
Aku menatap wajah istriku yang masih sembab. Matanya masih terlihat bengkak. Ya, itu semua karena ulahku. Aku yang ingin memberikan dia kejutan istimewa, malah membuatnya terluka begitu dalam. Bukan hanya itu, dia bahkan hampir celaka gara-gara kekonyolan yang aku lakukan.
Akting saja bisa membuat dia begitu terluka, apa jadinya jika aku benar-benar pergi?
Kenapa juga dia percaya bahwa aku berubah begitu saja, dasar bodoh! aku bahkan tidak punya pikiran untuk meninggalkan dia sedetik saja. Melewati makan malam bersamanya beberapa malam ini saja, sudah membuatku galau berat. Bahkan aku hampir merusak semua karena tidak tahan ingin menghabiskan makan malam dengannya. Untung Vera dan Mami selalu mencegah.
"Sayang, aku bersumpah tidak akan meninggalkan kamu." Aku mencoba berbisik di telinganya. Mengusap wajahnya, membelai rambutnya, lalu mencium keningnya saat dia tidak sadar itu sangat membahagiakan.
Dia begitu polos saat tertidur lelap. Tidak ada keresahan dan penderita. Wanitaku begitu mengkhawatirkan pernikahan kami. Syarat dari Papi untuk merestui pernikahan kami, nampaknya belum menghasilkan tanda-tanda. Wanitaku sangat ketakutan.
Dan aku? apapun akan aku lawan untuk tetap mempertahankan istriku. Persetan dengan ancaman Papi.
"Papi beri waktu satu tahun lagi untuk kamu segera memiliki anak. Jika tidak, kamu harus menikahi wanita pilihan Papi!"
Berbakti pada orang tua, bukan berarti melewati batasan hukum agama bukan? bagiku saat ini, tanggungjawab utamaku adalah istriku. Lucu sekali aku harus menceraikan Mahira hanya demi mendapatkan anak dari wanita lain.
Bagiku, kebahagiaan itu bukan hanya memiliki keturunan. Mungkin saja menurut Allah, tidak memiliki anak adalah yang terbaik untukku dan Mahira.
Mana tau aku dan Mahira tidak menjaga anak kami kelak. Meski merasa mampu, tapi anak adalah kepercayaan langsung yang Allah berikan.
"Ehmmm." Mahira menggeliat. Kembalikan tubuhnya lalu memeluku. "Ayo, bobo, Mas."
"Iya, sayang."
Memandang wajahnya bisa membuat lupa waktu. Seperti saat ini, tanpa aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Kemarilah." Aku menarik kepalanya pelan, lalu membiarkan dadaku menjadi bantalan untuknya tertidur.
*****
"Apa?" Aku begitu terkejut mendapatkan telpon dari Mami. Sepagi ini aku mendapatkan kabar bahwa Nek Laila meninggal dunia.
Aku yang masih berada di atas ranjang celingukan mencari wanitaku. "Sayang ... sayang ...." aku keluar dan mencari istriku.
"Bi, istriku mana?"
"Tadi pergi, Den."
"Sepagi ini?"
"Ini jam sebelas, Den."
Aku mencari-cari letak penunjuk waktu di rumah ini. Benda tinggi besar itu berada di belakangku rupanya.
"Astaga!" aku memijat keningku. Tanpa mandi, dan hanya menggosok gigi serta cuci muka, aku segera bergegas menuju kota hujan.
"Mahira kenapa tidak membangunkan aku? kemana juga dia pergi. Wanitaku itu memang sangat menyebalkan suatu waktu. Untung sayang."
Aku berceloteh sepanjang jalan. Hatiku sedih karena kepergian Nek Laila, tapi pikiranku selalu pada wanitaku. Ahh, dia telah memantraiku rupanya.
"Mungkin aku harus banyak makan daun kelor. Eh, itu kan untuk melunturkan susuk. Astagaaa, Aldo! Nek Laila meninggal. Stop memikirkan Mahira sejenak." Aku masih merutuki diri sendiri.
Sesampainya di yayasan, begitu banyak mobil di sana. Pastinya.
Nek Laila sudah seperti Ibu untuk Mami. Jadi wajar saat Nek Laila pergi, banyak kolega Mami yang melayat.
Tidak lupa, bagian depan sebelum masuk ke area yayasan, ada pemeriksaan protokol kesehatan terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah selesai, aku segera berlari ke belakang. Tujuan yang pertama adalah mencari jenazah Nek Laila.
"Mami ...."
"Al." Mami menyambut kedatanganku dengan pelukan dan air mata. Aku menepuk lembut punggung Mami. Mencoba menenangkannya meski aku sendiri sangat sedih.
"Nenek sedang dimandikan, Al. Kita tunggu saja di sini."
"Iya, Mi."
Aku memapah Mami untuk duduk disebuah kursi. Para teman Mami berdatangan dan mengucap bela sungkawa. Tidak saling bersalaman, hanya sekedar berucap dari jarak dua meter saja.
Seperti pengurusan jenazah pada umumnya. Setelah dimandikan, disalatkan, lalu segera mengantarkan pada peristirahatan terakhir. Sebagai penghormatan untuk terakhir kalinya, aku turun langsung ke liang lahat, menerima jenazah Nenek, lalu menidurkannya.
Hati ini perih. Kejadian waktu itu terulang lagi. Dulu sahabatku, dan sekarang Nenek dari sahabatku. Mereka berdua terlah pergi meninggalkan dunia ini. Ah, andai belum ada Mahira saat ini yang menemaniku, mungkin aku akan sangat hancur.
Kini, aku terdiam meratapi gundukan tanah merah yang masih basah. Bau harum bunga begitu pekat. Ku usap pusara Nenek seakan itu adalah wajahnya.
