
"Mba Entut. Tolong, nanti kalau ke pasar belikan saya buah kedondong ya."
"Iya, Nya. Buat apa?"
"Saya pengen bikin rujak, di kulkas masih ada bengkoang, jadi buat nambahin. Oya, nanti tolong beritahu yang lain setelah selesai bekerja, kita bikin rujak di dekat kolam."
"Wah, jangan-jangan Nyonya lagi ngidam ya?" Tuti berbinar.
"Issh. Gak lah. Saya memang suka rujak, Mba Entut."
"Iya juga tak apa toh, Alhamdulillah. Kan Nyonya sama tuan udah lama nikahnya."
"Baru juga lima bulan ini. Ya sudah, saya mau ke atas dulu. Mau siap-siap buat belajar."
"Mau di suguhin apa?"
"Euhmmm. Mrs Lani kan masih muda, dia biasanya suka cemilan yang asin. Bawakan ciki-cikian saya yang di lemari itu ya."
"Iya, Nyonya."
Mahira sedikit berlari saat menaiki tangga. Tuti yang melihatnya khawatir. Dia dengan lantangnya berkata. "Hati-hati, Nya. Gak Bagus buat janinnya."
Mahira tertawa kencang tanpa memperdulikan teriakan Tuti. Di ruangan yang dijadikan Putra sebagai tempat meeting untuk berpartisipasi klien istimewa, Mahira belajar. Ruangan yang sangat luas dengan fasilitas yang lengkap.
Mahira duduk dengan buku dihadapannya. Pulpen merah jambu yang sedang ada di tangannya berputar ke atas dan ke bawah. Tatapannya tanpa jeda dengan senyuman kecil di wajahnya. Dia merasa sedikit geli dan bahagia membayangkan dirinya benar-benar hamil. Ucapan Tuti benar-benar membuat dia kepikiran.
"Hayooo! pagi-pagi melamun." Mrs Lani menggebrak pintu. Mahira yang sedang asik melamun begitu terkejut. Seperti turun dari wahana roller coaster dengan kecepatan penuh. Begitulah keadaan jantungnya.
"Ya ampuuun. Jantung saya mau loncat."
"Hahah. Kenapa pagi-pagi sudah melamun, Nyonya muda?"
Mahira tidak menjawab. Dia masih membenahi dadanya yang begitu keras berdegup.
"Ayo, kita mulai belajar. Jangan melamun terus. Nanti kesambet loh!"
"Ini sudah siang, Mrs. Mrs, bolehkah kita libur hari ini?" pinta Mahira.
"Kenapa?"
"Saya ingin keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus saya beli. Ya, ya, ya ...."
"Pak Putra?"
"Nanti saya yang tanggung jawab kalau dia marah. Dia tidak pernah marah dan tidak akan menolak saat saya meminta sesuatu. Jadi, untuk kalo ini pasti aman juga."
"Emm ...."
"Ayolah, jangan kebangsaan mikir. Nanti botak. Yuuuu ...."
__ADS_1
Mahira menyeret lengan gurunya yang umurnya tidak terpaku jauh. Mahira segera memanggilnya supir untuk mengantar mereka.
Sepanjang perjalanan Mahira tidak berhenti tersenyum. Wajahnya tampak sumringah. Dia berharap apa yang Tuti katakan jadi kenyataan. Bahwa dia benar-benar sedang mengandung. Dia juga berharap, terlambatnya dia mens bulan ini setelah menstruasinya yang kamren, adalah tanda-tanda yang dapat membuat dia bahagia. Lani hanya ikut tersenyum melihat Mahira meski dia sendiri tidak tau apa penyebab Mahira terlibat bahagia.
"Pak, kita ke apotik ya."
"Iya, Nyonya."
"Kenap? kamu sakit?"
"Bukan. Nanti lihat saja apa yang mau saya beli. Hihi." Mahira kembali tersenyum bahagia.
Sesampainya di apotik. Mahira dan Lani turun dari mobil. Mereka berdua masuk. Setelah mendengar apa yang Mahira katakan pada apoteker itu, Lani ikut tertawa bahagia. Wajahnya kini merona saat Mahira memperlihatkan respect itu tepat di wajahnya.
"Semoga hasilnya positif. Aamiin."
"Aamiin."
"Apa setelah ini kita akan pulang dan belajar?"
"Tidak. Saya tiba-tiba rindu pada suami. He he he."
"Aaah. Saya faham."
"Coba kita wa saja dulu. Dia ada apa tidak ya di kantor."
"Jangan! berikanlah kejutan saja. Gimana?"
"Nah, iya. Kita lihat, Pak Putra terkejut atau tidak? dia marah atau akan senang melihat istrinya ada di kantornya."
