Membeli Istri

Membeli Istri
part#14


__ADS_3

Seperti biasa, emak bangun jam tiga dini hari. Emak harus ke pasar berbelanja isi warungnya. Sudah ada ojeg langganan yang setiap pagi mengantar jemput Emak.


Warung Emak diisi dengan sembako, jajanan pasar, kue basah dan berbagai makanan untuk para tetangga sarapan. Serta sayur mayur.


Putra terbangun saat Emak membuka pintu. Dia segera keluar dan memanggil Emak. Putra ingin mengantar Emak ke pasar pagi ini. Menurutnya, ini jarang dilakukan mengingat mereka tinggal terpisah. Mumpung bisa katanya.


Ojeg itu kembali ke pangkalan yang ada di dekat pasar.


Sesampainya pasar, Putra mengikuti Emak berbelanja berbagai makanan. Ketampanan Putra membuat riuh ibu-ibu pedagang di pasar. Mereka berceloteh begitu Putra dan Emak menyambangi jualan mereka.


"Aduuuh. Kenapa gak jadi mantu saya aja. Saya punya anak gadis juga."


"Hebat ya, udah jadi pengusaha sukses juga masih mau antar Emak ke pasar."


"Ya Allah, udah tampan mapan juga. Beruntung banget yang jadi istrinya."


"Gak apa-apa atuh anak saya jadi istri kedua juga."


"Loh, kenapa manten malem-malem ke pasar bukannya bobo aja sama istrinya."


Dan banyak lagi celotehan lain dari para ibu-ibu pedagang di psar. Putra hanya terdiam dengan seulas senyum sambil membawa belanjaan Emak.


"Kata emak juga jangan ikut. Pedagang di sini ombreng semua," ucap emak saat di motor menuju jalan pulang.


"Gak apa-apa, namanya juga ibu-ibu."


Sesekali Putra menggigil saat angin begitu dingin menerpa wajahnya. Tidak butuh waktu lama dari pasar ke rumah, hanya lima menit saja. Mereka sampai begitu azan subuh berkumandang.


"Kamu masuk saja ke rumah, salat subuh. Biar emak yang membereskan dagangannya."


"Iya, Mak."


Setelah menyimpan kantong belanjaannya, dia masuk ke rumah. Masuk ke kamar untuk membangunkan Mahira. Mahira masih meringkuk di bawah selimut.


"Ra, bangun. Salat subuh dulu."


Mahira tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan kepalanya sedikit lalu tertidur lagi. Dengan perlahan Putra mendekat dan berbisik di telinga Mahira. Menggoyangkan tubuhnya perlahan. Namun, Mahira masih terdiam.


Putra merasa heran saat melihat kening istrinya berkeringat. Dia memegang keningnya yang ternyata panas tinggi.


"Mahira, kamu demam. Ayo kita ke rumah sakit." Putra membuka selimut tebal yang menutupi tubuh kecil istrinya. Begitu selimut terbuka, putra kaget melihat darah cukup banyak dibawah tubuh Mahira. Tepat di bawah paha.


"astagfirullah. Kamu kenapa?"


Dengan cepat, Putra membopong tubuh Mahira. Darah menetes dan mengotori baju Putra. Laki-laki itu hampir berlari menuju mobil.


"Abel! tolong ambilkan kunci mobilku." Putra berteriak saat sekilas dia melihat adiknya sebelum dia keluar dari rumah.


"Dimana?"


"Ambil saja yang kamu lihat, kunci mobil siapa saja. Cepat!"


Abel segera mengambil kunci mobil dirinya. Meski tidak tau apa yang terjadi, Abel ikut merasa panik.


"Ya Allah. Teteh kenapa A?"


"Udah, cepat buka pintu mobilnya."


"I-iya."

__ADS_1


Abel segera membuka pintu mobil, dia juga sekalian menyalakannya saat Putra dengan perlahan menidurkan Mahira di jok tengah.


Tanpa berbicara pada siapapun lagi, Putra segera memacu mobilnya dengan sangat cepat.


"Bel, itu siapa yang bawa mobil," tanya Emak.


"Aa, gak tau kenapa tapi Teteh berdarah banyak banget."


"Ya ampun. Sok atuh kita cepet nyusul."


"Nyusul kemana, Mak? kita tunggu saja Aa ngasih kabar."


"Memangnya dia bawa ponsel?"


"Mobil aku ada GPS nya. Kita susul dia nanti setelah kita salat subuh. Ya?"


"Ya sudah."


*****


Begitu sampai rumah sakit terdekat yang ada di sekitar Buntet. Putra memasuki pelataran UGD. Dia keluar dari mobil dan langsung menggendong istrinya.


"Dok, tolong istri saya!"


"Pak, sebelum ditangani harus cek rapid dulu. Itu protokol yang ada di sini."


"Saya baru CPR anti gen dan hasilnya negatif begitu juga istri saya."


"Kapan?"


"Dua hari yang lalu. Tolong, istri saya butuh bantuan."


