Membeli Istri

Membeli Istri
part#37


__ADS_3

Malam ini terasa menggantung. Aku gagak berpamitan pada Bibi dan semua orang yang ada di rumah ini.


Aku melihat sekeliling kamar ini. Kamar yang penuh dengan kenangan bahagia saat bersamanya. Setiap sudut di ruangan ini banyak mengandung arti dan makna untukku.


Suasananya, aromanya, semuanya masih tentang dia. Entah apa tujuan Pak Putra meninggalkan semua barang-barangnya masih tetap pada tempatnya. Tapi aku bersuku untuk itu, aku masih bisa memeluk baju yang sering dia pakai saat tidur. Obat saat rindu melanda.


Aku melihat satu per satu pakaian kerjanya. Jam tangannya, dasi dan juga sepatunya. Masih komplit tertata seperti dulu.


Aku masih sering merasakan keberadaannya karena barang-barang itu. Tidak jarang aku masih merasa dia ada di samping saat terbangun di pagi hari.


Lalu besok?


Besok aku akan meninggalkan semua ini. Meninggalkan kenangan indah yang pernah terukir dan yang tidak akan pernah kembali.


Kenangan itu akan tetap di sini. Melekat di setiap dinding rumah. Mereka akan menjadi saksi bagai mana sepasang suami istri hidup berdampingan dengan damai meski tanpa saling mencintai.


Mereka akan menjadi saksi bisu yang melihat bagaimana baiknya seorang suami memperlakukan istri yang tidak pernah ada dalam hatinya.


"Besok, aku akan pergi meninggalkan kamar kita, Pak. Ya Allah ... astagfirullah ...."


Aku tersungkur di atas lantai. Keputusan yang kukira mudah, ternyata begitu menyiksa. Bahkan mungkin, aku tidak akan bisa melupakannya sampai detik sisa umurku. Dia yang sudah melekat dalam hati sanubari, tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun juga.


*****


Aku berdiri hanya dengan satu koper dan kantong berisi buku yang semalam Pak Putra bawa.

__ADS_1


Para pekerja di rumah ini berjejer dengan tangisannya.


"Saya minta maaf jika selama ini banyak kesalahan. Saya ...." Jujur, aku tidak kuat lagi harus berkata apa. Aku yang terbiasa hidup tanpa orang tua, saudara, dan teman, bisa merasakan semua itu saat bersama mereka.


Kami tidak terikat darah, tapi aku sangat menyayangi mereka. Pak Misran yang sudah aku anggap seperti Bapak sendiri, rasanya sangat berat untuk berpisah dengannya. Dia yang selalu setia mendengarkan kesedihanku, menampung air mataku dan memberikan wejangannya layaknya Bapak pada anaknya.


Aku yang sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, bisa merasakannya dari mereka, Bibi.


Mereka menjaga dan merawat saat aku tidak bisa apa-apa. Menghibur saat aku bersedih. Memeluk saat aku butuh sandaran saat suami tidak lagi sah untuk ku peluk.


Canda tawa mereka yang konyol dan nyeleneh. Kepolosan mereka, kebaikan mereka membuat aku benar-benar berarti dan diingkan di dunia.


Bapak dan Ibu kandungku saja, tidak pernah melakukan ini. Mereka tidak menginginkan keberadaanku di dunia ini. Suami, meski dia baik padaku, dia tidak menginginkan hadirnya diri ini dalam hatinya.


"Karena Bapak sudah menganggap Neng seperti anak sendiri. Bapak, kok ikut sakit saat malam hari sering melihat Pak Putra menelpon wanita lain." Begitulah yang selalu dia katakan padaku.


"Bi, Mahira minta maaf, ya. Kalian adalah keluargaku satu-satunya di dunia ini. Orang yang menganggap aku ada. Terima kasih untuk semuanya. Mahira tidak bisa memberikan apa-apa selain doa, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Kebaikan kalian biar Allah yang membalasnya."


"Neng ...."


Rumah ini riuh dengan suara tangisan dari kami semua. Saling memeluk dan menguatkan satu sama lain.


Mereka mengusap air mataku. Mengelus kepala seperti anak yang akan mereka lepas pergi jauh. Ya, aku memang akan pergi jauh.


"Neng, jaga diri baik-baik. Neng harus kuat, harus tegar, tidak ada saya yang bisa menjaga dan mendengar keluh kesah Neng lagi. Saya akan selalu berdoa agar Neng selalu bahagia dunia akhirat."

__ADS_1


"Pak Misran ... terima kasih banyak. Dari Bapak, saya bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah yang sebenarnya. Melindungi dan menjaga saya setiap waktu. Saya ... saya ...."


Aku bersimpuh di hadapannya. Berat rasanya kalo ini melangkah pergi meninggalkan Bapak pengganti untukku.


Dia memegang bahuku. Mengusap kepala dengan penuh kasih. Tangannya yang kurus terasa bergetar.


"Pergilah, Nak. Cari kebahagiaan yang sebenarnya. Jauhi rumah ini agar kamu bisa menjalani hidup dengan benar. Kamu berhak bahagia. Pergilah, anakku. Pergilah ...."


Dia berdiri. Langkah kakinya terlihat bergetar meninggalkan diriku.


Mata ini terpejam begitu kuat, berharap saat mata ini terbuka, semua ini hanyalah mimpi. Aku berharap Pak Putra masih menjadi suamiku, dan perpisahan ini tidak terjadi.


"Ra, ayo. Kita pergi."


Hingga suara Aldo menyadarkanku bahwa semua ini adalah kenyataan. Aku memeluk Bibi satu per satu. Melangkah pergi menuju tempat lain. Tempat yang aku harap bisa menemukan kebahagiaan dan orang-orang yang bisa menerimaku.


Semoga kaki ini tidak salah melangkah. Dengan perginya aku dari rumah ini, aku bisa melupakan semuanya. Semua tentang dia. Aku harus menerima kenyataan bahwa, dia sudah menjadi milik orang lain.


Aku wanita muslimah yang seharusnya tida mencintai laki-laki yang berstatus suami orang. Bagaimana Rasulullah akan mencintaiku jika aku melakukan hal yang sangat dia benci.


Bismillah ...


Selamat tinggal, Pak yang sebenarnya ingin aku panggil sayang.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2