Wajah Mahira tampak merengut. Dia merasa was-was mendengar perkataan Lani. Dia sendiri tau pasti bagaimana perasaan Putra padanya. Mahira takut Putra tidak senang dan akan marah. Apa lagi orang kantor tidak ada yang tahu status Putra kecuali Wiwin. Itulah kenapa-kenapa Putra tidak pernah memakai cincin perkawinan saat berangkat kerja.
"Loh, kenapa? kok tiba-tiba jadi kurung gitu?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya takut akan mengganggu dia."
"Ck! gak lah. Pak putra pasti seneng liat istrinya yang lucu ini menyambanginya ke kantor."
"Tidak, bukan itu. Saya tetiba ingin berbelanja. Lita ke supermarket saja, gimana?"
"Baiklah. Saya cantik saya nurut."
"Ha ha ha." keduanya tertawa terbahak-bahak. Setelah menikah, Lani memang hanya satu-satunya teman yang Mahira miliki. Guru yang benar-benar baik dan mengerti dirinya. Lani lah yang mengajarkan dia menggunakan ponsel saat Putra membelikan sebuah ponsel super mahal untuk Mahira.
Mereka sampai sebelum azan Zuhur berkumandang. Bak sepasang sahabat yang akan hang out, mereka berdua berjalan cekikikan.
"Apa Mrs mau naik?" tawar Mahira sambil menyodorkan troli besar. Dia ingat bulan lalu saat berbelanja, Mahira masuk ke dalam troli dan Putra mendorongnya. Mahira bilang agar Putra jangan merasa malu karena perbuatan mereka bukanlah suatu dosa. Putra hanya bisa diam dan nurut meski rasa malunya tidak bisa dihilangkan.
"Gak ah! malu tau, kaya anak kecil aja."
__ADS_1
"Eh, tapi aku kmaren naik. Suamiku yang mendorongnya."
"Wah, pak putra itu selain tampan dan mapan, dia juga penyayang. Sepertinya dia benar-benae mencintai kamu."
"Saya harap juga begitu, yaaa meski ... ah! sudahlah, lupakan! ayo kita belanja. Ambil saja apapun yang Mrs mau. Saya yang akan bayar."
"Nah, ini nih yang membuat saya bahagia. Ayooo!"
Mereka berjalan menyusuri setiap lorong. Memilih berbagai kebutuhan mereka masing-masing. Tertawa bersama dan becanda berdua. Tidak menghiraukan pengunjung lain yang sesekali menatap mereka saat suara tawa begitu menggelegar.
"Saya kebelet. Tunggu sebentar, ya."
"Iya, Mrs. Santai saja. Cari saya ke bagian daging dan ikan ya." Mahira berteriak.
"Baiklah ...." dia melambangkan tangan dari kejauhan.
Mahira mendorong troli yang sudah hampir penuh dengan perasaan riang gembira. Wajahnya selalu dihiasi senyuman yang tiada henti. Roda troli itu berhenti. Senyuman itu hilang perlahan saat melihat sosok yang tidak asing lagi baginya.
Wajahnya kembali tersenyum dan dia kembali mendorong trolinya berniat menghampiri Putra. Baru dua langkah saja, Mahira kembali berhenti.
Terlihat seorang wanita menghampiri Putra yang sedang memegang troli. Wanita itu memasukan barang yang sedang dia bawa.
"Ini bagus, gak? sepertinya segar."
"Masukan saja. Nanti kamu bisa masak dengan kuah kuning. Aku suka sekali."
"Baiklah, apa lagi yang harus aku beli, yaaa. Ahh! ayo kita ke sana. Aku ingin membeli telur ikan juga." Wanita itu ikut mendorong troli yang Putra pegang. Sadar Putra dan wanita itu berjalan mengarah padanya, Mahira bergegas pergi. Dia membalikan badan dan langsung mendorong trolinya. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang memang berdiri di belakangnya.
"Aduuhh! Maaf, maaf, saya tidak sengaja."
"Woiii! hati-hati dong kalau jalan. Sakit nih."
"Maaf, saya tidak sengaja, Mas. Saya minta maaf." Mahira mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ishhh! maaf, maaf, das–."
Laki-laki itu tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat Mahira meneteskan air mata."
"Astagahhhhh. Aku yang kamu tabrak kenapa kamu yang nangis? dasar bocah!"
"Maaf, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja," ucap Mahira disela Isak tangisnya. Dia masih menunduk dengan deraian air mata yang naik deras.
"Mas, itu istrinya kenapa dibikin nangis?" tanya seorangpun ibu-ibu yang kebetulan lewat.
Laki-laki itu melotot kaget.
"Wei. Jangan nangis. Malu nih orang kira kamu nangis karena aku. Lagian kenapa nangis juga sih? aku tidak akan melaporkannya kamu ke polisi. Udah ...."
"Maaf, saya minta maaf."
__ADS_1
"Iya, iya. Udah, ah! bodo amat kalau kamu mau nangis sampe besok juga. Laki-laki itu pergi meninggalkan Mahira yang masih menangis.
🌺🌺🌺🌺🌺