canggung..” ucap Jasmine mengulur waktu lagi.


“Ya aku tahu, tapi aku sudh tidak sabar..” pria itu tiba-tiba bangkit dari berbaringnya dan menghampiri Jasmine.


‘Oh tidak!, tuan Alfhonso!! Dimana kau!!' gadis itu terus memencet tombol di cincinnya, tetapi tidak ada yang terjadi juga.


Jasmine sangat menggantungkan nasibnya pada kedatangan Alfhonso, jika terlambat sedikit saja maka kesuciannya terpaksa akan diserahkan pada pria yang sama sekali tidak ia sukai.


Roger, pria yang sudah menahan gairahnya dari tadi sudah tidak bisa menahan lagi, ia mencengkram pakaian Jasmine dan menariknya dengan kasar ke ranjang.


“Aaaakh!!!" teriak Jasmin kaget.


“Kau terlalu lama!" ujarnya sambil membuka paksa pakaian gadis itu.


Jasmine berusaha berontak, tetapi pria itu justru lebih kasar membuka paksa pakaian Jasmine hingga robek.


“Tuan!, tolong jangan seperti ini!" Jasmine sedikit berteriak sambil mempertahankan pakaiannya.


Pria itu mulai mencium leher Jasmine dengan kasar dan buru-buru.


Jasmine berusaha mendorongnya.


“Hey!, kau kubayar untuk melakukan ini!, kenapa kau menolak?!” ujar Roger agak geram.


Jasmin merintih di batinnya, dengan pakaian yang sudah sobek dan hampir terbuka semua, ia tetap ingin mempertahankan kesuciannya.


Mata indah gadis itu sudah tidak kuat menahan air yang ingin tumpah dari sudut matanya.


Tetapi….


Tiba-tiba lampu kamar dan seluruh hotel mati. Alarm berbunyi nyaring dari luar kamar.


Roger dan Jasmine terkejut dengan suasana tersebut.

__ADS_1


Roger menghentikan pergerakannya, dan ia melihat sekelilingnya yang gelap, hanya terpancar sedikit cahaya dari jendela luar.


__ADS_2