
Aku dan kami semua menoleh ke arah suara. Dia wanitaku. Berdiri dengan dua kantung keresek berisikan jajanan pasar.
"Saya pernah hamil tapi keguguran. Itu artinya saya tidak mandul. Saya subur dan bisa punya anak."
Aku berdiri saat yang lain hanya menghela nafas panjang. Meledek.
Mahira menghampiri dengan senyuman namun, matanya berlinang. Bibirnya merekah tapi bergetar. Saat berada tepat di hadapanku, dia menaruh barang bawaannya. Memeluk tubuhku erat lalu kemudian menangis.
Kupeluk erat. Membelai kepalanya lembut.
"Mas ...." lirihnya.
"Jangan takut sayang, tidak akan terjadi apa-apa pada pernikahan kita. Aku tidak perduli bahkan jika–"
"Aku hamil."
Nafasku seperti berhenti begitu saja. Aku jelas mendengar apa yang dia ucapkan barusan. Bahkan, Mami bisa mendengar dan dia berdiri dengan wajah yang sumringah sambil terus mengusap wajahnya. Bersyukur.
"A-apa sayang?"
Mahira melepaskan pelukanku. Tangannya menempel lembut di wajahku.
"Kita akan memiliki anak, Mas. Aku hamil." Ujarnya bahagia. Matanya berbinar-binar meski berlinang air mata.
Aku bersorak tanpa memperdulikan situasi dan kondisi saat itu. Aku berteriak kegirangan seperti bocah yang mendapatkan hadiah. Ya! aku pun mendapat hadiah dari Allah.
__ADS_1
"Papi dengar? itu artinya, kalian semua silahkan pulang."
Aku menggendong Mahira menuju kamar. Meninggalkan mereka yang entahlah ... aku tidak perduli.
Aku membaringkan Mahira di atas kasur dengan perlahan. Tidak ingin sesuatu terjadi pada anak kami. Dia harus tumbuh dan lahir dengan selamat.
Mahira masih saja menangis, aku tahu, dia terharu. Aku menatapnya lekat. Mengusap Ari matanya.
"Kamu bahagia, Mas?"
Aku mengangguk sebelum mencium kedua pipi dan keningnya.
"Mulai sekarang, jangan cape-cape. Jangan banyak gerak. Harus lebih hati-hati lagi."
"Iya, Mas."
"Iya, Mas."
"Kamu mau apa saja, bilang sama aku. Akan aku penuhi semuanya. Jangan malu-malu."
"Iya, Mas."
"Kalau ada yang berasa gak enak, bilang. Jangan menahan apapun. Ada yang mengganjal di hati, terus terang saja. Pokonya–"
"Peluk, Mas."
__ADS_1
Ah! aku terlalu banyak bicara.
Aku memeluk tubuhnya. Kemudian ikut berbaring disampingnya. Tangan kami saling bertautan dan saling menatap penuh kebahagiaan."
"Sejak kapan kamu menyembunyikan berita ini? apa ini sebuah kejutan untuk kami semua?"
"Bukan. Aku juga baru tahu hari ini. Tadi sebelum ke pasar, aku pergi ke sebuah klinik karena ingat sudah lama tidak haid."
"Begitu."
"Alhamdulilah hasilnya memuaskan. Aku beli banyak kue untuk menyambut tamu. Eh, tamunya datang duluan." Dia memajukan bibirnya kesal.
"Terima kasih, sayang."
"Aku juga. Terima kasih untukmu yang banyak berkorban untuk hubungan kita. Terima kasih karena telah mencintaku. Terima kasih telah menjadikan aku wanita yang berharga."
"Sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkan kamu untuk dan demi siapapun. Termasuk demi papi."
"Terus? apa papi akan merestui pernikahan kita?"
"Pasti. Meski ini tidak akan membuat dia bahagia, tapi papi itu orangnya bisa dipercaya. Dia bukan orang yang akan ingkar janji untuk apa yang telah dia ucapkan."
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Kita akan memiliki anak dan juga aku diterima di keluarga kamu, Mas."
Entah seperti apa kata yang bisa menggambarkan perasanku saat ini. Jika ada kata yang lebih indah dari BAHAGIA, mungkin itulah yang aku rasakan saat ini.
__ADS_1
Terima kasih ya Allah.
🌺🌺🌺🌺🌺