Membeli Istri

Membeli Istri
part#52


__ADS_3

"Jangan sentuh!" teriak Aldo saat semua orang menghampiri karena luka goresan ditangan Aldo meneteskan darah yang cukup banyak. Vera dan Bu Ranti gemetar, mereka ingin melihat sekaligus mengobati luka Aldo, tapi takut karena Aldo begitu marah. Matanya merah berair.


"Jangan mendekat!"


"Aldo, tangan kamu berdarah, Nak. Sini, Mami obati." Mulut Bu Ranti bergetar.


"Keluarga pak Broto akan ke sini pekan depan." Dengan santainya Papi Aldo berkata tanpa menghiraukan perasaan dan luka anaknya.


"Jika mereka ke sini, siap-siap aja bendera kuning berkibar di depan."


"Nak, Aldo ...." Bu Ranti semakin ketakutan. Dia menutup mulutnya yang menganga. Menangis tiada henti. Pun Vera.


"Vera tidak mau jadi anak Papi lagi kalau Kak Aldo sampai kenapa-kenapa." Vera ikut mengancam. Dia mendekati kakaknya, namun, lagi-lagi di tepis Aldo. Darah semakin banyak menetes di lantai. Aku yang berusaha untuk tidak perduli, akhirnya luluh juga.


"Sini, aku bersihkan dulu lukanya."


Aldo diam tanpa perlawanan. Dia mengikuti langkahku ke ruangan lain.


"Ver, bawakan obatnya."


"Iya." Gadis itu segera berlari mengambil kotak obat menuruti perintahku.


Aku menatap Aldo yang terlihat masih sangat marah. Mataku menatap tanpa jeda. Sementara tanganku menekan luka Aldo dengan ujung kerudung, agar daerahnya tidak semakin keluar banyak.


"Ini, Kak." Vera datang menyerahkan kotak obatnya.


Dengan air hangat, aku membersihkan luka Aldo, ada sedikit serpihan kecil di antara lukanya. Dengan hati-hati kuambil. Dirasa cukup bersih, aku memberinya betadin lalu menutupnya dengan kain kasa.


"Jangan kaya anak kecil, marah-marah ngerusak barang. Aku gak suka."


"Maaf."


"Jadilah laki-laki kuat yang menyelesaikan masalah secara jantan. Tanpa emosi dan tanpa air mata. Sesedih apapun kamu, akulah yang paling tersakiti. Hinaan, cacian, dan juga tudingan, semua mengarah padaku. Dan kembali aku harus merelakan hatiku."


"Aku tidak akan membiarkan hatimu pergi. Tapi ...."


Aku mendongakkan kepala saat dia tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu mencintaiku, Mahira? aku belum mendengarkan isi hatimu padaku."


Aku tersenyum, " Aku tidak akan ada di sini jika hatiku masih ada di tempat lain."


Aldo tersenyum lega. Wajahnya yang muram, kini terlihat ada rona bahagia. "Itu cukup untukku."


"Aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik. Dan jangan seperti tadi lagi, ya?"


"Aku antar. Dan jangan menolak. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu."


"Tapi ...."


"Jangan hiraukan papi. Kita pergi sekarang, lagian ini sudah malam."


"Pamit dulu sama mami, ya."


"Hmm."


"Kak, Mahira. Maaf, ya. Tolong jaga Kak Aldo."


"Iya, Vera. Terima kasih karena baik padaku."


Gadis cantik itu tersenyum sebelum dia pergi. Tidak lama kemudian Bu Ranti datang. Matanya masih meneteskan air mata.


"Bu, saya pamit. Maaf atas kejadian malam ini, semua karena saya."


"Tidak apa-apa. Mahira, saya minta maaf. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk menentang suami."


"Iya, Bu. Saya mengerti. Kewajiban istri memang tunduk pada perintah suami selama tidak melanggar aturan agama."


"Aldo, antarkan Mahira pulang. Kamu juga pulang ke rumah ya."


