Membeli Istri

Membeli Istri
part#24


__ADS_3

Selepas salat magrib, Mahira dan Aldo pergi ke salon untuk mendandani Mahira. Aldo yang entah kapan terakhir kali dia salat, merasa canggung dan grogi. Dia bahkan sampai lupa bacaan salat.


Hampir satu jam Mahira di dandani. Sungguh luar biasa. Riasan flowles itu membuat Mahira tampak berbeda. Dia cantik dan juga anggun. Dia bahkan memangkas rambutnya.


"Wuihhh. Cantik juga kalau didempul."


"Baru sadar?"


"Iyalah! tadi kan wajah kamu itu kusem."


"Ya udah, kita mau kemana dandan seperti ini? pesta? jangan yang aneh-aneh tapi, saya tidak suka keramaian soalnya."


"Gak, aku cuma ingin ketemuan sama teman-teman aku aja. Gak banyak sih, cuma beberapa orang yang penting saja."


"Saya ini bodoh loh, sekolah aja gak tamat SD. Apa tidak akan membuat kamu malu?"


"Kita itu hanya ketemuan, bukan mau cerdas cermat."


"Ya, siapa tau saya bikin kesalahan dan membuat kamu malu karena membawakan wanita bodoh seperti saya ini."


"Kamu cukup diam di sampingku, senyum indah pada teman-teman aku nanti. Diam dan ikuti saja apa yang aku katakan."


"Baiklah. Jangan malam-malam, saya ini sinderela. Ada batas jam nya kalau keluar. Dan ...."


"Dan apa?"


"Ini pertama kalinya saya keluar malam bersama laki-laki, itupun tidak saya kenal."


"Kita udah kenalan bukan? aku Aldo dan kamu Mahira. Benar?"


"Entahlah, saya sedikit takut."


"Aku ini tidak akan memperkosa apa lagi membunuh kamu. Kalau ingin tidur dengan wanita sih gampang, banyak yang mau. Asal kita bayar berapa aja, wanita seperti apapun bisa saya dapatkan. Tenang! kamu bukan tipe wanita yang aku ingin tiduri."


"Sebegitu buruknya hidupmu tidur bersama berbagai jenis wanita."


"Jenis? ha ha ha."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, ha ha ha. Ayo, sebaiknya kita pergi sekarang. Sinderela punya batasan waktu bukan?"


Mahira mencucu. Mereka menuju rumah Aldo. Sesampainya di depan rumah Aldo, Mahira terbelalak. Rumah ini dua kali lipat dari rumah Putra. Benteng pagarnya saja setinggi rumah pada umumnya. Ukirannya sangat cantik menghiasi setiap tembok dan ruang-ruang yang ada.


Mahira turun dari mobil dengan tatapan yang masih takjub. Dia tidak sadar saat dia masuk ke dalam mobil yang berbeda dari sebelumnya.


"Woiii. Biasa aja! gak usah bengong gitu? emang rumah kamu gak Segede ini?"


"Dua kali lebih kecil. Kamu kerja apa? kenapa bisa sekaya ini?"


"Bukan aku yang kaya raya tapi orang tuaku. Aku hanya ikut menjalankan beberapa bisnis mereka."

__ADS_1


"Wah! hebatnya. Beruntung banget ya kamu."


"Kamu sendiri kan kaya."


"Tidak, bukan orang tuaku. Tapi suamiku yang kaya raya."


"What?" Aldo benar-benar terkejut hingga dia menginjak rem dengan sangat mendadak.


"Kenapa?"


"Gila, gila, gilaaa ... kenapa gak bilang sih kalau kamu udah nikah? aku, jadi sekarang pergi sama istri orang?"


"Ish apa sih? minggir dulu. Itu yang belakang mencet kelakson. Kita menghalangi jalan."


Aldo meliputi kaca spion. Banyak kendaraan yang antri di belakangnya. Diapun menepi.


"Ok! jelaskan sekarang, kenapa kamu gak ngasih tau kalau kamu itu sudah bersuami."


"Kamu gak nanya."


"Iyaaa, tapi seharusnya ... kamu menolak saat aku meminta kamu pergi."


"Kamu sendiri yang bilang ini adalah syarat untuk kamu memaafkan saya bukan?"


"Iya, tapi ...."


"Ya kalau gak jadi gak apa-apa, toh saya sudah dapat baju, tas, sepatu juga. Turunkan saya aja di sini."


"Eh, eh. Tunggu dulu, ya jangan gitu juga. Masa iya aku nurunin cewe di tengah jalan. ***** saja aku anterin sampe rumah. Masa kamu? aarghh tapi apa sebutannya ya buat cewe yang sudah punya suami tapi pergi sama cowok lain?"


Aldo yang sedang berpikir sambil menatap ke sana kemari langsung melirik Mahira saat mendengar pertanyaannya. Aldo menangkap rasa sedih dari nada suaranya.


