
"Mau sama apa?" tanyanya saat kami hendak sarapan. "Aku yang ambil, kamu duduk aja."
Aku jinjit untuk melihat makanan yang jaraknya agak jauh. Ya, sarapan di hotel sekarang diambilkan oleh pelayan di sana. Kita hanya menunjuk saja apa yang kita inginkan.
"Aku roti bakar gak pake apa-apa. Salad sayur sama omelette."
"Minumnya?"
"Teh anget manis."
"Ya udah, duduk sana. Nanti aku yang ambilkan."
"Gak apa-apa, Mas. Aku ambil sendiri aja. Bisa kok."
"Jangan. Takut cape, kamu duduk aja."
"Ya udah. Gak apa-apa, nih?"
"Iya, sayaaang. Gak apa-apa." bisiknya sambil mencium keningku gemas. Lalu mengusap-usap kepalaku.
Baiklah, sebagai istri yang baik, aku nurut. Berjalan meninggalkan dia menuju kursi.
Tidak lama kemudian, dia membawa piring. Hanya satu. Satu?
Suamiku hanya tersenyum saat melihatku yang menatapnya dengan heran.
"Kenapa hanya satu piring? buat Mas nya mana?"
"Nanti di anterin. Ini ... buat kamu dulu."
"Owh, ya udah."
Dia menarik kembali piring yang berisikan makanan sesuai pesananku saat aku akan mengambilnya.
"Loh, kenapa? kok ditarik lagi."
"Kamu kalau lagi main HP, lanjut aja. Biar aku yang suapin."
Aku sedikit canggung saat dia berkarier demikian. Apakah dia sedang menyindirku?
"Aku serius, kamu boleh main HP. Biar aku yang nyiapin," ucapnya penuh keyakinan.
Aku membuka mulut lalu dia menyuapiku yang kembali asik bermain HP. Ternyata, setelah makananku habis, dia minta gantian untuk disuapi. Bedanya, aku main HP hanya untuk melihat-lihat media sosial, sementara dia bekerja. Aduhhh.
__ADS_1
"Jangan belepotan dong, Mas." Seperti ibu yang sedang menyuapi anaknya. Aku mengelap sudut bibir dan dagunya yang terkena makanan. Sementara dia masih fokus pada pekerjaannya.
"Mas, sarapannya mau nambah gak?" tanyaku begitu nasi goreng di piringnya habis. Dia menggelengkan kepala.
Aldo masih fokus dan terkesan cuek padaku. Aku bicara panjang lebar, dia hanya berkata 'ya' atau 'oh' dan hanya mengangguk sesekali. Aku tidak yakin dia benar-benar mendengar atau tidak apa yang aku ucapkan.
Ah! andai saja ada orang lain di sini, lebih baik aku menghampiri salah satunya dan ngobrol dengan orang itu. Sayang sekali, di sini sangat sepi. Hanya ada aku dan Aldo serta beberapa orang yang memakai seragam hotel.
Tunggu. Apa ini tidak terlalu aneh? bukankah saat aku berada di hotel ini, banyak orang berlalu lalang. Itu artinya aku tidak sendiri di sini. Tapi kenapa belum ada yang datang untuk sarapan, padahal ini sudah cukup siang untuk waktu sarapan.
"Mas. Mas ...."
Aldo diam dan fokus pada ponselnya. Aku mengguncang lengannya. Baru dia melihatku.
"Kenapa sayang?"
"Udah, yuk. Kita ke kamar."
"Mau ngapain ke kamar?" tanyanya genit. Dia menggodaku.
"Ish. Gak ngapa-ngapain. Kita udah lama ada di sini. Pegel. Pengan tiduran."
"Pengan tiduran atau ditiduโ"
Aku membekap mulutnya. Kalau tidak, dia akan membuat wajahku terbakar lagi.
"Mas! aku pentung nih, pakai garpu!" aku melotot. Dia hanya terkekeh.
"Ayo, Mas. Jangan kelamaan di sininya. Ke kamar, yuuuk." aku merajuk. Menarik-naeik lengannya agar dia mau berdiri dari kursinya.
"Iya, iya. Gak sabaran banget ini pengantin wanita."
Aku mencucu saat dia selalu berkata yang bisa membuatku seperti tomat matang yang lama-kelamaan mungkin akan membusuk. Sebal!
Kami berjalan dengan menyeret dia yang jalannya seperti sengaja di berat-beratin. Tubuhnya condong ke belakang.
Begitu pintu lift terbuka, kami segera masuk. Kami hanya berdua, lagi. Tubuh Aldo tiba-tiba lemas dan menumpukan berat badannya padaku. Berat.
"Mas, berattt!" Aldo diam saja. Sengaja membuatku merasa berat.
"Mas. Yang bener aja, sih. Kamu itu tinggi, berat. Nah aku?"
"Biarin," ucapnya seperti nada orang habis mabuk.
__ADS_1
Apa boleh buat. Aku menyeretnya menuju kamar. Pundakku mulai sakit karena menahan dagunya yang tepat mengenai tulang. Linu.
Saat kunci kamar terbuka, belum juga aku melihat semuanya, aku merasa ada yang berbeda dari aromanya. Wangi.
Benar saja. Begitu masuk lebih dalam, dekorasi kamar sudah berubah. Aku kaget. Takut salah masuk kamar. Ah, rasanya mustahil. Kuncinya cocok, kok.
Dalam situasi yang sangat membingungkan, Aldo menarik tubuhku, lalu memelukku dari belakang.
"Terima kasih karena mau menjadi istriku. Menemaniku berjuang untuk mendapatkan restu papi." Aldo berbisik di telinga.
Mataku masih kesulitan untuk berkedip. Melihat buket bunga yang isinya uang lembaran merah yang sangat, sangat besar. Ranjang yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar merah membentuk hati.
Lilin dan juga bunga-bunga menghiasi setiap sudut kamar.
Tas, sepatu dan juga baju muslim yang sangat indah, tersimpan dengan tatanan yang cantik berada di tengah-tengah kamar. Pun dengan dua kotak biru yang terbuka, berukuran cukup besar yang terdapat satu set perhiasan cantik di dalamnya.
"Ini semua apa, Mas?" akhirnya aku bisa bersuara.
"Bukan apa-apa. Ini hanya sedikit kejutkan untuk istriku."
"Tapi, Mas. Ini sangat berlebihan."
"Bagiku ini kurang. Tidak ada apa-apanya. Bahkan, nanti aku akan membuat lebih dari ini untuk memberikan kamu hadiah."
"Mas, tidak perlu repot-repot. Dengan kamu mencintaiku saja, itu cukup."
Aldo membalikan tubuhku. Mata kami beradu pandang.
"Sayang ... aku hanya bersyukur dan ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku benar-benar bahagia untuk hubungan kita yang sudah sejauh ini. Terima kasih karena telah percaya padaku."
Ketulusan sangat nampak terlihat jelas di dalam netranya yang bening.
Tidak kuasa lagi untukku menahan tangis. Dalam dekapan suamiku, aku mencurahkan seluruh air mata bahagia ini.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih ...."
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Maaf ya, karena ada hal dan sebagainya. Aku tidak bisa up banyak apa lagi harus crazy up.
Terima kasih untuk kesetiaan kalian pada Mahira.
Beri terus dukungan kalian ya readers. Like, komen dan vote.
__ADS_1
Itu akan sangat, sangat, sangat membuat author semangattt dan berterima kasih pada kalian semua.
Love u All.๐ค๐