
Keesokan harinya. Dua bis yang membawa keluarga Putra sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan ibu kota. Hanya tinggal dua mobil mewah yang akan di naiki adik Putra dan emak. Juga Mahira.
"Kami pulang dulu ya, Aa. Jaga diri baik-baik. Jangan telat makan."
"Telpon Bi Mirah, suruh cepat kesini." Abel menambahkan ucapan Riska.
"Iya, kalian hati-hati di jalan. Mana ponakanku? aku belum melihat mereka."
"Udah duluan masuk mobil."
"Oh, padahal aku ingin membuat mereka menangis."
"Makanya mereka duluan ke mobil," tandas Riska.
Putra memeluk kedua adiknya silih berganti.
"Emak pulang dulu. Kamu hati-hati di sini. Seminggu sebelum acara pernikahan, kamu pulang. Kita adakan acara pernikahan di kampung saja. Resepsi pernikahannya terserah kamu mau dimana."
"Iya, Mak. Hati-hati di jalan. Jaga kesehatan emak, jangan terlalu cape. Biarkan WO yang mengurus semuanya."
"Iya, Mak tau. Emak pamit pulang ya."
"Mak, bukannya Mahira ikut pulang? kok dia gak keliatan."
"Dia masih di kamar, tadi emak samperin dia sakit perut katanya. Coba kamu susul dia. Emak tunggu di mobil."
"Iya, Mak. Putra cari dia dulu."
Putra mengantar Emak masuk dan duduk di mobil dengan nyaman. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah untuk menyusul Mahira.
"Ra, Mahira. Boleh saya masuk?"
"Ya." Putra mengernyitkan dahi. Baru kali ini dia mendengar ucapan gadis itu begitu sedikit.
"Sedang apa? emak dan yang lainnya menunggu di mobil." Tanya Putra. Mata Putra melihat sekeliling. Tak ada tas yang seharusnya dia bawa untuk pulang.
"Belum siap-siap?"
Mahira menggeleng. Wajahnya tertunduk mendekap bantal.
"Kenapa?"
"Pak, kita batalkan saja pernikahan ini. Sebaiknya kita tidak menikah saja."
Putra terhenyak.
"Saya takut tidak bisa hidup lebih lama kalau tinggal bersama Bapak. Setiap kali saya dekat sama Bapak, jantung saya seperti mau copot. Dada saya sesak. Saya seperti tidak bisa bernafas. Saya takut kalau saya mengidap penyakit jantung dan itu akan membuat Bapak repot mengurus saya nantinya. Bagaimana saya bisa menjaga Bapak kalau saya jantungan."
Putra masih terdiam.
"Pak, nanti kalau saya benar-benar punya penyakit jantung dan saya meninggal, apa Bapak akan sedih? Bapak akan menikah lagi? dengan siapa? pilihan emak lagi? apa dia wanita baik dan benar-benar tulus ingin menjaga Bapak seperti saya? saya merasa emak itu malaikat penyelamat saya, makanya saya akan melakukan apapun keinginan dia, salah sagunya mengurus Bapak. Aduh, Pak. Bagaimana ya? Bapak cari saja wanita lain yang lebih sehat atauโ" Mahira terdiam saat tangan Putra membekap mulutnya.
"Pelan-pelan saja bicaranya."
__ADS_1
Setelah Mahira terlihat tenang. Putra menurunkan tangannya.
"Dengar, pernikahan ini akan tetap berjalan. Kamu sehat."
"Kenapa jantung saya selalu seperti ingin loncat keluar?"
"Saat melihat saya?" Putra menatap tajam mata Mahira. Gadis itu mengangguk. "Saya yang akan mengobatinya."
Mahira terdiam tidak mengerti dengan apa yang Putra ucapakan.
"Tapi ...."
"Mahira, udah selesai belum? ayo kita pulang." Terdengar suara Abel semakin mendekat. "Ya ampuuun!" ucapnya saat melihat tangan kakaknya berada di atas pundak Mahira. "Kenapa gak bilang aja sih sama emak kalau kalian masih ingin barengan. Jadi kita gak nunggu lama gini." Abel kesal.
"Mahira ikut pulang. Ayo, kita keluar." Ajak Putra pada Mahira. Gadis itu menurut. Mereka berjalan dan sampai di depan rumah.
"Jaga kesehatan ya, Pak. Saya pamit." Mahira menyodorkan tangan mengajak salaman pada Putra. Gadis itu menyalami dan mencium punggung tangan calon suaminya.
"Hati-hati," ucap Putra sambil mengacak-acak rambut Mahira perlahan.
