
Sudah beberapa hari ini, Mahira diam. Dia yang cerewet kini lebih kalem. Bahkan, dia juga mogok untuk belajar. Beberapa kali Putra bertanya, namun tidak pernah dapat jawaban.
Sudah beberapa upaya yang Putra lakukan, hasilnya nihil. Mahira tetap diam. Dia hanya bicara seperlunya saja.
Malam itu, Putra tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan perubahan istrinya yang drastis. Merasa tidak ada yang bisa dia lakukan, dia pergi mengambil beberapa cemilan dan minuman ke dapur. Begitu membuka lemari makanan, dia sedikit heran melihat stok makanan yang kembali penuh. Karena terakhir kali dia mengambil chiki, stoknya sudah hampir habis.
"Pak ...." Tuti menyapa membuat Putra sedikit terkejut.
"Tuti, nyonya habis belanja?"
"Iya, empat hari yang lalu, Pak."
"Sama siapa? kenapa dia tidak bilang mau keluar?"
"Sama Mrs Lani. Waktu itu, nyonya juga meminta saya beli kedondong buat rujakan, tapi gak tau kenapa tiba-tiba jadi diem gitu. Sampe utuh aja itu kedondong."
"Oh, begitu rupanya."
Putra kembali menutup lemari dan bergegas kembali ke kamarnya. Dia segera mengambil ponsel dan menelpon Lani. Sudah hampir larut malam, tapi Putra tidak sabar ingin bertanya pada Lani.
"Lan, maaf malam-malam ganggu."
"Gak apa-apa, Pak. Saya juga belum tidur masih mengerjakan tugas. Ada apa ya?"
"Saya mau tanya, kamu terkahir pergi bersama Mahira. Setelah itu, dia tiba-tiba jadi murung. Apa kamu tau kenapa?"
"Oh, nyonya masih belum baikan, Pak?"
"Loh, ada apa memangnya?"
"Iya, waktu itu saya belanja ke Supermarket, tadinya kami mau menyambangi Bapak ke kantor. Entahlah, waktu saya datang ke rumah saat hendak mengajar, nonya itu tampak senang dan kami pergi ke apotik ...."
"Apotik? apa dia sakit?"
"Bukan. Nyonya telat datang bulan, dan dia membeli alat tes kehamilan. Tapi, setelah kami berbelanja di Supermarket Fresh Food, dia murung dan menangis sepanjang jalan. Dia tidak mau bicara pada saya juga."
"Fresh Food?"
"Iya, yang tidak jauh dari kantor Bapak."
Putra lemas. Tangan bahkan hampir tidak bisa menahan beban ponsel dan ponsel itupun terjatuh ke lantai, Lani memanggil-manggil dari sebrang sana namun tidak ada jawaban. Diapun memutuskan pembicaraannya. Putra akhirnya mengetahui penyebab Mahira murung selama empat hari ini.
Putra duduk di ujung tempat tidur. Meremas kepalan kuat. Giginya bergemulutuk.
"Apa dia melihat aku dan Ririn?" Bisiknya.
"Ya." Mahira yang sedari tadi tadi belum tidur, menjawab. Sontak Putra menengok.
__ADS_1
"Saya melihat Bapak bersama wanita itu. Dia memang sangat cantik, berjilbab, tinggi dan putih. Beda dengan saya yang hanya ... ya, Bapak sendiri taulah. Pantas saja Bapak begitu mencintai dia. Saya aja terpana melihatnya." Wajahnya datar tapi terlihat dengan jelas bibirnya bergetar sambil memeluk lututnya.
"Mahira ...." Putra semakin merasa bersalah. Dia mendekat dan duduk di samping istrinya.
"Jangan merasa bersalah, Pak." Mahira mencoba untuk tersenyum. "Ini bukan salah Bapak atau wanita itu. Ini murni kesalahan saya." Dia menarik nafas dalam kemudian melepaskan lututnya yang sedari tadi dia peluk.
"Harusnya saya sadar diri bahwa pernikahan ini karena terpaksa, saya yang salah karena mencintai Bapak. Bapak berkali-kali bilang pada saya bahwa bapak tidak mencintai saya. Tapi saya ngeyel. Saya tetap mencintai Bapak." Mahira menunduk dengan seulas senyum yang getir.
"Mau gimana lagi, Pak. Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya." Air matanya perlahan luruh.
"Say–"
"Saya tau Bapak mencintai wanita lain." Mahira memotong ucapan Putra. "Selama ini saya diam dan mencoba mengerti. Hanya saja ...." Mahira mulai menangis sesenggukan. Kesediaan itu kini tumpah.
"Hanya saja, saat melihat langsung bagaimana suami sendiri bersama wanita lain, ternyata sakit. Rasanya jauh lebih sakit dari perlakuan orang tua saya selama ini. Dada saya sakit, Pak. Saya minta maaf ... karena mencintai Bapak. Maaf juga karena kesalahan saya ini, karena rasa cemburu saya membuat beban baru dalam hidup Bapak."
"Tidak, Ra. Justru saya yang minta maaf, saya–."
Mahira menepis tangan Putra yang hendak menyentuhnya.
"Jangan sentuh saya dengan tangan itu lagi, Pak. Biarkan tangan Bapak bersih dari tubuh ini mulai sekarang."
"Apa maksudmu?" Putra bingung.
"Saya yakin, wanita itu tidak tahu status Bapak bukan?" tanyanya. Mahira berpikir wanita berjilbab itu tidak akan mungkin mendekati Putra jika mengetahui Putra sudah beristri. Bagi Mahira, wanita berhijab itu adalah wanita solehah. Dan tebakan dia memang benar. Dan Putra kembali merasa sangat bersalah, kali ini perasaan itu untuk Ririn.
