
Putra pulang dalam keadaan tidak bersemangat. Langkahnya gontai saat masuk ke dalam rumah. Hari ini, adalah hari pertama dalam hidupnya pulang kerja selarut ini.
Langkahnya terhenti begitu melihat sosok wanita bertubuh mungil itu meringkuk tidur di atas sofa. Tanpa selimut dan bantal.
Wajahnya nampak sendu. Polos dan tentu saja cantik. Kakinya beringsut dan tangannya dia tarik lebih dalam ke pelukannya. Dia kedinginan.
Hati Putra merasa perih melihatnya. Bukan karena dia tertidur dalam keadaan kedinginan. Wanita lugu yang tidak tau apa-apa itu harus menerima kenyataan pahit di kemudian hari. Bahwa suaminya telah menemukan cintanya yang lama pergi. Mahira akan tersakiti lebih dalam.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Bisik Putra.
Dia berjalan menghampiri istrinya. Ingin membangunkan tapi tidak tega melihatnya tertidur lelap. Akhirnya Putra membopong tubuh Mahira yang memang terasa ringan untuknya. Menidurkan Mahira dengan perlahan lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Rasa bersalah menyelimuti hati Putra saat dia menatap wajah wanita itu semakin lama.
"Maaf. Aku tidak bisa menjaga hatimu sampai akhir."
Putra melepas pakaiannya saat berada di kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Begitu air turun, uap menyeruak menutupi dinding kaca yang melindungi tubuhnya. Dia kembali teringat pada sosok Ririn, wanita yang kini telah menjadi singel kembali.
"Suamiku meninggal sudah dua tahun lamanya. Aku kembali ke sini berharap bisa bertemu denganmu dan melanjutkannya kisah kita yang tertunda."
Kalimat yang terlontar dari mulut Ririn seperti air hujan yang sudah lama dinantikannya Putra. Hatinya yang kering dan hampa selama ini menjadi kembali bersemi begitu saja. Bersama Ririn untuk beberapa jam lamanya membuat dia lupa akan statusnya saat ini.
Dia yang telah lama merana kembali menemukan kebahagiaannya. Mereka pergi ke berbagai tempat yang dulu pernah mereka singgahi. Bernostalgia.
Putra yang selalu bicara seadanya mendadak menjadi orang seperti Mahira, cerewet. Untuk ukuran laki-laki dia memang sangat bawel. Hanya pada Ririn. Tentu saja.
"Kenapa diam?" tanya Ririn saat mereka memasuki sebuah mall. Mall yang pernah dia dan Mahira kunjungi. Dimana saat itu Mahira ketakutan saat menaiki lift. Putra sadar akan statusnya saat ini. Dia menjaga jarak dan kembali menjadi pendiam.
Dengan alasan tidak enak badan. Putra meminta izin pulang, juga meminta maaf karena tidak bisa mengantar kekasih hatinya pulang. Ririn merasa heran dan bertanya-tanya. Namun, dia teringat akan kejadian saat di kantor. 'Mungkin ada masalah pekerjaan' begitu pikirnya.
Sepanjang perjalanannya Putra merasa sangat frustasi. Dia sangat bahagia dan senang bisa kembali bertemu dengan wanita yang sampai detik ini dia cintai. Terlebih wanita itu kini tengah sendiri. Hanya saja, hati kecil Putra berkata, bahwa Mahira tidak layak tersakiti oleh perasaannya untuk Ririn. Hubungan Putra dengan Ririn tidak boleh berlanjut apa lagi di belakang Mahira, pengkhianatan namanya. Dosa.
Tapi ....
Kondisi ini benar-benar membuat dia sangat kalut dan marah pada kondisi dan situasi yang sama sekali tidak berpihak padanya.
"Bagaimana kalau emak tau?" Putra semakin kalut.
"Pak ... kenapa mandinya lama sekali? ini sudah malam nanti masuk angin. Saya bawakan handuk, ayo kita keluar."
Suara Mahira membuyarkan lamunannya. Dia mengatur nafasnya yang sedari tadi terasa sesak.
__ADS_1
"Simpan saja. Nanti saya keluar sendiri."
"Ooh, baiklah. Jangan lama-lama di sini, saya tunggu di luar ya."
"Mahira."
"Ya." Langkah Mahira terhenti.
"Mendekatlah."
"Kenapa? Bapak mau minta jatah malam ini? jangan ya, saya sedang datang bulan soalnya."
"Mendekat saja."
Mahira ragu. Mengingat suaminya dalam keadaan telanjang. Dia baru berani melangkah mendekat setelah melihat dengan samar Putra melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kenapa, Pak? ada yang bisa saya bantu?" tanya Mahira sembari memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah suamiku yang tertunduk.
