Membeli Istri

Membeli Istri
part#41


__ADS_3

Di setiap sepertiga malam, aku pasrah bersujud pada sang ilahi. Menyerahkan seluruh nafas, jiwa dan ragaku hanya pada-Nya. Kepada-nya lah sebaik-baik kita bercerita. Sebaik-baik pertolongan.


Seperti biasa, suasana di sini begitu hening. Dan aku mendengar suara rintikan hujan di luar. Pantas saja, cuacanya terasa begitu dingin.


Selesai berdoa dan berdzikir, aku selalu keluar untuk menikmati keindahan malam sambil menunggu azan subuh berkumandang.


Ternyata di luar lebih dingin daripada di dalam kamar yang memakai AC. Hujan sudah sedikit mereda. Aku hanya duduk sebentar di kursi yang ada di depan kamar karena ponselku berbunyi.


Untuk sekedar menelan ludah saja rasanya begitu sulit saat aku melihat pengirim pesan singkat itu. Dengan sedikit ragu tapi juga bahagia, aku membukanya.


[Kamu pasti terjaga bukan?]


[Sudah aku duga.]


[Sebelumnya maaf telah menganggu dzikir dan doamu malam ini. Semoga kamu selalu diam keadaan baik.]


[Mahira, hiduplah dengan bahagia. Lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Semua sudah berlalu, semua sudah berakhir. Carilah kebahagiaan kamu yang seharusnya kamu dapatkan. Kamu berhak mendapatkan apa yang tidak bisa saya aku berikan sebelumnya. Hiduplah dengan tenang.]


Aku melongo membaca pesan dari Pak Putra. Sedih dan sakit rasanya mendapatkan pesan itu. Apa hak dia menyuruhku melupakan apa yang tidak ingin aku lupakan. Cukup dengan dia kubebaskan dan menikah dengan wanita yang aku cintai. Dulu, dia mempersilakan aku untuk mencintai dirinya. Bukankah dia pernah berkata bahwa ... apa dia benar-benar sudah tidak memedulikan aku lagi? ahh, lagi pula siapa aku ini? aku bukan siapanya lagi, kini.


Hanya saja, aku merasa benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Dadaku terasa sesak. Marah dan juga kesal. Ingin rasanya aku menelpon dan memaki dirinya. Sungguh keterlaluan!


Selama ini aku tidak pernah mengusiknya. Bahkan, aku selalu mendoakan kebahagiaannya. Lalu dia?


Sejenak aku berpikir. Aku akan membalas pesannya. Namun, aku harus tetap tenang dan tidak terbawa suasana.


Baru saja jari ini akan mengetik sebuah pesan, tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara ketukan pintu, keras dan seperti terburu-buru.


"Mba, mba. Buka pintunya."


"Mba Kaysha? malam-malam begini?" aku menyimpan ponsel begitu saja dan segera berlari untuk membuka pintu.


"Kenapa, Mba?"


"Ada nomor Mas Aldo? tolong segera telepon dia. Bu Ranti kalau malam-malam begini suka mematikan ponselnya."


"Iya, ada. Kenapa memangnya? ada apa?"


"Nek Laila, dia tiba-tiba ambruk, udah cepet telpon saja dulu."


"Kenapa gak sebaiknya di bawa ke rumah sakit dulu aja? rumah Aldo ke sini itu jauh. Lebih baik selamatkan dulu saja Nek lailanya."


"Bener, bener. Ayo, kita bawa Nek Laila ke rumah sakit dulu."


Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel dan tas. Siapa tau nanti ada sesuatu.


Aku, Mba Kaysha, Pak Raden dan Pak Udin segera membawa Nek Laila ke rumah sakit terdekat.


Namun, sesampainya di sana, kami tidak bisa masuk semua. Hanya pasien dan satu orang penjaga saja. Kami memutuskan, Mba Kaysha yang mendampingi Nek Laila, karena dia yang paling dekat dengannya.