"Tuh kan! jantung saya berdetak kencang lagi. Udah deh Pak, kita batalkan saja pernikahannya. Saya rasa saya benar-benar punya penyakit ini sih." Mahira tampak putus asa. Dia menundukkan kepalanya dan hampir menangis.
"Heh! itu bukan penyakit tapi Teteh jatuh cinta sama Aa." Abel menjelaskan pada Mahira. Abel memang berada di dekat Mahira agar dia tidak kembali ke dalam dan membuatnya menunggu terlalu lama, lagi.
Mahira menatap Putra. Berharap mendapatkan sesuatu untuk memperjelas perkataan Abel. Putra hanya diam membalas tatapan Mahira.
Semakin lama mereka saling menatap, jantung Mahira semakin berdetak tidak karuan. Dia kembali meremas dadanya.
Melihat laki-laki tegap dan tampan yang kini berdiri dengan tangan yang menyilang di dada. Membuat Mahira tidak bisa melepaskan pandangannya.
Putra masih mematung.
"Secepat itukah dia jatuh cinta padaku?" Bisiknya.
*****
"Bahaya! ini jelas-jelas bahaya." Pekik Wiwin.
"Kenapa? jatuh cinta pada suami sendiri kok bahaya?"
"Jelaslah! masalahnya adalah hati elu! dia cinta elunya kagak! itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Kisahnya selalu menyedihkan kalau udah begini."
"Biarkan saja. Toh gue juga tidak akan menceraikan dia."
"Heh! bukan begitu. Semakin lama dia tinggal sama elu, semakin bertambah umurnya, semakin dewasa dan semakin banyak pengetahuannya yang dia dapatkan, dia akan semakin pintar."
"Bagus dong."
"Bagus apanya? dia bakalan tau dan sadar kalau elu gak cinta sama dia. Itu akan menyakiti dirinya. Aduuuh! susah ya ngomongnya cinta sama cowok yang belum pernah jatuh cinta." Wiwin putus asa.
"Tenang aja. Gue hanya perlu bersikap baik dan menjadi suami yang bertanggung jawab."
"Beda maliiikk!" Wiwin gemas. Tangannya mengepal.
__ADS_1
"Santai aja. Gue tau harus gimana?"
"Gimana coba?"
"Bersikap seperti biasanya. Yang penting gue gak nunjukin kalau gue masih belum mencintai dia. Toh dari awal kami tau pernikahan ini bukan berdasarkan cinta."
"Sampai kapan?"
"Sampai ... yaaa ...."
"Lebih baik elu jaga sikap. Jadi suami baik dan bertanggung jawab sih itu memang wajib! tapi beri batasan agar dia tidak salah mengartikan kebaikan elu."
"Lah! selama ini emang gue kenapa? gue biasa aja. Gak bersikap berlebihan."
"Beda! elu manis banget sama dia."
"Yaaa kan dia calon istri gue. Masa iya gue harus bersiap manis sama elu. Bisa bonyok!"
"Nah! elu juga gak usah bersikap manis sama Mahira kalau elu gak bisa janjiin cinta buat dia."
"Aduh! ribetnya. Biarin aja napa."
"Kagak bisa!" Wiwin menggebrak meja. Putra yang hendak menyedot minumannya terlonjak kaget. "Awas ya, Sampai dia sakit hati. Gue gantung lu di puun tomat."
"Itu yang gue takutkan dari awal." Putra kembali menarik gelas dan menyedot minuman yang tadi sempat tertunda.
Wiwin terdiam. Dia berusaha menegakkan diri dengan menenggak minumannya langsung dari gelas tanpa sedotan.
"Gue takut tidak bisa menjaga hatinya. Mansi atau tidak sikap gue, lambat laun dia pasti jatuh cinta sama gue."
"Pede bener!" sinis Wiwin. Dia masih kesal.
"Gue udah melakukan kesalahan besar sama dia. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah aku lakukan."
"Apa? wah, jangan-jangan ...."
"Ck! kotor amat otak lu."
"Terus apaan?"
"Gue mencium bibir dia. Gue kagak ngerti kenapa gue lakuin itu."
"Astagahhhhh. Elu penasaran? dasar jomblo dengkot."
"Dia belum pernah pacaran. Kebaikan gue meski tidak manis akan membuat dia nyaman dan jatuh cinta. Ah, lu gak akan ngerti."
"Gue ngerti. Ngerti banget malah. Bagi dia, elu itu cinta pertamanya. Bagi elu juga bukan? pas kalian."
"Tidak. Bagi gue, dia bukan cinta pertama meski pada akhirnya mungkin gue jatuh cinta sama dia. Tapi itu sulit."
"Maksud lu?"
Putra terdiam. Dia asik mengaduk minumannya tanpa mempedulikan rasa penasaran Wiwin yang begitu besar.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