Membeli Istri

Membeli Istri
part#38


__ADS_3

Bogor. Kota hujan yang sangat indah dipandang mata. Suasananya yang sejuk, udara yang terasa segar melegakan. Meski begitu, hatiku tetap tidak bisa sejuk seperti udara yang ku hirup saat ini.


Mataku masih terasa panas. Air mata tak berhenti bergulir. Entahlah, mungkin mataku sudah sangat bengkak karenanya. Sesekali Aldo melirikku cemas. Dia tidak bertanya dan tidak berkata apa-apa.


Perjalanan yang kami tempuh cukup lama, bukan hanya karena jauh, tapi kendaraan yang padat merayap pun ikut jadi penyebabnya. Setelah adanya kelonggaran PSBB, mereka yang mulai jenuh langsung keluar untuk menghirup udara setelah merasa jenuh hanya berdiam diri di rumah.


Kami sampai di suatu tempat yang jauh dari perkotaan. Sebuah desa yang masih rimbun di tumbuhi pepohonan besar. Sawah-sawah terhampar luas saat kami akan tiba di tempat yang di tuju.


Sebuah desa yang penduduknya masih sangat sedikit. Pasti akan terasa tenang tinggal di sini.


"Kita sudah sampai, Ra."


Ya, kami telah sampai. Sebuah gerbang terbuka dengan bantuan penjaga. Kami masuk di pelataran yang sangat luas. Pertama yang aku lihat adalah sebuah joglo. Besar. Tidak ada apa-apa. Hanya lantai beratap.


"Itu tempat kami semua berkumpul." Aldo seakan mengerti tentang rasa penasaran dalam hatiku.


Tempat ini seperti asrama para aparat negara, hanya saja lebih rapi dan lebih indah. Semakin kami masuk lebih dalam, mataku semakin takjub dibuatnya. Di tengah-tengah bangunan, ada sebuah kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Banyak bangku taman untuk orang-orang duduk, seperti taman kota saja.


Semakin dalam lagi, aku melihat sebuah taman bermain, lengkap dengan mainan anak-anak. Perosotan, ayunan, jungkat-jungkit dan masih banyak yang lainnya.


"Kita ke sebelah sini." Aldo mengajakku memasuki sebuah ruangan di sebelah kanan.


Saat kami masuk. Bau harum menyegarkan menyeruak memenuhi rongga hidung. Ruangan yang cukup luas dengan furnitur yang mewah dan elegan. Seorang wanita yang mungkin kisaran 50an duduk di belakang meja.


"Mami. Fokus banget sih, sampai gak tau anaknya bawa calon mantu."


"Hmm." Wanita yang Aldo panggil Mami itu hanya bergumam. Dia masih fokus pada kertas-kertas yang sedang dia baca. Sesekali membenarkan posisi kaca matanya. Cantik.


"Mamiii ... baca apa sih?" Aldo merengek. Manja banget pikirku.


"Mami sudah biasa kena prank! gak akan tertipu lagi."


Aldo mendesah. Kemudian dia berbalik. Menyuruhku mengucapkan salam dengan bahasa mulut tanpa suara.


"Assalamualaikum, Bu."

__ADS_1


Mendengar salamku, wanita itu mendongak. Begitu melihatku, dia berdiri lalu membuka kaca matanya.


"Heleeh! kaget dah tuh." Aldo meledek maminya. Tidak menggubris ledekan anaknya, wanita itu berjalan menghampiriku. Dia menatap lekat dari atas sampai bawah.


"Ini seriusan, Do?"


"Ahh, tidak, Bu. Saya hanya temannya saja."


"Ya, ya, tak apa teman untuk sementara. Bagi anak saya, kamu pasti spesial. Sebelumnya dia tidak pernah mau membawa barang teman wanitanya."


Aku malu dan juga kaget. Sadar bahwa barang-barang yang aku bawa dari rumah, ada di tangan Aldo.


"Jangan malu. Itu baik untuknya. Laki-laki itu memang harus meringankan beban wanita." Wanita itu melirik sinis pada Aldo.


