
Sebentar lagi puasa usai. Lebaran idul Fitri akan segera tiba. Aku bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akan menyambangi hati kemenangan dan sedih karena tau akan menjalani itu sendirian. Tanpa sanak saudara apa lagi Ibu Bapak. Ah! lagi pula, sejak kecil aku selalu melewatkan semua ini sendiri.
Mengingat semua itu, membuat aku meneteskan air mata tanpa disadari. Untung ini sudah lewat tarawih.
"Mba Mahira. Lagi apa sendirian di sini?" tanya Mba Kaysha. Aku segera menghapus air mata yang sudah terlanjur terlihat olehnya.
"Gak usah malu. Nangis aja gak apa-apa kok. Kalau mau cerita, saya siap mendengarkan."
"Sebentar lagi lebaran. Mba Kay pulang kampung?"
"Iya, saya pulang besok. Biasanya kita di sini itu gantian. Lima hari waktu liburnya. Mba Mahira pulang juga?"
Sesak rasanya mendengar pertanyaan itu. Aku? pulang ke mana? tidak ada rumah untukku pulang. Siapa juga yang menginginkan aku pulang? tidak ada.
"Tidak ada rumah untuk saya pulang, Mba."
Mba Kaysha tampak tidak terkejut. Mungkin karena dia sudah banyak melihat orang-orang yang tidak memiliki siapa-siapa di dunia. Seperti mereka penghuni yayasan ini. Anak-anak yang tidak tau orang tuanya, dan para jompo yang dibuang anak-anaknya. Dan aku?
"Saya punya orang tua, tapi mereka tidak peduli bahkan jika saya mati sekalipun. Keberadaan saya seperti parasit untuk mereka.
Setiap lebaran tiba, saya ikut salat di mesjid dan duduk di bagian paling belakang. Takut mukenah lusuh saya membuat yang lainnya jijik dan tidak nyaman.
Ada beberapa tetangga yang baik, memberi saya sedikit kue, ketupat dan opor ayam. Itupun selalu bagian kepala dan cekernya saja. Aya bahagia. Saya selalu makan dengan lahap meski saat perut saya belum kenyang, Bapak selalu datang dengan mulut bau alkohol dan mengambil makanan yang sedang saya makan."
Mba Kaysha merengkuh pundakku. Dan aku semakin terisak.
"Lebaran kali ini berbeda, setidaknya saya bersama orang-orang yang bernasib sama. Jadi saya tidak sedih sendirian."
"Mba, Mahira. Mau ikut pulang kampung bersama saya? kebetulan di rumah juga hanya ada saya dan adik saya, orang tua saya pasti senang karena rumah akan ramai. Gimana?" tanyanya sambil masih merengkuh kedua pundakku.
"Say–"
"Jangan. Dia akan berlebaran di rumahku," sela Aldo yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Kami menoleh secara bersamaan.
"Dia akan menghabiskan malam idul Fitri di rumahku. Bersama orang tua, kakak, dan juga adikku. Terima kasih tawarannya, Kay. Kamu memang sangat baik."
"Oh, sukurlah. Saya jadi tenang. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
Mba Kaysha pergi. Tinggal aku dan Aldo berdua di taman. Aku dan dia duduk di bangku sambil melihat anak-anak bermain. Saat itu cuaca cerah, jadi mereka bebas bermain tanpa takut akan turun hujan.
Kami dalam kondisi hening beberapa saat.
"Mau, ya?"
Aku masih diam.
"Aku sudah minta izin sama orang tuaku. Mereka setuju. Kita lebaran di rumahku. Kamu bisa membantu mami, adikku dan kakak ipar ku memasak. Gimana?"
"Aku tidak layak sepertinya. Bukan ranahku ada di sana." tiba-tiba aku merasa minder. Ya, Pak Putra dan Aldo memang sama-sama orang kaya, tapi keluarga mereka jauh berbeda.
"Kenapa? apa yang salah? mami udah tau siapa kamu, kok. Status kamu pun mami tahu dan dia menerima itu semua."
"Akunya yang belum siap, Al. Aku terlalu minder untuk masuk ke keluarga kamu. Mereka orang-orang berpendidikan, sementara aku?"
"Apa itu alasan selama ini kamu tidak juga menerima perasaanku? Mahira, aku jelas tidak suka cara kamu memandang keluargaku."
