Membeli Istri

Membeli Istri
part#13


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya mereka tiba pada hari H, dimana Putra akan mengucapkan ijab qobul atas putri seseorang.


Seserahan yang di bawa begitu banyak dan semua barang-barang mahal. Iring-iringan pengantin tidak terlalu banyak karena masih dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Hanya membawa keluarga inti saja. Lima mobil Alphard.


Mereka di kawal oleh satu mobil pengawal polisi. Tidak untuk bergaya, hanya saja mereka butuh keamanan untuk melindungi Putra. Dia akan pergi ke tempat dimana dia sedang menjalani proyek besarnya.


Perjalanan Cirebon– Majalengka, membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan. Bukan jarak yang jauh tapi kontur jalan yang membuat laju mobil pelan. Berkelok, turun-naik dengan jalan berlubang.


Begitu sampai rombongan ke lokasi hajatan, mereka turun dan disambut penari lengser. Riuh para masyarakat yang menyaksikan, membuat suara musik dan suara manusia bercampur tidak karuan. Putra pusing dibuatnya.


Semua acara demi acara sesuai adat Sunda telah di jalankan. Hingga akhirnya sampai pada acara inti. Ijab Qabul. Hanya dengan sekali tarikan nafas, mereka resmi menjadi suami istri. Mahira pun diperbolehkan keluar dan bersanding dengan Putra untuk menandatangani surat nikah dan beberapa berkas lainnya.


Untuk sesaat Putra takjub dibuatnya. Mahira begitu cantik dengan kebaya putih dan siger Sunda yang menghiasi kepalanya.


Setelah selesai, mereka berfoto bersama penghulu dan para saksi. Barulah acara adat yang lainnya mereka jalani.


Sungkeman atau meminta restu dengan kedua mempelai bersimpuh pada orang tua. Saweran, injak telur, ketuk pintu, huap lingkup dan saling menarik ayam bekakak. Dan terakhir sesi foto-foto.


Acara yang begitu panjang dan menguras energi bagi keduanya. Azan magrib pun tiba. Pengantin wanita membuka pakaian dan riasannya. Tidak seperti pengantin kebanyakan yang berdiri di pelaminan dan menunggu para sahabat datang. Mahira tidak memiliki teman apa lagi sahabat. Tidak ada yang harus dia tunggu. Mahira juga memutuskan untuk ikut ke Cirebon bersama keluarga Putra.


"Kenapa ikut?" tanya Putra saat mereka dalam perjalanan. Putra dan Mahira hanya berdua. Dengan sopir tentunya yang duduk di kursi depan.


"Lama di sana juga untuk apa? rasanya asing dan tidak nyaman. Ibu yang sudah lama tidak bertemu rasanya seperti orang lain. Kami saling diam jika tidak ada yang penting untuk di bicarakan."


"Hmm. Tidurlah, kamu pasti sangat lelah."


"Ya."


Putra bisa melihat kesedihan di mata istrinya. Dia yang selalu cerewet, menjadi sangat diam kali ini.


'Apakah dia kecewa dengan sikap ibunya?' pikir Putra. Putra melepas jas yang dia pakai untuk menyelimuti tubuh Mahira yang sudah terlelap.


Hampir tengah malam mereka sampai. Mahira yang memang sangat kelelahan bergeming. Tidak ingin membangun dia yang begitu pulas, Putra menggendong istrinya masuk ke kamar dan menidurkannya dengan perlahan.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman. Putra menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian dipenuhi oleh keringat. Putra sedikit terhenyak saat melihat Mahira sedang terduduk di tepi ranjang.


"Kenapa bangun?"

__ADS_1


"Pengen mandi. Badannya lengket."


"Oh, saya ambilkan handuknya dulu." Putra pergi ke ruangan sebelah yang masih ada dalam kamarnya. Dia membawakan dua handuk dan menyerahkannya pada Mahira.


"Pakai saja alat mandi saya."


"Ya, baiklah."


Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Putra memakai piyama tidurnya saat suara air terdengar dari kamar mandi.


Sambil menunggu Mahira keluar dari kamar mandi, Putra duduk di atas kasur dan menyenderkan tubuhnya ke ranjang. Lama Mahira tak kunjung keluar, Putra merasa cemas. Dia ragu untuk masuk ke kamar mandi. Namun, ketukannya tidak mendapat sahutan. Dengan terpaksa dia membuka pintu yang tidak terkunci itu.


