
Rasa frustasi dan putus asa, ditambah dengan keimanan yang lemah. Membuat aku dirasuki iblis. Hatiku dikuasai oleh rasa amarah. Akalku hilang.
Aku menyerahkan hidup pada siapa saja yang menginginkan aku hidup. Entah itu Aldo, atau Pak Putra. Terserah mereka mau melakukan apa saja pada diriku. Aku sudah tidak perduli lagi.
Saat bangun, aku hanya menatap langit-langit rumah sakit. Tidak mencari siapapun. Tidak perduli siapa yang ada di kamar ini. Tidak bersuara sedikitpun.
Aku sendiri bingung apa yang aku rasakan. Bencikah? Marah kah? sedih kah?
Seseorang datang menghampiri. Dengan parfum yang selalu sama.
"Kamu udah sadar? apa yang kamu rasakan?" Aldo mendekat. Dia duduk di kursi tepat disebelah kiri ku.
Sama sekali tidak ada niatan untuk menjawabnya pertanyaannya.
"Aku panggil dokter sebentar, ya. Tunggu di sini."
Lagi pula aku bisa ke mana? sejauh apapun kaki melangkah, aku hanya akan bertemu dengan dua orang yang sama.
Tidak lama kemudian datang beberapa orang berseragam serba putih. Mungkin salah satu diantaranya adalah seorang dokter, karena dia memeriksa tubuhku begitu detail.
"Hanya butuh waktu untuk membuat ya kembali normal. Jaga agar dia tidak memikirkan hal yang berat dulu untuk sementara ini."
"Apa bisa saya bawa pulang saja, Dok?"
"Secara fisik, dia memang sehat. Tapi jiwanya terganggu. Kita lihat perkembangannya sampai besok."
"Baiklah. Lakukan yang terbaik, Dok."
"Pasti. Kami akan berusaha. Kalau begitu kami permisi."
"Iya, silahkan dokter. Terima kasih."
Begitu mereka keluar, Aldo kembali mendekati. Dia selalu bertanya apa yang aku rasakan. Berbicara ini dan itu yang tidak terlalu aku dengar. Aku tidak perduli apapun yang keluar dari mulutnya.
Dia yang berbeda hari sebelumnya aku rindukan dan aku harapkan datang sebagai penolong, kini berbalik. Entah kenapa aku menjadi biasa saja padanya. Mungkin karena aku merasa muak dengan keadaan ini.
Jangankan pada Aldo, pada Tuhan saja aku merasa marah. Saat aku berusaha menjadi hamba yang lebih baik, dia malah memberiku cobaan seperti ini.
Dengan telaten Aldo mengurusku selama di rumah sakit. Menyuapi dan kadang mengelap wajahku. Membantuku berjalan saat hendak ke kamar mandi.
Hari ini dokter datang memberitahu bahwa aku bisa pulang. Setelah Aldo mengurus administrasi, petugas medis melepaskannya infus di lenganku.
"Mau aku sisir rambutnya?"
Seperti biasa, aku hanya diam. Aldo mendekat kemudian menyisir rambut dan mengikatnya.
Saat itu tidak ada baju muslim yang bisa aku pakai. Vera memberiku dress putih motif bunga dengan sebuah selendang.
Sepanjangan perjalan dari kamar rumah sakit menuju parkiran, Aldo dengan erat menggenggam jemariku. Seperti takut aku akan lari.
Di parkiran sudah ada mobil hitam Aldo dan dua lagi mobil Jeep yang mengawal dari depan dan belakang.
"Cih!"
__ADS_1
Aldo menengok saat aku berdecih. Ya, aku kesal dengan keadaan ini. Terlalu berlebihan. Apa aku akan di kurung di tempat lain?
"Apa aku akan menjadi tahanan di rumahmu kali ini?"
Aldo melepas kacamata dan berdiri sangat dekat denganku. Aku memalingkan wajah.
"Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan menjaga dan memastikan kamu aman."
"Dari apa? bukankah yang ingin menghancurkan hidupku itu kamu?"
"Semua salah paham. Kita bicarakan ini di rumah."
"Rumah yang mana? rumah mewahmu yang hampir saja menjadi saksi saat aku ternodai."
"Kamu salah faham, sayang. Ayo, kita bicarakan di rumah saja. Jangan di sini."
"Tidak! aku tidak ingin ke rumah itu lagi. Rumah itu lebih menakutkan dari rumah tua."
"Kita tidak akan ke sana. Kita ke rumah aku saja."
"Hh! ya, orang kaya memang aneh jika tidak memiliki rumah banyak. Apa mereka juga ikut? mereka yang akan menajagaku seperti seorang narapidana?"
"Mereka itu hanya bodyguard. Mereka tidak akan memperlakukan kamu seperti tahanan. Kamu bebas memerintah mereka. Bukan sebaliknya."
Benarkah? apa kali ini aku memang sebaiknya percaya pada Aldo?
"Sayang ... ayo kita pergi sebelum mas putra ke sini dan memaksamu untuk ikut bersamanya."
Dengan sedikit marah, aku masuk ke mobil Aldo. Marah pada keadaan yang tidak pernah memihak padaku.
"Kamu mulai berani menyentuh, dan aku pun diam pasrah! menjijikan."
Aku mengomel saat kami dalam perjalanan. Aldo memang tidak melepaskan genggaman tangannya. Jijik memang, karena aku tidak menepis dan membiarkannya begitu saja.
