
Tidak sebentar aku berusaha kembali pada Mahira yang dulu–saat ditalak. Merubah penampilan menjadi kembali menutup aurat, tidak membuatki serta-merta bisa seutuhnya kembali bisa sabar. Ada kalanya dimana aku merasa kesal dan marah, entah karena apa.
Hari ini, cuaca begitu terik. Aku tidak bisa berlama-lama ada di taman mengurus bunga-bunga. Aku memutuskan masuk ke dalam untuk mengambil segelas apapun itu untuk menyejukkan tenggorokan.
Keputuskan mengambil jus kemasan rasa jambu merah yang ada di kulkas. Entah kenapa, rumah ini terasa begitu sepi. Padahal, mobil Aldo ada di depan.
Aku mencari ke semua penjuru rumah hingga sampai di depan ruangan yang biasa Aldo pakai sebagai latihan golf, namanya silator, atau si apa lah itu ....
"Pak, ajarkan saya juga, dong. Saya kan pengen bisa juga," ucap pelayan rumah yang paling cantik dan tinggi.
Aldo tidak menjawab, dia tetap fokus pada layar besar yang ada di hadapannya dengan membawa alat pemukul bola. Mengambilnya ancang-ancang bersedia memukul.
Wanita kurang ajar itu mendekat, berdiri dibelakangnya Aldo. Tiba-tiba tangannya melingkar ke perut Aldo. Menyandar kepala di punggungnya.
Aku melihat Aldo terkesiap. Dia menoleh dengan cepat dan hendak memarahi pelayanannya. Namun, mulutnya seketika tertutup saat melihatku di ambang pintu. Dia lebih kaget lagi. Wajahnya langsung pucat. Mungkin dia takut aku akan salah paham.
Tanpa aba-aba, aku melempar kotak jus yang masih tersisa di tanganku. Tepat mengenai kepala wanita itu.
Tanpa berkata sedikitpun, aku berbalik dan memilih untuk pergi. Aldo berteriak memanggil dan berlari mengejarku.
"Tunggu, sayang! Jangan marah, kumohon."
Aku berbalik dan menepis tangannya yang menghentikan langkahku.
"Tolong, ini hanya salah paham. Jangan marah," Aldo memelas. Raut ketakutan sangatlah jelas terlihat diwajahnya.
"Hey!" Aku berteriak pada wanita itu saat dia ikut menghampiri. "Kemasi pakaian kamu sekarang. Pergi dari rumah ini! dasar wewe gombel!"
Aldo melongo. Entah dia kaget karena aku berkata kasar, atau dia kaget karena aku tidak memarahinya.
"Sayang ...."
"Keluarkan semua pelayan muda ini dari rumah. Cari yang emak-emak aja. Bikin ruwet aja!"
"I-iya. Nanti aku cari yang tua-tua."
"Jangan tua banget, repot nantinya. Malah kita yang ngurus."
"Siap! laksanakan!"
"Ishhh!"
Aku bergegas meninggal Aldo dan wanita yang kini tengah tersedu, meminta pada also agar jangan memecatnya.
Sejak itu, Aldo memilih wanita yang agak tua untuk melayani aku dan membersihkan rumah ini. Lagi-lagi masalah muncul meski dia tidak cantik dan seksi seperti dulu.
"Al ...." aku merengek.
"Kenapa lagi, sayang?" tanyanya saat dia sedang nge-gym.
"Itu, Mba Marni ganti lagi aja, ya?"
"Kenapa?"
Belum sempat aku menjelaskan alasanku tentang pembantu yang belum seminggu ini bekerja. Wanita itu muncul.
"Non, ini ...."
Aku menepuk jidat, sementara Aldo menghentikan aktifitasnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Mbaaa ...."
Aku kesal dan juga malu sama Aldo. Terlalunyaaa Mba yang satu ini. Minta dibuatkan jus buah naga, malah bawa kardus sama BH. Gusti Karim. Huwaaaa ....
"Aldooo, ganti!" aku kembali merengek. Dan Aldo masih asik dengan tawanya yang renyah. Aku melotot dan pergi.
"Non, ini BH sama kardusnya mau diapain?" teriaknya.
