Membeli Istri

Membeli Istri
part#42


__ADS_3

Alhamdulillah tidak aku pungkiri, saat dulu hidup penuh penderitaan, kini aku hidup dikelilingi orang-orang yang kaya raya. Semua orang ingin hidup dengan mereka. Wanita dari berbagai jenis pun ingin memiliki Aldo. Hanya saja, Aldo menjadikan mereka teman saat dia galau dan gundah. Menikmati mereka hanya sebagai pemuas nafsu. Dulu.


Kini, Aldo benar-benar berbeda. Dia tak lagi main perempuan. Ke diskotik dan alkohol merupakan barang yang dia jauhi. Setidaknya itu yang dikatakan Renaldi, temannya. Dia salah satu teman Aldo yang dekat denganku. Meski tidak terlalu dekat dan hanya sesekali saja berkomunikasi.


Aku bersyukur jika dia memang begitu. Bukankah seburuk-buruknya manusia, lebih buruk lagi mereka yang merasa paling baik tapi malah ternyata yang paling buruk. Munafik.


Meski begitu, bukan berarti aku bersedia menerima cintanya. Entahlah, meski kadang tidak munculnya Aldo sehari saja membuatmu rindu. Tapi aku sadar, itu karena aku hanya memiliki satu teman yang benar-benar tulus, dia.


Bagiku, dia adalah teman terbaik selama hidup. Itulah, aku ingin dia mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Terlebih-lebih aku ini seorang janda. Rasanya aneh bagiku menikah dengan laki-laki yang masih bujang. Hahaha, meski akur tau Aldo sudah bukan bujangan lagi.


Entahlah. Aku sendiri bingung.


Nenek Laila sehat. Dia kembali ke yayasan lagi. Kondisinya tidak seceria sebelumnya. Dan Aldo memilih untuk menemaninya di sini. Membuat kami sering bertemu dan berbicara.


"Mau temani aku ke Jakarta gak?" tanyanya suatu sore. Setelah ashar.


"Kenapa? emm maksudnya mau apa ke Jakarta?"


"Aku ada pekerjaan. Cuma males pulang sendiri."


"Makanya pake supir biar gak sendiri lagi di jalan. Enak juga kamunya bisa istirahat."


"Kalau ada kamu dan anak-anak kita nanti, baru aku pakai supir biar bisa sama kamu dan anak-anak di belakang."


"Mulaiii ...." Aku mendelik.


"Loh, ucapan itu sebuah doa. Siapa tau ada hari dimana ucapanku di aminkan malaikat."


"Aldo ...."


"Gak usah di bahas. Aku cuma becanda. Jadi gimana? mau nemenin aku pulang gak?"


"Boleh. Aku juga ada sedikit perlu."


"Mau apa?"


"Mau tau apa mau tau banget."


"Mau kamu aja."


"Helehh! ya sudah, aku ambil baju dulu. Tunggu sebentar."


"Siap, Nyonya."


Aku melotot sebelum berpaling dan meninggalkan dia untuk mengambil beberapa baju.


Kami meluncur ke ibu kota. Kami sampai ke sebuah hotel tempat aku akan menginap. Aldo sebenarnya meminta aku untuk menginap di rumahnya. Tapi aku merasa tidak enak dan takut jadi fitnah. Meski aku sadar, tetangga Aldo bukan orang-orang yang kepo pada urusan hidup orang lain. Lah, orang siang hari aja kondisinya udah seperti kuburan. Sepi.


Saat sampai di kamar. Ponselku berbunyi. Pesan masuk.


[Kamu udah nyampe? nanti jam delapan aku ke hotel tempat kamu nginep. Kita ngobrol di kafe."


[Ya.]


Hanya itu balasan yang aku kirim. Kita lihat saja apa yang akan kami bicarakan nanti. Waktu terasa lama. Lagi dan lagi aku melirik jam tangan yang melingkar. Masih ada waktu setengah jam sebelum kami bertemu. Rasanya tidak karuan. Jantungku berdetak dengan cepat. Sama seperti dulu. Namun, kali ini berbeda rasanya. Aku takut tapi aku harus mau bertemu agar semuanya jelas.


[Aku sudah sampai.]