Putra segera membaringkan Mahira di atas tempat tidur yang perawat tunjuk. Mereka memeriksa perdarahan Mahira. Membuka baju bagian bawahnya. Tak berapa lama dokter dan dua perawatan lainnya datang. Mereka segera bekerja sesuai tugasnya masing-masing.


"Apa istri anda sedang hamil?"


"Tidak, kami baru menikah kemarin."


"Oooh." Dokter tau apa yang membuat Mahira perdarahan setelah Putra menjelaskan bahwa mereka baru saja menikah.


Dugaan dokter benar. Ada bagian ******** Mahira yang sobek. Tidak besar namun, mengeluarkan darah cukup banyak mengingat daerah kewanitaan banyak pembuluh darah dan sarafnya.


Putra membiarkan para petugas melakukan pekerjaannya tanpa bertanya apapun pada mereka. Tidak butuh waktu lama, perkejaan mereka akhirnya selesai. Barulah Putra bertanya perihal keadaan istrinya.


"Begini, Pak. Istri Bapak mengalami perdarahan karena ada robekan di bagian vaginanya. Beruntung hanya sedikit dan perdarahannya berhenti sebelum istri Bapak di bawa kemari"


"Robekan?"


"Ya, saya rasa wajar mengingat Bapak baru saja menikah." Dokter itu menggulum senyum.


Putra menyadari apa yang di maksud dokter tersebut. Malu? tidak. Putra justru merasa bersalah pada Mahira. Karena dirinya lah Mahira menjadi seperti ini.


"Tak apa, Pak. Saya baik-baik saja," ucap Mahira yang sudah sadar.


Putra menghampiri istrinya. Duduk di atas ranjang di samping Mahira.


"Maaf."


"Kenapa? ini semua kesalahan kita berdua. Jangan merasa bersalah seperti ini. Saya juga tidak apa-apa."

__ADS_1


"Istirahat lah."


Putra menutup tubuh Mahira dengan selimut yang ada di situ. Mengelus wajahnya dengan lembut.


Mahira tidak diperbolehkan pulang sebelum cairan infusnya habis. Keadaan Mahira cukup baik sehingga tidak perlu di rawat intensif di rumah sakit.


Pukul 07. 30


Mahira akhirnya diperbolehkan pulang. Dia tidak boleh bekerja terlalu berat agar jahitannya tidak kembali robek. Pesan dokter.


Putra menggendong Mahira menuju parkiran, mobil yang tadi dia simpan begitu saja sudah diparkiran oleh satpam.


"Saya bawa mobilnya akan sangat pelan. Bilang kalau kamu kesakitan, ya."


Mahira mengangguk pelan. Dia masih merasa lemas meski telah diinfus. Beruntung keadaanya tidak mengharuskan dia mendapat transfusi darah.


Putra sampai di rumah begitu keluarga tengah bersiap-siap hendak pergi menyusul.


"Alhamdulillah. Mahira kenapa sampai perdarahan?" tanya Emak.


"Tidak apa-apa, Mak. Ini semua kesalahan putra," jawab Putra sambil menggendong Mahira memasuki rumah.


"Biarkan dia istirahat. Ayo, kita semua keluar," ajak emak pada yang lain saat mereka berada di kamar Putra.


"Istirahat, ya. Kalau butuh apa-apa bilang saja."


"Iya, Pak. Saya tidak apa-apa. Saya baik-baik saja. Jangan khawatir."


Putra mencium kening Mahira sebelum dia keluar dari kamar dan duduk bersama keluarganya untuk memberikan penjelasan.


Abel tertawa keras mendengar penjelasan Putra. Emak hanya diam dan merasa serba salah.


"Makanya santai aja, A. Besok-besok juga kan masih bisa. Gak harus di gas saat ini juga kan? hahaha."


"Putra jadi merasa bersalah, Mak. Lupa kalau dia masih kecil. Tubuhnya juga sangat kecil."


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang jaga saja Mahira. Biarkan dia istirahat sampai benar-benar sembuh."


"Sakit tau! aku aja seminggu nahan sakit waktu lahiran kemarin. Jangan di gas lagi sebelum dia benar-benar sembuh." Abel menjelaskan.


"Hmm."


"Aa kapan ke Jakarta lagi?"


"Tadinya besok. Cuma sekarang keadaanya seperti ini, mungkin nunggu Mahira sembuh dulu."


"Iya, biarkan dia istirahat. Oya, Mirah kapan ke Jakarta?"


"Putra belum nanya. Nanti siang Putra telpon deh."


"Pastikan dia sudah kembali begitu kamu dan mahira pulang. Jangan biarkan Mahira mengurus semuanya sendiri."


"Iya, Mak. Putra ke kamar dulu, mau lihat Mahira."


"Awas! jangan di gas dulu."


"Belll, jangan ganggu kakak kamu, ah!"


Putra hanya melotot pada adiknya sebelum dia pergi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2