Membeli Istri

Membeli Istri
part#26


__ADS_3

"Kenapa gadis yang bersama aldo seperti tidak menyukaiku?" tanya Ririn saat hendak pulang bersama Putra.


"Jangan dipikirkan."


"Aku merasa aneh, Mas. Tatapannya padaku seperti harimau yang ingin menerkam anak kambing."


"Kamu terlalu berlebihan."


"Tapi Aldo manis sekali, ya! dia memperlakukan kekasihnya begitu lembut, tidak seperti biasanya. Apa kali ini Aldo benar-benar jatuh cinta padanya."


"Sudahlah, untuk apa kita membahas orang lain?" Putra sedikit kesal.


"Loh? kenapa, Mas? biasanya kamu akan antusias kalau sudah menyangkut Aldo. Dia kan sudah seperti adik untuk kamu. Kenapa sekarang tiba-tiba kesal." Ririn merajuk. Dia menyilangkannya kedua tangannya di dada. Wajahnya tampak kesal dengan bibir yang mengerucut. Putra diam. Tidak seperti biasanya yang akan langsung membujuk Ririn.


"Iiiih. Kamu kenapa sih? aku marah kok diem aja." Ririn semakin kesal.


"Sebentar lagi sampai. Aku langsung pulang saja."


Ririn benar-benar jengkel di buatnya. Jika Putra sebuah kerupuk, ingin rasanya dia mencelupkannya pada air agar meleleh. Begitu sampai di depan apartemen, Ririn turun dan membanting pintu mobil. Putra berlalu begitu saja.


"Hah? benarkah itu dia?" Ririn heran dan juga marah.


*****


"Kita sudah sampai. Haruskah kita masuk atau kamu turun saja di luar gerbang?"


"Kita masuk saja. Itu lebih sopan bukan?"


"Mas putra?"


"Dia sudah terlanjur tau bukan? kenapa harus bersikap seperti pengecut? kita tidak melakukan apa-apa."


Pintu gerbang terbuka begitu Aldo menekan klakson mobilnya. Satpam membungkuk saat melihat Aldo, mereka memang sudah mengenal Aldo dengan baik.


Aldo dan Mahira melihat sosok Putra sedang berdiri di depan pintu dengan tangan yang dia masukkan ke saku celana. Tatapnya dingin. Aldo merasa bersalah karenanya sekaligus takut.


Mobil berhenti tepat di depan Putra. Laki-laki itu melirik sekilas belakang mobil Aldo yang rusak. Dia tidak bertanya. Pun saat Mahira turun dengan baju putihnya yang penuh dengan darah.


"Terima kasih, Do."


"Mas, aku bisa jelaskan semuanya kalauโ€“"


"Pulanglah, ini sudah larut."


"Oh, begitu. Baiklah, aku pamit. Selamat malam." Aldo benar-benar merasa tidak enakn hati.


Mahira berjalan melewati Putra begitu saja. Namun, langkah'terhenti saat tangan Putra menariknya dengan kencang.


"Ada apa? kenapa bajumu berdarah?"


"Bukan apa-apa." Mahira berusaha melepaskan cengkraman Putra.


"Tunggu dulu, Mahira. Saya belum selesai bicara."

__ADS_1


Mahira pun diam.


"Apa ini sebuah balas dendam?"


Mahira menengok, dia menatap Putra dengan kesal.


"Maksud saya, kenapa kamu bisa pergi bersama Aldo?"


"Apa saya juga harus bertanya kenapa Bapak pergi bersama Ririn?"


"Mahira, jaga sikapmu sebagai seorang istri dan wanita. Kamu baru mengenal Aldo kenapa langsung mau pergi bersamanya?"


"Kita bahkan tidak saling mencintai tapi bisa menikah dan tidur di bawah selimut yang sama. Bukankah ini lebih konyol? saya dan Aldo hanya pergi untuk bertemu dengan teman-temannya. Termasuk bertemu dengan bapak dan CALON ISTRI Bapak." Ucap Mahira penuh tekanan.


"Dengar, saya mohon ... jangan sama Aldo."


"Kalau saya meminta Bapak jangan sama Ririn?"


"Mahira, ini beda cerita. Bukan itu maksud saya."


"Pak, istri itu hanya makmum yang mengikuti imam. Sudahlah, saya lelah ingin istirahat."


Mahira menarik tangannya dari cengkeraman Putra. Dia pergi meninggalkan Putra yang masih berdiri di depan pintu.


*****


"Apa hidungmu masih sakit?" tanya Putra saat sarapan. Mahira menggeleng. Dia fokus pada sandwich yang sedang dia kunyah.


"Kenapa kalian bisa kecelakaan?"


"Lalu?"


"Entahlah, karena Aldo saat itu sempat di pukul beberapa kali, tapi dia langsung panik dan pergi begitu saja saat melihat darah mengucur dari hidung saya. Yaaa ... paling tidak masih ada orang yang begitu paniknya melihat saya yang hanya mimisan."


