
Putra pulang ke rumah begitu pekerjaan di kantor selesai. Begitu pintu terbuka, dia merasa ada yang aneh. Tidak ada lagi suara cerewet yang menyapanya.
"Sore, Pak. Tumben pulangnya cepat biasanya nanti setelah Isa baru datang. Pekerjaan Bapak sudah selesai ya? mau makan apa? tadi saya sudah masak tapi mungkin udah gak hangat, mau saya hangatkan lagi atau bikin yang baru. Biar makanan yang ini saya kasih ke pekerja di sini." Begitulah Mahira saat menyambut Putra sepulang kerja. Gadis itu berbicara tanpa rem sambil mengambil tas Putra dan membukakan sepatunya.
"Cuci tangan dulu, di luar sana kita tidak bisa melihat apapun yang kita sentuh itu ada kumannya atau tidak. Nanti malah ikut masuk ke perut Bapak. Kalau sakit, saya juga yang repot."
"Tuh kan! makanya jangan lupa makan. Masuk angin deh jadinya. Mandi dulu pakai air hangat, saya buatkan teh jahe dulu. Setelah itu saya kerok punggungnya biar anginnya keluar semua. Tapi ... hati-hati begitu kerokan selesai Bapak harus bisa nahan. Biasanya orang suka kelepasan dan kentut sembarangan. Gak bau sih memang, cuma suaranya suka bikin saya kaget."
Putra menghela nafas. Suara berisik itu tidak akan terdengar untuk beberapa hari kedepan. Setidaknya itu adalah masa tenang untuknya karena hari-hari selanjutnya dan mungkin selamanya, suara itu akan menemani hari-harinya.
"Nikmati dulu Putraaa ...."
Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas sofa sebelum dia naik ke kamarnya. Menarik nafas dalam-dalam.
Putra segera membuka matanya saat bayangan dia mencium bibir Mahira melintas begitu saja. Putra menggelengkan kepalanya cepat. Berharap bayangan itu akan segera pergi.
Bagaimana pun juga, itu adalah pengalaman pertama untuknya. Putra tau segalanya, tapi belum pernah melakukannya sekalipun. Putra berdiri lalu meregangkan tubuhnya. Mengusap pundaknya kasar.
Dia bergegas ke kamar. Membersihkan tubuhnya dengan air hangat lalu salat Magrib. Tak lupa dia berdzikir dan berdoa.
Ponsel Putra berbunyi begitu dia mengusap wajahnya selepas berdoa. Dia berdiri dengan pakaian Koko, sarung dan peci yang masih melekat.
"Abel?"
Putra menggeser tombol berbentuk kamera ke atas. Dan langsung bisa melihat wajah adiknya dan juga ponakannya yang pertama. Azka.
"Halo Wawa. Abis solat ya?"
"Iya, Wawa baru sempet salat Magrib, baru pulang soalnya."
"Wawa, kangen sama Wawa Ira gak?"
"Ira? siapa itu?"
"Teh Mahira maksud Azka, A. Mau ngomong gak?"
"Sama siapa?"
"Yaaa sama Teh Mahira lah! aku mah males vc sama Aa. Mendingan sama suamiku aja."
"Suami kamu kemana memangnya? tugas luar kota lagi?"
"Yaaa begitulah. Maklum namanya juga aset negara. Ngurusin negara ya ke berbagai tempat."
"Sabar aja. Doakan saja dia selamat, sehat. Dia begitu juga karena nyari nafkah buat kamu dan anak-anak."
"Iya sih. Ahh, kenapa jadi nasehatin aku? nih, ngobrol aja sama Teh Mahira." Abel memberikan ponselnya pada Mahira.
Tangan Putra yang sedang menggaruk telinga langsung berhenti begitu melihat wajah gadis kecil itu di layar ponsel.
"Assalamualaikum, Pak." Dia menyapa dan langsung mendapatkan ledekan dari adik Putra.
"Bapak, Bapak, sayang gitu! memangnya mau setor tugas ke dosen apa!" Ledek Abel. Mahira tersipu.
"Waalikumsalam. Apa kabar?" tanya Putra.
"Ceilahhhh baru kemarin ketemu udah tanya kabar. Cemassss tuuuh." Abel kembali meledek.
"Ra, kamu telponnya di kamar emak aja. Gak akan beres kalau di sini mah." Emak memberi saran. Mahira pun pindah dan masuk ke kamar Emak.
"Saya baik, Pak. Bapak sendiri gimana? baik-baik aja kan? udah makan belum? itu yang di kulkas di makan aja, atau sudah basi? gimana kerjaannya tadi?"
"Ra, nanyanya satu-satu, saya bingung mau jawab yang mana dulu."
__ADS_1
"Yang pertama saya tanyakan aja, Pak. Jawabannya berurutan sesuai pertanyaan saya biar Bapak gak bingung."
"Kamu nanya cepet banget, mana saya ingat kamu nanya apa?"
"Ya udah saya ulang. Nih, Bapak udah makan belum?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Baru datang dari kantor."
"Ok, terus itu makanan yang di kulkas basi atau tidak?"
"Mana saya tau, Raaa ... saya kan belum makan. Belum sempet ke dapur."
"Eh, iya. Lupa. Ya udah sana ke dapur. Lepas dulu sarung sama bajunya entar kotor gak bisa di pake salat lagi."