"Suruh Pak Aldo pake!" suaraku tak kalah kerasnya membalas teriakan pembantu yang memiliki pendengaran kurang optimal itu.
*****
Sejenak lupakan soal BH dan kardus. Karena malam ini, aku diundang makan malam ke rumah Mami dan Papi Aldo. Sepanjang jalan aku merasa resah.
Aku takut dan juga bingung. Trauma pada kejadian waktu itu. Saat semua bermula dari rumah itu.
Berulang kali Aldo menenangkan, tapi tak cukup. Aku tetap gugup dan takut. Aku takut masalah yang sama akan terulang.
Begitu memasuki pintu gerbang, dengan spontan aku akan membuka pintu mobil Aldo, beruntung Aldo segera menghentikan laju mobilnya yang saat itu masih berjalan. Dia mencari tanganku dengan cepat dan keras.
"Sayang, tenang! tidak akan terjadi apa-apa. Aku bersumpah!"
Jantungku semakin berdetak kencang. Bukan apa-apa, aku baru menyadari apa yang barusan aku lakukan. Aku benar-benar sudah tidak waras.
Aldo memutuskan untuk sejenak diam dalam mobil. Menenangkan diriku yang sudah tidak karuan lagi. Jantung, paru-paru dan organ tubuhku yang lain sudah tidak singkron.
Suasana dalam mobil cukup sejuk, tapi aku berkeringat.
__ADS_1
"Udah siap? sebaiknya kita segera masuk, makan malam harus sudah dimulai."
"Hmm. Memang sebaiknya kita masuk. Takut mereka menunggu terlalu lama."
Dengan menguatkan hati, aku melangkah bersama Aldo memasuki rumah kedua orangtuanya.
"Aldooo ...."
Bu Ranti menyambut Aldo histeris, dia berhambur ke dalam pelukan anaknya. Aku merasa heran. Tapi ya sudah lah .... toh mereka memang selalu heboh.
"Selamat datang, Ra," ucap Bu Ranti seraya memeluk tubuhku lebih lembut ketimbang memeluk Aldo tadi.
"Ayo, kita sudah menunggu sejak tadi."
Bu Ranti mempersilakan kami duduk. Menyambut anak yang seperti sudah menjadi pasangan suami istri. Aku dan Aldo duduk bersebelahan.
Papi, kakaknya Aldo, Kak Niar, menyambut kami berdua. Sementara bocah kecil yang waktu itu aku lihat, kini tidak nampak.
"Anak-anak sudah tidur," ucap Kak Niar seolah mengerti tentang pertanyaan yang tak aku ucapkan. Aku mengangguk pelan.
"Mari, kita makan. Papi sudah lapar."
Mendengar ajakan sekaligus perintah dari tuan rumah, kami segera bersiap untuk makan. Mengambil nasi dan lauk-pauknya.
"Mau sama apa?" tanya Aldo berbisik.
"Apa saja."
Aldo mengambil nasi, capcay, daging ayam yang sudah di iris tipis dengan bumbu entah apa diatasnya. Juga tahu bacem.
Pada awalnya, acara makan malam berjalan dengan lancar dan khidmat. Bukankah memang dilarang bersuara?
"Ra, gimana kabar kamu sekarang?" tanya Kak Niar.
"Oh, Alhamdulillah saya baik, Kak."
"Sukurlah. Aku dengan kamu hampir gila, ya?"
Aku terdiam.
Sadar aku merasa tidak nyaman. Aldo tersenyum sebagai isyarat untukku tidak membalas ucapan Kak Niarwati.
"Aldo, Aldo, masa mau nikah sama wanita depresi, sih? apa kata orang-orang nanti? kalau kolega papi tau, gimana? aib itu ...."
"Kak, bisa kah kita makan dengan damai?" tanya Aldo dengan sedikit menahan amarah.
Aku yang memang masih kesulitan untuk mengendalikan diri, merasa sangat marah. Seperti ada lahar yang siap menyembur keluar dari perut gunung.
Aldo memegang tanganku yang hampir saja akan berdiri.
