Membeli Istri

Membeli Istri
part#35


__ADS_3

"Alhamdulillah, ya. Meski kita tidak bisa taraweh di mesjid, kita masih bisa taraweh bersama di sini."


"Iya, Neng. Yang penting mah niatnya. Tempat mah bisa di mana saja yang penting bersih."


"Ya sudah, ayo kita masuk. Kita makan dulu, tadi baru takjil saja bukan?"


"Iya, Neng. Bi Inah belum kenyang. Ha ha ha."


"Halah! emang perut kadut mah kurang terus, mau diisi apa saja pasti kurang."


"Ya gak gitu atuh, Tut. Saya kan gak makan dari sejak subuh."


"Samaaa!" Jawab yang lain kompak. Aku hanya tertawa. Aku bahagia memiliki mereka. Tidak terikat darah tapi begitu dekat. Mereka baik padaku, tidak hanya karena mereka di bayar untuk menjagaku. Keihklasan itu sangat terasa, di sini, di dada sebelah kanan.


Ramadhan telah kami lewati beberapa hari, mungkin hampir setengah jalan. Dan hari ini aku terima padanya, lagi. Benci. Begitulah setiap aku mengingatnya. Bukan membencinya dirinya, tapi membencinya diri sendiri.


Sungguh tidak tahu malu terus saja teringat pada seseorang yang telah jadi suami wanita lain. Ya Allah, pegang hatiku agar aku tak jadi melanggar.


Malam itu aku begitu lemah. Kondisi badan yang tidak fit tapi tetap memaksanya diri untuk berpuasa. Bahkan, tubuh ini tidak bisa menopangnya dirinya sendiri. Makan pun harus dibantu orang lain, suamiku.


Dengan telaten dia menyuapi bubur hangat. Membersihkan sisa makanan yang belepotan di sekitar bibir. Dia selalu bertanya apa yang aku rasa dengan wajah cemas. Tatapanku selalu membuat jantungku tidak berfungsi normal. Mungkin bisa saja berhenti berfungsi andai jantungku buatan manusia.


Ah! itu hanya segelumit kisah indah yang belum tentu dia ingat saat ini. Lagi pula, indah untukku bisa saja buruk untuknya.


"Neng, kenapa melamun saja?" tanya Pak Misran. Laki-laki itu kembali bekerja setelah waktu itu Pak Putra memecatnya. Ya, tentu saja karena kesalahanku.


Hatinya yang memang baik membuat dia mau kembali bekerja padaku. Alasannya masih sama. Dia tidak ingin membiarkan aku sendiri. Terutama saat ini. Aku sendiri.


"Iya, Pak. Biasa."


"Jangan diingat terus, gak baik." Dia duduk di sampingku.


"Iya, Pak. Hanya saja sangat sulit. Mengingat dan melupakan dia sama-sama sakitnya."


"Kalau begitu, Neng harus cari obatnya. Lagi pula sudah lama juga bukan?"


"Ha ha ha. Saya tidak mau menyakiti suami saya, nanti. Karena hati saya sudah terbawa pergi bersama pak putra."


"Jangan begitu. Hidup harus terus berjalan. Menikah itu sunah Rasul. Penyempurna agama kita."


"Saya masih belum memikirkannya hal itu untuk saat ini. Saya sedang menikmati rasa cinta saya untuk Allah. Rasanya jauh lebih damai. Saya hanya selalu meminta yang terbaik. Kalau sudah waktunya, dia akan datang sendiri pada saya. Siapapun itu."


"Jodoh itu memang ruwet. Siapa tau pak putra masih jodohnya Eneng, kan?"


"Ishh. Bapak tuh. Jangan memberi saya harapan, Pak."


"Memangnya masih berharap?"


Pertanyaan yang sangat menohok hati dan pikiran. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat mendengar pertanyaan Pak Misran. Entahlah ... hati ini sungguh tidak bisa ku baca. Antara iya dan tidak bercampur jadi satu.


"Ya sudah. Bapak mau nganter bi Inah ke pasar. Mau ikut?"


"Enggak, Pak. Saya mau ke toko buku. Ada yang harus saya cari."


"Siapa yang nganter? supir di sini kan cuma saya."


"Saya pesan taksi online saja. Tidak apa-apa kok. Bapak antar Bi Inah saja, takut nyasar."


"Ya sudah. Saya siapkan mobilnya dulu."


"Hati-hati, Pak."