"Biarkan saja seperti itu sampai akhirnya kita benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa. Selama itu, biarkan tubuh Bapak aman dan menjadi miliknya." Mahira menyeka air matanya.
"Lalu harus sampai mana wanita bodoh ini berpikir? saya memang salah! saya salah karena jatuh cinta pada Bapak. Tapi ... rasanya sakit, kali ini benar-benar sakit, Pak ...." Suara Mahira meninggi.
Mahira menangis sesenggukan. Dia duduk menjauh dari Putra. Bukan dia merasa jijik, dia hanya merasa bersalah pada wanita itu karena telah mengambil haknya. Mahira melihat dengan jelas bahwa Putra dan Ririn saling menatap dalam penuh cinta. Tatapan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini, meski Putra sangat baik dan manis memperlakukan dirinya.
"Menjauh lah, Pak. Atau mungkin lebih baik jika saya tidur di kamar yang dulu, saat saya berstatus pembantu di rumah ini dan mungkin seharusnya memang seperti itu selamanya, saya bahkan merasa lebih rendah dari pembantu. Saya di beri uang, begitu juga pembantu. Bedanya saya melayani kebutuhan rohani Bapak dan–"
"Stop!" Putra berteriak dan langsung berduri. "Saya cukup menderita selam ini. Saya memang mencintai dia. Dia wanita yang selama ini membuat saya tidak bisa menikahi wanita lain. Dia datang kembali dengan statusmu sebagai janda. Aku bahagia." Putra tampak frustasi. Dia mengacak rambutnya kasar.
Putra masih berdiri dengan tatapan penuh emosi. Dia yang selama ini sedikit bicara, kini seperti bukan dirinya. Sorot matanya membuat Mahira takut dan juga sedih. Tatapan itu beda sekali dengan tatapan Putra waktu itu ... pada Ririn.
"Aku sangat bahagia mengetahui dia kini telah sendiri, aku seperti mendapatkan air minum saat sekian lama dalam perjalanan di gurun pasir. Tapi aku? Aku juga tidak bisa menceraikan dirimu. Aku tidak bisa mencerai istri hanya demi wanita lain meski aku mencintai dirinya!" Putra berteriak. Mahira beringsut. Dia menutup tubuhnya dengan selimut. Dia semakin ketakutan.
"Tolooong ...." suaranya melemah. "Jangan tambah beban pikiranku dengan cemburu mu itu. Bagiku, menceraikan dirimu sama saja dengan menyakiti emak. Dan itu tidak akan pernah aku lakukan, jelas bukan?"
"Baiklah." Mahira penuh keyakinan, meski entah dengan hatinya. "Saya tidak akan bersikap seperti ini lagi. Saya janji," ucap Mahira seperti anak kecil yang berjanji pada orang tuanya.
"Mahira, saya tau perasaan kamu. Saya mengerti. Tapi tolong, fahami juga perasaan saya." Putra duduk dengan membelakangi Mahira.
"Iya, Pak. Saya akan memahami perasaan Bapak dan tidak melulu memikirkan perasaan saya. Sekarang, tidurlah. Sudah larut." Mahira mempersingkat pembicaraannya. Dia tidak ingin memperpanjang ucapan Putra yang hanya akan menyakiti dirinya, lagi.
__ADS_1
Putra melirik sekilas. Kemudian dia pergi meninggalkan Mahira sendiri. Sebelum pergi, Putra mengambil ponselnya yang terjatuh.
Tidak ada lagi air mata yang menetes dari wajah Mahira. Dia cukup syok dengan sikap Putra barusan. Syok karena mengetahui bahwa sikap manis Putra selama ini bukan karena dirinya, tapi karena demi Emak.
Mahira kembali menangis. Matanya terpejam seperti tidak ingin membukanya lagi. Tangannya mengepal gulungan selimut begitu kuat.
Sementara diluar sana, Putra sedang berbicaralah dengan seseorang di telepon.
"Kenapa belum bobo, Mas? ini udah malam," ucap seseorang yang sepertinya baru terbangun dari tidur.
"Ganggu, Ya?"
"Gak, bukan itu. Aku cuma khawatir aja jam segini Mas belum tidur. Kenapa? Kangen yaaa," goda Ririn.
"Hmm." Putra memijat pangkal hidungnya.
"Ya ampun, tadi siang kita baru aja ketemu. Besok juga ketemu. Masa kangen sampe gak bisa bobo, sih?"
"Rin."
"Ya? ada apa, Mas? kamu terdengar cemas."
"Rin, bagaimana jika ...."
Hening.
"Ya, kenapa Mas? jika apa?"
"Jika saja ...."
"Jika apa? kenapa bingung gitu sih? ada masalah? atau kenapa?" Ririn mulai cemas.
"Bagaimana jika besok kamu ikut kumpulan sama club' mobil aku?"
"Yaaa ampun! cuma mau bilang itu aja?"
"Iya, gimana?"
"Iya, besok aku akan dandan yang cantik biar calon suami aku gak malu."
"Baiklah, met malem. Mimpi indah ya, sayang."
"Iya, Mas. Love you."
"Me too."
Putra menutup pembicaraannya. Dia menimbang-nimbang ponselnya lalu kemudian melemparnya kuat-kuat ke sembarang tempat hingga hancur berantakan.
__ADS_1
Hancur seperti hatinya dan juga hati Mahira.
🌺🌺🌺🌺🌺