
"Dari mana?"
Pertanyaan Aldo membuat aku tersentak kaget.
"Kenapa sendirian? aku sudah bilang, jika ingin pergi bawa juga Pak Misran. Apa kamu benar-benar tidak tahu bagaimana caranya patuh pada suami? kamu lihat ini jam berapa?"
Aku kembali tersentak. Kali ini disertai rasa sedih dalam hati karena nada tinggi dari ucapan Aldo.
"Mahira ... kenapa kamu membuat aku cemas?" dia menghampiri lalu memeluk tubuhku.
"Maaf." Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku bingung. Haruskah aku mengatakan dari mana aku barusan, dan apakah semua akan baik-baik saja jika Aldo tahu?
*****
"Sayang ... sejak beberapa hari ini, aku lihat kamu selalu murung, ada apa?" tanya Aldo saat kami sarapan. Lima hari sejak saat itu.
"Tidak apa-apa, Mas."
"Tidak apa-apa tapi selalu terlihat sedih dan murung. Apa kamu punya masalah? cerita saja."
"Semua baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir."
"Bukan khawatir. Aku cuma gak suka aja lihat wajah kamu muram setiap hari. Di luaran sana itu banyak yang ngasih aku senyuman. Ini, malah cemberut setiap kali aku pulang."
DEG!
Jantungku seperti ditusuk belati tumpul. Sakitnya sangat luar biasa. Dengan mata yang berlinang, aku menatap suamiku dengan penuh tanda tanya. Mungkinkah dia mulai bosan hidup denganku?
Entahlah ... sejak bersama Aldo, aku merasa menjadi wanita yang sensitif. Sedikit-sedikit nangis dan mudah sakit hati. Baperan.
Segera aku seka air mata yang lumayan banyak membasahi pipi, sebelum Aldo melihat semua ini. Namun, dia memiliki mata yang setajam elang.
"Sayang. Aku hanya bercanda. Jangan diambil hati."
Aldo segera menghampiri dan mengambil alih tugas tanganku yang sedang menyeka air mata.
"Sssttt. Sudah, ya. Jangan menangis lagi. Aku bahkan tidak akan pernah sudi seseorang memberikan senyuman padaku. Aku hanya milikmu seorang. Dari ujung rambut hingga ujung kaki."
"Tapi, tubuhku ini milik siapa?"
"Ah?"
Aldo seperti berpikir, tapi aku yakin dia mengerti apa yang aku maksud.
"Sudah lama sejak kita menikah, Mas. Tidak pernah sekalipun tubuhku menjadi hak seorang suami." Aku mengigit bibirku. Butuh kekuatan besar untuk akhirnya bisa menanyakannya hal yang menurutku rumit.
"Aku tidak pernah tahu alasannya dan juga tidak akan menanyakan hal ini, tapi ...."
Aldo mengangkat satu alisnya. Tanda bahwa dia sedang menunggu kelanjutan dari ucapanku.
"Tapi, anak adalah sebuah syarat untuk mendapatkan restu dari papi."
"Maksudmu?"
"Papi bilang akan merestui pernikahan kita hanya jika kita memberinya cucu laki-laki. Tapi bagaimana kita bisa memiliki anak jika aku tidak pernah tersentuh?" aku agak emosi dan berkata dengan sedikit nada yang tinggi.
Kesal tapi juga malu. Aku merasa seperti wanita kegatelan yang meminta untuk di garuk. Hiyyyy!
Untuk menyembunyikan rasa malu ini, aku berlari meninggalkan Aldo menuju kamar. Aku mengurung diriku sendiri.
Aku tidak perduli meski Aldo mengetuk pintu dari luar beberapa kali untuk waktu beberapa lama.
"Sayang ... buka pintunya. Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Jangan begini."
__ADS_1
Aku diam.
"Sayang. Aku mohon, kita bicara sebentar saja. Plisss."
