
Seperti dulu lagi. Aku bisa merasakan adanya keluarga dengan kehadiran Pak Misran dan Bi Tuti.
Kami kini tengah makan bersama dengan alas daun pisang. Bercanda bersama penuh suka cita. Ahh, aku sangat bahagia.
"Neng, Bapak kok gak setuju ya, Neng nikah sirih sama Den Aldo. Nikah sirih itu kerugian besar untuk seorang perempuan."
"Saya juga bingung, Pak."
"Gini , Neng. Nikah sirih itu tidak punya kekuatan apapun untuk kita sebagai perempuan. Kita bisa di talak kapan saja. Dan, nih, ya. Kalau punya anak, anak kita juga akan terombang-ambing. Tidak memiliki hak yang sama seperti anak yang orang tuanya nikah resmi. Jangan, deh pokoknya. Kasian Neng nya Bibi mah."
"Tapi ini hanya sementara, hanya untuk meminta restu orang tua Aldo. Mungkin dengan kita menikah dan punya anak, kita akan mendapatkan restu dari mereka."
"Iya, Neng. Tapi menurut bapak tetap saja gak baik. Sekarang, kalian nikah terus punya anak, kalau iya di restuin, kalau tidak? yang jadi korban bukan hanya Neng, tapi anak Neng juga."
Aku tertegun membenarkan apa yang pak Misran ucapkan. Kalau sampai aku memiliki anak dan tidak juga mendapatkan restu, gimana dengan nasib anakku nanti? mungkin dari segi harta dia tidak akan kekurangan, tapi statusnya? gimana ini ya Allah.
"Jangan lanjutkan hubungan tanpa restu dari orang tua kedua belah pihak. Bagaimana pun juga, restu orang tua adalah restu Allah juga."
"Kadang, saya merasa sedih jika urusan status sosial menjadi masalah besar dalam hubungan seseorang."
__ADS_1
"Itulah hidup, Neng. Kita yang terlahir dari keluarga kalangan bawah, memang akan seperti ini. Kecuali mereka yang memilih keberuntungan besar."
"Dan aku adalah orang yang tidak beruntung di dunia ini."
Bi Tuti dan Pak Misran terdiam. Entah karena merasa bersalah, atau karena mereka kasihan padaku.
"Apa ini kesalahanku karena sebagai istri meminta talak pada suami yang sebenernya bertanggung jawab dalam segi apapun? kenapa salah? aku hanya tidak ingin melihat Pak Putra menderita karena menahan perasaannya untuk wanita lain."
Aku menunduk. Mencoba menyembunyikan rasa sedih, meski mereka berdua tau apa yang aku rasakan.
Penyesalan memang selalu terjadi di akhir. Aku kadang bertanya, jika aku tidak kekeh memaksa minta cerai, apa aku akan bahagia, atau akan lebih menderita dari saat ini?
Aku bahagia karena Aldo begitu mencintaiku, tapi rintangan ini membuat aku merasa takut. Aku takut tidak akan sanggup melewatinya.
"Ya sudah, sekarang mah Neng pikirkan dulu baik-baik, minta petunjuk sama Allah. Itulah yang terbaik."
"Iya, Pak."
*****
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aldo, papi kamu itu sangat keras kepala, dia tidak akan mau luluh pada apapun termasuk pada kita. Bagaimana kalau setelah kota memiliki anak, dan tidak juga mendapatkan restu? apa yang terjadi padaku dan anak kita nanti?"
"Kita menikah secara resmi. Apa susahnya? aku bukan suami orang."
"Tapi Aldo ...."
"Sekarang, kamu pilih. Menikah denganku, atau membiarkan aku bertunangan dengan wanita lain tiga hari lagi?"
Aku benci selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit. Aku benci hanya bisa diam saat merasa tertekan. Aku takut salah langkah lagi kali ini. Mana yang harus aku dahulukan? masa depan pernikahanku kelak? atau perasaanku yang saat ini takut kehilangan dia?
🌺🌺🌺🌺🌺
Kalau suka kisah ini, tolong beri like ya readers. Dukung selalu dengan like, komen dan jika berkenan dengan vote juga.
Author, sangat berterima kasih untuk itu.
Love u all.
__ADS_1