MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 31 - Perjalanan ke desa


__ADS_3

Besok paginya…..


“Jasmine, apa kau sudah siap?” Alfhonso tiba-tiba masuk apartemen dengan pakaian yang agak berbeda dari biasanya, ia memakai jaket hitam dan kemeja didalamnya.


“Ya tuan, aku sudah siap. Tuan, apa anda akan membawa anak buah?,..aku khawatir bibiku akan bertanya-tanya…”


“Tidak!, aku tidak membawa anak buahku, dan aku tidak menaiki mobilku, kita naik kereta!” Alfhonso langsung membawa koper milik Jasmine keluar pintu.


“Hah?, anda mau naik kereta?” pertanyaan Jasmine tidak mendapat jawaban karena pria itu langsung pergi dari hadapan Jasmine.


Akhirnya mereka keluar pintu apartemen, dan berlalu ke teras.


Kemudian Alfhonso terus berjalan menuju jalan raya.


Jasmine yang mengikutinya merasa keheranan, dan berusaha mengejar pria itu yang berjalan di depannya.


“Tuan!, tuan!!..tunggu!, apa anda serius akan menaiki kereta?” tanya Jasmine dengan nafas tersengal mngejar Alfhonso.


“Ya, memang kenapa kalau aku naik kereta?” tanya Alfhonso seolah tidak ada yang salah.


“Tapi tuan..”


“Ayo cepat, busnya datang, kita naik bus sampai ke stasiun!” perintah Alfhonso yang melihat bus besar berjalan kearah mereka.


Alfhonso dengan tenangnya memasuki bus, diiringi oleh Jasmine.


Didalam bus mereka duduk bersebelahan. Suasana di dalam bus sedikit ramai dan padat.


Ada beberapa pria yang memperhatikan Jasmine, tetapi ketika melihat wajah sangar Alfhonso, mereka langsung mengalihkan pandangan.


“Kau masih memiliki bibi, kenapa kau dan adikmu tidak tinggal dirumah bibimu?” tanya Alfhonso.


“Bibiku sudah merawatku sejak kecil, dan dia memiliki dua anak, juga dua anak angkat lainnya. Aku tidak ingin merepotkan bibi lagi setelah aku selesai sekolah, dan aku memutuskan mencari kerja di kota, karena di desa sangat sulit mencari pekerjaan” jelas Jasmine.


Akhirnya mereka sampai di stasiun kereta.


Belum lama mereka menunggu di peron, kereta yang akan mereka naiki berhenti. Penumpang agak berjejalan menaiki kereta.


Alfhonso entah disadari atau tidak, ia menggenggam erat jemari Jasmine, dan tidak melepaskannya sampai kedalam kereta.


Akhirnya mereka dapat duduk di kursi. Beberapa orang terpaksa berdiri karena kursi yang penuh.


Mereka berbincang di dalam kereta, bersamaan dengan itu, seorang nenek tua yang masuk berbarengan dengan mereka, tengah berdiri tidak jauh dari Alfhonso, si nenek tidak mendapatkan kursi untuk duduk, ia terus melihat kearah Alfhonso dengan tatapan yang aneh.


Merasa terus di lihat dengan tatapan sinis oleh si nenek, Alfhonso merasa risih.


“Jasmine, kenapa nenek itu terus melototiku?” ucap Alfhonso setengah berbisik.


“Tuan, sebaiknya anda mengalah dan memberi kursimu untuk nenek itu, mungkin dia kesal kau tidak mengalah” ucap Jasmine.


“Oh, apa harus seperti itu?”


“Ya tuan, karena anda laki-laki dan masih gagah, seharusnya anda mengalah pada orang yang lebih tua seperti dia” ucap Jasmine juga setengah berbisik.

__ADS_1


“Yahh, baiklah”


Akhirnya Alfhonso berdiri dan memanggil nenek itu.


“Nek, kemari!, duduklah!” ucap Alfhonso akhirnya mempersilahkan nenek untuk duduk di kursinya.


“Hah!, seharusnya dari tadi kau memberiu duduk, dasar laki-laki tidak peka!, apa kau tidak lihat orang tua renta begini berdiri dengan kakinya yang lemah!, apa baru kali ini kau menaiki kereta!..” omelan si nenek membuat Alfhonso mengerutkan kening.


“Heh?..nek, aku sudah sudah memberimu duduk, masih saja cerewet!” ujar Alfhonso sedikit kesal.


Dengan menahan kesal Alfhonso berdiri disamping kursi si nenek.


Beberapa penumpang wanita ada yang memandang ketampanan dan tubuh Alfhonso yang gagah. Ketika Alfhonso melihat beberapa penumpang wanita yang memperhatikannya, dengan wajah dingin dan senyuman yang terkesan dipaksakan membuat para wanita itu sedikit terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya.


Beberapa saat kemudian, perjalanan kereta semakin jauh.


Nenek tua itu tertidur, dan seolah kaget terbangun dengan spontan.


“Eh, ini dimana?...aku harus turun di Bulgevat” pekik si nenek.