Tak tega rasanya mendengar dia terus mengiba, akhirnya aku mau membuka pintu untuk suamiku masuk ke dalam kamar. Dia hendak menyentuh tapi aku tepis. Aku menghindari sebagai bentuk rasa kesal. Atau mungkin malu.
"Coba jelaskan dulu apa yang terjadi? apa kamu ketemu papi, sayang?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Mas! papi akan memberikan restu untuk kita. Dengan satu syarat. Cucu."
Kami diam.
"Tapi, Mas ...." lidahku rasanya kelu untuk mengatakan bahwa kami tidak pernah berhubungan badan. Aldo menatapku lekat. Mungkin dia mengerti apa yang akan aku katakan.
"Maaf, sayang. Bukan aku tidak ingin kita berhubungan badan, hanya saja ...."
"Apa? Mas, kamu tidak menyukai sesama jenis bukan?"
"Hah? astagaaa ... ya enggak lah! amit-amit."
"Terus?"
"Kamu tau sendiri bukan kalau aku ini suka minum-minuman?"
Aku mengerutkan dahi. Apa hubungannya? itu hanya masa lalu dia yang sudah aku terima.
"Aku juga sering banget main perempuan ...." dia menunduk, mungkin merasa malu dan bersalah. Hatiku pun merasa perih mendengarnya.
"Aku belum cek ke dokter karena malu."
"Aku tidak ingin menularkan penyakit sama kamu. Sebelum kita melakukan itu, aku ingin memastikan bahwa kondisiku sehat. Tapi ...."
"Kita sama-sama ke dokter, Mas. Jangan malu dan takut. Kalau itu masalahnya maka aku akan menemani kamu periksa ke dokter."
Aldo menatapku seperti tidak percaya. Meski ada raut kelegaan dan bahagia di wajahnya.
"Mas, kita semua punya masa lalu. Aku, kamu dan semua orang punya itu. Tapi tidak ada manfaatnya kalau kita terus-menerus terjebak disana. Kita hanya perlu menjalani hidup lebih baik dari sebelumnya. Kita ke dokter ya, biar bisa ...." aku mengerjap-ngerjap saat tersadar kalimat berikutnya akan sangat memalukan.
"Biar bisa apa, sayang?" Aldo meledek. Tersenyum seringai dengan mata berkedip satu. Tubuhnya semakin mendekat ke arahku.
"Apa kamu sudah tidak sabar ingβ."
Aku membekap mulutnya dengan tanganku, tapi itu malah membuat aku dan dia semakin dekat dan saling erat. Tangan Aldo melingkar di pinggang, membuatku semakin tidak karuan dan salah tingkah.
"Ke dokter dulu. Baru kita bisa melakukannya."
Aku segera melepaskan diri dan menghindarinya. Bagaimanapun juga aku senang, dia memikirkan diriku selama ini. Itu sangat bagus, sebagai laki-laki dia tidak egois hanya memikirkannya hasratnya.
*****
"Menurut pemeriksaan umum dan fisik, kondisi anda baik-baik saja. Tidak ada penyakit menular yang membuat anda tidak menyentuh istri. Kita tunggu hasil lab setelah dua jam nanti. Semoga hasilnya baik-baik saja."
Itulah yang dokter ucapkan tadi. Kini, aku dan Aldo duduk di bangku rumah sakit menunggu hasil lab dengan perasaan cemas. Aku selalu berdoa dalam hati agar apa yang Aldo takutkan tidak terjadi. Lagi pula, dia sudah lama bertaubat bukan? atau ....
"Mas." bisikku pada Aldo yang tengah menaruh kepalanya di bahuku. "Kapan terakhir kamu berhubungan sama perempuan-perempuan itu? kalau kamu sudah lama taubat, harusnya kamu sehat. Kalaupun kamu terkena penyakit, harusnya pas kamu masih nakal."
"Udah lama enggak. Semenjak kenal kamu aja, sayang. Yaaa, ini kan hanya jaga-jaga. Intinya aku ingin kamu tetap aman, tidak terkena imbas dari suami yang pernah hina ini."
