
Putra diam membisu. Sementara Mahira malah terlihat biasa saja lebih kepada sumringah dengan senyumnya yang tidak pernah hilang.
"Putra, jelaskan sama emak. Apa maksudnya kalian akan segera memiliki anak? apa kamu–"
"Bukan, Mak. Maksudnya–"
"Gini emak. Untung emak datang tadinya saya malah mau bertanya sama emak bagaimana cara melahirkan anak. Soalnya kemarin itu, Pak Putra mencium saya, katanya itu adalah nafkah batin. Kata Pak Putra nafkah batin itu bisa membuat kita memiliki anak. Saya malah jadi hawatir sama aeni, Mak. Dia kan sering begituan sama pacarnya. Bagaimana kalau dia memiliki anak? kan belum menikah."
Putra nyaris tidak bisa menutup mulutnya saat mendengar Mahira yang tidak pernah bisa berhenti saat bicara.
"Ya Gusti." Emak meijat kepalanya. Terlihat dia begitu frustasi. Sejenak kemudian emak tertawa. "Hati-hati sama ucapan kamu, Putra. Udah, ah! emak mau tidur. Lelah. Besok emak harus segera pulang."
"Besok?" Putra kaget.
"Iya, Mahira juga ikut pulang kampung. Emak takut dia kamu beri nafkah batin lagi."
Ledekan Emak berhasil membuat wajah Putra merona. Mereka kembali duduk di atas ayunan.
"Bi Mirah belum kembali. Saya harus pulang. Nanti yang ngurus Bapak siapa? Bapak bisa masak? terus baju Bapak yang nyiapin siapa? sepatu Bapak siapa yang nyemir? nah, kalau Bapak masuk angin kayak kemarin gimana? masa yang ngerokin Bapak, satpam. Tapi gak apa-apa, tenaga dia lebih besar pasti lebih berasa, nanti saya yang bilang sama satpam buat ngerokin punggung Bapak, bi–"
"Sudahlah, ayo kita makan." Putra mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mahira. Mereka berjalan kembali ke tengah acara. Mengambil makanan kemudian duduk di meja yang berada di tepi kolam.
Putra makan dengan lahap. Sementara Mahira masih sibuk memikirkan bagaimana Putra dan hidupnya setelah dia pulang kampung, sementara Bi Mirah belum juga kembali.
"Hey! kenapa bengong?"
"Emm?" Mahira kaget. Gadis itu mengambil tisu dan menyeka kotoran makanan yang ada di sudut bibir Putra. "Makan saja masih belepotan. Gimana kalau gak ada yang ngurusin Bapak di sini? Bi Mirah kapan kembalinya, saya biar bisa tenang pulang kampung. Kalau begini, mana bisa saya pulang kampung begitu saja? emak kenapa ngajak saya pulang? coba Bapak bikin janji bahwa Bapak tidak akan memberikan saya naf–"
Putra menutup mulut Mahira dengan telunjuknya. Kalau sampai orang-orang sekitar mendengar ucapannya. Bisa beda lagi cerita.
"Makan saja dulu. Kita pikirkan itu nanti."
"Tapi, Pak ...."
"Makan dan diamlah." Putra sediki melotot dan itu membuat Mahira mau diam dan menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Acara selesai. Keluarga Putra dari kampung sudah kembali ke hotel. Hanya ada beberapa petugas EO yang sedang merapikan semuanya.
"Gue balik ya. Anak-anak udah ngantuk juga." Wiwin dan keluarganya pamit.
"Makasih, ya. Jangan lupa pernikahan gue dua pekan lagi."
"Pasti. Gue balik. Met malem."
"Hati-hati di jalan."
"Okehh."
Putra menghela nafas panjang. Dia berdiri ditepian kolam. Menikmati dinginnya malam yang sepertinya akan segera turun hujan. Butiran air yang sangat kecil sudah mulai turun. Gerimis.
Tak ingin tubuhnya basah kuyup saat hujan turun, dia berlari kecil menuju rumah. Sepi. Orang-orang sudah tertidur. Hanya terdengar rengekan kecil dari ponakannya yang paling kecil.
Langkah Putra saat menaiki anak tangga pertama terhenti. Dia mendengar suara dari arah dapur. Karena rasa penasaran, akhirnya Putra membelokan langkahnya. Begitu sampai depan pintu dapur, dia melihat Mahira sedang terlihat sibuk dengan beberapa makanan yang ada di meja.
