Membeli Istri

Membeli Istri
part#36


__ADS_3

Apakah aku semenyedihkan itu? Mereka berlomba memberikan hartanya untuk menghidupiku. Ya, aku terlalu nyaman hidup berlimpah harta pemberian mantan suami. Demi Allah aku tidak pernah tahu kalau istrinya tidak ridho. Semua ini aku dapatkan sebelum dia menikahi wanita itu. Aku memang salah, karena pajak kendaraan dan semua yang bekerja di rumah masih di tanggung Pak Putra.


Sebaiknya, mulai saat ini aku jangan pernah menerima apapun juga darinya. Ini memang salah. Aku yang salah. Ya Allah. Ada apa dengan diri ini?


Aku terlalu larut menata perasaan sampai lupa pada kenyataan bahwa dia sudah menjadi suami orang lain. Tidak seharusnya aku masih menerima pemberian dari laki-laki itu. Astagfirullah ....


Berkali-kali aku beristighfar saat dalam perjalanan menuju rumah. Tak terasa air mata menetes sedari tadi. Sampai aku merasa malu saat supir taksi itu mengintip sesekali dari kaca spion.


Aku segera bebenah diri. Mengusap air mata dan memperbaiki posisi jilbab. Menarik nafas panjang dengan selalu menyebut nama-Nya. Alhamdulillah aku bisa merasa sedikit tenang.


Begitu aku turun dari taksi, bertepatan dengan itu, sebuah mobil hitam mewah berhentilah tepat di belakangnya. Aldo turun dari sana. Dia sedikit berlari saat menghampiriku.


"Ra ...."


"Ada apa? kenapa kamu mengejar Samoa ke sini?"


"Kamu sebaiknya segera keluar dari rumah ini. Itu akan lebih baik untuk dirimu sendiri."


"Ya, itu juga yang aku pikirkan dan akan aku lakukan."


"Lalu, ke mana kamu akan pergi."


"Apa harus aku memberitahu?"


"Aku hanya ingin memastikan kamu aman dan baik-baik saja. Hanya itu."


"Kenapa? apa karena kamu terlalu bingung harus membuang harta kamu kemana lagi? kenapa tidak kamu dirikan yayasan untuk membantu mereka yang membutuhkan ketimbang mengurus wanita hina seperti aku."


"Yayasan?"


"Ya. Yayasan yang bisa menampung mereka yang tidak diinginkan orang-orang."


"Kenapa baru kepikiran, ya."


Aku tersenyum sinis padanya. Laki-laki ini hanya tau bagaimana caranya bersenang-senang, membuang uangnya dengan percuma. Menyedihkan. Dia tidak tau bagai caranya menjadi manusia berguna.


"Kenapa kamu tidak tinggal saja di yayasan yang mami aku dirikan. Kamu bekerja saja di sana. Ada bangunan khusus, yaaa layaklah ya disebut rumah. Semua pekerja yayasan mami tinggal di sana. Gak semua sih, hanya kerja yang kebetulan tidak punya tempat tinggal."


Astagfirullah ... aku merasa malu telah berburuk sangka padanya.


"Al ...."


"Gimana? kamu mau? kalau kamu bersedia, aku akan telpon mami dan bilang sama dia."


"Aku mau." Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan. Tidak ada yang salah. Aku di sana tidak numpang hidup, aku bekerja dan itu hak aku sebagai pekerja bukan?


"Yes! kapan kamu berkemas?"


"Tidak ada yang bisa aku bawa dari rumah ini. Aku harus mengemas apa?"


"Baiklah. Aku tunggu. Kita ke Bogor sekarang."


"Tidak, Al. Jangan hari ini juga. Aku harus bicarakan semua ini dengan pekerja yang ada di rumah. Kalau aku pergi, mereka otomatis kehilanganmu pekerjaan juga. Akuโ€“"


"Kasih mereka pesangon yang besar untuk mereka bisa usaha di rumah."


"Ya ampun. Aku kasih mereka uang dari mana coba?"


"Aku."


"Jangan. Aku terlalu banyak merepotkan kamu. Ini terlalu berlebihan. Aku tidak akan bisa membalasnya, Al."


"Kalau kamu jadi istriku, tidak ada yang harus kamu bayar," ucapnya sambil nyengir kuda.