“Ah, Bulgevat ada didepan sana nek, sebentar lagi kau bisa turun...” ucap Jasmine sopan.


“Ah, aku ketiduran rupanya” ujar si nenek.


Akhirnya ketika di stasiun berikutnya, si nenek buru-buru berdiri dan akan keluar melalui pintu kereta yang telah terbuka.


Tetapi karena terhalang orang-orang yang akan turun, dan jalan si nenek lambat akhirnya ia kesulitan untuk turun.


Akhirnya Alfhonso menghampiri si nenek kemudian menggendong dan membopong tubuh nenek untuk kedepan.


Alfhonso yang bergerak tiba-tiba membuat nenek terebut kaget, dan si nenek terus memukul kepala Alfhonso dengan tasnya.


“Hey, turunkan aku dasar kurang ajar!..” pekik si nenek yang sudah hampir berada di pintu berkat di bopong Alfhonso.


“Hey!!,permisi! nenek ini mau lewat!!” pekik Alfhonso sambil menggendong si nenek kepada orang-orang di depannya yang spontan menyingkir .


Beberapa penumpang tertawa melihat pemandangan tersebut. Ada pula penumpang wanita yang terpesona memandang kekuatan dan kegagahan Alfhonso dan berharap andai saja dia yang digendong dan berada di posisi si nenek.


Alfhonso mengantar si nenek keluar dari kereta dengan cepat sampai nenek tersebut berdiri di peron.


“Nek, kau tinggal menunggu ajalmu datang, kenapa masih berkeliaran seperti ini, diam-diam saja dirumahmu, menyusahkan saja” ujar Alfhonso yang kemudian kembali ke dalam kereta.


Terlihat si nenek yang sudah berdiri di luar kereta dan pintu sudah tertutup masih saja mengumpat Alfhonso.


Akhirnya Alfhonso bisa duduk dengan tenang kembali di samping Jasmine.


“Tuan apa itu tidak sedikit keterlaluan, dia itu orang tua..” ucap Jasmine menahan tawanya.


“Biarkan saja, dasar orang tua cerewet, bukannya berterimakasih, nenek cerewet itu terus saja mengomel..kalau saja bukan nenek-nenek sudah kupukul kepalanya”


Jasmine hanya menggeleng diiringi helaan nafas pendek.


Beberapa saat berlalu, Alfhonso mengirim pesan singkat kepada Raizon.

__ADS_1


‘Apa kau mengikuti peta kereta yang kunaiki?’ tulis Alfhonso di pesan singkat.


‘Ya tuan, kami bisa melacak anda’ balas Raizon.


Tak terasa tujuan mereka hampir tiba.


Sesampainya di pinggir desa, mereka harus berjalan lagi beberapa meter untuk sampai ke dalam desa.


Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana yang sejuk. Pekarangan rumah itu luas, di sampingnya terdapat peternakan ayam, sapi dan kuda.


Di halaman depannya banyak ditanami tumbuhan dan buah-buahan. Benar-benar suasana yang sejuk dan asri.


“Jasmine, jangan panggil aku tuan, panggil aku Alf” perintah Alfhonso sedikit berbisik pada Jasmine ketika di pagar.


“Tapi kenapa tuan?..”


“Sudah jangan banyak tanya. Alf!, ingat!, panggil aku Alf, jangan membantah!” ucap Alfhonso sedikit mengancam.


“Um, Baiklah..” Jasmine terpaksa mengiyakan perintah pria itu.


Mereka melewati pagar kayu pendek yang mengitari sekeliling rumah, dan mereka sampai di depan pintu berwarna putih setelah melewati tangga kayu dan teras berpapan kayu.


Tok..tok..tok…


“Bibi Jade!...ini aku Jasmine!!..”


Tak lama berselang pintu dibuka, seorang wanita paruh baya agak gemuk keluar dari dalam rumah.


“Ah!, Jasmine!, aah sayang…akhirnya kau sampai juga..”


wanita paruh baya yang dipanggil bibi Jade itu langsung memeluk jasmine dengan hangat.


“Arthur!, Guldy!, Jasmine sudah sampai!!”


Teriakan bibi Jade membuat sebuah suara langkah dari arah tangga rumah bergemuruh.


“Jasmine!!!” seorang gadis remaja agak kecil dan diiringi seorang laki-laki agak besar dengan sedikit berlari menuju pintu.


Mereka langsung memeluk Jasmine dengan erat.


“Hey, kau tambah tinggi rupanya” si laki-laki berbadan agak tinggi memandang kepala Jasmine.


“Aku merasa pendek didepanmu Arthur..” tawa Jasmine menyibak di sela kerinduannya.


“Jasmine, kau harus buatkan aku pizza jamur!!” pekik si mungil Guldy yang berambut kepang.


“Hey sayang, kau belum memperkenalkan pria tampan dibelakangmu?” ujar bibi Jade melihat kearah Alfhonso yang sedari tadi berada dibelakang Jasmine membawa koper.


“Ah ya,..ini…” Jasmine terlihat canggung dan ragu-ragu untuk menjelaskan dan menoleh kearah Alfhonso.


...*****...


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......

__ADS_1


__ADS_2