Membeli Istri

Membeli Istri
part#30


__ADS_3

Mahira terbaring lemas dengan selang infus menempel di tangan kirinya. Matanya bengkak dan hampir menutupi penglihatannya. Air matanya tidak berhenti mengalir deras.


Emak dan keluarga Putra hanya bisa menunggu di luar rumah sakit tanpa bisa melihat keadaan Mahira. Karena kebijakan yang tidak memperbolehkan kunjungan.


"Emak sangat kecewa. Kalaupun kamu akhirnya menikah dengan wanita itu, emak terpaksa merestui tapi tidak akan mau menganggap dia bagian dari keluarga kita."


Putranya hanya bisa diam saat melihat enak pergi begitu saja. Hatinya kini terasa sakit. Dia mendapat amarah Emak dan juga harus merelakan calon bayinya. Ririn merasa menyesal dan sedih menatap Putra dari balik kemudi. Amarah pun menghampiri hatinya. Entahlah, Ririn hanya merasa kesal saat mengendarai Mahira mengandung. Meski kini Mahira keguguran, tapi dia tidak merasa bahagia. Ada penyesalan dan perasaan kesal yang berbaur jadi satu.


Sudah dua hari ini Mahira berada di rumah sakit. Kondisi rahimnya sudah bersih. Hanya saja dia masih lemas, karena selain kehilanganmu banyak darah, dia juga tidak mau makan.


"Ra, makan dulu sedikit saja," bujuk Putra.


"Pak. Saya ingin kita bercerai saja."


"Ra, bukan saatnya kita membicarakan masalah ini sekarang."


"Kalau kita bercerai, hanya aku yang merasa sakit. Tapi kalau kita tetap menikah, ada dua hati yang tersakiti sekaligus. Emak akan menerimanya sering waktu berjalan. Hanya butuh waktu saja. Jadi ...."


"Saya tidak ingin membicarakan masalah ini."


"Saya sudah meminta bantuan pengacara Bapak untuk mengurus surat perceraiannya. Nanti kita hanya menunggu pengadilan saja."


"Apa kamu sudah melangkah sejauh ini?"


"Ya. Lagi pula tidak ada lagi pengikat yang akan menghalangi perceraian ini. Anak kita sudah pergi sebelum dia datang."


Putra melempar mangkuk bubur ke sembari tempat. Dia begitu marah entah karena apa. Pergi ke luar meninggalkan Mahira yang tidak bisa berhenti menangis.


*****


Pukul 10 malam, Putra baru kembali ke rumah sakit. Dia harus menenangkan dirinya sebelum bertemu dengan Mahira. Dia tidak ingin amarahnya membuat istrinya terkena imbas. Begitu membuka pintu kamar, Putra sedikit heran melihat ada tiga perawat sedang mengerumuni Mahira.


"Ada apa ini?" tanyanya. Dia melihat Mahira hanya diam dengan tahapan kosong, membuat dirinya cemas dan segera menghampirinya.

__ADS_1


"Istri Bapak membuka infusan dengan paksa."


Putra melihat lengan kiri Mahira, ada bekas darah yang sudah mengering. Serta bebeepa tetes di lantai.


"Sekarang kami harus memberikan infusan baru di tangan kanannya. Istri Bapak tidak mau makan jadi harus dibantu dengan cairan infus biar tidak lemas."


"Ya Allah ...."


Putra sedikit mundur agar tidak mengganggu para petugas melakukan tindakan.


"Tolong dijaga ya, Pak. Takut dehidrasi istrinya. Jangan sampai infusan ini lepas lagi."


"Iya, baik suster. Terima kasih."


Setelah para perawat keluar ruangan, Putra segera menghampiri Mahira. Dia duduk di samping ranjang istrinya.


"Ra, kenapa? apa yang kamu lakukan?"


"Apa?" Putra diam.


"Dari mana, Pak? apa habis bertemu dengan wanita itu? jika memang sudah tidak sabar untuk hidup bersama, percepat saja perceraian kita. Agar kedekatan kalian tidak menjadi fitnah."


"Kenapa selalu membahas perceraian? tidak adakah pembahasan lain?"


"Karena ini yang akan kita lalui ke depannya."


"Mahira, dengarkan saya." Putra menatap tajam. "Saya tidak akan menceraikan kamu, saya tidak akan meninggalkan istri saya demi wanita lain meski wanita itu orang yang saya cintai. Jelas?"


"Kenapa? apa karena semua demi emak? karena tidak mau mengecewakan emak?" Mahira sedikit marah dengan menaikan nada bicaranya.


"Ya! itu yang pertama. Dan yang kedua, karena saya–"


"Kalau begitu saya yang akan mencari Bapak."

__ADS_1


"Apa kamu sendiri tidak ingin membalas kebaikan emak?"


"Saya lelah!" Mahira duduk dari tidurnya. "Awalnya saya berusaha memaklumi hubungi ini. Sampai saat ini saya memakluminya. Tapi ... hati saya merasa lelah untuk terus hidup bersama suami yang hati dan pikirannya tertuju pada wanita lain."


"Mahira ...."


"Bahkan, setiap kali kita berhubungan badan, saya selalu berpikir jangan-jangan yang ada dalam benak Bapak itu adalah dia, bukan saya. Tapi saya diam dan hanya berusaha dan terus berusaha memakluminya. Tapi saya sudah menyerah sekarang. Saya lebih baik kehilangan dari pada harus memilikinya tapi berbagi. Saya tidak mau!"


"Istighfar Mahira. Saya tidak sekeji yang kamu pikir. Sekali pun saya tidak pernah membayangkan Ririn saat kita tidur bersama. Saya ini laki-laki normal. Saya menggauli kamu, ya sebagai kamu. Bukan dia."


"Saya bersedia melakukan dan menyerahkan diri karena rasa saya memang ada dalam hati, terus Bapak?"


Putra diam. Dia masih mengatur nafasnya yang bergemuruh.


"Hanya karena nafsu?"


Putra menggertak gigi. Dia tidak tau harus bicara apa lagi kali ini.


"Saya hanya berusaha menjalani kewajiban saya dan memberi apa yang menjadi hak kamu. Itu saja."


"Saya merasa stres memikirkan ini semua. Saya memiliki segalanya tapi saya menginginkan lebih dari sekedar harta dan raga. Bapak memberikan perhatian tapi terasa hambar karena tidak menyertakan hati di dalamnya. Tatapan Bapak tidak semuanya saat Bapak menatap wanita itu, dan saya kesal karenanya. Belaian Bapak seperti belaka seorang ayah pada anaknya, bukan sebuah suami. Itu yang saya rasakan, dan saya marah karena itu semua."


"Lalu saya harus seperti apa?"


"Melepaskan orang yang kita cintai memang sakit, tapi jauh lebih saki jika kita tetap hidup dengan orang yang mencintai orang lain. Lepaskan saya. Itu akan baik untuk kita semua."


"Baik, baik Mahira! kalau itu yang kamu inginkan, akan saya berikan. Saya akan memberi apa saja yang kamu mau, sesuai janji saya."


Putra berkacak pinggang. Dia begitu kesal pada istrinya hang tidak mau mengerti.


'kenapa tidak menikmati saja apa yang kamu miliki saat ini? kenapa harus meminta yang tidak bisa aku berikan? saat wanita lain menikah dengan laki-laki yang dia cintai tapi pada akhirnya menyakiti, kenapa tidak menikmati saja sikap baik dan murah hatiku ini, Mahira?' gumam Putra dalam hati.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2