"Yaaa," jawabnya yang sudah jauh di sana. Aku membersihkan baju bekas duduk tadi. Melangkah masuk untuk bersiap-siap pergi.


Tidak lama setelah aku memesan taksi online, dia datang. Cuacanya mendung. Untunglah, puasa kali ini tidak akan terlalu berat.


"Terima kasih, Pak." Aku memberikan ongkos dan turun dari mobil.


Mataku begitu segar begitu masuk ke dalam toko buku. Sejak perpisahan itu, aku memang menyibukkan diri untuk membaca. Rasanya ingin aku bawa pulang buku-buku di sini. Membaca pengetahuan agama dan ilmu lainnya adalah kegemaranku saat ini.


Baru beberapa menit di dalam toko, keranjang ku sudah mulai terasa berat. Ha ha. Aku suka kalap kalau sudah di sini. Begitu ada judul yang menarik perhatian, langsung ku ambil begitu saja.


"Ini aja ya, Mas."

__ADS_1


"Boleh. Ambil saja."


Percakapan antar wanita dan pria itu membuat jantungku berdegup kencang. Suara pria itu sangat tidak asing bagiku. Antara bahagia sekaligus takut.


Sebisa mungkin aku menyelinap untuk mengindari mereka. Sudah cukup jauh rupanya.


Jujur, hati ini sangat penasaran ingin melihat wajahnya. Aku memang sangat rindu pada Pak Putra. Bolehkah aku melihatnya kali ini saja?


Dari celah-celah buku, aku berusaha melihat tanpa sepengetahuannya. Tidak berhasil. Kesal.


Aku mencoba menghindari tapi bersusah payah mata ini untuk bisa menjangkaunya. Gila. Ada apa denganku? ya Allah, beri hamba petunjuk. Apa yang harus hamba lakukan.


"Hey! ahhh ... apakah kita ini berjodoh? kenapa selalu bertemu disetiap tempat?"


Menyebalkan! aku yang sedang kebingungan dibuat kaget oleh suara Aldo yang tiba-tiba saja ada di belakang.


"Al? sedang apa kamu di sini?"


"Beli bakso."


"Ishh!"


"Gak lah! aku puasa kok. Aku lagi nyari buku lah. Gimana sih kamu?"


Aku memalingkan wajah. Bukan karena tidak suka dia ada di sini, tapi karena perasaanku sangat kacau. Aku masih gemetaran.


"Kamu sedang liat apa? lagi jadi detektif?"


"Enggak. Kenapa memangnya?"


"Ngintip siapa sih?" tanyanya penasaran. Kepalaku celingukan ke sana ke mari. Hingga mulutnya membulat dan menganggukkan kepala. Sepertinya dia melihat Pak Putra dan istrinya.


"Haruskah kita menemui mereka?"


"Ja-jangan. Untuk apa? aku tidak mau bertemu mereka sekarang."


"Kenapa? takut tidak bisa mengendalikan diri ya? nanti pas ketemu tiba-tiba berlari dan memeluk dia seperti film India."


"Lalu istri marah dan membanting kamu ke lantai. Persis seperti film ikan terbang, kamu menangis sementara laki-laki itu hanya diam dan pergi bersama wanita lain."


"Benarkah kamu itu seorang pengusaha?"


"Wuidih. Dia ragu."


"Memangnya pengusaha sukses seperti kamu punya waktu untuk liat sinetron? aku aja enggak loh."


"Itu kerjaan mami aku. Dia selalu minta aku nemenin. Katanya biar aku gak bego dan jahat kaya cowok-cowok yang si sinteron itu."


"Alhamdulillah dong, ya. Calon suami idaman."


"Makanya, kamu mau dong jadi istri aku." Dia begitu selengean. Cengengesan seperti anak sekolah. Benar-benar tidak menggambarkan sosok pengusahaan sukses. Anehnya lagi, Pak Putra yang notabene bawahan dia, malah lebih berkarisma.


"Astagfirullah ... Allahu Akbar"


"Kenapa malah kaget? Aku kan cuma minta kamu jadi istri, bukan ngajak kamu ke neraka."


"Bukan, bukan itu maksudku."


"Berarti mau?"


"Apanya?"


"Nikah."


"Melamar gini doang?"


Aldo bergerak seperti orang yang begitu semangat. "Kalau begitu, aku akan melamar kamu dengan sangat mewah dan romantis."


"Enggak! Aldo, buka itu maksudku. Gimana sih, ah!"