"Liat nanti saja." dia masih datar bersikap pada maminya. "Ayo, sayang. Kita segera pergi dari sini." Aldo menarik lenganku. Aku menengok kebelakang, menundukkan kepala sebagai tanda pamitku pada Bu Ranti.


Dalam perjalanan, aku dan Aldo tidak banyak bicara, kami hanya diam dalam kseunyian dan kesedihan.


Hingga akhirnya kami sampai. Aku dan Aldo segera turun dan berjalan menuju rumah.


"Neng!" pekik ... Bi Tuti? iya, tidak salah lagi. Itu Bi Tuti. Kenapa dia ada di sini? Bi Tuti? aku melirik Aldo yang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Bibi ...." Bisikku tertahan rasa sedih. Ingin berlari tapi rasanya kaki ini lemas tak bertenaga.


"Neng." Kami berpelukan.


Aku menumpahkan semua air mata dalam pelukan wanita gemuk itu. Nyaman.


Dia yang sudah seperti ibu bagiku, datang pada saat yang tepat. Setelah luka besar yang diberikan keluarga Aldo, aku seperti mendapat tangga untuk naik dari lubang penderitaan.


Aku menangis sejadinya. Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini tumpah ruah dalam pelukan BI Tuti.


Lama aku menangis hingga tidak sadar seseorang telah berdiri di belakang Bi Tuti.


"Bapak ..."


Laki-laki yang kini sudah terlihat kerutan yang lebih banyak dari sebelumnya, tersenyum. Pak Misran. Dia pun ada di sini. Sungguh, aku sangat lega dan juga bahagia.


Untuk sesaat, kami larut dalam haru biru suasana melepas rindu.


*****


"Apa ini yang ingin kamu berikan untukku?" tanyaku keesokan harinya. Aldo hanya tersenyum sambil mengunyah sandwich yang aku buat.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Tapi, Al. Kenapa Bu Ranti seperti begitu merindukan kamu? bukankah kalian tinggal serumah? kamu hanya akan datang ke sini saat pagi hari untuk sarapan, pergi berkerja lalu kembali sore hari. Malam kamu tidur di mana?"


"Ada."


"Di mana? jangan gitu, ah! aku gak suka. Pulang, ya."


"Ke sini?"


"Bukanlah! ke rumah Bu Ranti, Aldo."


"Maunya ke sini."


"Gak boleh! kita belum boleh satu rumah bersama."


"Kalau begitu kita buat bisa."


"Pernikahan hanya butuh sepasang pengantin, wali dan mahar, serta saksi dan penghulu. Tidak ada bapak dari mempelai pria pun jadi."


"Tanpa restu orang tua, kita gak akan bahagia."


"Gimana kalau restu itu kita dapatkan setelah semuanya sudah terlanjur."


"Maksudnya?"


"Kita menikah sirih. Kita jemput bapak kamu untuk jadi wali. Siapa tau jika kita memilih anak, papi akan luluh."


"Tidak, tidak, ini konyol. Aku tidak mau, Al."


"Kita usaha dulu, Ra. Bukan dosa juga. Bukan aib juga karena kamu gak hamil diluar, dan aku bukan suami orang."


"Aku ingin menikah dengan restu orang tua, Al."


"Mahira, aku mohon. Kita sama-sama berjuang. Kalau hanya aku yang berjuang tanpa dukungan dari kamu, rasanya terlalu berat. Ingat, pekan depan aku akan dijodohkan."


Takut. Itu yang pertama aku rasakan saat mendengar perjodohannya. Aku yang mulai ingin kembali percaya sepenuhnya, aku yang benar-benar ingin mencintainya, aku yang ingin menerima masa lalunya, harus rela menahan semua itu saat halangan terbesar dalam suatu hubungan kini menerpaku.


Bingung? sudah pasti. Antara takut kehilangan dia, dan juga takut kalau harus menikah tanpa restu orang tua. Aku harus bagaimana?


"Neng, ini air jahenya udah siap."


"Makasih, Bi. Bibi sudah sarapan? Pak Misran mana? sudah sarapan juga?"


"Udah, Neng. Itu di belakang lagi minum kopi."