"Kumat!"


"Ha ha ha. Ya sudah, kamu bicarakan saja dulu. Kalau sudah siap, kabari aku segera. Masih simpan nomerku?"


Aku menggelengkan kepala. Entahlah, aku lupa. Pernahkah dia memberi nomor ponselnya atau tidak.


"Hupf! ternyata aku tidak seberharga itu." Dia menggaruk kepalanya yang mungkin saja tidak gatal. Tidak mungkin kepala dia ketombean apa lagi berkutu.


"Mana ponselmu?"


Aku merogoh ponsel dari dalam tas, lalu memberikannya. Dia memasukkan nomornya sendiri.


"Ini. Nanti aku telpon. Sekarang kamu masuk. Sebentar lagi buka puasa."


"Masih lama wey!"


"Ahhh! sayang sekali. Padahal perutku sudah berbunyi sedari tadi." Dia mengelus perutnya seperti orang yang hendak melahirkan. Ditambah raut wajahnya yang merengut, kisut seperti kertas yang diremas. Lucu.


"Nah, gitu dong. Kalau kamu senyum, aku makin tidak sabar membawa kamu ke hadapan mami."


"Ya Allah ...."


"Gak usah terharu gitu."

__ADS_1


"Astagfirullah, Aldo! Gemes banget, ih!" aku kesal.


"Tau, tau. Aku ini memang menggemaskan. Mirip bayi."


"Bayi Dugong!"


"Jangan gitu. Nyesel loh nantinya. Masa iya, suka sama bayi dugong."


Aku hanya menghela nafas dan mengelus dada menghadapi tingkah Aldo. Dia menyebalkan, sungguh. Hanya saja, sikapnya membuat aku sedikit terhibur.


"Udah, ah! aku masuk dulu ya ... sampai ketemu lagi nanti."


"Cieee ... masih kangen ya, sampai minta ketemu lagi."


"Aldooo!"


Dia ngacir saat aku berteriak kesal padanya. Masuk dan langsung menancapkan gas.


"Sampai nanti lagi calon istri." Dia berteriak sebelum berlalu. Aku memijit pangkal hidung karena terasa nyeri.


"Kenapa, Neng?"


"Eh, Pak Misran." Aku kaget saat laki-laki itu menyapaku yang sedang berjalan tertunduk.


"Kenapa, Pak? Saya gak kenapa-kenapa."


"Senyum-senyum sendiri gitu. Awas loh, tar di kira orang gila," candanya. Aku tertawa sambil memikirkan ucapannya. Benarkah aku tertawa sendiri?


"Pak, setelah makan. Kita ngobrol ya. Kita semua. Bapak kasih tau yang lain untuk berkumpul diruang keluarga." Aku berusaha mengalihkan.


"Ada apa, Neng? sepertinya serius."


Mata itu terlihat sedikit takut. Wajah yang terdapat keriput di beberapakali bagian wajahnya itu terlihat penasaran sekaligus cemas. Wajah teduh yang sudah ku anggap seperti Bapak sendiri. Ah! aku bahkan tidak kuasa nanti malam akan seperti apa saat dia tau kami akan berpisah.


"Nanti saja kita bahas." Aku berlalu. Tidak ingin menangis dihadapannya saat ini.


Hari ini sungguh aneh. Kenapa azan magrib tiba begitu cepat. Kami berbuka puasa bersama. Selalu diiringi canda tawa. Celotehan tidak berfaedah yang menghadirkan kegembiraan bagiku dan bagi mereka semua. Kali ini, aku diam. Tidak ikut gembira bersama mereka. Bagaimana aku bisa bahagia? bahkan, untuk meneguk air saja rasanya sangat sulit. Entah apa yang ada di tenggorokan ini.


Mereka tidak bertanya kenapa, padaku. Yang mereka tahu hanya satu. Saat aku diam seperti ini, itu karena aku sedang merindukan Pak Putra. Mereka tidak tahu bahwa ... Ya Allah. Sakit.


Kami sudah berkumpul bersama. Mereka masih tidak tahu apa yang akan aku bicarakan, itulah kenapa mereka masih sempat becanda dan saling mengejek seperti biasanya.


Tawa mereka hilang saat aku benar-benar tidak bisa menahan tangis. Aku menangis sesenggukan layaknya anak kecil yang akan ditinggal pergi orang tuanya.


