
Sudah satu bulan lamanya aku di rumah ini. Aku kembali pada Mahira yang dulu. Mahira tanpa hijab dan tidak taat beribadah. Aku masih marah pada ketidak adilan yang aku terima.
Selama ini aku selalu berusaha bersikap baik, meski tidak sempurna, tapi aku selalu berusaha jadi insan yang mulai. Namun, apa hasilnya? aku kembali pada jalan yang lebih buruk dari sebelumnya.
Aku terkurung. Gerakanku terbatas. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam menerima kenyataan bahwa kini aku seorang tahanan rumah seseorang.
Ya, seseorang. Aku tidak percaya pada Pak Putra, tidak pada Ririn pun pada Aldo. Mereka bisa saja bersekongkol bukan? siapa yang tau.
Merasa menjadi pemeran film horor yang akan segera di eksekusi. Aku menunggu waktu kapan semua ini akan berakhir. Mungkin saja aku akan berhenti bernafas didalam rumah ini dalam kesendirian dan kesepian.
Berkali-kali aku mencoba mengakhiri hidup. Sungguh, sepertinya tubuhku sudah dipenuhi iblis. Tidak ada lagi dzikir dan kalimat indah lantunan ayat suci. Hanya sebuah umpatan dan sumpah serapan pada diri sendiri dan juga orang-orang sekitar. Semua yang pernah bersangkutan denganku.
Sesekali aku berharap Aldo datang menyelamatkan. Namun, jika dia tidak bersalah, mungkin sudah lama dia mencari ku. Jika dia benar-benar mencintaiku, sudah sejak lama dia akan datang ke sini dan menjemputku. Apa susahnya? dia bukannya lebih kaya dari Pak Putra. Seharusnya dia bisa menyelamatkan aku dari sini dengan kekuasaan yang dia miliki.
Buktinya?
Itu berarti, dia memang tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Mungkin Pak Putra benar. Aldo memang tidak pernah berubah. Dia tetap seorang laki-laki kaya dengan wanita yang berbeda di setiap malamnya.
Bodoh! kenapa aku harus percaya padanya. Seharusnya aku tetap pada pendirianku untuk tidak jatuh cinta pada siapapun. Tapi ....
Saat itu, aku menemani Bu Ranti ke acara pertemuan orang-orang yang memiliki yayasan. Entah apa acara itu namanya. Acaranya cukup ramai. Begitu acara selesai, kami makan dengan cara berdiri. Tidak ada kursi di sana.
Setiap pemilik yayasan membawa seseorang sebagai pendampingnya. Mereka membawa anak-anak mereka. Sementara Bu Ranti membawaku. Karena anaknya sibuk semua termasuk Aldo.
Saat semua orang sibuk berbincang dengan teman-teman mereka sendiri, dan aku berbincang-bincang dengan beberapa orang ha g kebetulan sama-sama pegawai, tiba-tiba suara terdengar riuh.
Sekelompok laki-laki tampan datang ke acara kami. Mereka berpakaian sangat rapi. Mungkin ada sekitar sepuluh atau lebih.
__ADS_1
Yang mengejutkan bukan itu. Aldo datang dengan bunga mawar merahnya yang banyak dan besar. Datang menghampiri lalu memberikannya padaku.
Semua bersorak termasuk Bu Ranti. Dia dan teman-temannya tertawa melihat ini semua. Aku malu sekaligus suka.
Dia tersenyum dan berkata "Pelan-pelan saja, semua akan berakhir sesuai harapan kita."
Waktu itu kau terbuai dengan kata-kata dan sikapnya. Dan sekarang? sekarang aku baru mengerti apa maksudnya.
Harapan kita itu bukan antara aku dan dia. Melainkan harapan dia yang akan merusak hidupku. Kurang ajar!
Mengingat semua itu membuat dadaku seperti tertekan gada besar. Sesak dan tidak bisa aku kendalikan. Sering aku meringis karena merasa sakit tak tertahan.