"Maaf, Aldo. Aku tidak bisa. Aku ini seorang janda sementara kamu? aku juga orang miskin yang tidak memiliki siapa-siapa. Kita itu ibarat bumi dan langit ke tujuh."
"Kamu langitnya!"
__ADS_1
"Aldo ...."
"Apa perlu, aku membawa seluruh keluargaku untuk membuktikan padamu kalau mereka menerima dirimu apa adanya?"
"Apa mereka juga tau siapa mantan suamiku?"
Aldo tergagap. Aku yakin dia tidak memberitahu siapa mantan suamiku.
"Aldo, sudahlah. Menyerah saja pada perasaanmu. Jangan menyakiti hatimu terlalu dalam."
"Kalau Allah sudah berkehendak, siapa yang bisa menentang?" dia terlihat begitu marah lalu pergi begitu saja.
"Aku hanya takut tersakiti untuk yang kedua kalinya, Al. Maaf." Lirihku.
Aku hanya takut, apa yang dikatakan teman Aldo saat di UGD waktu itu jadi kenyataan.
"Saya hanya takut, mami dan papi Aldo tidak menyetujui kalian. Apa lagi Bu Mahira ini mantan istrinya Pak Putra. Yaaa ... Ibu bayangkan saja, Pak Putra itu udah seperti kakak untuk Aldo, dan anak untuk mami Aldo. Apa ibu yakin, mereka akan menyetujui kalian setelah tahu kalau Ibu mantan istri dari anaknya yang lain?"
Aku cukup tau diri untuk menerima kenyataan bahwa bersama dengan Aldo adalah sesuatu kemustahilan.
*****
"Mba, Mahira. Ada tamu menunggu di ruang Bu Ranti."
"Siapa, Pak?"
"Kurang tau. Coba saja ke sana."
Aku yang sedang menyuapi Nek Iyam segera pergi. Aku takut itu tamunya Bu Ranti yang juga ingin bertemu denganku. Jika mereka tidak saling kenal, tidak mungkin ke ruangan Bu Ranti. Tamu yang ingin berkunjung, biasanya langsung masuk.
Ada perasaan was-was saat pintu ruangan Bu Ranti sudah ada di depan muka. Ragu untuk membuka pintu itu.
"Aldo?" aku terkejut saat Aldo sudah ada di samping. "Buat apa dia kemari? aku kan sudah mengembalikan semua yang Pak Putra berikan padaku, Al," bisikku.
"Entahlah. Sebaiknya kita masuk dan dengarkan apa yang akan dia katakan. Aku akan menemani kamu. Jaga-jaga aja."
"Ish, memangnya dia penjahat."
"Al, Mahira. Masuk! jangan bisik-bisik di depan pintu."
Aku dan Aldo saling menatap sama-sama kaget saat Bu Ranti berteriak dari dalam sana. Aldo membuka pintu dan kami masuk ke dalam.
Tampak Bu Ranti dan Ririn sedang ngobrol. Aku menatap lekat Ririn yang ... dia begitu berbeda. Entahlah.
"Duduklah, Ra. Dan kamu Al, sebaiknya kamu keluar saja. Ini urusan wanita."
"Jangan, Bu. Saya yang meminta Aldo menemani saya. Boleh kan?" tanyaku ragu. Bu Ranti hanya menghela nafas dan menaikan kedua alisnya. Dia tampak pasrah. Entah karena apa.
"Ya. Baiklah. Kalian bisa duduk."
Aku dan Aldo duduk berdampingan. Kebetulan hanya itu kursi yang kosong.
"Ra, apa saya mengganggu?" tanya Ririn. Aku menggeleng pelan. Dia terlihat lega.
"Ada apa lagi? saya tidak menerima tawaran yang kemarin. Saya menolak meski Mba Ririn belum menjelaskan semuanya. Say–"
"Saya tidak bisa hidup lebih lama lagi."
"Apa?" aku dan kado berseru kompak.
__ADS_1
"Saya menderita kanker. Dokter bilang, kemungkinan saya untuk sembuh itu kecil. Rambut saya sudah tidak ada karena efek samping kemoterapi. Kamu mungkin bisa melihat perubahan tubuh saya bukan?"
Ya. Dari pertama, kemarin di hotel dan sekarang. Tubuhnya sangat berbeda. Dia terlalu kurus. Entahlah penyakit apa yang dia jelaskan aku tidak mengerti.
