
Rumah sudah didekorasi begitu indah. Dipenuhi bunga-bunga berwarna putih dan merah muda. Entah sejak kapan emak sudah mempersiapkan baju untuk Mahira. Ah! itu sudah seharusnya tidak ditanya. Bukankah ini semua rencananya? begitu pikir Putra saat melihat emak asik mendandani Mahira saat mencoba memakai kebaya untuk kami bertukar cincin nanti.
Persiapan yang sama sekali tidak pernah Putra cek sama sekali. Keributan di bawah sana tidak sekalipun dia pedulikan. Dia asik dengan pikirannya sambil memandangi awan yang sedikit buram. Mungkin sore atau malam nanti akan turun hujan. Semoga tidak turun saat acara berlangsung. Pinta Putra dalam hati.
Meski dia tidak menginginkan semua ini terjadi, tapi jika acara berantakan pastinya akan membuat emak kecewa. Ya, hanya emak yang selama ini Putra pikirkan.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah melaksanakan tiga rakaat, Putra segera bersiap. Tidak ada persiapan khusus untuknya. Toh jas dia banyak dan mahal. Pakai yang mana saja tidak masalah. Hanya kemeja berwarna merah muda yang emak persiapkan.
"Merah muda itu warna kesukaan Mahira," jawab Emak saat Putra bertanya tentang warna kemejanya.
Terdengar ketukan pintu sebanyak tiga kali. Setelah Putra mempersilakan masuk, pintu terbuka dan wanita gembul itu muncul dari sana.
"Wudiiihhh keren euy! manten kita emang cuakepp!"
"Inget status Lu woii."
"Haha. Tenang! setampan apapun elu, Abang gue yang entuh gak akan tergantikan. Gue gak level juga sama berondong."
"Cih! gak level tapi nempel terus."
Wiwin hanya tertawa melihat sahabatnya itu. Antara bahagia dan tidak melihatnya akan bertunangan.
"Gimana rasanya?"
"Apa?"
"Perasaan elu, lah. Kan mau tunangan."
"Biasa aja. Emang kenapa?" tanya Putra sambil memasang jam tangan super mahalnya.
"Gue waktu itu deg deg syur! keringetan pokoknya."
"Mungkin Mahira iya. Jenisnya kan sama kayak lu."
"Ck! masa sama sekali gak ada rasa apa-apa. Tegang misalnya. Atau gugup atau kebelet pengen boker."
"Cuma menyematkan cincin doang. Apa istimewanya?" tanyanya dengan membenahi kerah kemejanya.
Wiwin tak akan bertanya lagi. Jelas saja sahabatnya akan datar-datar saja, pertunangan ini dilakukan dengan wanita yang tidak dia cintai.
__ADS_1
"Sebenarnya, lu pernah gak sih jatuh cinta? selama ini gue–"
"Aa, udah selesai bel ... eh, ada Mba Wiwin juga," sapa Abel. "Udah belum A? kalau udah cepetan turun ya." Abel segera berlalu karena anaknya menangis.
Putra yang sudah rapi pun bergegas mengikuti adiknya turun. Langkahnya terhenti saat berada diambang pintu. "Pernah," lirihnya.
"Apa?" tanya Wiwin yang saat itu tidak begitu mendengar apa yang Putra ucapkan.
"Ayolah. Orang udah pada nunggu," ajak Putra seraya mempercepat langkahnya. Wiwin bergeming. Otaknya berusaha mengingat apa yang Putra ucapkan barusan. Dia memukul-mukul kepalanya berharap dia bisa tau kalimat apa yang sahabatnya ucapkan.
*****
"Silakan, kalian bertukar cincin," ucap pemandu acara.
Emak melangkah mendekati Putra dan Mahira. Menyodorkan nampan yang telah dihias. Ada kotak biru di atasnya. Dua buah cincin yang terlihat indah dan berkilauan saat tersorot cahaya lampu, sebuah berlian merah muda bertengger indah di atasnya. Sementara cincin satunya tampak polos.
Putra mengambil cincin itu, tanpa ragu menyematkannya pada jari Mahira. Suara riuh tepuk tangan terdengar memecah langit yang sudah begitu hitam pekat. Kini, giliran Mahira yang menyematkan cincin itu di jari Putra.
