Membeli Istri

Membeli Istri
part#32


__ADS_3

"Mahira, kamu masih marah?" tanya Putra saat mereka sarapan. Tidak ada jawaban.


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu tidak marah lagi?"


Mahira tetap diam. Dia hanya mengunyah makanan tanpa merespon pertanyaan Putra.


"Saya–"


"Apa Bapak sudah menghubungi dia? apa dia juga marah? apa Bapak juga membujuk dia seperti ini? lalu apa reaksinya?"


Putra tau istrinya bertanya karena masih marah. Tidak ada yang bisa Putra jelaskan, karena beberapa hari ini dia memang tidak berkomunikasi dengan Ririn.


"Saya tidak berkomunikasi beberapa hari ini."


"Kenapa? tidak ingin tau dia bagaimana keadaannya?"


"Dia hanya harus didiamkan saat marah."


"Kenapa Bapak tidak tau cara agar saya tidak marah lagi?" Tanpa menunggu jawaban Putra, Mahira bangkit dan segera pergi dengan langkah yang cepat.


Putra memejamkan mata. Memijat dahi yang terasa sakit belakang ini. Segera dia menyusul istrinya setelah menenggak teh manis hangat satu cangkir sekaligus.


Begitu sampai di kamar, dia mendapati Mahira sedang meringkuk dibalik selimut. Bahunya terlihat turun naik, seiiring Isak tangisannya. Putra mendekat dan duduk di samping Mahira.


"Saya minta maaf jika tidak peka. Jujur, saya bingung harus berbuat apa sekarang ini. Bisakah kamu terus terang saja saya harus seperti apa?"


"Saya ingin kita berpisah sementara waktu. Lebih baik kita tidak bertemu untuk beberapa saat dan memikirkan masalah ini dengan kepala dingin."


"Baiklah. Saya akan pergi dari rumah ini dan kembali setelah kamu siap menerima saya lagi."


"Tidak! saya yang akan keluar dari sini."


"Kamu kau kemana?"


"Kemana saja. Yang penting tidak satu rumah dengan Bapak."


Putra berpikir keras dengan permintaan Mahira kali ini. Dia cemas memikirkannya kemana istrinya akan pergi.


"Apa kamu mau tinggal di hotel beberapa hari ini? itu akan jauh lebih aman."


"Tidak."


"Lalu?"


"Saya akan ikut pulang kampung bersama pak Misran."


"Apa?" Putra sedikit kaget. Tapi itu jauh lebih baik, setidaknya Mahira bersama orang yang aman. Pikir Putra. "Baiklah. Kapan kalian akan berangkat?"


"Siang ini." Jawab Mahira masih dari balik selimut.


"Oh, begitu rupanya. Baiklah, saya akan–"


"Berangkat saja ke kantor. Saya tidak mau Bapak ada di sini saat saya pergi. Saya takut malah tidak akan bisa pergi nantinya."


"Bagus dong."


"Apanya yang bagus? kita kan harus berpisah sementara waktu biar kita sama-sama mengoreksi diri sendiri."


"Yaaa ... saya hanya ...." Putra tidak melanjutkan ucapannya. Dia merasa tidak yakin dengan apa yang dia rasakan.


"Berangkat saja ke kantor, saya tidak apa-apa kok."


"Ya. Mungkin sebaiknya memang begitu. Tenangkan saja dulu hati dan pikiran kita."


*****


"Gimana? udah ada kabar belum?"


"Belum. Mungkin Mahira sengaja meminta pak Misran buat matiin ponselnya."


"Tau gak? setelah istri lu pergi, gue dan beberapa karyawan di sini ngeliat lu itu beda banget."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Putra datar.


"Lu kusut dan gak bergairah. Penampilan dan kerjaan lu berantakan semua. Itu, proyek yang di Majalengka kau lu apain? mangkrak gitu aja?"


"Pikiran gue lagi gak stabil. Otak gue gak bisa mikir saat ini."


"Iyaaa, tapi bos bisa marah besar gara-gara ini."


"Win, proyek yang di sana terpaksa berhenti sejenak karena pandemi ini. Jadi, gue gak bisa ngapa-ngapain. Tunggu kebijakan dari pemerintah dulu. Dari pada kena denda?"


"Iya, sih. Eh, terus, itu Ririn gimana?"


"Dia juga sama, tidak bisa di hubungi."


"Yaelah, jadi lu ditinggal keduanya, gitu? kasian bener nasib lu!"


"Bukan, dia memang–" Obrolan mereka terhenti saat ponsel Putra berbunyi.


"Istri gue nelpon." Putra berbinar. Tanpa permisi dia meninggalkan Wiwin. Menjaga jarak agar bisa leluasa berbicara.


"Assalamualaikum, Pak."


"Waalikumsalam, Ra. Gimana kabar kamu? di mana sekarang?"


"Alhamdulillah baik. Bapak gimana? sudah hampir sepekan kita tidak saling bicara."


"Iya, kamu benar. Saya sangat ...."


Hening.


"Kenapa berhenti? rindu sama saya? he he he."


"Euhh itu, saya–"


"Jangan gugup gitu. Saya tau kok itu hal yang mustahil."


"Bukan begitu maksudnya."


"Tidak. Tidak sibuk, kok. Saya santai saat ini. Mau bicara apa?"


"Syukurlah kalau tidak sibuk. Saya mau minta maaf sebelumnya."


"Untuk?"


"Semuanya."


"Tidak ada yang harus di maafkan, kamu tidak punya salah apa-apa. Saya yang banyak salah sama kamu."


