
Selepas magrib, aku kasih duduk di atas sajadah. Bukan berzikir, tapi hanya diam. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan pada-Nya, sampai aku lupa harus memulai dari mana.
Banyak masalah yang terlalu rumit untuk aku uraikan. Hingga aku lebih banyak menghela nafas dengan mengucap kalimat istighfar. Air mata tak hentinya bercucuran. Bingung mau berkata apa, tapi aku yakin Allah tahu segalanya. Aku hanya ingin dia merangkul dan melihatku saat ini. Betapa hatiku sangat lelah.
Tok tok tok
Aku tidak menjawab apapun. Jikapun itu Aldo, aku tidak perduli. Biarkan dia melihat aku seperti apa saat ini.
"Neng, bibi masuk, ya!"
Aku masih diam tidak menjawab. Masih sibuk dengan perasaan sendiri. Beberapa kali Bi Tuti mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk, selama itu juga aku diam tanpa balasan.
Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu. Wanginya semerbak menusuk hidung. Masih dengan parfum yang aku suka.
"Ra, kenapa gak jawab Bi Tuti? aku khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Begitu?" tanyaku setengah mengejek. Aldo duduk di ranjang di belakangku.
"Kita makan malam di luar, yuk."
Aku menggelengkan kepala. Menolak.
"Loh, kenapa? kita udah lama banget gak dinner berdua."
"Dinner, ya? apa itu wajib?"
"Yaaa, entahlah. Aku hanya ingin kita makan berdua malam ini di luar. Apa yang salah?"
"Yang salah adalah ... Mas mendahulukan yang tidak penting dan mengabaikan yang wajib."
__ADS_1
"Memangnya kewajiban apa yang aku abaikan? selama ini aki memenuhi semua kebutuhan kamu bukan?" tanyanya datar.
"Apa kamu pernah bertanya, apakah aku baik-baik saja, Mas?"
"Ya ampun sayaaang. Kita kan tinggal satu rumah, bobo satu kasur di bawah selimut yang sama. Kenapa aku harus menanyakan kabar kamu? orang aku bisa lihat sendiri."
"Apa saat ini bisa melihatku, Mas?"
"Bisa. Kamu sedang berzikir setelah salat magrib. Lalu?"
"Aku tidak baik-baik saja, Mas." Aku memutar badan lalu menatapnya, mungkin seperti memelas, mengiba atau memohon agar dia mengerti.
Wajahnya seperti kaget dan mungkin merasa tidak enak begitu melihat wajahku yang basah dengan air mata. Bahkan, aku merasa mataku bengkak.
"Ya sudah, aku minta maaf kalau tidak peka. Sebagai gantinya, aku akan ngajak kamu makan di luar malam ini, yuk. Kita keliling kota melihat pemandangan malam. Gimana?"
"Mahira ... ayo, dong. Aku udah lapar soalnya. Pokoknya, aku gak mau makan kalau kamu gak nemenin aku makan di luar."
Ya Allah, jika saja aku bisa, aku ingin dia menjadi cabe dan aku uleg saat ini juga. Astagahhhhh ....
Dengan pasrah dan juga marah dalam waktu yang bersamaan, aku melepas mukena lalu berganti pakaian.
"Nah, gitu dong. Kenapa gak dari tadi aja? aku jadi lama nunggunya."
"Ya ampun, Mas. Kamu–"
"Udah, nanti aku keburu gak nafsu makan lagi."
Aldo berjalan mendahuluiku. Tidak seperti biasanya. Dia tidak pernah melepaskan tanganku jika kami berjalan. Tapi sekarang? bahkan kali ini dia tidak membukakan pintu untukku. Aku kangen saat dia melindungi kepalaku jika ingin masuk ke dalam mobil. Memasang sabuk pengamannya untukku lalu meminta sebuah kecupan di pipinya sebagai upah karena begitu baik padaku. Kali ini aku merasa sedang bersama orang lain.
__ADS_1
Sepanjang jalan Aldo bersenandung ria. Tidak perduli pada air mataku yang kembali menetes. Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku menangis. Padahal, Aldo akan selalu panik melihat aku seperti ini, dulu.
"Mas ...."
"Hmm."
"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanyaku saat mobil kamu sudah melaju cukup jauh.
"Ya."
"Apa ada wanita lain selain aku dalam hidupmu?"
"Mungkin. Karena aku memang tidak bisa hidup dengan satu wanita. Apa lagi saat ini, aku butuh hiburan dan juga wanita yang bisa menenangkan aku. Kita sama-sama tau kondisi saat ini bukan?"
Ya. Aku tahu, kamu sedang merasa putus asa dalam menantikan kehadiran buah hati. Apa harus begini? bukankah di luar sana masih banyak wanita hang seperti aku?
"Mas ...." aku kembali tersedu. Tangisanku pecah.
"Harusnya kamu tidak bertanya, jadi kamu tidak akan sakit hati. Sekarang, kita akan bertemu seseorang. Mungkin untuk saat ini, dialah yang mampu meredakan gundah gulana dalam hatiku."
"Apa dia ...."
"Ya! dia wanita yang aku maksud," ucapnya tanpa merasa bersalah. Menatapku sinis. Tatapan yang tidak pernah aku lihat selama ini.
DEG!
Ya Allah, cabutlah hukuman dosa untuk perbuatan bunuh diri. Aku ingin melakukannya saat ini. Kumohon.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1