Membeli Istri

Membeli Istri
part#25


__ADS_3

Aldo yang merasa aneh dengan sikap Mahira, pergi mendekatinya. Dia mengusap pipi Mahira dengan lembut.


"Hey, kamu baik-baik saja?" tanya Aldo berbisik ramah.


"Ya, saya baik-baik saja. Saya hanya sedikit kedinginan di ruangan ini." Mahira mencari alasan. Dengan sigap Aldo melepas jas nya lalu menutupi tubuh Mahira. Orang-orang yang melihat hal itu menatap tak percaya. Aldo laki-laki tengil yang selalu bersikap seenaknya pada wanita, kini berbanding terbalik saat memperlakukan Mahira.


"Manis ya mereka," ucap Ririn pada Putra. Putra menoleh dan berusaha tersenyum meski terasa sulit.


"Kamu mau pulang?" tanya Aldo.


"Acaranya?"


"Jangan pikirkan ini, lagi pula kami hanya ingin mempromosikan proyek terbaru yang ada di Majalengka. Itu bisa aku serahkan pada mas putra."


"Jangan. Aku tidak apa-apa, lanjutkan saja."


"Yakin?" Aldo sedikit khawatir.


"Ya, saya baik-baik saja."


"Kalau begitu, kita kenalan dulu dengan mas putra, dia orang kepercayaan keluargaku yang sudah seperti kakak untukku. Ayo ...." Aldo meraih tangan Mahira dan membawanya menuju Putra dan Ririn.


"Maaf, Mas. Menunggu sedikit lama. Oya, kenalkan. Ini Mahira."


Putra menatap Mahira tanpa jeda. Matanya sedikit menyipit, dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Mahira, istrinya.


"Halo, selamat malam. Senang bertemu dengan kalian." Begitulah Mahira menyapanya.


"Halo, aku Ririn. Aku calon istrinya Putra. Ya ampuuun, kalian itu manis banget sih. Aku jadi iri melihatnya. Serasi tauuu ...."


"Kenapa harus iri? bukankah anda juga memiliki kekasih yang sangat mencintai anda, Kak Ririn?"


Putra masih menatap lekat Mahira.


"Iya, hanya saja dia itu sedikit cuek dan tidak romantis."


"Tapi dia sangat baik."


"Ya? maaf ...." Ririn sedikit heran dengan ucapan Mahira yang seolah-olah tau tentang Putra.


"Iya, maksud saya mas putra ini terlihat seperti orang yang baik. Yaaa meski saya tidak tau itu benar atau tidak. Kita tidak akan tau akan diri seseorang kalau tidak benar-benar masuk dalam kehidupannya."


Ririn diam. Dia sedikit tidak suka pada nada bicara dan perkataan Mahira. Melihat hal itu, Aldo mengajak Mahira pergi dan berkenalan dengan yang lainnya.


Acara demi acara telah mereka lewati. Perkenalan proyek baru milik Aldo telah dia jelaskan dengan sangat baik. Teman-teman yang memang satu club' mobil sengaja Aldo undang untuk ikut mempromosikan tempat pariwisata yang dia buat.


Aldo yang awalnya mengira Mahira benar-benar 'bodoh' ternyata salah. Dia malah terlihat akrab dengan para istri teman-teman Aldo. Mereka yang memang jauh lebih dewasa sangat menyukai Mahira. Wanita lugu dan sederhana itu membuat mereka merasa nyaman dan sering membuat mereka tertawa karena kepolosan Mahira

__ADS_1


Di sisi lain, Putra dibuat tidak nyaman dengan tatapan Aldo pada istrinya. Dia juga merasa kesal karena Mahira pergi tanpa seizin darinya. Ingin rasanya dia marah dan berteriak di tempat ini. Namun, dia sadar, dia sendiri melakukan kesalahan besar dan pergi ke tempat ini dengan wanita lain.


"Aldo, aku ingin pulang. Sudah hampir larut malam."


"Baiklah, ayo kita pulang sekarang. Biar sisanya mas putra yang urus."


Aldo pamit pada semua teman-temannya, termasuk pada Putra. Mahira segera memalingkan wajahnya begitu Putra menatapnya. Hal itu dia terus lakukan sedari tadi. Mata Putra yang diam-diam dari Ririn, selalu menatap Mahira setiap ada kesempatan. Dan Mahira hanya berpura-pura tidak melihatnya.


Dalam perjalanan, Mahira diam. Dia sama sekali tidak menghiraukan Aldo yang sedari tadi mengajaknya berbicara. Bukan tidak ingin, tapi pikiran Mahira memang tidak ada di sana.


"Mahira, rumah kamu di mana?"


Mahira masih diam.


"Wooiiii!"


Teriakan Aldo menyadarkan lamunannya.


"Mikirin apaan?" ini kita mau kemana? rumah kamu ada di mana?"