Tanpa ragu Putra menarik tengkuk Mahira. Mendaratkan sebuah kecupan yang harusnya manis di kening Mahira. Kali ini tepuk tangan terdengar lebih riuh dari sebelumnya. Emak tersenyum bahagia.
Acara selanjutnya tidak ada yang spesial. Hanya acara makan malam biasa. Putra menarik lengan Mahira menjauh dari kerumunan. Mereka berjalan menuju taman kecil yang berada di samping rumah. Ada ayunan di sana. Mereka pun duduk.
"Saya ... emm bahagia. Jugaaa ... takut daaan ... tidak mengerti. Bahagia karena saya tidak akan dihina orang lagi setelah menjadi istri Bapak. Takutnya karena menjalani rumah tangga tanpa perasaan satu sama lain, membayangkan bagaimana kita menjalaninya nanti, saya sudah bingung duluan. Dan, satu lagi saya mungkin tidak akan pernah bisa pacaran seperti orang-orang. Hahaha"
Putra menaikan satu alisnya saat mendengar kalimat terakhir dari Mahira.
"Pacaran?"
"Ya. Saya sering melihat orang-orang seumuran saya naik motor sama laki-laki, perempuannya meluk dari belakang. Atau, mereka pergi ke tempat wisata untuk foto-foto. Kadang diajak makan bakso. Mereka juga pergi nonton ke boisikop, terus mereka juga ngobrol lewat telpon sampai subuh."
"Kamu tau darimana?"
"Saya punya tetangga. Namanya aeni. Dia pancaran gitu. Saya cuma mendengarkan dan membayangkan kalau suatu saat nanti saya juga bisa pacaran. Eh, sekarang malah langsung tunangan dan akan segera menikah. Pancarannya kapan? kita juga tidak saling mencintai. Tinggal serumah gak akan juga saling menelpon sampai subuh. Lagi pula mau nelepon pake apa? saya tidak punya HP."
"Kamu menyesal?"
"Tidak juga. Saya malah bersyukur meski tidak akan pernah merasakan yang namanya pacaran. Setidaknya, Bapak lebih ganteng dari laki-laki yang akan bapak saya nikahkan."
"Pasti dong! saya masih muda juga."
__ADS_1
"Umur sih udah sama-sama tua. Dia hanya lebih tua dari Bapak dan dia tidak ganteng. Meski sudah tua, Bapak itu ganteng dan wangi. Bau mulut Bapak juga wangi karena tidak merokok bukan?"
"Mulut saya?"
"Iya, kemarin saya mencium bau mulut Bapak wangi banget. Saya suka. Biasanya laki-laki itu mulutnya bau seperti bapak saya. Dia suka merokok dan minum-minum. Mulutnya bau banget kayak kentut kerbau."
"Kemarin? memangnya ngapain kamu bisa mencium bau mulut saya?"
"Waktu Bapak memberi saya nafkah batin."
Wajah Putra memanas setelah mendengar celotehan Mahira. Dia benar-benar merasa malu dan juga ingin tertawa.
"Pak, memangnya dengan memberi nafkah batin seperti kemarin, kita akan memiliki anak? saya pernah melihat ponsel aeni dan ada foto dia sama pacarnya persis seperti seperti yang kita lakukan kemarin. Apa aeni akan memiliki anak? dia belum menikah padahal. Nanti akan jadi bahan gosip ibu-ibu di kampung. Dia anak RT loh, Pak."
"Mau coba?"
"Apanya?"
"Bikin anak kaya kemarin. Biar kamu tau, menghasilkan anak atau tidak?" bisik Putra sembari mendekatkan diri pada Mahira. Matanya menatap tajam pada mata Mahira. Wajahnya semakin mendekat.
"Pak, kalau beneran jadi anak, kita beri nama siapa?"
Putra terperangah. Tujuan dia untuk menakuti Mahira gagal. Gadis itu sama sekali tidak takut saat dia dekati.
"Sudahlah! ayo kita makan."
"Baiklah. Biar nanti saya tanyakan saja sama emak."
"Jangan!"
"Kenapa? emak pasti seneng kalau kita akan segera punya anak. Emak akan segera memiliki cucu lagi. Kita juga harus membeli popok dan gurita untuk bayi kita."
"Apa?"
Putra dan Mahira menengok secara bersamaan.
"Emak?" pekik Mahira girang.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1