"Mahira ...." Lirih Putra.


"Nanti siang mau makan apa? biar saya masakin. Hari ini libur kerja, apa Bapak mau pergi bersama calon istri Bapak? kalau begitu saya tidak perlu repot-repot memasak bukan? nanti dia akan memasak telur ikan yang lezat untuk Bapak." Mahira menyindir Putra.


"Tidak. Saya tidak akan kemana-mana hari ini atau pun besok."


"Oh. Kalau begitu, saya akan belanja untuk makan siang dan malam nanti."


"Saya antar kamu belanja."


"Tidak perlu. Saya akan pergi bersama para pekerja di sini. Saya akan membelikan mereka beberapa baju di pasar."


"Boleh saya ikut?"


"Silakan saja, tapi harus hati-hati agar kita tidak ketahuan Ririn. Kasian dia akan sakit hati seperti saya waktu itu. Permisi, saya mau mandi dan siap-siap dulu."


Mahira pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Putra segera menyusul istrinya.


Mahira masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan menggosok gigi setelah sarapan tadi. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka keras hingga menimbulkan bunyi yang membuat Mahira terkejut. Dia menengok dengan sikat gigi yang masih ada dalam mulutnya.

__ADS_1


Putra masuk. Mereka diam saling menatap.


"Ada apa, Pak?" tanya Mahira dengan busa yang memenuhi rongga mulutnya.


"Jangan seperti ini."


"Maksudnya?"


Putra menatap lekat Mahira sebelum dia pergi. Melihat wajah Putra sangat marah, Mahira segera berkumur dan mengikuti suaminya keluar.


Putra melangkah dengan cepat menuju garasi mobil. Dia pergi.


"Mau kemana dia? kenapa terlihat begitu marah? Pak Misran! ayo kita kejar Bapak. Pakai mobil yang mana saja!"


Pak Misran dengan sigap mengambil mobil yang sedang di panaskan Sumarno, supir yang khusus untuk mengantarkan para pekerja pergi.


Mahira yang masih mengenakan daster pendek itu begitu cemas. Dia melihat Putra sangat marah. Wajahnya murka dengan mata berlinang dan merah.


Beruntung pak Misran bisa mengejar meski mereka berada cukup jauh. Yang penting masih bisa terlihat dan bisa diikuti.


"Ini seperti jalan menuju rumah mba wiwin."


"Benarkah? syukurlah kalau begitu. Paling tidak, dia pergi ke tempat yang benar."


"Ada apa lagi Neng? berantem lagi sama Bapak?"


"Iya, Pak. Saya bingung sebenarnya, harus bertahan ataukah saya harus menyerah di tengah jalan."


"Jangan begitu, bagaimanapun juga Neng itu istrinya, lebih berhak dari siapapun. Ikatan yang sudah di ridhoi Allah itu tidak bisa begitu saja di putuskan oleh siapapun."


"Tetep aja Pak. Suami saya tidak ...."


"Udah nikah mah, cinta itu udah gak penting Neng. Kalau sakinah sudah tidak ada, masih ada mawadah dan warohmah." Pak Misran memang tahu banyak. Dia adalah pekerjaan yang berumur cukup tua di rumah. Sedikit banyak dia tau bagaimana keadaan rumah tangga majikannya. Terlebih, dia sering mendengar Putra berbicara di telpon dengan wanita lain di malam hari, tak lain wanita itu adalah Ririn.


"Kita sudah sampai, itu mobil bapak ada di depan rumah mba wiwin. Kita ikut masuk atau tidak?"


"Jangan, Pak. Kita pulang saja. Saya tenang kalau dia ada di sini."


"Baik, Neng."


Mahira kembali pulang ke rumahnya. Meninggalkan Putra yang kini sedang berbicara dengan Wiwin dan Hasan. Mereka berdua adalah tempat berbagi cerita saat dia sedang galau.


*****


"Kenapa tidak kamu coba saja berbicara jujur pada Ririn tentang statusmu. Kita lihat apa reaksinya."


"Harus begitu?"


"Ya. Kalau dia masih menerima kamu, ya tinggal tentukan, kamu mau milih siapa? kalau Ririn tidak terima itu artinya kamu memang di takdirkan untuk Mahira."


"Sebaiknya, kamu lakukan apa yang Wiwin sarankan, selain kita tahu apa reaksi Ririn, kamu juga jangan terlalu la menutupi ini. Sekarang Mahira pasti sudah banyak menderita, pun kamu. Dan mungkin Ririn pada akhirnya. Selesaikan lebih cepat, itu lebih baik." Hasan menambahkan.


Putra terdiam. Kepalanya terasa sakit tak tertahan. Otaknya terus berpikir tentang apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2