"Oh, itu. Kita kembali lagi saja ke butik. Kalau dari sini saya tidak tau harus kemana? kalau dari butik saya sedikit ingat."


"Sedikit? bagaimana kalau kita kesasar? bukankah kamu punya ham sinderela? bagaimana kita bisa sampai rumah sebelum tengah malam kalau begini."


"Ya sudah, kita coba saja dulu. Kita ke butik gang tadi."


Aldo menuju butik tempat mereka bertemu tadi siang. Dari sana Mahira mulai mengingat-ingat jalan yang dia lalui bersama Pak Misran.


Di perjalanan Mahira mulai kebingungan. Tentu saja. Karena jalan saat dia menuju butik dan saat dia pulang itu akan berbeda. Dia tidak faham rumitnya jalanan ibu kota.


Mereka hanya berputar-putar, dan berjalan semakin jauh dari tujuan. Aldo mulai kesal dan marah pada Mahira.


"Kamu itu tinggal di mana sih sebenernya? aduuuh, kalau begini kita tidak akan sampai sampe tahun depan juga."


"Maaf, saya baru tinggal di sini soalnya. Saya juga lupa kalau ... saya juga tidak tau jalan menuju butik tadi. Yang tau supir saya."


"Yasalam!" Aldo memukul stir mobilnya.


"Coba telepon suami kamu deh, tanya alamatnya atau suruh dia mengirim lewat pesan."


"Dia pasti tidak akan membalasnya."


"Sok tau! coba aja dulu."


"Dia sedang bersama kekasihnya saat ini, tidak mungkin membuka ponselnya."


"Menyedihkan! lalu kita harus bagaimana sekarang? aku akan benar-benar memperkosa dan membuang kamu di pingir jalan."

__ADS_1


"Jangan hanya dibuang. Bunuh aja sekalian. Tanggung sakitnya."


"Astaga! kenapa juga aku harus bawa wanita ini tadi. Aarghhh!"


"Tau rumah pak Putra?"


"Ya taulah! kenapa memangnya? kamu suka sama dia? jangan! dia sudah punya tunangan."


"Dia suamiku."


Kali ini Aldo menginjak rem begitu dalam hingga mobil yang ada di belakangnya menabrak. Mahira begitu kaget, pun Aldo, saat tekanan membuat mereka hampiri terpelanting ke depan. Beruntung tidak membuat mobil mereka terbalik dan hancur.


"Apa lagi ini?" Aldo memukul kencang stir mobilnya. Dia keluar dan melihat seberapa parah kerusakan pada mobilnya, setelah dia memenangkan diri sejenak.


Mobil dia dan mobil yang menabraknya hancur meski tidak begitu parah. Beruntung mereka selamat dan hanya syok. Laki-laki yang mengemudikan mobil hitam itu turun dan menghampiri Aldo dengan sempoyongan karena masih kaget. Dia marah dan memukul Aldo dengan keras.


"Dasar gila! jangan berhenti mendadak tolol! gue bawa istri yang lagi hamil. Kalau sampai dia dan bayi gue kenapa-kenapa gimana?" orang itu berteriak. Orang-orang yang kebetulan ada di sana mulai berkerumun. Mereka berusaha melerai pengendara itu yang hendak memukul Aldo lagi.


Aldo dan orang itu saling berteriak.


"Gue ganti semuanya! gue ganti mobil lu dengan yang baru sekalian!"


"Sombong bener lu bocah tengil. Awas aja kalau sampai istri gue kenapa-kenapa."


"Lu liat noh, istri lu aman-aman aja. Lu cuma cari alasan buat dapetin ganti rugi yang lebih besar kan?"


"Sudah ... Sudah ...."


"Lapor polisi aja."


"Jangan, ribet. Damai aja udah."


Beberapa orang memberi saran. Tapi Aldo dan pengendara itu tetap saling berteriak. Bukan tanpa sebab, Aldo sudah meminta maaf dan malah mendapat pukulan dari laki-laki itu.


"Pak, Mas, itu yang di mobil putih hidungnya berdarah."


Ucapan seseorang membuat Aldo berhenti mengoceh. Dia yang sedang di pegang beberapa orang, berontak. Dia berlari dan membuka pintu mobil sebelah kiri.


"Ra ... ka-kamu kenapa?" Aldo panik melihat darah mengucur dari hidung Mahira. Rupanya dia terbentur karena tidak memakai sabuk pengaman dengan benar. Dia hanya menyilangkannya saja di dada.


"Bagaimana ini?" Aldo terlihat bingung. Dia harus membawa Mahira tetapi pengendara itu?


Aldo melemparkan dompetnya. Lalu segera masuk ke dalam mobil untuk pergi menuju fasilitas kesehatan terdekat. Pengendara mobil hitam itu marah begitu melihat Aldo pergi.


"Jangan marah, Pak. Ini ambil dompetnya. Ada KTP nya pasti. Bapak nanti ke rumahnya saja, atau lapor polisi."


"Kurang ajar!"

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2