Kami tinggal bertiga menunggu di luar. Segara ku telepon Aldo agar segera datang ke rumah sakit.


Sebanyak tiga kali aku mencoba menelpon Aldo, dan pada akhirnya dia mengangkat panggilanku.


"Aldo, masih tidur? Al, kamu cepetan datang ke rumah sakit yang deket yayasan, ya. Nek Laila di bawa ke sini."


"Apa? kenapa dia? apa sekarang dia baik-buruk saja?"

__ADS_1


"Aku gak tau, aku di luar. Hanya satu orang yang boleh masuk. Mba Kay yang menemani Nenek di dalam. Kamu bisa kan datang ke sini."


"Iya, aku akan segera datang."


"Al, Al, tunggu sebentar."


"Ya, kenapa?"


"Kamu, nyetirnya hati-hati, ya. Kalau bisa jangan sendiri."


Hening.


"Terima kasih."


Aku menutup pembicaraan kami. Aku berdoa dalam hati agar Aldo selamat sampai ke sini.


"Mba Mahira, Pak Aldo sudah bisa di hubungi?" tanya Pak Raden.


"Udah, Pak. Dia sedang menuju ke sini."


"Oh, syukurlah kalau begitu. Semoga tidak ada halangan dan dia cepat sampai."


"Aamiin."


Azan subuh berkumandang. Membahana di cakrawala. Memberikan kehangatan di tengah rasa dingin yang menusuk sampai sum-sum tulang. Tidak lama kemudian, Aldo datang. Dia bersama dua orang temannya. Dia menuruti apa yang aku minta? ahh ... Aldo.


"Gimana keadaan Nenek?" Aldo menghampiri Pak Raden. Tentu saja, Pak Raden adalah ketua yayasan yang juga tinggal di sana. Orang kepercayaan Bu Ranti. Mereka tampak serius. Aldo mendengarkan dengan seksama saat Pak Raden menjelaskan kronologis Nenek Laila. Tampak jelas di wajahnya kalau dia begitu cemas dan khawatir.


Dia berkacak pinggang. Memijat pangkal hidung lalu menggaruk kepalaku kasar. Dia benar-benar terlihat takut.


Dia sadar sedari tadi aku menatapnya tanpa jeda. Lalu melirikku. Segera ku palingan wajah. Mengindari agar rasa grogiku tidak dia lihat.


"Pakai ini, kamu pasti kedinginan di luar sini sejak tadi." Dia memberikan jaketnya padaku. Bukan hanya memberikan, dia langsung memakaikannya. Aku canggung, tapi tidak menolak.


"Apa kamu sedang salat malam sebelum ke sini?" dia kembali bertanya. Mungkin karena melihatku masih memakai mukena. "Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu kalau begini?" Aku segera menundukkan pandangan. Selain mengindari ucapannya, aku pun merasa malu karena dilihat orang-orang saat itu.


"Aku mau salat subuh dulu. Permisi."


"Tunggu. Kita salat berjamaah saja. Itu jauh lebih baik bukan?"


Aku hanya mengangguk tanpa menoleh. Aldo mengekor hingga kami sampai di mushola. Ternyata bukan hanya kami yang salat saat itu. Tebakanku yang mengira dia ingin menjadi imam, ternyata tidak akan terjadi. Sudah ada orang lain yang berdiri di tempat imam. Tak apa. Aneh, kenapa aku merasa sedikit kecewa?


Usai salat subuh, kami kembali ke depan UGD rumah sakit. Sepertinya hari ini kami akan menjalankan puasa tanpa sahur. Semoga kuat.


"Dia itu Nenek dari almarhum sahabatku." Aku menoleh saat kami duduk di sebuah trotoar sebuah parkiran yang tidak jauh dari UGD.


"Namanya Anggi. Dia meninggal dalam kecelakaan. Neneknya tinggal sendiri, untuk itulah aku membawanya ke yayasan. Pikiran Nek Laila kacau setelah di tinggal Anggi. Aku harus bekerja keras agar dia kembali normal dan ... hasilnya seperti sekarang ini."