"Nanti aku akan umumkan pakai jet pribadi, dan bilang bahwa ..."


Tidak ingin mendengar celotehan dia. Kutimpuk saja dia dengan buku. Dia meringis meminta ampun. Masa bodo! laki-laki ini harus berhenti bicara sebelum asam lambungku naik.

__ADS_1


"Stop, Ra. Sakit."


"Biarin. Dari pada maag aku kumat denger ocehan kamu."


Aku terus mengejar dan memukul bahunya. Sampai langkah kami terhenti persisi di hadapan mereka.


Hening.


Kami hanya saling menatap satu sama lain. Aldo si cengengesan itu pun ikut terbawa suasana. Canggung.


"Apa kabar, Ra?" tanya Pak Putra. Entah kenapa mulutku seperti terkunci begitu saja. Jangankan untuk bicara, untuk membuka saja rasanya sulit.


"Wah, perutnya udah besar, ya. Berapa bulan, Mba?"


Mataku langsung bergerak melihat perut wanita itu. Dia sedang hamil. Di tangannya terdapat buku yang isinya nama-nama untuk calon bayi.


Ah! perih rasanya. Dulu, dalam rahim ini pun ada benih yang layu sebelum berkembang. Andai saat itu ... Ya Allah! ampuni hamba.


"Sudah tujuh bulan." Dia tampak sumringah. Aku melirik Pak Putra yang sedari tadi tidak berjeda menatapku.


"Al, sebaiknya kita pergi. Bukankah kita harus membeli barang untuk THR para karyawan kamu?"


Aldo bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksudku. Dia tersenyum lalu mendekat padaku.


"Kenapa kalau lagi sama kamu, aku suka lupa pada tujuan awal. Ck ck ck! rupanya titik duniaku memang kamu."


"Ya ampun, kalian itu memang cocok dan romantis banget. Sama seperti waktu pertama kita bertemu, dulu. Bedanya, waktu itu kamu terlihat sangat seksi."


Panas rasanya mendengar ucapan istri Pak Putra. Aku yang kini telah menutup semua aurat, kenapa dia malah membahas penampilan masa laluku?


"Alhamdulillah dia sudah mendapat hidayah. Manusia itu semakin tua harus semakin baik dalam segi apapun, Mba. Bukan sebaliknya. Iya kan, Mas?"


Pak Putra tidak menjawab. Dia hanya terus menatapku. Jujur, aku merasa sedikit tidak nyaman.


"Kamu apa kabar?"


Dia menanyakan hal yang sama padaku. Apa dia benar-benar ingin tau kondisiku setelah berpisah dengannya? lalu apa bedanya setelah dia tahu?


"Ba–"


"Baiklah. Hidup dia kamu tanggung. Mana ada coba, mantan suami yang masih menanggung semua biaya hidup mantan istrinya. Padahal tidak ada anak di antara mereka."


Aldo menatapku dengan mimik yang kaget.


"Astagfirullah ... Mba, jika–"


"Tenang. Mulai detik ini, saya yang akan menanggung beban hidupnya. Kalau perlu, akan saya kembalikan semua yang pernah suami Mba berikan."


"Oh, iya. Uang kamu pasti jauh lebih banyak. Secara, kamu ini bos suami saya. Baguslah kalau begitu." Wanita itu berlalu.


"Saya minta maaf atas sikap istri saya yang–"


"Tidak apa-apa. Wanita hamil memang sensitif. Aku pernah merasakannya."


Wajah Putra berubah. Dia terlihat sangat bersalah. Bibirnya terbuka dan kembali tertutup, seakan ingin bicara tapi tidak kuasa untuk terucap.


"Saya baik-baik saja, Pak."


Dia menatap, lalu tersenyum. Mendengar aku baik-baik saja, dia terlihat lega.


"Jangan hiraukan tentang biaya yang sudah saya–"


"Lebih baik dengarkan ucapan istrimu, Mas. Tidak usah takut. Aku akan mengambil alih semuanya."


Kini Pak Putra terlihat tidak suka pada ucapan Aldo.


"Tanpa kalian, aku masih bisa hidup. Bukan kalian pemilik nyawa dan raga ini. Tapi Allah."


Aku segera pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berbicara seperti merekalah pemilik hidupku. Aku akui, mereka memang kaya raya. Tapi aku, aku bisa hidup tanpa mereka. Uang bukanlah segalanya. Tidakkah mereka memikirkan perasaanku sedikit saja?


Menyebalkan!


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2