"Mahira. Sedang apa? ini sudah malam."
Hati kecil Putra tersentuh. Gadis ini benar-benar polos dan lugu. Tidak hanya itu, dia begitu baik dan perhatian. Tidak dipungkiri, Putra merasa bahwa Emak tidak salah pilih untuk kali ini.
"Mahira."
"Ya, Pak. Ada apa? butuh sesuatu? nanti saya bantu."
"Matikan keran airnya. Lihat sini."
Mahira menuruti apa yang Putra perintahkan. Setelah tangannya kering, gadis itu menghampiri Putra, berdiri tepat di hadapannya. Gadis mungil itu mendongak saat menatap wajah Putra.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?"
"Oooh, tadi saya sama emak ngobrol banyak. Emak sudah menjelaskan apa itu pernikahan dan suami istri. Apa itu nafkah lahir dan batin. Bagaimana saya harus bersikap dan apa saja hak dan kewajiban suami istri. Sekarang saya sedang mencobanya, Pak."
Putra tersenyum.
__ADS_1
"Kemarilah." Putra membuka kedua tangannya. Meminta agar Mahira masuk ke dalam pelukannya. Mahira tampak ragu dan membuat Putra menarik tubuh kecilnya itu.
"Terima kasih. Saya berjanji akan berusaha seperti kamu. Menjadi suami yang baik."
Mahira tersenyum lebar. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dan itu dirasakan oleh Putra.
"Kenapa jantungmu cepat sekali?"
"Entahlah. Saya juga baru kali ini seperti ini. Rasanya kok sesek ya. Tangan saya juga dingin, Pak," ucapnya. Masih dalam pelukan Putra. "Mungkin Bapak meluk saya terlalu kencang. Jadi saya tidak bisa bernafas," imbuhnya.
Putra tau, bukan itu alasan jantung Mahira berdetak cepat. Segera dia melepaskan pelukannya. "Segera tidur."
Putra segera berlalu meninggalkan Mahira. Gadis itu masih memegang dadanya. Jantungnya belum berdetak normal seperti biasanya.
Mahira mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, gagal. Jantungnya masih berdetak cepat. Tanpa menghiraukan perasaannya, Mahira melanjutkan kegiatannya menyiapkan berbagai makanan untuk dia simpan di dalam kulkas.
Waktu semakin larut. Tanpa dia sadari jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Begitu selesai memasukkan semuanya ke dalam kulkas, dia segera membersihkan diri kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Meski tubuhnya lelah, matanya tidak bisa terpejam.
Mahira mengusap-usap wajahnya kasar saat tetiba dia teringat wajah Putra. Bayangan saat Putra mencium bibirnya melintas begitu saja di benaknya. Dan itu membuat wajahnya memanas. Tanpa dia sadari, seulas senyum terukir di wajahnya. Sesekali dia memegang bibirnya dan mencoba merasakan nafas Putra saat itu. Wangi.
Lamunan Mahira sirna seketika saat dia mendengar suara di ruang makan. Kakinya begitu saja turun dan memakai sandal. Dia keluar dari kamar menuju sumber suara.
Dengan sangat jelas Mahira melihat Putra sedang minum air di depan kulkas yang terbuka. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Dia kesulitan untuk bergerak.
"Astaga!" Putra terkejut saat membalikan tubuhnya dan melihat Mahira mematung.
"Kenapa berdiri tanpa suara? bikin kaget saja."
Mahira masih terdiam. Dia melihat wajah Putra yang tersorot cahaya lampu yang mengintip dari balik celah. Suasana saat itu memang temaram. Hanya beberapa lampu kecil yang menyala dan lampu yang memang sengaja menyala dibeberapa ruangan.
"Kenapa dada kamu? sakit?" tanya Putra saat melihat Mahira meremas dadanya yang terasa sesak. Dia hanya diam tanpa menjawab. Putra menenggak sisa air yang ada di dalam gelas dengan mata sedikit melirik ke arah Mahira. Putra sendiri kesulitan menelan minuman itu, dia tau apa yang sebenarnya terjadi pada Mahira.
"Saya tidur dulu. Kamu juga."
Putra berjalan begitu saja melewati Mahira. Dan Mahira masih saja memegang dadanya. Dia tidak ingin kehilangan jantungnya yang sedari tadi seperti akan meloncat keluar dari tempatnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