Harusnya aku tidak bertanya apapun padanya. Meski dia menjawab dengan santai dan masih senderan padaku layaknya anak kecil, aku tahu hatinya tersinggung atau mungkin tidak? entahlah.
__ADS_1
Dua jam telah berlalu. Aku dan Aldo segera masuk ke ruangan saat petugas memanggil.
"Dari hasil yang kami terima, alhamdulilah kondisi anda baik-baik saja. Hanya saja, sepertinya anda memiliki anemia. HB anda rendah."
"Alhamdulillah." aku mengusap wajahku dengan sangat lega. Pun Aldo.
"HB mah gampang, dok. Nanti saya minum penambahan darah."
"Jaga kondisi juga ya, Pak. Jangan terlalu kelelahan. Anemia juga jangan di anggap sepele. Kalau sudah parah harus transfusi darah nantinya."
"Saya punya istri yang sudah seperti emak-emak yang bawel. Saya akan sehat dalam sekejap."
Mereka tertawa. Setelah mendapatkan penjelasannya lebih banyak, aku dan Aldo pulang.
"Ahhh ... leganya." Aldo begitu senang. Dia merentangkan tangan dan menghirup udara dalam-dalam.
"Lain kali, Mas harus jujur. Jangan diem aja kalau ada sesuatu. Kalau saja Mas bicara dari dulu, mungkin kita tidak akan menunggu terlalu lama. Buang-buang waktu tau!"
Aldo membuka mata. Dia melirikku dengan tatapan menakutkan. Seperti serigala yang akan menangkap mangsanya.
"Kenapa, Mas?"
Aldo menatap tajam. Langkahnya perlahan maju ke arahku. Membuka jas nya lalu di lempar ke sembarang tempat. Aku mundur perlahan tidak mengerti apa yang akan dia lakukan.
"Mas, kamu kenapa sih? aku takut liatnya."
"Kita jangan menunda lebih lama lagi, sayang." ucapnya genit.
"Ya ampun, maksud aku tuh memiliki anak, Mas. Bukan yang lain."
"Kamu pikir bagaimana caranya mendapatkan seorang anak?"
"Apa?"
Ya ampun. Aku salah lagi kali jni. Aku lupa siapa Aldo, dia adalah buaya yang berhasil aku jinakkan. Meski jinak, tapi dia tetap seorang buaya.
Tanpa aba-aba, Aldo menarik tanganku dan mendekap erat tubuhku. Kami menempel sempurna.
"Beritahu aku jika ada cara lain untuk mendapatkan seorang anak." godanya sambil mengendus wajahku.
"Hanya ada satu cara, tapi tempatnya yang berbeda. Jangan sampai kita menjadi tontonan gratis pekerja di rumah ini."
Aldo sepertinya sadar bahwa di rumah ini bukan hanya ada kami berdua.
"Aissshh!" Dia kesal begitu mengetahui di luar sana ada Pak Misran dan juga satpam yang sedang mengobrol. Meski tidak melihat kami berdua, tapi tetap saja ini bukan tempat yang tepat.
Aku tersenyum melihat tingkah Aldo yang selalu saja membuatku merasa bahagia.
"Ayo ...."
Aku menggenggam jemari tangannya dan mengajaknya ke kamar. Bagaimanapun juga, kami harus mendapatkan seorang anak untuk bisa mendapatkan restu dari Papi.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Hallo readers ππ
Oya, cerita ini telah di buat versi audio nya sama pihak manga. Terima kasih ya untuk kalian semua yang selalu setia.
Emmm ... ngomong-ngomong kok gak ada yang koment lagi ya. Hi Hi Hi.
Ayo, ceritakan pendapat kalian tentang kisah ini. Masukan kalian akan menjadi referensi untuk author memperbaikinya menjadi lebih baik lagi.
Thank You all. ππ€π
__ADS_1