"Lagian, dia itu bekas Mas Putra. Kaya gak ada gadis lain yang masih perawan aja."
"Aku belum menikah, tapi udah gak bujang, lohh, Kak!"
"Ya–"
"Papi udah selesai. Silahkan lanjutkan."
Semua menatap papinya Aldo dengan rasa tidak enak hati. Sementara Kak Yanwar wajahnya sudah merah padam. Setelah papinya Aldo pergi, Kak Yanwar segera bangkit dan menyeret serta Kak Niar.
Aku merasa puas untuk itu. Berharap wanita itu akan mendapatkan pelajaran dari suaminya.
"Aku minta maaf, makan malam ini jadi kacau." Aldo meminta maaf pada Bu Ranti. Aldo melirikku, matanya bergerak menandakan aku harus bangun untuk pulang.
"Tunggu. Jangan pergi dulu, Aldo. Mami masih kangen sama kamu. Tolong jangan pergi dulu. Mahira, tunggu di sini beberapa saat. Kita ngobrol dulu ya ...." Bu Ranti memelas. Dengan mata nanar.
"Al, sebentar lagi, ya." Aku meminta pada Aldo. Dia sepertinya enggan, tapi aku memaksa.
Akhirnya, aku, Bu Ranti, Aldo, papinya Aldo dan juga Vera yang baru saja datang, duduk di ruang keluarga. Kami diam untuk waktu yang cukup lama.
"Kak, tambah kurus aja. Gemukin dikit napa, biar terlihat segeran kalau jadi manten."
Vera mencoba mencairkan suasana dengan becanda padaku.
"Sebentar lagi juga gemuk, Ver. Siap-siap aja ganti ukuran pakaian."
Kami berdua tertawa. Tawa yang sangat dipaksakan.
"Papi tidak melarang kamu menikah dengan siapapun."
Kami kembali diam.
"Tapi apa yang dikatakan Niar ada benarnya juga. Bahkan papi tidak tau asal usul Mahira."
"Pih ...."
"Aldo, papi tidak mempermasalahkan jika Mahira hanya keluarga miskin, papi tidak butuh harta dari menantu atau besan papi. Tapi, bebet, bobot, bibit itu penting. Kamu sendiri sudah tau?"
__ADS_1
Aldo diam. Dia tidak bisa menjawab karena memang tidak tahu seluk beluk keluargaku. Jika Aldo tau, itu hanya sebagian kecil saja.
"Papi sudah tau semuanya."
Kami semua tercengang. Terutama aku. Takut dan cemas yang kini aku rasakan. Betapa hancur dan buruknya keluargaku, pasti papinya Aldo tidak akan merestui Aldo dan aku.
"Ayahnya Mahira–"
"Aku tidak perduli." Bantah Aldo menyela ucapan papinya.
"Aku menikah dengan Mahira, bukan dengan keluarganya. Yaaa, Aldo tau, menikah itu mempersatukan dua keluarga, tapi inti pernikahan itu adalah aku dan istriku. Apa yang salah?"
"Papi gak mau punya besan seorang pemabuk!"
"Tanya pada ayahnya Mahira, dia mau tidak menerima Aldo sebagai menantunya yang sama-sama suka mabuk dan main perempuan?" suara Aldo meninggi. "Siapa dia di masa lalu itu tidak penting, Pi. Toh, orang tuanya baik pun belum tentu anaknya pun baik. Tidak semua keluarga terhormat memiliki anak yang terhormat juga, seperti aku. Papi sendiri tau bukan gimana aku, hidup aku, kegiatan aku."
"Aldo! duduk!"
"Papi tau aku gimana bukan? silahkan larang, semakin keras papi melarang, semakin kuat Aldo melawan."
"Dia selalu membawa masalah pada keluarga kita. Kmaren, apa maksudnya dia tidak sadarkan diri di kamar lalu Putra datang dan menggendong dia pergi. Setelah itu, ke mana Mahira pergi? apa dia tinggal bersama Putra yang jelas memiliki istri."
"Ini semua salah paham Pih. Tolong percaya sama Aldo kali ini saja. Mami, bilang dong sama Papi."
Bu Ranti hanya diam dengan deraian air mata.
