Membeli Istri

Membeli Istri
part#8


__ADS_3

Mahira masih terdiam membeku. Dia merasa tubuhnya seperti teraliri sesuatu. Terasa panas dan membuat dirinya merasa menggigil. Dia tidak tau apa yang dia rasakan karena ini pengalaman pertamanya.


"Kamu mengerti sekarang?" tanya Putra membuyarkan lamunan Mahira. Putra berjalan menuju lemari baju milik Mahira. Dia memilih baju yang akan Mahira pakai untuk malam ini.


"Kenapa Bapak tidak bilang saja itu tuh membuat anak. Kenapa harus bilang nafkah lahir dan batin. Mutar muter ke sana kemari, intinya kan sama, suami istri itu nantinya setelah menikah akan membuat anak. Meski prosesnya saya tidak tau seperti apa, tapi kata orang-orang, membuat anak itu harus dalam keadaan lampu temaram, jangan terlalu terang dan jangan terlalu gelap. Takut salah bikin."


Putra mengigit keras kedua bibirnya yang dia lipat ke dalam. Kali ini dia tidak ingin dianggap kesurupan oleh Mahira. Dia begitu kuat menahan tawa yang sebenarnya sangat ingin meledak di mulutnya. Dia menarik nafas panjang sebelum membalikan badan.


"Pakai ini, lalu keluar. Saya tunggu depan pintu."


Mulut Mahira masih mencucu. Dia kesal karena menganggap Putra terlalu berbelit-belit hanya untuk memberitahu dia tentang 'membuat anak'.


Selang berapa menit. Mahira keluar. Dia memakai gaun panjang hitam dengan lengan pendek. Belahan kakinya sedikit di atas lutut. Rambutnya dia biarkan tergerai. Kalung berlian pemberian Putra melingkar cantik di lehernya yang kecil.


"Apa ini sudah bagus?" tanyanya sembari berusaha menutup belahan gaun yang memperlihatkan kakinya. "Saya tidak bisa berjalan dengan sandal tinggi ini. Bagaimana kalau saya menginjak kaki seseorang? bawahnya terlalu kecil hampir seperti paku. Kaki orang itu akan bolong kalau keinjek saya, Pak."


"Sini." Putra mengulurkan tangannya.


Tanpa ragu Mahira menggenggam tangan Putra. Mereka berjalan menuju halaman belakang. Berjalan membelah kerumunan manusia yang tak lain adalah keluarga Putra sendiri. Keluarga yang ada setelah Putra mendulang sukses.


Mata para manusia itu menatap mereka berdua. Tatapan beragam. Benci, kagum, dan juga iri. Putra tidak perduli. Dia bahkan tidak segan menyuapi Mahira di hadapan semua orang. Memperlakukan Mahira dengan baik layaknya seorang permaisuri.


"Dia adalah calon istri saya. Siapapun yang menghinanya, maka sama dengan menghina emak, dan itu artinya kalian siap-siap tidak diakui sebagai siapapun dalam keluarga ini."


Emak tersenyum melihat pengumuman yang diberikan anaknya. Riuh orang-orang seketika sunyi. Mungkin, mereka sedang berpikir ulang untuk bicara yang tidak-tidak. Kerugian besar bagi mereka jika tidak lagi dianggap keluarga. Tidak ada yang bisa mereka pinjami uang tanpa bunga. Begitulah pemikiran mereka.


"Silahkan nikmati sajian dan acaranya tanpa berbicara sesuatu yang akan merugikan diri sendiri. Selamat malam."


Putra turun dari panggung kecil. Panggung yang akan dijadikan tempat dia bertukar cincin dengan Mahira besok malam.


Masih menggenggam tangan Mahira. Putra menghampiri emak dan juga adik-adiknya.


"Keren! Aa emang amazing pokonya," ucap Abel sambil mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Mana perusuh-perusuh kecilku?"


"Mereka sudah tidur. Oya, ini orang-orang mau tidur dimana? rumah Aa emang gede, tapi masa mereka tidur kayak pindang."


"Apa udah siapkan hotel terdekat."


"Waduh! mahal dong?" timpal Riska. Adik kedua Putra.