"Paling tidak, Anggi memiliki Nenek yang mencintai dia. Itu lebih baik dari hidupku. Memangnya, orang tua Anggi ke mana?"


"Mereka meninggal saat Anggi masih kecil."


"Innalilahi ...."


"Memangnya, hidup kamu kenapa? yang aku tahu, Anggi itu sangat sedih hidupnya meski dia begitu tegar dan ceria. Dia tangguh dan tidak pernah putus asa. Energik dan selalu menebarkan aura positif pada orang sekitarnya."


"Dia wanita?"


"Ya. Diaโ€“"

__ADS_1


"Oh." Aku menyela hanya dua huruf. Aku tidak tahu kenapa intonasi suaraku sangat tidak enak didengar bahkan oleh telinga ini. Aldo menatap penuh selidik. Dia mungkin heran dengan sikapku.


"Aku dan dia hanya dekat sebagai teman. Tidak lebih."


"Lebih pun tak masalah. Semua orang berhak punya masa lalu. Baik buruknya itu, yang paling penting bagaimana dia menjalani hidup di masa ini dan masa yang akan datang."


Aldo masih menatap. Matanya menyipit dengan alis yang hampir menyatu. Aku sendiri bingung harus bagaimana.


Saat ponsel berbunyi pun, dia masih menatap.


"Ya, Hallo .... baiklah. Saya segera ke sana."


"Siapa?"


"Kay, aku harus masuk ke dalam."


"Ya."


Aku memandangi punggung laki-laki itu sampai dia tidak terjangkau lagi oleh mata.


"Maaf ...." Seseorang mendekat. Dia orang yang datang bersama Aldo. Mungkin temannya. Pastilah, ya.


"Ya, kenapa, Mas?"


"Anda ini istrinya Pak Putra bukan?"


"Ya?" Aku balik bertanya. Kaget.


"Iya, saya pernah melihat Anda waktu datang ke kantor bersama Pak Putra."


Ya, dulu aku pernah sekali ke kantor Pak Putra. Semua orang yang kebetulan berpapasan menyapa dan bertanya tentang siapa wanita yang saat itu terus menggenggam tangan Pak Putra.


"Ini istri saya." Begitulah Pak Putra mengenalkan aku pada mereka saat itu.


"Sedang apa Ibu di sini? Bapak ke mana?"


"Itu ... emm saya sudah bukan istrinya lagi sudah lama."


"Oh, saya kira Ibu masih istrinya dan Pak Putra poligami. Soalnya waktu itu, sempatkan beberapa kali istri barunya mampir ke kantor, cuma pas ada yang tanya soal Ibu, Pak Putra menjawab seolah kalian baik-baik saja.


"Begitu, ya."


"Kok, Ibu bisa sama Aldo? apa kalian ...."


"Tidak, bukan seperti itu. Saya bekerja di yayasan."


"Wah, saya kira kalian ada hubungan spesial. Soalnya belakang ini Aldo tampak beda. Dia lebih bijak dan udah jadi anak Soleh. He he he."


"Alhamdulilah."


"Nikah aja sama Aldo, gak dapet emas, bisa dapat berlian. Itu kan menguntungkan."


Entah apa maksud perkataannya. Hati ini tiba-tiba kesal dan bergemuruh. Aku hanya bisa diam menahan amarah. Entah apa maksud dia berbicara seperti itu. Aku hanya tidak suka jika dia membicarakan masalah kekayaan antara Pak Putra dan Aldo.


Lagi-lagi aku merasa sangat hina. Setelah Pak Putra dan Aldo berebut ingin menafkahi aku yang bukan siapa-siapa mereka. Dan sekarang?


Ada apa dengan hari ini? dini hari sudah dapat pesan yang tidak mengenakan hati, dan sekarang?


Astagfirullah ... ya Allah.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2