
"Pak, terima kasih untuk semuanya. Saya merasa sangat beruntung. Semua ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Memiliki suami kaya raya, tampan dan juga baik hati, dia perhatian dan juga lembut. Entahlah, mimpi apaaa saya selama ini."
"Tidurlah, ini sudah larut."
"Pak."
"Hmm."
"Kenapa membelakangi saya terus? kalau merasa tidak nyaman, saya bisa tidur di kamar bawah atau di sofa itu. Sepertinya sofa itu gak kalah empuk. Lebar juga, saya muat kalau tidur di sana."
"Baiklah." Putra mendengkus dan membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan.
"Pak, kenapa anda begitu baik sama saya? menuruti apa yang saya ucapkan. Seperti anak kecil yang manut pada ibunya danโ"
"Anggap saja begitu."
"Emm? maksudnya?"
"Sudahlah. Lebih baik kita tidur." Putra memejamkan matanya yang tidak mengantuk. Mahira memajukan mulutnya beberapa senti.
"Dasar orang tua!" Keluhnya kesal. Jelas itu terdengar oleh Putra yang tidak tertidur. Ingin rasanya dia menimpali tapi itu akan membuat wanita itu berceloteh lebih lama.
Mahira menatap langit-langit. Pikirannya menerawang entah kemana. Bibirnya selalu sumringah. Dia benar-benar bahagia diperlukan seperti ratu oleh suaminya.
*****
"Selamat pagi, Pak. Tidur duluan kenapa bangunannya paling telat?" ledek Mahira saat suaminya menghampiri. Putra duduk di kursi meja makan dalam keadaan masih mengantuk. Bahkan dia belum sempat ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya atau pun gosok gigi.
"Ini teh nya. Sarapan dulu setelah itu mandi."
"Hmm."
Putra memakan roti yang telah di panggang. Dengan secangkir teh manis hangat. Sementara itu, Mahira sibuk membersihkan rumah yang tinggal sedikt lagi karena sejak pagi dia sudah membersihkannya.
"Pak, mau makan apa? nanti saya masakkan."
"Apa saja."
"Bagaimana kalau kita masak nasi liwet saja."
"Terserah."
"Baikah, saya akan pergi ke pasar dulu untuk berbelanja."
"Saya akan antar."
"Tidak perlu. Saya bisa naik bajay."
"Saya antar."
"Baiklah kalau memaksa. Sekalian saja antar saya masuk dan bantu saya membawa belanjaan. Tubuh saya ini kecil, kadang suka gak kuat bawa barang terlalu banyak."
"Di kasih hati minta jantung."
"Kalau bisa sama paru-parunya juga, Pak."
"Astaga!"
Mahira cengengesan. Setelah selesai mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Mahira naik ke atas. Dia mandi dan berganti pakaian. Kepalanya celingukan mencari Putra. Setelah memastikan tidak ada di kamar, Mahira dengan leluasa melepas handuk dan berpakaian.
Dia memakai gaun berwarna biru dengan motif bunga-bunga yang cantik. Dia juga memakai aksesoris kalung dan gelang. Kemudian dia berjalan mengambil sendal jepit yang ada di lemari.
"Sandal jepit saja di pajang di sini. Dasar aneh!"
"Kamu harus tau harganya dulu."
"Astagfirullah!" Mahira memekik terkejut. "Mengangetkan saja. Sejak kapan Bapak di situ?"
"Sejak kamu melepaskan handuk."
"A-apa? sungguh tidak sopan! mengintip yaaa. Matanya bintitan loh nanti."
__ADS_1
"Mumbazir kalau dibiarkan begitu saja."
"Ya ampun! gak gitu juga kali, Pak. Kalau mau mah tinggal bilang, jangan kaya kucing garong ngintip-ngintip, begitu ada kesempatan langsung hap!"
Putra salah tingkah dibuatnya. Wanita itu selalu berhasil membuat dia gelagapan.
"Ya sudah, saya mau."
"Saya udah rapi, Pak. Nanti saja, kita ke pasar saja dulu. Masak, terus makan. Biar ada tenaga juga." ucapnya polos.
"Dosa loh tidak menuruti keinginan suami."
Mahira terdiam. Dia manatap lekat suaminya. Kemudian dia berjalan ke arah tengah, melepas tas dan perhiasan yang sudah dia kenakan.
"Kenapa dilepas?"
"Katanya mau. Masa iya saya haru memakai semua ini. Risih tau, Pak. Ya saya lepas semua saja. Bajunya juga saya lepas sekalian, atau mau Bapak yang lepasin?"
"Astagfirullah. Kamu itu polos apa polos sih?"
"Loh, kenapa? saya kan hanya bertanya. Ketimpangan nanti saya salah. Memangnya kenapa kalau saya bertanya seperti itu? salah ya, Pak?"
"Tidak salah, hanya saja saya merasa ...."
"Ya jadi gimana ini? Bapak mau melepaskan baju saya atau saya lepaskan sendiri?"
"Kamu nantangin saya?"
"Bu-bukan seperti itu maksud saya, Pak ...." Mahira tidak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Putra. Putra sengaja memasukkan wajah garang dan terlihat seperti singa yang hendak menerkam anak rusa. Perlahan Mahira mundur beberapa langkah.
"P-pak, jangan begini. Say-saya tidak bermaksud menantang Bapak. Tunggu, jangan begini. Saya takut." Mahira benar-benar ketakutan. Dia mundur lebih jauh.
