
"Capek?"
"Lumayan, tapi kamu pasti lebih capek, nyetir soalnya."
"Udah biasa."
"Kenapa gak pakai supir aja? kamu bisa istirahat nantinya. Lagi pula bisa membantu orang yang membutuhkan pekerjaan."
"Contohnya, Pak Misran maksud kamu?"
Aku tidak bisa menjawab. Karena memang tidak pernah berpikir sampai ke sana.
"Nanti habis lebaran katanya. Dia ingin menghabiskan waktu sama keluarganya dulu. Ingin fokus ibadah juga."
"Kok?"
"Sudahlah. Ayo kita turun. Setelah lebaran nanti, kamu bisa bersama dengan bapak kamu itu." Aldo merenggangkan badan. "Aku merindukan kekasihku."
"Hemm?" Aku menengok dengan cepat. Entah kenapa dengan leherku ini. Mudah sekali memutar.
"Kenapa? cemburu?"
"Ih, gak! biasa aja. Cemburu kenapa, kita kan bukan siapa-siapa. Gak ada alasan untuk cemburu."
"Ya sudah, ayo jadi siapa-siapanya aku."
"Ya ampun, Aldo, Aldo."
"Ra, kamu itu kek martabak telor asin pake telor bebek, bakmi GM pake jamur, kue cubit pake Toblerone."
__ADS_1
"Masih siang, kenapa ngomongin makanan? lagian kenapa gitu aku di samain dengan makanan itu?"
"Spesial."
Dia itu memang sangat menyebalkan. Membuat aku marah dan senang bersamaan. entahlah sudah Semerah apa wajahku ini. Yang jelas, rasanya panas.
"Kamu itu makin menggemaskan kalo udah bersemu gitu."
Ya ampun. Kenapa aku grogi? rasanya udah pengen lari aja karena malu. Ini kaki tidak bisa di ajak kompromi. Mendadak sulit digerakkan. Hadeuhh!
"Kenapa malah diem aja? gak turun?"
"Eh, iya. Ini aku juga mau turun."
"Kalau masih kangen, sih, gak apa-apa. Kita di sini aja sampai magrib."
Bahkan, aku sulit memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Pikiranku tidak fokus. Gugup tidak karuan.
"Mahira ...."
Suara Aldo yang tiba-tiba datang begitu saja membuat aku terkejut dan menjatuhkan kuncinya. Dan entah kenapa lagi dengan tubuhku. Aku tidak bisa menunduk untuk sekedar mengambil kunci.
Aldo tersenyum. Manis sekali. Namun, aku merasa dia sedang meledek. Entahlah. Pintu terbuka saat Aldo telah membuka kuncinya. Dan aku? aku masih seperti patung, tapi bukan patung Pancoran.
"Kamu meninggalkan ini."
"Aduuh, maaf. Aku lupa." Aku segera mengambil tas yang berisikan pakaian.
"Aku pergi dulu. Mau ke kamar Nek Laila. Ikut?"
__ADS_1
"Tidak, aku di sini saja. Aku mendadak tidak enak badan soalnya."
"Oh?" Aldo hanya manggut-manggut dengan senyum penuh kemenangan. Dia pasti bisa menebak gelagat ku yang dibuat salah tingkah olehnya.
"Kamu tau gak apa yang lebih indah selain pelangi?"
"Apa?"
"Jawabannya ada di kata pertama."
"Maksudnya?" aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Aldo. Sungguh. Dia tidak menjelaskan dan hanya tertawa ringan. Kembali memakai kacamata hitamnya dan berlalu begitu saja.
"Aldooo ... nyebelin!"
Dia melambaikan tangan tanpa menoleh sedikitpun. Kamu itu bikin aku ... Entahlah, tapi aku selalu bahagia saat dekat dengan dia.
Ponselku berbunyi. Dan itu pesan dari dia. Aku tau sebelum membukanya karena nomor dia punya nada dering sendiri.
[Jangan menyia-nyiakan hidup untuk dia yang terlah berlalu. Percayalah ada seseorang yang tulus sedang menunggumu.]
[Lebih baik aku menunggumu sebentar lagi untuk mendapatkan jodoh terbaik, dari pada harus mendapatkan yang cepat tapi dengan orang yang tidak tepat.]
Rasa gugup, dan salah tingkah itu hilang seketika begitu membaca pesan dari Aldo. Apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini.
Dia memang benar. Tapi hatiku belum merasa yakin. Bukan tentang Aldo, tapi tentang hatimu yang takut akan menyakiti hatinya kelak.
Dari kejauhan, aku masih bisa melihat tubuhnya dibalik celah dedaunan dan bunga yang ada di taman. Aku begitu terkejut saat dia berbalik dan mata kami saling beradu. Senyum itu terukir dan membuat hatiku untuk pertama kalinya bergetar.
Aldo ....
__ADS_1