"Ya udah, saya lepas dulu sarungnya. Balikin dulu ponselnya simpen di kasur."
"Kenapa?"
"Saya gak pake apa-apa soalnya. Mau lihat?"
Tanpa aba-aba, Mahira membalik ponselnya dan menyimpannya di atas kasur. Selang berapa menit, suara Putra terdengar memanggil. Mahira segera membalikkan lagi ponselnya.
"Ya sudah sana ke dapur. Nanti saya yang akan ngasih tau cara masaknya dari sini. Jangan di matikan teleponnya. Kalau turun tangga jangan lihat ponsel, takut jatuh. Liat ponselnya nanti setelah Bapak di dapur."
"Baik, Ibu Negara."
"Ibu Negara itu apa, Pak?"
"Kamu."
Putra benar-benar melakukan perintah Mahira. Dia memegang ponselnya dengan tangan yang mengayun ke bawah saat menuruni tangga. Dia melihat layar begitu dia sampai di depan kulkas.
"Sudah depan kulkas."
"Bapak mau makan apa?"
Putra melihat isi kulkas. Matanya menjelajah ke sana kemari. Mencari sesuatu yang menarik matanya.
"Kangkung deh, kalau di entar-entar takut keburu busuk."
"Sama apa lagi?"
"Udang aja sama tahu."
"Ya sudah, Bapak cuci dulu semuanya."
"Iya." Putra mencuci semua bahan yang akan dia masak termasuk tomat, bawang merah dan putih serta cabai merah.
"Masak kangkung dulu, petik dulu kangkungnya."
"Begini?"
"Jangan terlalu panjang nanti susah makannya. Bisa-bisa makan kangkung keluar kangkung lagi."
"Jorok!"
"Eh, eh, itu terlalu pendek. Di kira mau bikin bakwan, metikin kangkung kok kecil kayak kol buat bakwan sih."
"Aduh, terus gimana? masa saya harus bawa alat ukur sih?"
__ADS_1
"Ya gak gitu juga, Pak. Ya sudah terserah Bapak aja. Mau gak dipetik juga gak apa-apa."
Putra melanjutkan acara memetik kangkungnya. Dengan ukuran semuanya sendiri.
"Terus?" tanyanya.
"Iris bawang merah dulu."
"Iya." Putra mengambil dua butir bawang merah lalu mulai mengirisnya setelah mengupas kulitnya.
"Jangan terlalu tebal, gak enak nantinya. Gak akan bau harum."
"Segini?"
"Iya. Terus iris juga cabai merah, satu aja jangan banyak-banyak, nanti diare."
"Itu aja yang di bahas. Mau makan loh saya."
"Heheh. Maaf, Pak."
"Udah selesai nih. Apa lagi sekarang?"
"Iris bawang putih. Geprek dulu sebelum diiris."
Putra melakukan sesuai perintah Mahira. Dia megeprek satu butir bawang merah memaki ulekan batu. Mahira tertawa keras melihat kelakuan Putra.
"Kenapa? katanya di geprek."
"Ya gak pake ulekan juga, Pak. Pakai tangan juga bisa itu mah."
Putra mencucu. Kemudia dia mengiris bawang putih. Lalu tomat.
Mahira masih memandu Putra memasak lewat video call yang mereka lakukan. Mahira yang cerewet membuat Putra kesal. Acara masak yang seharusnya singkat, selesai sangat lama.
Meski dengan panduan yang Mahira lakukan, tegap saja banyak kesalahan yang Putra lakukan. Tumis kangkung menjadi sop kangkung karena Putra menuang terlalu banyak air. Tahu goreng pun remuk karena putra terus membolak-balik tahunya saat dalam minyak. Ditambah wajan yang Putra pakai salah. Tahunya lengket ke wajan.
Udang yang seharusnya menjadi udang asam manis, kini berubah menjadi permen udang. Manis.
Putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak ada satupun masakan yang bisa dia makan. Dan akhirnya dia memesan makanan dari luar.
Kecemasan terlihat jelas di wajah Mahira. Dia merasa khawatir melihat Putra yang tidak bisa melakukan apa-apa. Putra menyadari hal itu.
"Jangan cemas. Saya tidak akan kelaparan. Di sini banyak makanan yang bisa saya pesan."
"Tetap saja. Segala kebutuhan Bapak tidak bisa Bapak siapkan sendiri. Bagaimana saya bisa tenang di sini."
"Kalau begitu kembali saja ke sini."
"Emak gak akan memberi izin. Lagi pula, besok saya harus pulang ke Majalengka. Untuk pertama kalinya saya akan menemui ibu dan keluarga saya yang lain. Emak sudah memberikan sejumlah uang agar mereka mau mempersiapkan acara pernikahannya kita di sana. Saya malu sebenarnya, emak sudah begitu banyak mengeluarkan uang demi saya. Saya tidak tau harus membalas kebaikan emak dengan apa."
"Patuhi keinginannya."
"Apa?"
"Jadi istri yang baik untuk saya."
Tidak ada suara. Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain. Saling berpandangan dengan perasaan keduanya yang berbeda.
Ada sesuatu yang tumbuh dan mekar dalam hati Mahira. Sementara bagi Putra, itu hanyalah perkataan yang sangat biasa. Toh, bukankah itu yang memang Emak inginkan. Pikirnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Mahira Hikmawati. 23 tahun
__ADS_1