"Kamu mau melihat saya seperti apa?"
"Tidak, Pak. Saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud menantang Bapak. Saya hanya ...."
Putra menarik tangan Mahira kasar. Tubuh kecil itu terjerembab masuk ke dalam pelukan Putra. Wajah Mahira mendongak, memelas pada Putra. Sementara Putra masih menatapnya tajam. Nafas Mahira memburu.
Belum sempat Mahira melanjutkan perkataannya. Putra menutup mulut bawel itu dengan mulutnya.
Acara ke pasar yang mereka rencanakan tertunda. Putra lebih memilih dia menjelajahi tubuh istrinya ketimbang menjelajahi pasar yang dia anggap bau dan tidak menyenangkan.
Mahira terlelap. Dia terlihat sangat kelelahan. Teringat akan kejadian waktu itu, Putra membuka selimut dan memeriksa tubuh Mahira. Dia takut istrinya perdarahan lagi.
"Untunglah kali ini dia baik-baik saja."
Putra meregangkan tubuhnya sebelum dia menyusul Mahira yang tertidur pulas.
*****
"Pak. Bangun." Mahira berbisik di telinga Putra. Namun, pria itu bergeming tak bergerak.
Mahira mendekat dan melongok wajah suaminya. Rambutnya yang belum sempat dia keringkan, mengenai pipi Putra. Airnya menetes dan itu membuat Putra terbangun.
Mata Mahira dan Putra saling bertemu dalam jarak yang dekat. Untuk sesaat, Putra seperti kehilangan fungsi jantungnya.
Begitupun Mahira. Dadanya kembali terasa sakit dan sesak. Dia meremas dadanya lalu segera berdiri.
"Saya ke dapur dulu. Kita makan apa yang ada aja."
"Kita pesan saja. Kamu pasti lelah."
"Baiklah. Saya ada di bawah kalau Bapak butuh sesuatu."
Mahira sedikit berlari meninggalkan kamarnya.
Putra masih duduk di atas kasur. Mengumpulkan kesadaran. Dia memejamkan matanya. Tampaknya dia mulai ragu dengan perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Benarkah aku hanya melakukan kewajiban saja? atau ... arghhh!" Putra menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal. Dia membuka selimutnya dan lupa kalau tubuhnya belum memakai pakaian. Bertepatan dengan itu Mahira masuk ke dalam kamar.
Wanita itu memekik kaget. Dengan cepat kilat dia berlari kembali menuruni tangga. Putra hanya diam mematung.
__ADS_1
Mereka berdua terutama Mahira merasa canggung saat berhadapan dengan Putra. Dia salah tingkah setiap berdekatan dengan Putra. Pun saat makanan yang Putra pesan datang.
"Pak, ini makanannya sudah datang. Total semuanya enam ribu rupiah."
"Apa? kamu gak salah?" Putra yang sedang membaca koran terkesiap.
"Kurirnya bilang begitu."
Putra merasa tidak yakin dengan apa yang Mahira ucapkan. Dia berjalan menuju pintu depan untuk menemui kurirnya.
"Berapa totalnya, Mas?"
"Totalnya enam ratus ribu rupiah, Pak."
"Saya bayar cash, ya. Ini."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Kurir itu pulang dan Putra kembali masuk ke dalam diikuti Mahira yang sedari tadi memegang kantong makanan.
"Ambilkan piring dan sendok untuk kita makan."
"Iya, Pak."
Mahira berlalu dan tak lama kemudian dia datang membawa piring sesuai permintaan Putra.
Mahira mengambil kantong makanan dan membukanya satu per satu. Tangannya terlihat grogi. Dia bahkan menumpahkan makannya tidak tepar di piring. Tumpah di atas meja.
"Ada apa? kamu kenapa grogi?"
"Entahlah. Sejak tadi saya jadi serba salah. Setiap saya dekat sama Bapak, saya jadi malu dan grogi. Rasanya bingung harus bagaimana. Jantung saya juga sepertinya mulai melemah. Saya kenapa ya, Pak?"
"Apa karena melihat saya membuka selimut?"
"Hahah." Mahira tertawa keras, lalu kemudian melemah. "Salah satunya itu, saya jadi malu sendiri. He he he."
"Kenapa malu? kamu sudah melihatnya dengan jelas. Nanti juga."
"Beda suasananya, Pak. Yang sudah-sudah mah kan sayanya gak sadar."
"Gak sadar? kenapa?"
"Yaaa ... kenapa ya, gak bisa di jelaskan secara rinci sih, tapi sepertinya saya lupa aja sama segalanya. Gak berasa apa-apa selain sentuhan Bapak samโ"
"Udah, udah. Ayo kita makan. Duduklah."
"Bapak gak mau denger alasan saya?"
"Saya lapar."
"Oh, baiklah. Lebih baik kita makan saja dulu
Kita lanjutkan setelah makan."
"Uhuk!"
"Bapak kenapa?" Mahira mengambil segelas air lalu memberikannya pada Putra.
"Hati-hati kalau sedang makan. Kesedak kan? Untung gak lagi makan salak, bahaya kalau biji salak yang tertelan."
"Uhuk! biji salak itu enak. Banyak yang jual pas bulan Ramadhan."
"Masa? emang itu biji salak buat apa, Pak? kok pada di jual."
"Buat dijadiin kolak."
"Apa?" Pekik Mahira, matanya membuka sempurna seolah dia akan meloncat jauh dari tempatnya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
__ADS_1