"Aldo minta maaf, Nek. Aldo tidak ada saat nenek pergi. Bahkan, sudah lama sekali Aldo tidak berkunjung."
"Nek, selamat jalan. Nenek yang tenang di sana. Aldo akan selalu mencintai nenek. Al-fatihah ...."
Berat rasanya pergi meninggalkan Nenek di dalam tanah sana. Rasa sesal itu begitu kuat saat terakhir kali dia meminta bertemu, tapi aku tidak bisa mengabulkan keinginannya.
Sekarang, bahkan aku tidak bisa lagi bertemu dengannya meski seberapa besar aku ingin dan berusaha.
Benar apa yang orang bilang. Kita akan benar-benar merasa kehilangan saat mereka tidak bisa lagi bersama kita. Mereka berarti setelah mereka pergi. Rasa rindu yang akan sangat menyiksa adalah kerinduan pada mereka yang sudah tidak ada di dunia ini.
Ponselku berbunyi begitu sampai di dalam mobil.
"Ya, sayang." Lirihku.
"Tidak apa-apa. Kamu di mana sekarang?"
"Udah di rumah. Mas, yang sabar ya. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Nenek. Mas harus ikhlas agar Nenek bisa ringan melangkah. Biarkan dia pergi dengan tenang."
"Iya, sayang. Aku hanya ... aku menyesal karena tidak bersamanya disaat terakhir."
"Ini semua kehendak Allah, Mas. Kita harus legowo. Doakan saja Nenek agar dilapangkan kuburnya."
"Iya, sayang."
"Mas kapan pulang? mau tahlilan dulu di sana?"
"Iya, setelah tahlilan, nanti aku pulang."
"Hati-hati, Mas. Jangan terlalu bersedih, kasihan nenek."
"Iya. Aku kuat, kok. Andai kamu ada di sini."
"Maaf, Mas. Tadi pagi aku gak enak badan, mau bangunin kamu tapi kamu lelap banget. Jadi aku pergi sendiri ke dokter."
"Kamu sakit?" Rasa sedih itu tetiba hilang saat mendengar wanitaku tengah sakit. "Aku pulang sekarang. Jangan kemana-mana."
"Mas, aku tidak apa-apa. Hanya merasa tidak enak badan. Dokter juga gak ngasih obat, hanya vitamin aja. Mas di sana aja dulu. Gak enak sama keluarga."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kok, Mas. Jangan khawatir, ya. Love U."
"Love you too, honey."
Mahira. Aku merindukan kamu, sayang. Mendengar suaranya tidak lantas mengiba rindu yang seperti sudah bertahun lamanya tidak bertemu. Aku benar-benar jatuh cinta begitu dalam pada istriku.
Tahlilan diadakan selepas salat Isa. Biar tidak tanggung katanya.
Hampir satu jam acara itu berlangsung. Begitu selesai, aku pamit pada Mami dan Papi untuk segera pulang ke rumah.
"Kenapa buru-buru. Yang meninggal itu Nenek kamu!" Tidak membentak, pelan tapi penuh tekanan. Aku tahu, Papi tidak suka aku pergi untuk bertemu Mahira.
"Mahira sedang sakit. Dia sendiri di rumah."
"Dia udah gede."
Entahlah. Kenapa Papi malah seperti anak-anak yang .... Sudahlah.
"Aldo tahu, karena tidak mungkin dia jadi istri Aldo kalau masih bocah! lagi pula, apa lagi yang harus Aldo lakukan di sini? tidak ada bukan?"
"Jangan lupa! hanya satu tahun lagi."
"Aldo tidak perduli. Berapa puluh tahun pun, Aldo tidak akan meninggalkan Mahira demi siapapun, termasuk demi Papi."
"Oh, begitu rupanya? apa kamu mau, semua fasilitas kamu Papi ambil?" Papi berteriak. Tamu yang masih hadir saling menatap dan memperhatikan kami berdua.
"Dengan senang hati, Pi. Ambil saja semua. Aldo tidak butuh semua itu."
"Anak kurang ajar!"
"Lebih kurang ajar mana dengan seorang ayah yang mengajarkan anaknya untuk berkhianat pada istrinya? didikan macam apa itu? bagaimana kalau wanita itu adalah Vera? apa Papi rela Vera diperlakukan seperti itu?"
"Vera itu berbeda. Dia itu wanita terhormat dan akan selalu dihormati laki-laki."
"Vera dan Mahira itu sama. Mereka manusia!"
"Udah, udah! malu dilihat orang banyak." Kak Yanwar menghampiri.
"Semakin Papi melarang, semakin kuat Aldo akan mempertahankan. Ingat, Pi! kita itu memiliki watak yang sama."
"Kurang ajar! hanya demi wanita rendahan itu, kami berani menentang Papi?"
"Dia istri aku! bukan wanita rendahan!" aku semakin tinggi bersuara. Panas rasanya saat wanitaku dihina seperti ini. Andai dia bukan Papi, sudah ku hajar habis-habisan.
"Sudah, Al. Kalau mau pulang, cepatlah. Ini sudah malam. Kasian istri kamu nungguin." Kak Yanwar menarik tanganku menuju mobil.
Brak!
Aku membanting pintu mobil kesal. Tidak perduli pada Kak Yanwar yang ada diluar sana.
Sengaja kuinjak gas dengan rem dan kopling yang mengunci. Papi pasti akan kesal mendengar suara knalpot mobil yang bising.
"Coba saja pisahkan kalau bisa!"
Aku menatap wajah Papi yang terlihat begitu kesal dari kaca spion.
Sayang. Aku segera pulang.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