Aldo melirik. Kemudian dia kembali menatap lurus ke jalan.
Kami sampai di sebuah rumah di kawasan elit di kawasan Jabodetabek. Entah tepatnya dimana, aku tidak mengerti dan juga tidak mau tahu.
Sebuah kawasan perumahan yang berbentuk dari yang lainnya. Jika biasanya perumahan akan berdempetan satu sama lain, ini tidak. Dari satu rumah ke rumah lain itu cukup ada jarak. Mungkin panjangnya sekitar dua bis berantai.
Tidak terlalu mewah jika di bandingkan rumah orangtuanya. Hanya perumahan mewah biasa pada umumnya. Ada dua satpam yang menjaga rumah itu. Lucu memang, satpam tidak cukup, dia menambahkan enam bodyguard lainnya.
Aku turun begitu saja dan menerobos masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak terkunci. Begitu masuk, aku di sambut empat pelayan wanita. Masih sangat muda-muda.
"Apa mereka juga melayanimu di atas ranjang?"
Hanya bertanya. Aku tidak butuh jawaban dan segera mengalihkan pembicaraan lain.
"Heh! kamu!" Wanita yang menurutku paling cantik segera menghampiri. "Kamu tahu di mana kamar untukku? apa di sana banyak jeruji yang membuat aku tidak bisa kemanapun?"
"Ah, maaf, Nona ...." Dia melirik ke arah Aldo. Entah apa yang Aldo lakukan, wanita itu kemudian tersenyum setelah awal dia terlihat bingung.
"Mari, saya antar ke atas."
__ADS_1
Pelayan itu berjalan dan aku mengekor di belakangnya. Rumah bergaya minimalis modern itu terlihat sangat rapi namun, sepi. Apa rumah ini baru Aldo tempati? entahlah ....
Aku sampai ke sebuah kamar yang lumayan luas dan indah. Kamar yang di dekor elegan. Tidak banyak barang membuatnya terlihat sangat rapi.
"Nona, ini baju-baju Anda ada di sini semua." dia menunjukkan lemari pakaian padaku. Saat aku membukanya, terlihat banyak baju muslim bergelantungan di sana. Sedih, tapi aku kesal.
"Saya tidak mau pake ini. Ada yang lain?"
"Ada beberapa kaos dan celana pendek di pintu yang ini."
"Baiklah. Kamu bisa keluar, saya bisa mencarinya sendiri," ucapku ketus. Aku merasa aneh dengan sikapku belakangan ini. Tapi, ada dorongan kuat dari dalam hati unuk melampiaskan semua kemarahan yang terpendam. Aku melampiaskan kemarahanku pada semuanya.
Merasa tubuh masih belum fit, aku berjalan menuju tempat tidur. Berusaha memejamkan mata yang tidak terasa ngantuk hingga akhirnya aku kembali tidak ingat apa-apa.
Terdengar samar suara azan. Perlahan aku membuka mata. Melihat gorden yang tadinya terbuka, kini sudah tertutup.
Bangun dengan kepala yang masih terasa berat, aku berjalan menuju kamar mandi. Mengguyur tubuh dengan air hangat. Berharap, setelah mandi bisa merasa sedikit segar.
Selesai mandi dan berpakaian, aku melihat jam di ponsel, rupanya azan tadi panggilan untuk salat magrib. Aku ingin salat, tapi tidak menemukan mukena. Terpaksa dengan perasaan dongkol, aku keluar. Berteriak pada pelayan untuk mengambilkan aku mukena.
Tidak berselang lama, Aldo datang. Membawa paper bag.
"Ini, maaf aku belum mempersiapkan ini sebelumnya."
"Iyalah! orang macam kamu itu mana ngerti salat." Aku mengambil paper bag itu dengan kasar. Masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu dengan keras.
Salatku tidak seperti dulu–khusyuk, kali ini aku melakukannya hanya sekedar memenuhi kewajiban. Bahkan kadang ada rasa tidak ikhlas saat melakukannya.
Aku benci dan marah dengan sikapku sendiri akhir-akhir ini. Jauh dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ingin sekali rasanya bersikap seperti dulu. Hanya saja ... rasa kecewa yang terlalu dalam membuat aku muak!
"Ra ... boleh masuk?"
Itu Aldo. Aku tidak menjawab, karena tau dia akan memaksa masuk.
"Ra, makan dulu yuk. Nanti sakit lagi."
Mulutku enggan untuk mengatakan spatah katapun. Aldo mendekat. Dia duduk di lantai, tepat di sampingku yang sedang meringkuk di atas sajadah, lengkap dengan mukena yang masih menempel.
"Kamu kenapa?" dia kaget saat melihat wajahku yang sudah basah dengan air mata. Tangannya mengusap perlahan.
"Kalau ada apa-apa, cerita. Jangan dipendam sendiri. Aku akan melakukan apa saja untuk membantu kamu. Ra ...."
Aku meliriknya. Wajahnya terlihat cemas. Aku memalingkan wajah.
"Sayang ... ada apa? kalau kamu tidak mau cerita, tak apa. Tapi makan dulu, ya." dia merengkuh pundakku. Nyaman.
"Aldo. Ayo kita menikah."
🌺🌺🌺🌺🌺
Aldo
__ADS_1