"Ra!" Putra segera berlari begitu melihat Mahira duduk lemas di bawah guyuran air dingin.


Mahira tidak sakit. Dia hanya sedang menangis rupanya. Terlihat jelas saat Putra mematikan keran.


"Kamu kenapa?" bisik Putra. Mahira diam membisu. Hanya isakan tangisnya yang terdengar. Pilu.


Putra membuka seluruh pakaian Mahira yang sudah basah kuyup. Menyelimutinya dengan handuk lalu membopong tubuh istrinya keluar.


"Ra, kamu kenapa? ada apa?"


Mahira masih diam. Putra ikut berbaring di samping Mahira. Dia menatap wajah Mahira yang basah dengan air mata. Matanya merah dan bengkak.


Putra menopang kepalanya dengan tangan. Sementara tangan yang satunya mengusap air mata yang terus jatuh.


"Kalau tidak ingin bercerita, saya tidak akan memaksa."


"Saya menyesal kita menikah di sana."


"He-em. Kenapa memangnya?"


"Ibu saya meminta banyak uang sama emak. Saya malu. Bukan karena itu juga saya bersedih. Saya merasa benar-benar tidak diinginkan oleh kedua orang tua saya. Mereka tidak tulus mencintai saya. Sejak kecil saya selalu disakiti bapak, dan sekarang? saya menikah malah dijadikan ladang bisnis oleh ibu saya. Apakah saya begitu hina hingga tidak ada satupun yang tulus, Pak. Apakah saya anak yang tidak diinginkan sejak lahir?"


Tangisan Mahira semakin keras. Air matanya mengalir begitu deras.


"Ibu saya bilang, bersyukur saya menikah di rumahnya, jadi dia bisa mendapatkan uang banyak dari emak. Selama disana saya tidak pernah di sapa apa lagi di sayang. Saya menduga ibu saya akan merangkul saya karena lama tidak bertemu. Nyatanya? semua hanya angan-angan saya saja."

__ADS_1


"Ra ...."


"Apa saya benar-benar manusia yang seharusnya tidak ada di dunia ini?"


"Ssstt. Bukan begitu. Lihatlah hikmah dari semua yang terjadi. Kamu kini telah menjadi istri saya. Istri seorang pengusaha. Emak dan keluarga saya menyayangi kamu, Ra."


"Bapak sendiri?"


Pertanyaan itu membuat lidah Putra kelu. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Tidak perlu dijawab. Kita sama-sama tau bagaimana pernikahan ini terjadi bukan? pernikahan ini anggap saja kebetulan, Pak."


"Meski begitu, saya tetap akan bertanggung jawab seutuhnya atas dirimu dan hidupmu."


"Saya tau itu. Saya faham, Pak. Kita hanya akan menjalani hubungan berdasarkan hak dan kewajiban saja. Saya memberikan kewajiban saya dan juga mendapatkan hak saya, begitu juga sebaliknya. Akan saya ingat hal itu."


"Ra, emmm ... untuk masalah yang satu ini. Saya ...."


"Masalah nafkah batin?"


"Hmm. Saya tidak akan memaksa. Tapi saya akan memberikannya saat kamu sudah siap."


"Saya siap kapanpun Bapak minta. Saya menyerahkan seluruh jiwa raga saya seutuhnya untuk Bapak. Suka maupun duka, sakit ataupun sehat. Begitulah yang tadi kita baca dalam buku nikah."


"Baiklah. Say–."


"Apa Bapak akan mengambil hak Bapak malam ini?" Mahira memotong perkataan Putra.


Pertanyaan Mahira membuat Putra mematung. Dia hanya bisa menelan ludah karena kaku. Bagaimanapun juga, dia adalah pria normal. Melihat seluruh tubuh Mahira saat dia membuka bajunya tadi di kamar mandi, membuat aliran darah Putra mendidih.


Dia tidak bisa menahan hasrat apa lagi saat ini dia tau Mahira hanya mengenakan handuk. Wajah mereka pun berjarak sangat dekat.


Mahira menutup mata memberikan tanda bahwa dia sudah siap.


Kedua insan itu akhirnya menyatukan gejolak hasrat dalam lampu temaram. Putra memberikan nafkah batin yang sesungguhnya pada istrinya, Mahira.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2