"Neng, ada apa? kenapa nangis begini." Bi Darina menghampiri. Dia mengusap kepalanya dan punggungku. Saat aku menatap wajahnya yang terlihat cemas, aku semakin tidak bisa menahan air mata. Aku memeluknya erat tanpa berbicara sepatah katapun.


Mereka semua pasti heran dan juga khawatir melihatku seperti ini. Meski aku sering murung dan sedih, tapi tidak sampai histeris seperti sekarang.


"Bapak," pekik Bi Tuti.


Aku membulatkan mata saat melihat Pak Putra. Kenapa dia bisa sampai di sini? Sebuah keresek cukup besar ada di tangannya. Keresek sebuah toko buku.


Ah, itu toko buku yang tadi siang aku kunjungi.


"Silahkan duduk, Pak."


Pak Putra duduk tepat di hadapanku. Dia merasa heran melihat keadaanku saat ini. Mungkin dia juga bertanya kenapa kami semua berkumpul.


Tidak lama kemudian, suara mobil kembali datang.


"Siapa lagi itu?" tanya Bi Inah.


Ada rasa takut dalam hatiku mendengar suara mobil yang kedua. Aku takut itu adalah istri Pak Putra.


"Mikuuum."


Aldo? Ada apa dia datang ke sini?


Langkahnya saat masuk terlihat ceria. Namun, mimik wajahnya seketika berubah begitu melihat Pak Putra ada di sini.


"Duduk, Den."


Aldo duduk di samping Pak Misran. Di sbelah kiriku.


"Ada apa ini? Alhamdulillah, kita bisa berkumpul bersama." Pak Misran membuka pembicaraan.


"Iya, kita kumpul semua tapi Neng Mahira nya kenapa? ada apa sebenarnya. Kok saya jadi takut."


"Tenang, Bi Tuti. Tidak ada apa-apa, Kok," ucap Aldo.


"Saya ke sini hanya ingin mengantar ini." Pak Putra memberikan kantong yang tadi dia bawa. Bi Tuti mengambilnya.


"Buku? banyak banget, Pak."


"Iya, itu buku yang hendak Mahira beli, tapiโ€“"


"Mahira pergi karena ucapan Mba Ririn," sela Aldo. "Aku ke sini sengaja, karena aku yakin Mahira tidak akan bisa mengatakan apapun. Terbukti, dia hanya bisa menangis."

__ADS_1


"Al ...."


"Tidak apa. Aku akan memberitahu mereka semua, Ra. Jadi, intinya adalah, Mahira akan keluar dari rumah ini. Dia akan bekerja di yayasan orang tua saya. Mahira mengumpulkan kalian di sini karena kalian harus berpisah. Kalian boleh pulang kampung dan tidak bisa kembali ke sini lagi."


Pak Misran membuang nafas berat. Sementara para Bibi langsung menangis. Pun denganku. Bi Inah semakin kuat memeluk tubuhku.


"Mahira minta maaf, Bi, Pak. Kita harus berpisah. Rumah ini akan Mahira kembalikan pada pemiliknya," ucapku dengan terbata.


"Yang memberi kalian gaji selama ini adalah Pak Putra, dan istrinya tidak suka. Mba Ririn tidak ingin suaminya menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan Mahira."


"Cukup, Do! hentikan. Saya ke sini bukan hanya mengantarkan buku saja. Saya ingin meminta maaf pada Mahira atas ucapan Ririn. Sekaligus ingin mengklarifikasi semuanya." Pak Putra tampak kesal.


"Semuanya sudah jelas, Mas."


"Jangan ikut campur dulu dalam masalah ini. Ini masalah aku dan Mahira. Tolong."


"Baiklah. Silahkan bicara."


Pak Putra mengatur nafasnya yang memburu, mungkin dia marah pada Aldo, atau padaku, atau juga pada istrinya.


"Saya minta maaf jika Ririn menyakiti hati kamu, Ra. Semua sudah kami bicarakan. Keputusannya tetap seperti awal. Apa yang sudah saya berikan, tidak akan saya ambil dan jangan kamu kembalikan. Itu saya berikan sebelum saya menikah dengannya. Bahkan, saya melimpahkan semuanya saat status kita masih sebagai suami istri."