__ADS_1


Tanpa membalas pesan darinya. Aku segera menuju tempat yang dia maksud. Lokasinya ada di lantai 12. Bunyi lift sedikit membuat aku terkejut dari lamunan.


Ragu. Itulah yang aku rasakan saat itu. Bahkan aku sempat berbalik badan untuk tidak meneruskan semua ini. Tapi ... aku rindu. Juga ingin membicarakan sesuatu padanya.


Begitu sampai tempat tujuan. Mataku menyusuri setiap sudut. Hanya ada beberapa orang yang tengah bersantai di sana. Dan ....


Aku semakin takut setelah aku begitu terkejut. Kalau aku berbalik, takut akan menimbun kecurigaan lain darinya. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku terpaku menghampirinya.


"Kenapa? apa kamu kecewa karena bukan Putra yang datang?"


"Tidak. Aku sudah tau dari pesan yang aku terima."


"Wowww!" Dia sepertinya kagum padahal menyindir.


Ya, aku baru sadar saat tadi berjalan. Pesan yang aku terima menggunakan kata aku. Sementara Pak Putra selalu bilang 'saya'.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih."


"Langsung saja. Saya mengajak kamu bertemu karena ingin membicarakannya sesuatu." Dia meminum jus sebelum melanjutkan ucapannya, dan aku masih menyimak.


"Jujur saja, apa kamu masih mencintai suami saya?"


Pertanyaan yang tidak tahu harus aku jawab apa. Jujurkah? tapi itu akan menyakiti hati wanita yang telah menjadi seorang ibu.


"Tidak usah ragu, bilang saja. Kita bicara sebagai sesama wanita. Lupakan kalau aku adalah istrinya. Anggap saja aku ini teman kamu yang–"


"Ya. Bagi saya, dia cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir."


"Oh." Dia tersenyum meski terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Tapi untuk apa dia menanyakan hal itu? kenapa tidak dulu saja?


Aku benar-benar berhenti bernafas untuk sesaat. Rasanya tidak ada suara apapun yang bisa aku dengar. Hampa.


Dia masih tersenyum dan menatapku. Mungkin dia tau betapa aku sangat terkejut untuk itu.


"Mungkin terdengar aneh, tapi ...."


"Sebentar." Aku memutuskan untuk mengambil ponselku yang saat itu berbunyi. Hanya ingin sekedar mengalihkan perasaan kagetku saat itu. Nomor tidak dikenal.


"Halo."


"Mahira. Kamu Sekar cepat ke rumah sakit."


"Maaf, ini siapa?"


"Aldo ... dia kecelakaan. Sekarang dia kritis. Tolong datang ke sini."


Kali ini jantungku yang seperti akan loncat keluar. Bagaimana bisa ini terjadi. Tadi sore dia masih segar bugar. Dan sekarang?


Tanpa basa-basi aku langsung berlari meninggalkan Ririn sendirian. Aldo? dia kritis? ya Allah ... hamba mohon. Selamatkan dua. Jaga dia ya Rabb. Aldo ....


Hatiku hancur. Aku benar-benar sangat takut. Bingung dan Entahlah ... untuk pertama kalinya aku marah pada seseorang, supir taksi. Mobil yang dia bawa seperti tak sampai-sampai pada rumah sakit tujuan.


"Ini macet, Neng! sabar. Kalau tidak sabar jalan aja." Supir itu kesal saat aku membentaknya.


"Seseorang sedang kritis, dan saya ingin cepat ke rumah sakit itu, Pak."

__ADS_1


"Sebenarnya kita sudah dekat, hanya saja jalanan di ibu kota itu ruwet. Kita mau ke depan saja harus muternya setengah jam."


"Apa tujuan kita sudah dekat, Pak?"


"Ya. Jalan aja kalau buru-buru sih. Paling dua puluh menit lagi, cuma karena mac–"


Aku tidak mendengarkan apa yang dia ucapak selanjutnya. Setelah aku memberi tiga lembar uang berwarna merah padanya aku langsung turun dari berlari mengikuti trotoar. Sesekali aku meraba jalan saat trotoar pun ikut macet karena kendaraan yang nakal.