"Baiklah. Ayo kita pergi."


Aldo menancap gasnya. Kepalanya terus berpikir, apa yang terjadi pada Mahira bisa dia tebak. Tapi dia sadar apa yang dia lakukan saat ini adalah kesalahan.


Mereka sampai ke sebuah hotel mewah. Aldo berhenti di depan loby, jasa valet memarkirkan mobilnya. Dia menggandeng Mahira memasuki hotel itu. Seperti yang dikatakan sebelum pergi. Mahira hanya harus diam dan tersenyum.


"Saya takut naik lift, mual dan pusing," bisiknya saat berada di depan pintu lift.


"Kita harus ke lantai 12. Mana mungkin naik tangga."


"Gak apa-apa, olah raga. Yuuk."


"Gak ah! udah, kamu pegangan saja. Oke."


"Baiklah."


Pintu lift terbuka. Bagi Mahira pintu itu ibarat pintu menuju neraka yang akan menyiksa dirinya. Saat lift mulai naik, Mahira menyertakan gandengannya. Aldo melirik dan terkekeh dibuatnya. Beruntung hanya ada mereka da dua orang lainnya lagi di dalam sana.


Saat lift hendak berhenti, Mahira semakin mengeratkan genggamannya lagi. Wajahnya dia benamkan pada bahu Aldo. Untuk sesaat Aldo merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya. Pintu terbuka, Mahira segera berlari keluar.

__ADS_1


"Ha ha ha. Kamu itu benar-benar sangat lucu. Entah dimana kamu hidup."


"Sudahlah. Kan saya sudah bilang, saya ini bodoh, saya akan membuat kamu malu saja."


"Ini tidak memalukan, ini sungguh-sungguh lucu. Aku suka."


"Apa?"


"Emm, itu. Maksudnya aku suka melihat kamu seperti ini. Benar-benar berbeda dari wanita lainnya."


"Sudahlah ... ayo, ke mana kita harus pergi?"


"Pintu itu." Aldo menunjuk sebuah pintu yang memang hanya ada satu di lantai itu.


"Ayo, gandeng tanganku dan jangan pernah kamu lepaskan. Selama bersamaku, kamu akan aman. Ok?"


"Hmm."


Mereka berjalan menuju sebuah pintu. Ada dua orang penjaga yang langsung menyambut mereka dengan ramah. Membukanya pintu untuk mereka berdua.


Layaknya pesta orang kaya kebanyakan. Yaa meski Aldo menyebutnya itu hanya sebuah pertemuan. Bedanya tidak ada musik yang bising. Tidak ada dansa-dansa dan yang lainnya. Pesta itu tertib dan tidak terlalu banyak tamu yang hadir.


Begitu Aldo masuk, dia disambut hangat oleh teman-teman yang beberapa di antara mereka terlihat jauh lebih dewasa darinya. Mereka melirik Mahira dengan tatapan penasaran.


"Jangan ganggu. Dia punya orang."


"Cieee ... tumben gak boleh lirik. Biasanya meraba saja sangat di perbolehkan."


"Ini beda. Lu sentuh gue bacok!"


"Galak amat Bapak ketua ini." ledek temannya.


"Berisik! sudah, ayo kita mulai saja caranya."


Teman-temannya yang sedari tadi menggoda Aldo, berjalan mengikuti. Mereka membawa pasangannya masing-masing yang Mahira duga bukanlah kekasih atau istrinya. Kenapa? karena wanita-wanita yang mereka bawa bisa disentuh oleh laki-laki lain. Mereka memang hanya wanita bayaran untuk menemaninya mereka ke acara ini. Khusus untuk yang masih muda seperti Aldo.


Untuk teman-teman Aldo yang sudah berumur, mereka lebih kalem pun dengan wanita yang ada di sampingnya mereka.


"Do." Seseorang memanggil Aldo saat mereka berjalan. Aldo menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang. Mahira masih gugup dan canggung. Dia yang melepaskan gandengannya berjalan perlahan meninggalkan Aldo.


"Ra, tunggu. Sini sebentar."


Mahira menengoknya kebelakang dengan senyumnya manisnya seperti yang Aldo perintah.


"Ya Al–." Mulut Mahira tiba-tiba Kelu saat melihat laki-laki yang bersama Aldo saat itu.


"Sini, kenalkan. Ini Mas Putra, CEO di perusahaan yang aku pegang. Ayo, ke sini. Dia bawa calon istrinya juga."


Mahira menatap bingung. Haruskah dia menghampiri Aldo?


Perasaan takut pun menghampiri dirinya, bagaimanapun juga dia istri Putra dan kini? dia berada di tempat ini bersama laki-laki lain.

__ADS_1


'Apa yang harus aku lakukan?' Batinnya.


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2