"Pak. Maaf karena telah membuat Bapak dalam situasi sulit selama ini. Saya egois karena hanya memikirkan hati saya sendiri tanpa memikirkan hati Bapak."


"Ra, it's ok! semuanya baik-baik saja."


"Tidak. Semuanya tidak baik-baik saja. Hati kita tidak baik-baik saja, Pak. Hati kita berdua sama-sama sakit karena masalah ini."


"Saya baik-baik saja sekarang. Kamu tidak perlu khawatir."


"Seharusnya saya tau diri sejak awal. Hanya saja, hati saya memang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Bapak mencintai wanita lain. Entah karena saya egois, atau karena saya terlalu mencintai Bapak, atau mungkin karena keduanya. Saya minta maaf untuk itu semua."


"Tidak apa-apa, saya bisa memakluminya. Lagi pula saya yang salah karena memberikan harapan sama kamu."


"Pak, selama ini saya sudah memikirkan segalanya. Dan saya sudah mengambil keputusan untuk apa yang terjadi pada kita."


"Semoga keputusan kamu benar dan tidak gegabah." Putra mulai cemas. Wiwin yang melihat ekspresi sahabatnya itu, ikut cemas. Putra terlihat begitu gugup. Dia berjalan mondar-mandir sejak tadi.


"Saya benar-benar ingin kita berpisah saja, Pak."


Langkah Putra terhenti. Wajahnya pucat. Tubuhnya seperti terhipnotis tidak bisa bergerak.


"Terima kasih atas kebahagiaan yang Bapak berikan untuk saya. Terima kasih untuk waktunya yang sangat berharga bagi saya. Meski saya tau Bapak tidak mencintai saya, tapi saya bahagia selama ini. Mendapatkan perhatian dan sikap Bapak yang begitu baik pada saya. Saya tidak bisa bernafas dengan benar saat kita bersama, rasanya selalu sesak.


Terima kasih telah memberikan kebahagiaan untuk saya, Pak. Saya benar-benar merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini. Meski tidak memiliki hati suami saya, tapi saya memiliki kebaikan dari suami yang tidak bisa di miliki wanita lain.

__ADS_1


Saya benar-benar mencintai Bapak dengan tulus. Saya telah jatuh hati begitu dalam dan rasanya saya tidak bisa kembali berdiri, sampai akhirnya saya sadar bawah saya jatuh di hati yang tidak seharusnya." Mahira mulai terisak.


Hening.


"Pak, saya akan pergi jauh dari kehidupan Bapak. Terlepas Bapak menceraikan saya tau tidak."


"Mahira ...."


"Bapak hanya bingung untuk memilih karena saya dan dia ada di waktu dan tempat yang sama. Mungkin, dengan saya pergi, Bapak akan lebih mudah mengambil keputusan."


"Di mana kamu sekarang? mana Pak Misran?"


"Saya tidak bersamanya, Pak. Sejak awal."


"Apa?"


"Tolong, jangan marah padanya. Ini semua murni keinginan saya. Pak Misran hanya mematuhi majikannya. Jangan mencari saya lagi. Hiduplah dengan bahagia, Pak. Bapak layak mendapatkannya. Dan ... jangan cemas masalah emak, saya sudah menjelaskan semuanya. Emak merestui dan menerima wanita itu untuk jadi pengganti saya."


"Mahira ...."


"He he he. Lagi pula, Bapak lebih pantas jadi kakak saya. Itu juga yang saya rasakan selama ini."


"Mahira, saya ...."


"Jangan merasa bersalah dan jangan cemas tentang keadaan saya. Saya baik-baik saja. Saya aman kok, Pak."


"Bagaimana kamu bisa bertahan hidup? kamu belum cukup pintar untuk bisa hidup sendiri."


"Uang yang selama ini Bapak kasih, bisa saya jadikan modal hidup, Pak."


"Rekening mana yang kamu bawa? saya akan tetap memberikan kamu nafkah. Saya akan menjamin semua kebutuhan kamu."


"Tidak perlu. Ini sudah cukup bagi saya, Pak. Semuanya sudah cukup." Suara lahir bergetar.


"Saya mohon, kembali ke sini."


"Suatu saat, saya pasti akan kembali. Tapi dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Dengan status yang berbeda juga."


"Mahira, tolong. Jangan begini. Bukan seperti ini caranya. Kita bisa bicarakan baik-baik."


"Tidak, Pak. Jika kita bertemu lagi saat ini, itu hanya akan membuat saya semakin sulit melangkah pergi. Bahkan, dalam mimpi saja saya enggan untuk berpisah dengan Bapak. Saya mengumpulkan keberanian dan tekad yang kuat bisa pergi sejauh ini. Jangan buat saya semakin sulit lagi."


"Mahira ...."


"Saya tutup telponnya, dan terima kasih untuk segalanya."


Hening.


"Saya mencintai Bapak. Selamat tinggal."


Putra masih diam tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia benar-benar syok. Dia tidak sadar kalau Mahira sudah memutuskan pembicaraan mereka.


"Tunggu, tunggu. Tidak seperti ini caranya. Bagaimana dia bisa hidup di luaran sana. Dia tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa untuk bertahan hidup. Jangan seperti ini, tolong."


Putra panik. Dia berusaha menelpon Mahira berkali-kali. Namun, nomor itu sudah tidak bisa di hubungi lagi.


"Tolong, Mahira. Jangan seperti ini."


"Putra, lu kenapa? ada apa?"


"Mahira ... Win, Mahira pergi."


"Maksudnya?"


Putra ambruk ke lantai. Wajahnya pucat dan nampak sangat syok. Ponselnya berbunyi, dia langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Mahira ...."


"Mas, ini aku. Buka Mahira."


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2