"Tapi saya tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran kalian, Pak."


"Bukan rumah dan semua barang yang ada di sini penyebabnya. Saya ...."


Kami semua diam. Menunggu apa yang akan Pak Putra ucapkan.


Apakah dia akan mengatakan bahwa dia masih memikirkanku? astagfirullah! kenapa aku ini? istighfar Mahira!


"Kamu masih menyimpan buku tabungan yang saya berikan?"


"Ya, kenapa?"


"Selama ini, diam-diam saya masih mentransfer sejumlah uang. Jumlah yang sama seperti yang saya berikan saat kamu masih istri saya."


"Apa?" Aku sangat terkejut. Uang jajan yang dulu dia berikan tidak sedikit. Pantas saja istrinya marah. Itulah sebabnya dia mengatakan bahwa suaminya masih menanggung biaya hidupku.


"Kamu tidak pernah cek? atau memang tidak mendapatkan pemberitahuan dari SMS atauโ€“"


"Tabungan itu tidak saya daftarkan sebagai SMS bang-king dan semacamnya. Tidak pula memiliki kartu ATM." Pak Putra menjelaskan.


"Saat kami bercerai, ada dua buku tabungan yang saya terima. Satu buku tabungan memang milikku, ada kartu ATM nya juga. Dari sanalah biaya saya menjalani hidup. Saya pikir tabungan yang satunya memang hanya segitu-gitunya, tidak bertambah. Ternyata ... pantas saja istri Bapak marah."


"Saya minta maaf. Saat itu saya benar-benar takut kamu hidup sendiri di luar tanpa bekal apa-apa. Rekening itu sebagai cadangan saat kamu dalam keadaan darurat."


"Pak ... rekening aktif yang saya pakai saat ini, sudah sangat lebih dari cukup untuk saya. Tidak harus Bapak tambah lagi dengan sejumlah uang setiap bulannya. Kalau saya tahu dari awal, saya akan menolak. Malam ini, akan saya kembalikan semuanya."


"Jangan! itu tidak perlu. Yang sudah masuk, jangan kamu kembalikan. Untuk ke depannya, saya tidak akan mengirimkan kamu uang lagi. Jadi, yang sudah biarkan saja."


"Tidak bisa. Saya tidak akan mengambil apa yang bukan hak saya. Rumah, mobil dan tabungan itu akan saya kembalikan."


"Mahira ...."


"Tolong, jangan buat saya merasa hina dengan semua ini."


Pak Putra terdiam. Kami semua diam. Hanya suara lantunan ayat suci Al-Quran dari mesjid terdekat yang kami dengar.


Aku naik ke kamar. Membuka brangkas lalu mengambil seluruh surat-surat yang dulu dia berikan.


"Ini. Ambilah kembali. Itu hak istri dan calon anak Bapak. Bukan saya."


"Mahira, saya mohon."


"Kali ini saja, Pak. Saya mohon dengan sangat. Jangan biarkan saya merasa hina."


Pak Putra terlihat sedih. Dia berdiri lalu meraih paper bag yang dulu dia berikan padaku.


"Pak ...."


Suaraku menghentikan langkahnya yang sudah di ambang pintu. Dia menoleh.


"Terima kasih. Saya terima niat baik dan ketik Bapak. Terima kasih untuk segalanya."


Dia mengangguk. Bibirnya tersenyum dan bergetar.


Aku tahu perasaanmu, Pak. Meski kamu tidak pernah mencintaiku, tapi aku merasakan kasih sayangmu padaku tulus sejak dulu. Terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah memberikan kebahagian untukmu. Kekasih hatiku yang telah usai.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Hai hai ....


Kembali lagi dengan author koin kerokan ini yaaa readers. Terima kasih telah mengikuti kisahnya sampai saat ini.


Untuk kalian yang setia. Malam ini aku kasih bonus. Partnya lebih panjang bukaaan ... asiikk!


Semoga kalian suka yaaaa. Oya, siapkan tisu yang banyak. Part berikutnya kita akan menangis berjamaah. Hehe ...

__ADS_1


Terus dukung aku dengan like, vote dan komen kalian yaaa kesayangan. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Masih mau lanjut? komen sebanyak-banyaknya yaaaaa. love yuu.


__ADS_2