"Aldo ... duduklah," pintaku seraya menarik tangannya. Aldo duduk dengan membuang nafas kasar.
"Maaf sebelumnya. Saya memang terlahir dari keluarga miskin dan tidak bermoral. Ayah saya seorang pemabuk, dia preman dengan judi dan main perempuan sebagai hobinya. Ibu saya bahkan tidak menginginkan saya. Dia seolah menjual saya pada keluarga Pak Putra dengan meminta mahar dan seserahan yang tinggi. Itulah garis besar kejelekan keluarga saya."
Aku menelan ludah yang seperti bongkahan es. Sulit sekali.
"Saya cukup sadar diri untuk tidak meminta lebih dari Aldo. Jika memang standar kehormatan keluarga adalah patokan untuk calon istri Aldo, maka saya mundur."
"Sayang ...."
"Saya hanya tau satu hadis tentang jodoh, yang baik untuk yang baik, dan dia yang keji akan mendapatkan yang keji juga. Jika baik dan keji menurut anda adalah harta dan tahta, maka mungkin saya dan Aldo memang bukan jodoh."
"Aldo pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya. Saya tidak apa-apa, saya paham situasinya." Imbuhku.
"Mahira, jangan dengarkan papi, kamu hanya harus percaya padaku. Aku akan berjuang untuk hubungan kita."
"Tidak, Al. Kamu lebih baik menurut pada mereka yang menjadi orang tua kamu. Aku bahkan iri karena kamu memiliki orang tua hebat dan sayang sama kamu. Dari awal aku sudah tidak yakin, bukan meragukan dirimu, tapi statusku."
"Bu Ranti, Pak, saya minta maaf kalau selama ini saya menyebabkan banyak masalah di keluarga ini. Dan, Aldo, terima kasih untuk semuanya."
"Ra, jangan. Jangan lakukan ini. Tolong beri aku dukungan dan semangat untuk memperjuangkan kita. Pliss."
Aku tau Aldo begitu sedih dengan sikapku saat ini. Aku terlalu yakin keluarga Aldo yang menyambut baik diriku, akan merestui hubungan kami. Nyatanya?
"Aku pulang dulu, Al."
"Aku antar."
"Tidak perlu. Aku tidak akan pulang ke rumah. Aku ...." Entahlah, aku sendiri tidak tau harus pulang ke mana sekarang.
"Kak, ini tas Kakak." Vera yang pergi karena takut saat Aldo marah, kembali membawa tas yang waktu itu tertinggal. Ah, benar juga. Tas ini tertinggal di sini.
"Terima kasih, Ver."
"Kak, jangan putus asa. Tetaplah di samping Kak Aldo."
"Vera! masuk ke kamar!" teriak papinya.
"Papi, harusnya papi bersyukur karena berkat Kak Mahira, Kak Aldo menjadi orang yang lebih baik. Kak Mahira bisa melakukan apa yang tidak bisa Papi lakukan sebagai orang tuanya."
"Vera!" papinya bangkit dengan wajah putihnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Kenapa, Pih? berbagai upaya, bahkan dengan kekerasan pun, Papi tidak bisa membuat Kak Aldo menjadi orang baik. Dan sekarang, setelah Kak Mahira menjadikan kak Aldo orang yang berguna, Papi malah mau memberikan Kak Aldo pada wanita lain? Ck!"
"Ver, apa maksud kamu?" tanya Aldo yang sebenarnya mewakili pertanyaanku juga.
"Papi menjodohkan Kakak dengan anaknya Pak Broto, Naomi, sepupunya Kak Niar."
"Apa?" Aldo kaget sekaligus marah. Dia mengepalkan tangannya. Dan aku? aku hancur. Untuk kesekian kalinya, hati ini remuk.
"Sebenarnya ...." Vera ragu-ragu.
"Vera!" bentak papinya.
"Yang ngasih obat ke minuman Kak Mahira, adalah Kak Niar."
Aldo semakin marah. Dia merekatkan giginya hingga menimbulkan suara. Tangannya mengepal keras.
Prankk!
Meja yang ada di hadapan kami hancur berkeping karena hantaman Aldo.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