"Ya sudah kalau udah pada sarapan. Bi, tolong bilang ke Pak Misran, nanti jam sebelas anter saya keluar."


"Iya, Neng. Saya kembali ke belakang."


"Iya."


"Mau kemana? aku aja yang anter."

__ADS_1


"Jangan, kamu harus kerja bukan? jadi, selama ini kamu tinggal di mana, Al?"


"Di apartemen Vera."


"Oh, sukur kalau begitu. Aku pikir kamu tinggal di mana."


Kami kemudian kembali larut dalam diam. Aku menatap Aldo yang sedang menghabiskan sandwich nya.


Dada ini kembali berdegup. Lebih kencang dari saat bersama Pak Putra. Dorongan kuat untuk mengatakan iya pada ajakannya menikah sirih semakin kuat.


"Aldo, sepertinya aku–"


"Tunggu sebentar." Aldo mengangkat telepon yang dia simpan di samping piring. Pergi menjauh dariku. Mungkin itu dari kolega bisnisnya.


"Menyebalkan!" tiba-tiba dia kembali dengan wajah kesal.


"Kenapa?"


"Mas Putra ada di depan. Dari mana dia tau rumah ini?"


"Suruh dia masuk aja. Kita jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Aldo menatapku.


"Baiklah. Ayo kita ke sana."


Aku bangkit dari kursi. Mengikuti langkah Aldo dari belakang. Aku masih sedikit takut dan memilih bersembunyi di belakang punggungnya.


Dari balik bahu Aldo, aku melihat Pak Putra berdiri di pintu mobilnya. Dengan wajah seperti biasanya jika kami bertemu, marah.


"Ada apa, Mas?"


"Saya ingin menjemput Mahira."


"Punya hak apa? Mas bapaknya? lagian nih, Mas, kami sudah tau siapa yang menaruh obat tidur di minuman Mahira."


"Aku tahu sejak lama."


Aku terkejut. Dan Aldo pun pasti sama denganku. Aku melihat Aldo mengepalkan tangan. Aku meraihnya. Tidak ingin dia kembali terbawa emosi seperti tadi malam.


"Bukan obat tidur itu yang aku permasalahkan. Aku cuma tidak ingin Mahira tersakiti lebih dalam oleh ketidaksukaan Papi."


"Aku akan berusaha berjuang untuk mendapatkan restu darinya."


"Mustahil! jika kamu keras kepala, maka papi lebih dari itu. Aldo ... ayolah! jika kamu benar-benar menyayangi Mahira, lepaskan dia dari pada papi melakukan hal-hal yang akan menyakiti dia. Kita tau gimana papi bukan?"


Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku ke lengan Aldo. Dia melirik.


"Tidak! aku tidak akan menyerah. Kita lihat saja, siapa yang akan menyerah di tengah jalan."


"Mahira, jangan sampai Aldo dan orang tuanya bertengkar. Ini akan merugikan semuanya. Dan yang pasti, akan sangat menyakitimu. Ayo, kita pulang."


"Saya lebih memilih tersakiti dalam berjuang, Pak. Setidaknya saya tahu, yang saya perjuangkan itu memiliki rasa yang dalam untuk saya."


"Mahira ... tolong, kamu tidak akan paham sedang berurusan dengan siapa."


"Siapapun mereka, tetap hanyalah manusia. Bukan Allah."


Pak Putra terlihat sangat frustasi. Aku tau maksudnya baik. Hanya saja, aku ingin menemani Aldo berjalan menghadapi rintangan ini. Baik buruknya biar Allah yang menentukan. Kami hanya sedang berusaha.


"Al, ayo kita temui orang tuaku. Aku mau menerima lamaran kamu untuk menikah di bawah tangan."


Aldo dan Putra sama-sama terkejut. Perbedaannya hanyalah raut wajah. Pak Putra terkejut dengan penuh ketakutan, sementara Aldo begitu bahagia.


🌺🌺🌺🌺🌺


Putra



Ririn



Aldo


__ADS_1


Mahira



__ADS_2