Membeli Istri

Membeli Istri
part#27


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak. Baru bangun kok wajahnya masih terlihat ngantuk? semalam tidak bisa tidur?"


"Iya."


"Kenapa enggak bangunkan saya? kan bisa saya buatkan susu hangat."


"Mahira, hari ini saya akan bertemu dengan ririn."


"Oooh ...." Ada gurat kekecewaan dari Mahira.


"Kamu temani saya."


"Apa?" Mahira tampak sangat terkejut.


"Ya, saya akan jujur tentang hubungan kita padanya."


"Apa ini usul dari Mba Wiwin?"


"Tau dari mana?" Putra mendongak.


"He he he. Maaf ya, Pak. Kemarin saya khawatir melihat Bapak pergi dengan wajah yang menakutkan, ya udah saya ikuti saja."


"Oh, begitu rupanya. Baiklah, tak apa. Saya mengerti. Kamu siap-siap, nanti setelah Zuhur kita pergi."


"Bapak yakin?" tanya Mahira. Putra hnya menatap. "Emm maksud saya, Bapak tidak akan menyesal? kalau dia marah dan tidak mau menerima Bapak, bagaimana? menurut saya, lebih baik kita rahasiakan ini saja dulu. Sampai saya benar-benar siap untuk Bapak ceraikan."


"Sampai kapan?"


"Maksud Bapak? oh, itu. Kalau Bapak ingin cepat-cepat juga boleh kok. Siap tidak siap bukankah kita akan berpisah juga."


"Saya tidak akan menceraikan kamu."


"Kenapa? Pak, saya juga tidak ingin hidup seperti ini. Melihat Bapak setiap malam gelisah, mendengar Bapak selalu berbicara dengannya lewat telpon di malam sebelum Bapak tidur, melihat Bapak yang selalu merasa bersalah setiap melihat saya. Itu ... itu membuat saya merasa bersalah, Pak."


"Kita ketemu saja dulu dengan Ririn. Setelah itu kita bicarakan hal lainnya."


Mahira hanya bisa terisak saat suaminya pergi. "Ya, lagi pula sejak kapan dia perduli dengan apa yang aku rasa? cinta, kesedihan ataupun perasaan yang lainnya, mana pernah dia tau. Hiks," bisik Mahira seraya menyeka air matanya.


*****


Suasana tempat mereka makan tampak lengang. Manusia yang ada di sana bisa di hitung hanya dengan menggunakan jari tangan. Mungkin karena situasi yang sedang tidak mendukung akibat wabah yang sedang terjadi.


Putra sedikit terlibat gelisah. Tangannya tidak berhenti mengetuk meja dengan irama yang begitu cepat. Mahira hanya menatap dalam diam dari kursi yang berhadapan dengan suami itu.


Pintu terbuka. Mahira melihat sosok wanita cantik dengan gamis motif bunga, dan hijab mint yang dia pakai, membuat wanita itu terlihat anggun berjalan. Dengan tubuh tinggi dan langsing yang sangat mendukungnya penampilannya.


"Dia datang, Pak."


Putra menatap Mahira sebelum dia memutar bahu dan melihat kebelakang. Ririn melambaikan tangan seraya tersenyum. Namun, senyuman itu sedikit memudar saat matanya bersitatap dengan Mahira.


"Hai, Mas. Lama nunggu yaaa ... maaf ya, sayang."


Bagai luka tersiram air garam. Begitulah hati Mahira.

__ADS_1


"Hey, kamu yang waktu itu bersama Aldo bukan?"


"Ya, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Tumben kalian bersama, ada apa ini? heee kok aku jadi takut ya." Ririn duduk di samping Putra. Tawanya terlihat sangat kaku.


"Rin, aku ingin bicara. Penting."


"Kita pesan minuman saja dulu, Pak. Kasian mba Ririn baru datang."


"Tak apa, saya tidak haus. Lanjutkan saja."


"Sayang, aku–"


"Pak, tapi saya lapar, bagaimana kalau kita pesan makanan?" Mahira mencoba untuk mengalirkan pembicaraan. Lagi.


"Ra, tolong." Putra kenapa tajam. Ririn agak heran melihat mereka berdua.


"Ada apa sih? penasaran deh. Sayang, ada apa sih?" tanya Ririn seraya memegang jemari Putra. Mahira tidak nyaman melihatnya, dia membuang muka ke arah lain.


Putra mengetahui reaksi Mahira. Dia melepaskan tangan Ririn. Dan itu membuat Ririn semakin curiga dan kesal.


"Ada apa? jelaskan sekarang juga." Ucap Ririn kesal.


"Rin, sebelumnya aku mau minta maaf. Tolong jangan marah."


"Ya, bicaralah."


"Sebenarnya ...." Putra menatap Ririn takut-takut.


"Aku ... em, kalau aku ...."


"Dia suami saya." Mahira bicara. Ririn yang sedang menatap Putra beralih menatap Mahira. Dahinya mengernyit menandakan bahwa dia tidak percaya.