Aku berusaha lari secepat mungkin, tapi rasanya aku berjalan di tempat. Tidak maju sedikitpun. Aku berhenti dan menelpon nomor yang tadi menelponku.


"Halo." Aku menyapa dengan ngos-ngosan.


"Ya, Mahira. Kamu di mana?"


"Bagaimana keadaan Aldo? Apa dia baik-baik saja? tolong katakan sesuai yang-yang membuat aku sedikit bisa bernafas." Air mataku mulai menetes. Tidak ada jawaban, hanya ada suara Isak tangis dari sebrang sana. Aku semakin takut. Tidak memperdulikan lagi suara di telpon. Aku mempercepat langkahku.


Kakiku tersandung membuat kuku kaki ibu jariku terluka. Sangat sakit. Aku tidak perduli. Inilah akibatnya jika lari tidak memakai alas kaki yang seharusnya.


Sesampainya depan rumah sakit. Aku berhenti untuk sedikit mengambil nafas. Sempat melirik sedikit ke arah yang sakit. Berdarah.


Aku mengusapnya lalu kembali berjalan.


"Maaf, Mba. Pakai masker dulu." Satpam memberhentikan langkahku. Aku lupa tidak memakai masker. Tertinggal di kafe.


"Saya tidak membawanya, Pak."


"Kalau begitu, anda tidak bisa masuk. Pakai masker dulu baru boleh masuk."


"Pak, saya akan pakai jilbab saya sebagai masker seperti cadar. Tolong, ijinkan saya masuk. Saya mohon." Aku memelas.


"Maaf, tidak bisa. Ini sudah aturan di sini. Silahkan masuk, tapi kawasan ini wajib mematuhi prokes."


"Pak! seseorang sedang kritis di sana. Saya harus masuk untuk memastikan keadaannya. Saya mohon."


"Maaf, tapi tidak bisa. Ini demi kebaikan kita semua. Apa lagi anda akan memasuki kawasan UGD."


"Pak, saya mohon ...." Aku menunduk seperti ruku' pada satpam itu. Agar dia mengizinkan aku masuk. "Saya mohon, Pak. Sebentar saja izinkan saya masuk."


"Siapa yang sedang sakit? ibu? suami atau bapaknya?"


Aku bingung harus menjawab apa. Lagi pula siapa Aldo bagiku? dia bukan siapa-siapa. Tapi .... Kesal! aku memaksa masuk dan dengan sigap satpam itu menahan tubuhku dengan merentangkan tangannya. Otomatis aku mundur agar tidak bersentuhan dengannya.


"Pak!" Aku berteriak karena putus asa. "Saya ingin bertemu sebentar saja ... tadi dia bersama saya dalam keadaan baik, dan Sekaran ...." Aku menangis sedih. Rasanya hatiku hancur. "Dan sekarang dia kritis karena kecelakaan! Bapak ngerti tidak?" Aku berteriak.


"Kecelakaan?"


"Ya! Dia kecelakaan dan sekarang kritis. Jadi, saya mohon, Pak. Sebentar saja. Ini semua hanya aturan manusia kok. Kenapa harus ketat banget menjalaninya? bapak muslim bukan? pernah gak melanggar aturan Allah? bapak pernah gak sekali saja meninggal solat? bapak takut? tidak bukan? padahal Allah yang ngasih bapak nafas dengan gratis. Lalu kenapa Bapak begitu takut pada aturan rumah sakit yang–"


"Saya jaga dari siang sampai saat ini, tidak ada pasien yang kecelakaan masuk ke rumah sakit ini. Mungkin anda salah rumah sakit."


Aku terdiam. Mengatur nafas dan mencoba mengingat nama rumah sakit yang disebutkan penelpon tadi. Karena ingin memastikan, aku segera membuka WhatsApp dan membaca nama dan alamt rumah sakit yang dia kirim. Tidak salah.


"Maksudnya, mungkin itu yang sedang kritis." Satpam itu menunjuk ke arah belakang tubuhku. Begitu menengok. Aku terkejut. Hatiku lega, tapi juga marah dan kesal.


Aldo sehat. Dia berdiri tegak sambil tersenyum manis padaku. Aldoooo!


Terima kasih ya Allah, dia baik-baik saja. Alhamdulillah.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2