"Cieee cemburu ya karena aku gak pernah mau bawa belanjaan Mami."


"Mami kutuk jadi kue putu baru tau rasa!"


"Mau dong jadi kue putu, asal Mahira jadi gula arennya."


"Lah, itu yang sedang Mami pegang, dia namanya Mahira. Kenalan dong."


"Ah, iya. Mami lupa. Halo, saya maminya kue putu, orang-orang memanggilnya saya Bu Ranti."


"Saya Mahira, Bu. Senang bertemu dengan Anda."


"Aduuh duuhh. Jangan formal gitu. Biasa aja ngobrolnya. Panggil saya Mami saja."


"Tidak enak sama yang lain nantinya. Saya panggil seperti orang saja, Bu."


"Baiklah. Beruntung sekali si kue putu punya teman spesial beradab seperti kamu. Biasanya nih ya, yang lain sih tanpa di suruh juga langsung SKSD manggil saya Mami. Padahal saya tidak suka mereka begitu."


Ternyata cerewetnya Aldo menurun dari ibunya. Mereka suka sekali bicara. Sama seperti aku dulu. Sebelum semuanya terenggut oleh kebodohan yang aku lakukan, meminta bercerai dari suami yang sangat aku cintai. Ya Allah, bahkan sudah sejauh ini aku pergi, hati dan pikiranku tidak pernah bisa jauh dari Pak Putra.


"Saya antar kamu ke kamar. Mari."

__ADS_1


Aku digandeng Bu Ranti saat kami berjalan menuju kamar untukku.


Beberapa orang menyapa, mungkin mereka yang bekerja, atau juga mereka yang tinggal di sini sebagai penduduk. Beberapa diantaranya melihat tangan Bu Ranti yang terus memegangi jemariku. Aku merasa tidak enak, tapi lebih tidak enak lagi kalau aku meminta Bu Ranti melepas tangannya.


"Ini dulunya kamar kue putu. Tapi akan jadi kamar kamu. Kamar yang lain sudah penuh soalnya."


"Tapi, Bu."


"Ini bukan karena kamu spesial, tenang saja. Karena memang sudah tidak ada kamar lain yang kosong. Masa iya kamu mau barengan sama anak-anak atau sama nenek-nenek yang ada di sini?"


Baiklah. Aku merasa ini memang hanya sebuah alasan. Tentu saja, aku tahu dari raut wajah Aldo dan juga Bu Ranti sendiri.


Kamar yang cukup luas. Ada ranjang berukuran sedang, lemari baju, meja rias dan juga televisi. Ada kamar mandi juga di dalamnya. Ada dua sofa kecil beserta mejanya yang berbentuk bundar. Tentu saja komplit, mengingat ini adalah kamar Aldo.


"Bagaimana? apa ini sudah bisa membuat kamu nyaman?"


"Iya, Bu. Alhamdulillah, udah sangat nyaman."


"Sukurlah kalau begitu, saya lega mendengarnya. Kalau butuh sesuatu, bilang ya."


"Jangan repot-repot, Bu. Sudah punya tempat tinggal juga sudah membuat saya sangat bersyukur."


"Ya. Kita memang harus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Dengan begitu kita akan merasa bahagia. Ya sudah, saya permisi dulu. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Iya, Bu. Terima kasih."


"Ya. Kue putu! ikut Mami keluar. Tidak baik satu kamar dengan wanita yang belum halal."


Aldo cengengesan. Dengan langkah ogah-ogahan, dia mengikuti Bu Ranti keluar kamar.


"Kalau ada apa-apa, bilang saja, ya. Jangan sungkan."


"Ayooo ...." Bu Ranti menjewer telinga Aldo saat laki-laki bawel itu kembali masuk ke kamar.


Tertawa kecil. Itulah yang selalu aku lakukan melihat tingkah Aldo. Di tambah ada Bu Ranti yang sama-sama lucunya dengan Aldo. Semoga saja ini adalah pertanda baik untuk hidupku. Paling tidak, aku di kelilingi orang-orang yang menghadirkan tawa setelah lelah melewatinya hari dengan duka dan air mata.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2