"Saya ingin melamar kamu untuk suami saya, karena saya tau kamu begitu mencintai Putra. Asal kamu tau, Putra sendiri bahkan masih mengingat dirimu. Dia bahkan sering dengan tidak sengaja menceritakan bagaimana dirinya saat bersamanya."
Jantungku berdetak sangat lambat. Rasa yang sudah memudar, kini kembali seperti bewarna meski tidak seindah dulu. Aku merasa lega, ada sedikit kebahagiaan dalam hatiku mendengar kenyataan bahwa Pak Putra tidak melupakanku.
"Mahira, kembalilah menjadi istri Putra. Jika aku mati, aku tidak akan tenang jika dia menikah dengan wanita lain. Aku mohon. Kamu mau kembali bersamanya."
"Konyol!" Aldo mendengkus. Aku meliriknya. Terlihat kemarahan dan ketakutan di wajahnya. Dia bahkan seperti kesulitan mengatur nafasnya sendiri.
"Mahira. Aku yakin, sampai detik ini kamu masih mencintai dia bukan?"
Tidak ada jawaban untuk itu. Bukan, ada tapi aku tidak bisa mengatakan semua ini sekarang. Aku tidak bisa mempercayai ucapan Ririn. Toh, pesan yang Pak Putra kirim waktu itu malah seperti bertolak belakang. Tidak. Aku tidak akan mengatakan apa-apa kecuali jika Pak Putra yang datang sendiri dan melamarku.
"Maaf. Tapi saya tidak bisa menerimanya."
"Kenapa? apa kamu sudah benar-benar melupakan dia?"
"Kecuali Pak Putra sendiri yang datang untuk melamar saya. Akan saya berikan jawaban padanya."
"Apa-apaan!" Aldo menendang meja lalu keluar dengan membanting pintu. Aku tau dia sakit hati. Kualihkan pandangan pada Bu Ranti. Dia terlihat khawatir melihat anaknya pergi. Bagaimana pun juga, Aldo anak kesayangannya.
"Permisi." Aku segera berlari keluar untuk mengejar Aldo. Tidak perduli Ririn memanggil. Aku hanya takut Aldo pergi mengendarai mobilnya. Itu sangat bahaya. Bagaimana malam itu dia berhasil mengerjaiku, aku tidak ingin itu menjadi kenyataan.
"Al. Aldo!" Aku berlari mengejarnya. Dia tidak perduli. Langkahku semakin cepat saat dia berjalan menuju mobilnya.
"Al, Al, tunggu dulu." Aku menarik lengannya saat kami sudah dekat. Dia menepis. Aku berjalan semakin cepat dan berbalik saat sudah ada di depannya. "Tunggu, Al. Jangan begini." Aku menahan dadanya agar tidak lebih maju lagi. Dia masih tetap berjalan mendorong langkahku ke belakang hingga mentok sampai mobilnya.
Aku menggelengkan kepala dan menghadang pintu mobilnya. "Jangan pergi. Aku mohon."
"Minggir!"
"Tidak! aku tidak akan membiarkan kamu menyetir dalam keadaan marah."
"Apa urusannya sama kamu? udahlah! gak usah sok perhatian. Urus saja pernikahan kamu sama mantan suami kamu itu!"
"Aldo ...."
"Ra! tolong minggir!"
"Enggak ... aku gak mau."
Aldo menyingkirkan tubuhku. Dan aku tidak mau kalah. Aku kembali menghalangi tubuhnya.
"Minggir! atau kamu mau aku semakin maju?"
Ya, kalau dia semakin maju melangkah, maka tubuh kami akan saling bersentuhan. Tidak! itu tidak akan mungkin terjadi. Aku percaya padanya.
Dia menatap tajam dengan mata merah berkaca-kaca. Langkahnya perlahan maju.
"Majulah jika kamu berani melakukannya."
Sebenarnya jantungku begitu cepat saat langkahnya semakin mendekat. Aku takut dia khilaf saat sedang emosi. Jangnkan Aldo, semua orang akan lupa diri jika sedang marah. Termasuk aku.
Tubuhku dan dia semakin dekat. Bahkan kerudungku mengenai wajahnya saat tertiup angin. Ya Allah. Aldo, jangan begini. Aku mohon.
Aku menatap tanpa jeda. Menantang dirinya. Dan ... Astagfirullah. Aldo ....
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