
Sepekan sudah sejak Mahira mengalami keguguran. Kehilangan calon bayinya membuat dia menjadi pendiam dan tidak seceria dulu. Para pekerja yang ada di rumah itu merasa kehilangan. Mereka merindukan majukan yang cerewet dan baik hati itu. Mereka merindukan makan liwet beralas daun pisang bersama Mahira. Badannya yang paling kecil tapi makannya yang paling banyak, bahkan mengalahkan porsi makan satpam dan supir di rumah itu.
"Saya sedih melihat nyonya seperti ini sekarang, biasanya dia akan begitu cerewet saat ngobrol di belakang," keluh Tuti.
"Iya, saya juga kangen ketawanya yang seperti kuntilanak itu. Renyah kaya rempeyek."
"Hus! kamu tuh, Nah. Masa Nyonya cantik begitu dibilang kuntilanak."
"Maksud saya bukan mukanya yang kaya kuntilanak tapi ketawanya."
"Iya, ya. Kenapa juga bapak harus menerima tamu wanita itu? kan kasian nyonya kecil kita. Dia pasti stres sampe bayinya keguguran." Satpam menambahkan.
"Semua sudah takdir. Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, ini semua tidak akan terjadi. Kita lihat saja dengan siapa pada akhirnya bapak akan hidup bersama."
"Cieee ... yang udah tua mah bijak ya ngomongnya." Tuti meledek Misran.
"Ya sudah, saya ke depan dulu. Mau cek mobil. Siapa tau ada yang belum saya kunci."
Misran meninggalkan mereka yang masih melanjutkan obrolan serunya. Laki-laki yang memang sudah hampir tua itu berjalan menyusuri taman sebelah rumah. Malam itu gerimis tipis turun. Tidak menimbulkan basah yang berarti, tapi airnya yang hinggap di dedaunan begitu indah saat tersorot lampu.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Putra sedang duduk termenung di ayunan. Dia ragu harus melangkahkan kakinya ke depan atau mundur ke belakang.
"Pak Misran." Langkah kaki Misran terhenti saat dia menuturkan untuk kembali ke belakang.
"Eh, iya, Pak." Misran malu-malu.
"Kemarilah."
"Baik, Pak." Misran menghampiri. Tidak lupa dia mematikan rokok yang sedang dia isap.
"Duduklah."
"Tapi Pak ...." Misran ragu saat dia hendak duduk di samping tuannya.
"Tak apa. Duduk saja. Jangan ragu dan sungkan."
__ADS_1
Setelah merasa yakin. Misran duduk bersama bersama Putra.
"Mau?" Putra menyodorkan rokok pada Misran yang langsung di tolak sopan. Putra sedekah memang suka merokok saat pikirannya sedang kalut.
"Pak Misran sudah berapa bulan tidak pulang kampung?"
"Anu, Pak. Sudah mau setahun ini."
"Kenapa tidak pulang? tidak rindu pada keluarga?"
"Hehe rindu. Uangnya sayang, Pak. Ketimbang untuk ongkos, lebih baik untuk uang jajan sekolah dan makan anak istri."
"Saya kan sudah bilang, bawa saja mobil saya kalau mau pulang, nanti bensinnya saya kasih."
"Iya, Pak. Tidak apa-apa, saya tidak tega meninggalkan nyonya sendirian di sini."
Putra mengerutkan kening mendengar jawaban pegawainya.
"He he he itu loh, Pak. Dia kalau sedang sedih suka cerita sama saya. Mungkin karena saya seperti bapaknya. Jadi, saya kok gak tega mau pulang ke kampung."
"Lagi pula, saya sering video call sama keluarga saya. Alhamdulillah, nyonya ngasih saya dan istri saya HP yang bisa video. Jadi bisa mengobati rindu pada keluarga."
"Baguslah kalau begitu. Tahun ini saya belum menaikan gaji kalian semua. Maaf, saya lupa karena terlalu banyak pikiran."
"Enda usah watir, Pak. Kami di sini tidak naik gaji juga tidak kekurangan. Loh nyonya itu sangat baik. Setiap Minggu kami di kasih uang jajan, jadi gaji kami semua masuk ke keluarga."
"Oh, iya. Syukurlah."
"Gimana keadaan nyonya sekarang, Pak?"
"Kondisi fisiknya baik. Hatinya yang kurang sehat, Pak."
"Owh, begitu. Memang sih, nyonya itu hanya luarnya saja yang selalu terlihat baik-baik saja dan ceria. Ibarat mesin sih, hati dia itu udah rusak, Pak. Kadang saya suka inget anak sendiri di rumah. Saya juga punya anak gadis soalnya."
Putra menghela nafas. "Saya sendiri bingung, Pak. Saya bahkan bisa dibilang pengecut karena tidak bisa mengambil keputusan yang tepat."
__ADS_1
"Ini saya minta maaf loh sebelumnya, Pak. Bukan saya bermaksud menggurui."
"Tidak apa-apa, bicara saja."
"Ini jika tentang dua wanita yang ada dalam hidup Bapak, saya hanya bisa bilang kalau bapake hanya harus menerima kenyataan. Kenyataannya bahwa saat ini ada nyonya yang harus dijaga. Saat Bapak mengucapkan ijab qobul, seluruh hidup nyonya ada di pundak Bapak.
Bukan hanya perkara kewajiban dan hak saja. Ada perasaan yang harus suami jaga. Meski saya tau, Bapak mencintai wanita lain ...." Misran menghentikan ucapannya saat Putra menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Saya sering denger Bapak menelpon di malam hari." Misran menjelaskan pertanyaan yang tidak Putra utarakan.
"Di dunia ini, ada yang utama dari pada rasa, Pak. Yaitu dosa. Jika Bapak tidak sanggup melupakan wanita itu, seharusnya Bapak tidak menikahi nyonya. Itu hanya akan menyakiti nyonya, hati Bapak sendiri dan juga wanita itu. Meski emak memaksa, tapi semua orang tua tujuannya sama, ingin melihat anak-anaknya bahagia."
"Saya tidak tau akhirnya akan seperti ini, Pak. Dia datang saat dia sudah sendiri. Saya–"
"Kalau begitu jauhi saja agar hati Bapak bisa utuh untuk nyonya. Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru. Yang penting fokus pada satu hati."
Putra menatap lekat mata yang kelopaknya sudah mulai ada keriputnya. Mata itu teduh. Penuh keyakinan hingga membuat hati Putra sedikit berubah.
"Mencintai wanita lain setelah menikah itu tidak salah. Yang penting, rasa itu jangan menyakiti hati wanita yang sudah kita sumpah dihadapan Allah dan malaikatnya."
Misran tersenyum melihat majikannya yang hanya bisa diam.
"Saya permisi dulu, Pak. Mau cek mobil, takut ada yang belum saya kunci."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Kalau memang masih butuh wejangan dari segi agama, datang saja ke Tasikmalaya. Saya ada ponakan yang sedikit banyak tau ilmu agama. Yaaa ... kita hidup kan berpegang pada ajaran agama. Maka hidup kita akan lurus."
Putra tersenyum sebelum laki-laki itu pergi berlalu.
Putra memijat tengkuknya yang terasa tegang. Meregangkan tubuh, lalu menengadah ke atas langit. Membiarkan wajahnya terkena gerimis. Entah apa yang terjadi, tapi hatinya sedikit merasa lega. Sesuatu yang begitu sesak menghimpit dadanya perlahan runtuh.
"Sepertinya aku harus pergi dari keduanya. Kita lihat, pada siapa hati ini akan sangat merindu."
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1