Sendirian tanpa teman. Tidak ada yang perduli padaku.
Aku kadang berpikir, apakah aku sudah mulai tidak waras? apa aku akan berakhir di jalanan, tanpa busana dan tertawa tiada henti?
Sepertinya biasa. Satpam dan para bodyguard akan datang. Mereka menghentikan aksiku, menenangkan dan bahkan tidak segan mengikat lenganku. Aku akan berteriak meski sama sekali tidak ada yang mendengar. Merak akan bersikap masa bodo!
Kali ini mereka tidak bisa berbuat banyak dan segera melapor pada tuannya begitu melihat darah mengalir dari nadi yang aku iris di lengan sebelah kiri.
*****
Aku terbangun saat mendengar keributan di luar sana. Perlahan kubuka mata, melihat seisi ruangan serba putih.
Rasanya perih, di bagian lengan. Ada sesuatu di hidungku. Dingin dan melegakan. Saat mata tidak sengaja melihat ke atas, sebelah kanan, ada botol bening menggelantung. Selang terhubung pada tanganku yang terasa kebas. Itu infusan.
Suara di luar sana semakin jelas terdengar. Semakin dekat semakin bising. Beberapa suara seperti tidak asing bagiku. Entahlah, rasanya membingungkan. Antara sadar dan tidak sadar. Aku bertanya, mungkin aku akan segera pikun, ataukah aku lupa ingatan setelah terjatuh? tapi aku tidak jatuh dari manapun.
__ADS_1
Suara pintu terbuka kasar. Mungkin jika bahan pintu memakai barang murah, akan hancur seketika.
Segerombolan orang datang. Dan yang pertama masuk adalah Aldo. Dia datang penuh amarah. Berlari ke arahku lalu memeluk tubuhku erat.
Masih kudengar beberapa orang berteriak. Meminta agar Aldo segera keluar. Para bodyguard itu.
Orang-orang yang Aldo bawa mendorong bodyguard yang menjagaku selama ini. Keributan tak terhindarkan. Pihak rumah sakit berdatangan.
"Ayo, kita pergi dari sini."
Mataku masih belum membuka sempurna saat itu. Bahkan kesadaranku bum stabil. Selang infus dan oksigen dilepas paksa oleh Aldo. Darah menetes deras dari bekas infusan di lenganku.
Aldo membopong tubuhku di antara keributan yang terjadi. Mereka tidak sadar bahwa Aldo membawaku secara diam-diam.
Begitu sampai keluar rumah sakit. Sebuah mobil sudah menunggu kami. Saat aku masuk ke dalam, ada seorang dokter di sana. Dia menutup lenganku bekas selang infus. Memasang kembali selang oksigen di hidungku. Aku duduk dalam dekapan Aldo.
Hah! lucu memang. Aku tidak terlihat seperti manusia. Penampakan ku lebih mirip di sebut boneka. Hidup tapi tidak hidup. Terombang-ambing tidak jelas. Ke sana dan kemari tanpa tujuan pasti.
Ternyata, Aldo membawaku ke rumah sakit, tempat saat dia mengerjaiku dulu. Aku langsung memasuki sebuah ruangan yang tidak kalah bagusnya dengan ruangan tadi, saat orang-orang itu membuat keributan.
Dokter yang terlihat sepuh menghampiri dan memeriksa tubuhku. Sangat detail. Kemudian dia berbicara pada Aldo yang entah apa itu.
Selang berapa lama kemudian, keluarga Aldo datang. Mami, Papi, Vera, Kak Yanwar dan Kak Niar. Mereka segera menghampiriku. Memeluk tubuhku. Berbicara ini itu yang tidak begitu jelas aku dengar. Sangat berisik. Aku tidak suka. Lambat laun suara itu memudar. Aku hanya melihat bayangan Aldo saat semuanya benar-benar gelap. Dia terlihat begitu cemas melihat keadaan diri ini.
Aldo, apakah aku masih bisa percaya padamu?
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1