"Gak. Kelas melati kok. ck!" Putra mengedipkan satu mata pada adiknya. "Tidur sana. Kasian bayi dalam perutmu. Jangan terlalu lelah. Jaga kesehatan makan yang banyak biar calon perusuh ku itu sehat."


"Iya, Aa. Ini juga mau tidur kok. Ayo, Mak kita tidur."


"Emak jangan di bawa. Malam ini emak tidur sama Aa."


"Heleehh! anak manja! Ada Mahira juga."


"Ish! dia belum boleh."


Mahira tersenyum. Tiba-tiba wajahnya memerah teringat apa yang terjadi tadi di kamar. Tubuhnya tetiba bergidik.


"Ahh. Tidak apa-apa." Mahira menatap Putra yang sedari tadi ikut menatapnya bersama dengan yang lainnya. Putra melepas jas dan memakaikannya pada Mahira. Meski dalam hatinya, Putra tau persisi apa yang ada di benak Mahira sampai dia seperti itu.


"Kamu juga tidur."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya masuk duluan. Permisi semuanya. Mak."


"Aku juga mau tidur ah."


"Tunggu, Bel. Aku ikut."


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Hanya tinggal Emak dan Putra. Serta para tamu yang masih asik mengobrol.


"Nanti, mereka sama siapa ke hotelnya?"

__ADS_1


"Tenang, Mak. Udah ada yang ngatur semuanya. Kita juga masuk, udara mulai dingin." Putra menggandeng lengan ibunya. Mereka berdua masuk menuju kamar Putra. Emak tau, Putra bukan ingin tidur bersamanya, tapi ada hal yang ingin dia bicarakan berdua.


"Ada apa?" tanya Emak setelah mereka duduk di sofa yang ada di dalam kamar Putra. "Tampaknya kamu sudah perhatian sama Mahira. Apa kamu ...."


"Bukan, Mak. Putra hanya bersikap seperti biasa. Mahira menikah karena Emak. Putra tidak ingin dia menyalahkan emak suatu saat nanti."


"Dia gadis baik danโ€“"


"Putra tau. Itu sebabnya Putra memperlakukan dia dengan baik meski tidak menyertakan perasaan di dalamnya."


"Cinta itu akan datang seiring waktu. Dengan kalian sering bersama, maka akan terjadi saling ketergantungan."


"Ketergantungan dan cinta itu dua hal berbeda meski hampir sama karena sama-sama tidak bisa saling berjauhan."


"Itu cukup. Bagi seorang istri, mendapatkan suami yang memperlakukan mereka dengan baik, itu lebih dari cukup. Tidak sedikit mereka yang menikah karena cinta tapi menjalani hidup berumahtangga hancur berantakan. Cukup perlakuan dia dengan baik."


"Iya, Mak. Putra akan berusaha dengan baik sesuai keinginan emak.


"Jangan merasa tertekan dengan keinginan emak ini. Emak tau, Mahira akan menjaga kamu lebih baik dari emak. Dan itu akan membuat emak tenang. Emak takut kamu menikah dengan wanita yang salah. Emak tidak ingin kamu disakiti."


"Putra mengerti. Putra tidak terbebani, hanya saja butuh penyesuaian diri. Rasanya sedikit aneh berada dalam satu rumah dengan wanita yang baru dikenal. Terlebih dia calon istriku."


"Emak mengerti. Satu hal lagi, jika sampai waktu yang lama rasa cinta dalam hati kamu belum timbul. Jangan beritahu dia, tetaplah seperti ini. Lakukan saja kewajiban kamu sebagai suami dengan baik, penuhi haknya sebagai istri. Maka kamu akan terbebas dari dosa."


"Iya, Mak. Putra akan ingat pesan emak."


"Tidak mencintai istri itu tidak dosa. Yang dosa itu sudah menikah tapi mencintai wanita lain. Bukan cintanya yang salah, tapi cara kamu menyalurkan cinta itu."


"Putra tau maksud emak. Putra tidak akan menikahi wanita lain lagi."


"Emak selalu berdoa agar kamu bahagia. Apa yang kamu inginkan selalu tercapai. Dan selalu bersikap baik pada semua orang. Ya."


"Iya, Mak."

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2