
Putra segera mengganti pakaiannya begitu sampai rumah. Lengan kemeja bagian kanannya terkena darah saat menggendong istrinya masuk ke IGD. Mahira baik-baik saja sebenarnya, dia hanya tidak tega melihat bagian belakang istrinya yang berdarah dilihat orang lain.
Setelah mengganti bajunya, dia membantu Mahira melepaskan pakaian dan memandikannya. Seperti seorang ayah yang sedang memandikan putri kecilnya. Mahira hanya diam di bathtub, seken Putra menggosok tubuhnya. Selesai mandi, dia mengelap tubuh Mahira, memakaikan dia handuk lalu membopongnya.
Dengan sangat hati-hati, Putra pun memakai Mahira pakaian.
"Jangan banyak bergerak dan harus bed rest total di rumah. Itu akan jauh lebih aman mengingat kondisi saat ini.
Perkataan dari dokter selalu terngiang di telinga Putra. Istrinya yang ternyata sedang hamil mengalami kelainan pada kandungannya. Plasenta terletak pada tempat yang tidak seharusnya. Meski masih besar kemungkinan untuk berpindah tempat sesuai berkembang dan melebarnya rahim, tapi tetap saja kondisi Mahira harus benar-benar aman agar tidak terjadi perdarahan selanjutnya.
"Jangan pernah mengalami benturan keras termasuk saat berhubungan suami istri. Untuk sementara, Bapak puasa dulu sampai kondisi istri bapake benar-benar sudah siap."
Pernyataan kali ini sangat mengganggu pikirannya. Putra mengira-ngira bahwa perdarahan Mahira karena terjatuh tadi.
"Pokoknya, mulai saat ini kamu jangan bergerak. Diam di tempat tidur."
"Tapi, Pak ...."
"Jangan membantah! katakan saja apa yang kamu inginkan pada saya."
"Lah, Bapak kan harus kerja. Mana mungkinkah 24 jam selalu di sini danโ"
__ADS_1
"Saya akan bekerja dari rumah. Saya hanya akan ke kantor jika ada keperluan mendesak."
"Apa itu gak apa-apa?"
"Jangan pikirkan itu. Istirahat dan makan yang banyak."
"Kalau saya gendut gimana, Pak?"
"Tidak apa-apa. Wajar, orang hamil."
"Saya langsungnya aja, Bapak tidak suka. Gimana kalau saya gendut." Bisik Mahira namun masih bisa terdengar oleh telinga Putra.
Putra hanya menatap dalam diam. Memperhatikan istrinya yang kini sudah terbaring. Tubuh mungil itu hampir tidak kentara saat meringkuk di balik selimut yang tebal.
Ririn menangis sejadinya saat dia sampai di apartemen. Perasaannya hancur berkeping-keping. Dia yang sedari dulu menyimpan rasa untuk Putra kini, harus kembali kecewa setelah dulu perasaannya harus kandas karena terhalang restu orang tua.
"Pak, Bu. Kali ini tolong restui aku dan mas putra. Dia laki-laki yang baik dan tanggung jawab." Pinta Ririn pada orang tuanya kala itu, saat dia pamit ke Jakarta untuk menemui Putra.
"Ibu dan bapak bukan tidak merestui, hanya saja ibu ragu sama dia." Ibu khawatir.
"Ragu kenapa, Bu? mungkin dulu mas putra memang belum siap karena belum mapan. Tapi saat ini dia sudah sukses, dia pasti mau menikahi ku. Lagi pula, menurut temanku, dia belum menikah. Ya, Bu?"
__ADS_1
Ya, saat itu Ririn dan keluarganya meminta Putra menikahi Ririn. Kondisi keuangan Putra yang belum stabil ditambah bebannya untuk menyekolahkan adik dan menghidupi Emak, membuat Putra mengambil keputusan untuk menolak melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.
"Bapak sudah tidak mau mengatur hidupmu. Sebagai orang tua, bapak hanya bisa mendoakan yang terbaik. Pergilah, apapun yang terjadi, kamu harus mengahadapinya, kelak."
Ririn kembali menangis mengingat percakapannya dengan orang tuanya waktu itu. Dadanya sesak. Dia benar-benar merasa sangat kecewa sekaligus malu. Ya, dia merasa malu akan pandangan orang-orang terhadapnya. Bagaimanapun juga, dia wanita berhijab yang seharusnya tidak berdekatan dengan suami orang.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal, Mas," ucap Ririn disela isak tangis.
Rurin tenggelam dalam rasa sedih dan kecewanya. Membaringkan tubuh dengan membenamkan wajah pada bantal.
Wanita cantik itu bangkit saat dia mendengar panggilan salat. Wajahnya yang sembab dengan mata bengkak dan hidung merah, dia bergegas mandi lalu mengambil air wudhu.
Di atas sajadah, dia menengadahkan tangan. Meminta ampun pada sang pemilik raga. Air matanya kembali luruh mengingat betapa malunya dia karena selama ini sering pergi dan jalan dengan laki-laki yang tidak seharusnya dia dekati. Hati kecilnya membenarkan bahwa ini semua salah Putra karena tidak jujur, meski demikian, Ririn tetap merasa malu pada pandangan orang-orang terhadapnya.
Dirasa sudah cukup bercengkrama dengan sang Khaliq, dia mengambil ponsel dan mencoba menelpon Putra. Lama menunggu tetapi tidak ada jawaban. Hatinya mulai kembali bersedih, bayangannya melanglang buana pada pikiran-pikiran tentang Putra dan Mahira.
"Apa mereka sedang berduaan? apa mereka sedang ... astagfirullah."
Mahira sadar benar bahwa pikiran dia itu salah dan tidak pantas. Hanya saja, dia pun tidak bisa memungkiri ada benda panas yang membakar hatinya.
"Kenapa jadi seperti ini? apa tidak ada kebahagiaan yang layak untuk aku dapatkan? cukup sudah rasa sakit saat harus berperan menjadi seorang istri dari laki-laki yang tidak aku cintai, dan ... tunggu dulu." tiba-tiba Ririn menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Apa mungkin mas Putra juga ... baiklah, aku harus berbicara padanya. Aku akan menemuinya nanti."
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