"Mahira benar. Kami sudah menikah hampir mau setahun." Putra menjelaskan. Ririn masih seperti tidak percaya dengan apa yang Putra dan Mahira katakan barusan.


Mahira mengambil sesuatu dari tas yang dia bawa. Dua buah buku kecil dengan warna yang berbeda, serta sebuah foto dia dan Putra saat menikah.


Ririn seolah terhipnotis. Dia diam tanpa reaksi. Menatap foto dan buku nikah yang Mahira bawa. Pun Putra. Dia tidak menyangka Mahira akan membawa itu semua.


"Sa-saya permisi ...." tiba-tiba Ririn pamit. Dia berdiri kemudian berjalan meninggalkan mereka. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar Mahira berbicara.


"Mba Ririn tenang saja, kami akan segera bercerai."


Baik Ririn ataupun Putra sama-sama kaget mendengar pernyataan dari Mahira. Ririn kemudian berbalik dan menatap kesal pada Mahira.


"Kamu pikir, saya senang mendengar apa yang kamu katakan? Tidak! Bagaimana pun juga, laki-laki itu telah berbohong selama ini."


"Rin, tolong mengertilah. Aku ...."


"Orang-orang mungkin mentertawakan bahkan mencibir aku saat jalan sama kamu. Bagaimana bisa wanita berhijab berjalan dengan laki-laki yang telah jadi suami orang lain, hah?" ucap Ririn penuh emosi.


"Rin, aku bisa jelasin semuanya. Jangan marah dulu."

__ADS_1


"Jelasin apa lagi? owhh, hebat banget kalian berakting bahkan saat pertemuan waktu itu. Pantas saja dia begitu menohok saat berbicara. Ya ampun, kenapa aku ini bodoh sekali?" Ririn memijat keningnya keras.


Mahira mendekat. Dia berusaha meraih tangan Ririn yang kemudian di tepisnya kasar.


"Mba, kita bicarakan semuanya. Saya tau Mba kesal, tapi dengarkan dulu penjelasan kami. Ya?"


"Apa lagi yang harus saya dengar?"


"Alasan kenapa kami menikah. Dan alasan kenapa Pak Putra tidak jujur pada Mba tentang pernikahan kami."


"Tidak. Saya tidak mau mendengar apapun lagi. Cukup ..." lirihnya.


"Mba, tolong dengar dulu penjelasan saya ... Mba." Ririn berjalan menjauh. Namun, Mahira mencoba mengikuti langkah Ririn. "Mba, tolong tunggu dulu ...."


Ririn mencoba meraih tangan Ririn. Dia memegang erat tangan wanita itu. Namun, karena emosi, tanpa sengaja Ririn menepisnya hingga membuat Mahira hilang keseimbangan dan terjatuh.


Putra segera menghampiri dan membantu Mahira untuk berdiri. Perhatian Putra untuk istrinya menorehkan luka dan amarah pada Ririn.


"Hmm!" sinisnya.


"Mba, kami berdua hanya mengikuti keinginan orang tua pak putra, tidak ada ikatan yang lebih di antara kami berdua. Hatinya tetap untuk Mba, bukan untuk saya. Tolong ... mengertilah."


"Mungkin saya akan mengerti seandainya dia ...." Ririn menunjuk Putra. "Jujur sejak awal."


Putra merasa bersalah atasnya. "Aku minta maaf, sayang."


"Kamu bilang sayang pada wanita lain di hadapan istrimu? benar-benar ...." Ririn mengepalkan tangannya lalu pergi.


Putra dan Mahira hanya dia menatap kepergian Ririn. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Terlebih Putra tau bahwa Ririn memang harus dibiarkan seorang diri saat dia marah.


*****


"Ada apa? apa kamu sakit perut?"


"Iya, mungkin karena beberapa hari ini sering makan rujak, jadi perutnya berontak."


"Jangan berlebihan jika makan sesuatu. Tidak baik." Putra menasihati saat mereka menuju arah pulang.


Mahira berkeringat meski di dalam mobil cukup dingin. Dia merasa resah tak menentu. Rasa sakit perutnya sudah tidak bisa dia tahan.


"Kamu kenapa? apa kita perlu ke toilet? kita berhenti di pom bensin kalau begitu."


"Ya ...."


Dari kejauhan Putra melihat pom bensin. Mereka masuk dan berhenti di depan toilet. Mahira membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu. Begitu Mahira berdiri, Putra merasa kaget saat melihat noda merah cukup banyak.


"Ra, tunggu."


"Ya." Mahira menengok kembali ke dalam mobil.


"Apa kamu sedang haid?"


"Tidak. Kenapa? sudah dua bulan ini saya tidak haid."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Mahira, Putra segera sadar apa yang sebenarnya terjadi. Laki-laki itu segera meminta istrinya masuk ke dalam mobil. Dia memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2