Putra mengangkat wajahnya. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan wajah bersedih. Matanya berlinang tapi tidak meneteskan air mata.
Mahira kaget melihat raut wajah Putra. Dia bingung harus berbuat apa karena tidak tau apa yang terjadi pada suaminya.
Putra mendekat lalu kemudian memeluk istrinya dengan penuh penyesalan. "Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut Putra.
"Mahira, saya benar-benar minta maaf. Seharusnya kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari saya. Saya tidak bisa memberikan hati ini untukmu."
"Orang yang menikah karena mereka saling mencintai saja bisa cerai, karena mereka tidak sebaik Bapak. Mereka tidak bisa memenuhi kewajiban dan hak mereka. Mereka tidak saling menjaga dan menghargai satu sama lain. Meski Bapak tidak mencintai saya, tak apa. Yang penting Bapak bisa menghargai pernikahan kita dan menghargai saya sebagi istri Bapak."
Mendengar ucapan Mahira, Putra merasa tertampar. Bagaimana dia bisa menghargai pernikahan mereka padahal baru saja dia berjalan dengan wanita lain tanpa memberitahukan statusnya. Apa itu salah satu sikap menghargai pernikahan? bukankah itu adalah sebuah pengkhianatan, terlebih Putra pergi dengan wanita yang dia cintai. Semakin dalam penyesalan dalam hati Putra.
'Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri, berada dekat Ririn membuatku sangat bahagia. Tapi ....'
Putra mengeratkan giginya. Meredam amarah pada diri sendiri. Sebagai laki-laki dia merasa tidak bisa memegang ucapannya. Plin-plan.
"Ayo, kita keluar. Nanti Bapak sakit karena kedinginan."
"Iya, ayo kita keluar. Apa bisa kita minum teh malam ini? saya tidak ingin tidur."
"Tentu saja. Apapun yang Bapak minta akan saya lakukan meski Bapak meminta nyawa saya sekalipun."
__ADS_1
"Apapun?" tanya Putra dengan tatapan penuh telisik.
"Ya, apapun. Kecuali memberikan status saya saat ini pada orang lain. Saya tidak marah Bapak mencintai dia, asalkan jangan jadikan dia istri bapake yang kedua."
"Kalau saya memaksa?"
"Dari pada berbagi, saya lebih baik melepas."
Mahira berlalu meninggalkan Putra di kamar mandi. Putra masih berdiri mematung untuk beberapa menit sampai terdengar suara dari luar, bahwa pakaian Putra telah di siapkan.
Begitu selesai berpakaian, Putra turun. Dia berpapasan dengan Mahira yang membawa nampan berisikan teko kecil dan dua cangkir yang masih tertelungkup.
"Sini, saya bawakan."
"Ya, kita minum teh di balkon saja. Saya kembali ke dapur untuk membuat tempe mendoan."
"Ya."
Putra mengambil nampan dan berjalan ke atas, sementara Mahira pergi ke dapur untuk membuatnya tempe mendoan.
Mahira membuat adonan terigu yang telah dia campur dengan bumbu ulek. Setelah adonan siap, Mahira mengambil beberapa batang daun bawang lalu mengirisnya. Pikiran yang kalut membuat dia tidak sengaja mengiris jarinya sampai berdarah. Dia segera mencucinya di air mengalir. Perih.
Mahira meneteskan air mata. Namun, rasa sakit yang ada dalam hatinya jauh lebih sakit. Rasa sesak itu kembali menyerang begitu hebatnya. Dia merasa bahwa suaminya akan pergi dari dirinya.
Dia memang berjanji pada diri sendiri untuk tidak meminta lebih pada suaminya. Hanya saja, membayangkan Putra berdekatan dengan wanita lain sangat membuatnya tersiksa. Mahira takut wanita yang dicintai suaminya akan merebut Putra darinya.
Sungguh, Mahira tidak ingin kehilangan suaminya.
"Kenapa?" suara Putra mengejutkan Mahira. Segera dia menghapus air matanya sebelum berbalik.
"Tangan saya terluka, tidak sengaja teriris pisau."
"Coba saya lihat." Putra mendekat, lalu menarik jemari Mahira. Putra melihat dengan detail luka Mahira.
"Pak."
"Ya. Kenapa? apa masih sakit?"
"Apa Bapak akan menikahi wanita itu?"
__ADS_1
Putra menelan ludah mendengar pertanyaan dari Mahira. Jawaban apa yang harus dia berikan. Haruskah dia menjawab seperti isi hatinya, atau menjawab seperti yang diinginkan hati Mahira?
🌺🌺🌺🌺🌺